SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Senyum Lebar Arga


__ADS_3

Syahdu melihat kepulan asap rokok di dekat tempat tidur. Dia tahu, Arga lagi ada di balkon. Lelaki itu mungkin sedang tidak enak hati karena Syahdu mengungkit soal pertunangannya.


Semenjak kedatangan Soraya ke kampus pula banyak mengundang pertanyaan diantara teman-teman, pasalnya apa yang Arga katakan diatas bukit berbeda dengan kenyataan yang ada. Arga pula tak menampik soal apa yang dikatakan Soraya.


Jangan tanya soal Naya. Perempuan itu terus murung karena tahu Arga akan segera bertunangan, padahal dia sagat menyukai Arga sampai rela ikut kemanapun Arga mengisi acara.


Syahdu mendekati Arga. Lelaki itu duduk di balkon dengan rokok di jarinya. Matanya terus menatap ke depan dengan wajah yang suntuk.


"Nanti malam jadi, nggak?" Tanya Syahdu memancing percakapan. Sebab dia memang tak tahu apa tujuannya mendekati Arga yang suasana hatinya tengah tak baik itu.


"Jadi. Gue jemput di rumah sakit." Jawabnya tanpa beralih pandang.


Syahdu duduk disebelahnya. Sepertinya dia akan menunggu saja sampai malam dari pada harus dilihat orang-orang rumah sakit saat Arga menjemputnya.


"Aku disini aja, deh." Sahut Syahdu, memangku Popi yang tiba-tiba datang.


Arga tak lagi menyahut. Dia asyik dengan rokoknya, sementara Syahdu menikmati hembusan angin sembari mengelus lembut bulu Popi. Mereka diam disana, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Gue ngga ada maksud buat ngecap lo kaya gitu." Ucap Arga tiba-tiba. Dia perlu mengklarifikasi soal ucapannya yang didengar Syahdu. Sudah pasti gadis itu juga tahu soal pelacur pribadi yang diucapkan Arga.


"Gue cuma ngga mau kalo gue jadi bahan ejekan temen-temen gue. Lo ngerti, kan?"


"Iya, ngerti. Santai aja."


Arga meliriknya. Gadis itu tampak biasa saja menanggapi penjelasan Arga.


"Gue juga baik bukan karena ada maunya. Apa yang gue lakuin semua cuma bentuk perhatian gue sama lo. Karena gue butuh lo untuk terus ada disamping gue."


Syahdu melirik Arga yang ada disebelahnya. Lelaki itu menatap ke depan.


"Lo nanya kan, apa bener gue akan tunangan sama tu cewek? Nggak. Gue pernah bilang kalo gue ga minat buat nikah, kan. Tu cewek emang dari dulu ganggu gue sampe ngelakuin apa aja supaya bisa deket ke gue." Arga menoleh kesamping saat merasa Syahdu menatapnya. Dia tahu Syahdu tengan menahan senyum.


"Beneran, bukan gue kepedean. Emang gitu kenyataannya."


Syahdu sampai tertawa. Aneh rasanya. Kenapa Arga selalu tahu apa yang ada dipikirannya.


"Makanya, kalo bisa... lo pertahanin dulu hubungan lo sama gue di depan oma. Sampe nyokap bantu gue buat lepas dari masalah gila ini. Bisa?"


"Maksudnya.. aku jadi pacar pura-puramu?"


"Ngga perlu dibilang juga mereka nganggepnya gitu, kan?"


Syahdu manggut-manggut. Tapi, soal ancaman Soraya..


"Nanti, apapun yang oma atau nyokap gue bilang tentang gue atau apalah. Lo harus setuju aja tanpa protes."

__ADS_1


"Nyokap?"


"Oh, gue belum bilang, ya. Iya. Nyokap gue disini."


Syahdu menganga. Jadi dia akan bertemu ibunya Arga? Kok jadi kayak ketemu calon mertua?


"Ga, gimana kalau ibu kamu marah karena aku datang, atau mengira aku akan merusak rencana pertunanganmu?"


"Nggak, lah. Nyokap gue nggak gitu. Percaya aja sama gue."


Syahdu mau saja percaya. Tapi tetap aja rasa was-was ada di hatinya. Dia takut, apalagi kalau orang tua Arga tahu siapa dirinya.


Syahdu mendadak mengibaskan tangan saat asap rokok Arga mengarah padanya.


"Ga."


"Ha."


"Kalau ada aku, kamu jangan ngerokok, dong. Kamu enak, tapi aku sama popi yang ngehirup asapnya kan, bahaya."


Arga diam, hanya memandangi rokok yang diapit di dua jarinya.


"Yuk, ah, Popi. Banyak asap, ga bagus buat kesehatan kita." Sindir Syahdu dan menggendong Popi masuk ke dalam. Sementara Arga langsung memadamkan rokoknya dan ikut masuk ke dalam.


Diperjalanan menuju rumah Margareth, Syahdu dan Arga banyak diam. Sejak tadi Syahdu hanya memikirkan apa yang akan terjadi disana. Walau Arga memastikan keamanannya, tetap saja Syahdu tegang.


Arga bisa melihat itu. Syahdu tampak tak nyaman. Dia terus mengepalkan tangannya yang berkeringat. Melihat itu, Arga tersenyum kecil. Lucu juga, pikirnya. Seperti akan mengenalkan Syahdu sebagai calon istrinya. Arga sampai terkekeh. Tanpa ia sadari, ia melupakan prinsipnya sendiri.


"Mau beli sesuatu dulu?" Tawar Arga, membantu mengurangi ketegangan Syahdu.


"Iya kayanya perlu beli apa gitu sebagai buah tangan."


"Ngga perlu buah tangan. Di rumah oma semuanya ada."


"Oo.." iya juga, pikirnya. Rumahnya juga sebesar istana, mana mungkin butuh oleh-oleh kecil darinya.


"Arga, kalau kamu beneran jadi tunangan, undang aku, ya." Ucap Syahdu tiba-tiba. "Aku serius." Lanjutnya saat melihat Arga memasang wajah tak suka.


"Memangnya lo mau ngasih gue apa."


"Kamu mau apa? Aku pasti kabulin." Syahdu bukan tanpa alasan mengatakan itu. Dia senang jika Arga bertunangan dan dia akan mengabulkan permohonan lelaki itu untuk yang terakhir kalinya.


"Eeemmm..." Arga berpikir keras, sampai ia tersenyum lebar dan mengatakannya. "Berhubungan badan sampai pagi." Jawabnya jail dan tentu saja membuat mata Syahdu membulat sempurna.


"Gila kamu!" Dengus Syahdu.

__ADS_1


"Kan lo nanya. Gue jawab. Selesai gue tukeran cincin, gue mau tidur sama lo sampe pagi." Ucapnya lalu tertawa puas.


"Kenapa? Kok lo diem." Tanya Arga lagi saat Syahdu tak bersuara.


"Mana ada orang yang tunangan tapi tidur sama perempuan lain." Tukas Syahdu.


"Adalah. Gue. Kenapa?" Arga tersenyum lebar. Senang bisa mengganggu Syahdu. "Lagian itu juga ngga bakal terjadi."


"Gimana kalau kamu memang harus tunangan?"


"Boleh, asal sama lo." Celetuk Arga.


"Nggak! Aku cuma mau sama kak Wicak!"


Arga tertawa terbahak-bahak. "Pedean lo. Gue juga cuma bercanda!"


Syahdu merengut kesal. Tunangan sama Arga? Dia tidak pernah memikirkan itu. Kalaupun hubungannya dengan Wicak tak berhasil, paling tidak dia ingin lari dari kota ini.


Senyum Arga terus mengembang dan gadis itu menatapnya. Senyum lebar Arga itu memang bukan pertama kali keluar. Tapi hampir tidak pernah keluar. Kenapa, ya? Walau sebenarnya Arga tidak cocok tersenyum di mata Syahdu.


"Ngapain lo liatin gue. Pengen?"


Syahdu mendesah kasar. Selalu saja Arga mikirin hal jorok.


"Bukan. Senyum kamu itu lho.."


"Senyum gue emang menawan. Jangan diliatin mulu, ntar lo naksir gue yang ribet."


"Senyum kamu kayak perempuan."


"Hah?" Mendadak Arga mengerutkan dahi. Senyum lebar yang sejak tadi mengembang pun luntur.


"Serius. Kamu tuh, cantik banget, Ga. Aku aja yang perempuan ngiri."


Dibilang kayak perempuan, Arga mendadak badmood.


"Nah, gitu. Wajah kamu emang lebih cocok sangar gitu daripada senyum. Lebih menarik." Syahdu berkata begitu sembari tersenyum, lalu melempar pandangan keluar jendela. Dibilang menarik, membuat suasana hati Arga kembali baik. Kini, Arga tengah menahan senyum sekuat tenaga supaya tetap menarik dimata Syahdu.



Senyum dengan bibir merekah lebarnya si Arga Vs muka datar


TBC


**Halooo..yuk Like biar Aku semangat buat Up🥰**

__ADS_1


__ADS_2