
Syahdu duduk bersandar di tempat tidur sambil mengelus lembut Popi yang tertidur. Pikirannya terbelah. Kini dia tahu Arga akan bertunangan, artinya dia akan bebas dan pergi dari kehidupan Arga. Tapi, kenapa seperti ada sesuatu yang menghalangi kesenangannya.
Syahdu menggeleng kecil, dia menepis semua prasangka dalam benaknya. Tidak ada yang perlu disedihkan karena dia akan bebas sebentar lagi.
Ya, nenek juga sudah sembuh, Wicak tadi mengabarkan kalau dia beberapa hari lagi akan sidang. Senyum kecil muncul di bibirnya. Ini sempurna. Rencana yang sempurna untuk pergi dari kota ini. Dia juga tidak perlu kabur karena Arga pada akhirnya akan bertunangan dengan Soraya.
Mata Syahdu kini mengikuti Arga melangkah. Dia keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya menuju walk in closet. Tak butuh lama baginya, Arga keluar hanya dengan celana pendek dan kaos nude.
Arga mengambil Popi yang tidur di kasur lalu meletakkannya diatas pet bed. Arga berbaring, sesekali ia terbatuk lalu miring menghadap Syahdu.
"Lo ngga tidur?" Tanya lelaki itu dengan suara yang agak serak.
"Kamu ga mau berobat dulu, Ga? Tiba-tiba batuk. Kalau makin sakit, gimana? Aku merasa bersalah, nih." Tanya Syahdu balik.
"Gue ga papa. Ga usah lebay." Tukasnya kemudian menutup mata.
Syahdu ikut berbaring, dia menarik selimut, juga menutupkan ke sebagian tubuh Arga.
Dia menghadap lelaki yang tengah demam itu. Lagi musim sakit, Wicak juga baru sembuh dari demam, pikirnya.
Arga membuka matanya sebelah, mengintip Syahdu yang memang tengah memandangnya. Kini mereka berhadapan.
"Lo mau gue sembuh, gak?" Tanya Arga tiba-tiba dan Syahdu mengangguk.
"Lo tau kan, cara supaya demam cepat turun?"
Syahdu menggeleng pelan.
"Namanya skin to skin."
Mata Syahdu mendadak membulat. "Itukan buat bayi."
"Siapa bilang? Itu juga bisa buat orang dewasa." Arga duduk dan membuka bajunya.
"Eh, mau ngapain?" Tanya Syahdu saat Arga menggeser mendekat kearahnya dengan bertelanjang dada
"Katanya mau demam gue turun. Skin to skin, dong."
Syahdu menggenggam kerah piyamahnya dengan kuat, tak ingin membuka baju demi ide gila Arga.
"Lo serius ga mau gue sembuh?" Tanya laki-laki itu dengan wajah yang dibuat murung. "Gue demam, nih." Arga meraih tangan Syahdu dan meletakkannya di dahinya.
Syahdu memang tahu Arga demam, dan semakin panas pula.
"Makanya, kita ke dokter.." Usul Syahdu.
"Udah malem banget.." Arga bergeser semakin mendekati Syahdu.
Gadis itu akhirnya mengalah, pasrah atas apa yang Arga lakukan padanya.
Lelaki itu membuka satu persatu kancing baju tidur Syahdu sampai terbuka seluruhnya. Lalu dia melingkarkan kedua tangannya kepinggang polos gadis itu.
Arga merebahkan kepalanya di dada Syahdu sampai ia bisa merasakan kehangatan juga detakan kencang dari jantung gadis itu. Arga tersenyum kecil, tidak seperti biasa, Syahdu tampak sedikit gugup.
Sementara Syahdu bisa melihat wajah Arga yang mulai memejamkan mata. Terasa seluruh tubuh Arga menempel di tubuhnya yang sama-sama tak berlapis pakaian.
Arga meraih sebelah tangan Syahdu lalu meletakkannya diatas kepalanya. Dia ingin Syahdu mengelus rambutnya dengan lembut.
__ADS_1
Syahdu berdesir, pelan-pelan ia mengelus lembut rambut Arga. Kemudian ia tersenyum kecil. Lucu juga, pikirnya. Padahal tadi Arga bilang kalau dia bukan seperti anak kecil yang demam sedikit harus diobati. Tidak tahunya, dia malah sangat manja seperti ini.
Syahdu terus mengelus Arga sampai tanpa sadar tangan itu terhenti karena dia tertidur. Begitu juga Arga, suhu tubuh Syahdu membuatnya merasa nyaman hingga ia pulas dalam dekapan gadis itu.
...🍁...
Arga membuka mata perlahan. Dia merasa suhu tubuhnya sudah lebih baik dari tadi malam. Dia tersenyum saat mengingat dimana ia tertidur pulas.
Arga menoleh kiri dan kanan, tidak ada Syahdu diatas tempat tidur besarnya. Tapi dia mencium bau harum yang ia tahu, Syahdu pasti memasak sesuatu untuknya.
Dia bangkit dan langsung menuju dapur. Dilihatnya Syahdu mengaduk masakan masih dengan piyama tidur.
Suara geseran kursi membuat Syahdu menoleh. Dia melihat Arga sudah duduk di meja makan.
"Laper, Ga?"
"Hm." Jawabnya walau sejujurnya dia tidak merasa lapar.
"Bentar, ya." Syahdu menuang bubur putih ke dalam mangkok.
"Lagi hangat, cepat makan." Syahdu membuka apronnya.
"Mau kemana lu?"
"Mandilah."
"Gue ga bisa makan sendiri."
"Hah?" Syahdu bengong. Bicara saja lancar, kenapa tidak bisa makan sendiri?
Syahdu, walau menghela napas, tetap mengambil bubur itu lalu menyuapkannya ke Arga.
Lelaki itu berhenti mengunyah, merasakan sesuatu dalam makanannya.
"Ini.. bubur apa?"
Syahdu tersenyum saat wajah laki-laki itu berubah seperti kepedasan.
"Ini cuma bubur nasi, tapi aku kasih cengkeh, bunga lawang, merica, santan. Ini tuh, seharusnya pake udang, tapi karena kamu ga bisa jadi aku ganti pake ayam. Enak, kan?"
"Bubur kok kayak sop, gitu? Ini mericanya kebanyakan. Pedes!" Protes laki-laki itu.
"Emang sengaja. Kamu kan, demam. Tapi enak, kan? Ayo, lagi." Syahdu mengangkat sendok lalu menyerahkannya ke Arga.
"Aaak.." Kata gadis itu saat Arga tak membuka mulut. "Cepat, Ga. Ayo habisin."
Arga membuka mulut lalu mengunyah bubur itu dengan malas.
"Gimana ya, kalau diliat-liat sih, kamu emang butuh pasangan." Celetuk Syahdu. "Sakitnya, manja banget!"
"Gue ga pernah sakit, ya. Baru ini! Ni juga gara-gara lo!" Sungutnya pada Syahdu.
"Ya itu, berarti kamu ga kuat-kuat banget. Kalau sakit malah tingkahnya ngelebihin anak kecil."
Lagi, Arga membuka mulut menerima suapan dari Syahdu.
"Aku seneng kalo kamu nikah, Ga." Ucap gadis itu dengan jujur. Bukan soal bagaimana ia bisa lepas, tapi memang perlahan dia menyayangi Arga sebagai teman. Apalagi Arga juga banyak membantunya diluar dari perjanjian kontrak.
__ADS_1
Lelaki itu tutup mulut saat Syahdu ingin menyulanginya lagi. Dia menatap dengan kesal kearah Syahdu.
"Aku bukan senang karena lepas darimu, bukan. Tapi, ini dari hatiku yang senang liat temannya akan punya pasangan. Karena kulihat, kamu memang tipe yang gak bisa hidup sendirian." Jelas Syahdu saat menyadari tatapan Arga padanya.
Lelaki itu berdecak kecil. Tiba-tiba mood-nya berubah buruk.
"Gue-"
"Iyaa. Kamu ga mau nikah, ga niat nikah, maunya sendiri terus sampe mati." Tekan Syahdu pada Arga. Lelaki itu langsung diam.
"Trus, kalo kamu sakit kaya gini, yang ngerawat kamu siapa?" Tanya gadis itu.
"Elo, lah."
"Aku?" Syahdu mendekatkan wajahnya. "Aku mau nikah."
"Ya ayo."
Langsung Syahdu memundurkan kepalanya, kaget dengan jawaban spontan Arga.
"Nggak mau. Sama mbak Soraya aja, sana."
Arga terkikik. Tiba-tiba saja dia teringat omanya. Waktu itu Margareth pernah menawarkan bantuan kalau dia diganggu ayahnya, maka wanita tua itu akan membantu asal dia mau menikah dengan Syahdu. Tapi, jika Margareth tahu kalau Syahdu anak pelacur, bagaimana?
"Malah melamun, ayo makan lagi. Aku mau ke rumah sakit." Syahdu memasukkan satu suapan ke mulut Arga.
"Ngga kuliah?"
Syahdu menggelengkan kepala. Untuk apa dia kuliah, yang ada malah membuatnya semakin tersiksa. Apalagi dia juga akan pergi dari kota ini, kan.
"Tapi, Ga, kalau aku boleh kasih saran, ngga ada salahnya menikah. Aku tahu, tante Julia dan oma berusaha supaya kamu menikah karena kamu keturunan terakhir."
Syahdu meletakkan mangkok bubur diatas meja. "Nenek dulu pernah bilang ke aku, kalau dia juga dijodohkan. Lalu dalam dua bulan, dia berhasil jatuh cinta sama kakek. Juga kakek yang langsung bucin banget sama nenek. Kayak yang kek ga mau pisah, gitu, Ga."
"Ya gue ga mau kayak gitu. Apalagi sama Soraya."
Syahdu cengo, bahkan dia belum sempat menutup mulutnya dan Arga langsung menjawabnya dengan cepat.
"Gi-gitu, ya." Syahdu menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
"Udahla, lo ngapain sih, repot-repot nyuruh gua nikah. Gue udah punya pemikiran sendiri soal itu."
"Oh, ya? Apa?" Tanya Syahdu dengan mata membulat.
Arga mendekatkan wajahnya. "Gue ga akan nikah sama siapapun, kecuali.." Arga menggantung kalimatnya.
"Kecuali?"
"Kecuali sama lo. HAHAHAHA."
Syahdu mendadak mengubah ekpresinya. Sementara Arga tertawa terbahak-bahak.
"Abisin tuh, bubur!" Sungut Syahdu kemudian pergi meninggalkan Arga yang masih tertawa lebar. Padahal dia sudah serius, Arga masih saja terus bercanda. Dia kesal dan berjalan ke kamar mandi untuk bersiap menuju rumah sakit.
TBC
* Semangat nih aku sama like yang makin bertambah🤗🤗**
__ADS_1