
"Udah dong, sayang. Jangan ngambek terus.." Arga mengekori Syahdu yang sudah kepayahan berjalan. Wajah istrinya bertekuk karena kesal dengannya yang seenaknya membatalkan janji.
"Aku janji, besok aku akan luangin waktu dan bener-bener datang walau ada meeting sekalipun. Besok aku jemput kamu setelah pulang kerja. Oke?"
"Janji aja terus!" Omel Syahdu tanpa mau menoleh. Ia lalu duduk di tepi ranjang.
"Kali ini beneran. Tadi aku meeting dadakan yang emang peenntingg banget, sayang. Aku juga ga bisa seenaknya batalin. Kamu kan, tahu, aku sekarang posisinya sebagai apa." Arga duduk disebelah istrinya. Mulai membujuk lagi. "Kalo kamu marah terus, kasian anak kita." Ucapnya sembari mengelus perut yang sudah membesar itu.
"Yang buat aku kaya gini kan, kamu!"
"Iya-iya. Makanya, aku mau gantiin yang tadi. Aku pesenin tiket nonton buat besok, ya. Kamu pengen banget ya, ke bioskop? Aku sewa aja gimana? Supaya kamu lebih nyaman." Bujuk Arga lagi.
"Nggak jadi. Udah nggak mood!"
Arga menghela napas perlahan. Dia harus sabar. Sejak hamil, Syahdu gampang ngambek dan sulit mengerti kondisinya. Benar-benar menguji dirinya.
Arga berjongkok. Dipandangnya wajah Syahdu yang masih manyun.
"Sayang, sekarang kamu bilang ke aku, ya, apa yang kamu mau. Aku akan turutin semuanya. Kamu tinggal bilang aja kamu pengen apa. Aku ga mau kamu marah terus sama aku. Kita bisa bicara baik-baik kan, sayang?"
Syahdu menunduk. Mendengar ucapan Arga, dia merasa dirinya juga kelewat aneh. Tapi Arga pula yang membuatnya kesal setengah mati.
"Kamu mau aku ngapain, supaya kamu gak marah lagi?"
Syahdu mulai memikirkan apa yang dia mau sejak tadi pagi.
"Kalau ada yang kamu pengen, cepat bilang ke aku, supaya aku bisa langsung kabulin permintaan kamu."
Syahdu dengan ragu menjawab. "Aku.. sebenarnya.. pengen makan sup yang sama kayak dulu waktu kamu antar ke rumah sakit. Yang pas aku sakit itu.."
Alis Arga terangkat. Ia mencoba mengingat. Perihal ia mengantar sup ke rumah sakit cuma satu momen. Yaitu saat Syahdu jatuh sakit delapan tahun yang lalu.
"Aku pengen persis yang kayak gitu." Ucapnya lagi.
Arga mengembangkan senyum. "Kalau cuma itu, gampang, sayang. Sekarang juga aku buatin, ya. Kamu tunggu sini."
Syahdu menarik baju Arga, melarangnya untuk pergi sebab ia belum selesai bicara.
"Kenapa, hm?"
"Aku.. Pengen.." Syahdu ragu mengatakannya.
"Pengen apa? Kamu mau apa, coba bilang terus terang."
Syahdu menatap Arga dengan mata membulat, berharap pria dewasa itu mengerti.
"Itu.. Aku pengen gitu.."
__ADS_1
Seorang Arga, yang masalah ranjang memang sudah mengakar di otaknya pun langsung paham kode dari istrinya.
"Aah. Kamu pengen gituu."
Syahdu menggigit bibir bawah. Berharap agar Arga tak menertawakannya.
"Gemes banget sih, bumil." Arga menarik Syahdu dalam pelukan. Dia merasa senang sekali jika Syahdu mengajak duluan soal ranjang. Baginya, itu keistimewaan terbesar. Sejak hamil, Syahdu sering sekali memberinya kode. Wanita itu bahkan lebih mendominasi dan terlihat lebih berhasrat. Mungkin memang bawaannya saat hamil. Entahlah, yang penting Arga menikmatinya.
Setelah bergumulan diatas ranjang, kini saatnya tugas lain membuatnya mau tak mau menuju dapur.
Arga berjalan keluar kamar, dia menoleh kebelakang saat mendengar suara langkah kaki dibelakangnya.
"Lho, mau kemana?"
"Ikut kamu ke dapur. Aku pengen liat kamu masak." Ucap Syahdu manja.
Arga mengulurkan tangan. "Yaudah, ayo."
Dengan mesra Syahdu menggamit tangan suaminya menuju dapur. Arga menarikkan kursi untuk Syahdu duduk. Lalu ia pun mulai mengeksekusi daging beku didalam kulkas.
Syahdu menopang dagu, menatap punggung Arga yang sibuk kesana kemari menyiapkan bahan. Dia benar-benar sangat mencintai Arga. Lelaki itu selalu sabar, bahkan menuruti semua kemauan-kemauan aneh dirinya.
Selang beberapa menit, Syahdu beranjak dari kursi.
"Mau kemana?" Tanya Arga.
"Belet pipis." Jawabnya seraya berjalan menuju kamar mandi, membuat Arga terkekeh. Semenjak memasuki usia kandungan yang matang, Syahdu selalu bolak-balik ke kamar mandi.
"Masak, Mi. Buat Syahdu." Jawabnya tanpa menoleh, sibuk dengan aktifitasnya.
"Ngidam ya, dia. Syahdu malah kebalik, ya. Sekarang keliatan banget manjanya. Malah awal hamil kayanya ngga gitu."
"Ga apapa. Kan, manjanya sama Arga. Ini tuh, ga ada apa-apanya ketimbang perjuangan Syahdu ngelahirin keturunan di keluarga ini."
Julia tersenyum mendengarnya. Syukurlah, anaknya sangat mengerti. "Mau Mami bantu?"
"Ngga usah, Mi. Arga udah biasa masak, kok."
Julia bangga pada anaknya. Beruntung Arga sudah berubah menjadi lebih dewasa semenjak menikah dengan Syahdu.
"Oh, ya. Soal Papa kamu, Mami udah bilang kalau Syahdu kemungkinan dalam minggu ini akan lahiran. Jadi.."
"Ga penting, Mi." Arga menghentikan aktifitasnya. Lalu berbalik menghadap Julia.
"Arga udah berapa kali ngomong ini ke Mami, Arga ga peduli lagi soal dia."
"Sayang, kamu akan jadi Ayah. Anak kamu laki-laki, kan? Gimana kalo dia juga ngelakuin hal yang sama?"
__ADS_1
"Ga akan, Mi. Karena Arga pun ga akan jadi kayak dia. Arga pernah ngerasain sakitnya jadi anak yang mimpinya dikubur sama ambisi orang tua. Jadi Arga ga akan buat anak Arga kaya apa yang dia lakuin ke Arga."
Setelah berkata begitu, Arga kembali dengan aktifitasnya. Julia pun tak lagi bicara. Berulang kali ia meminta Alex untuk memulai hubungan baik dengan anaknya, tapi pria itu pun tak merespon. Begitu juga dengan Arga. Dua orang itu, benar-benar sangat keras.
"Mami.." Sapa Syahdu yang baru datang. Ia mengusap perutnya sambil berjalan mendekat.
"Eeh, Syahdu. Duduk sini. Laper, ya?"
"Iya, Mi. Pengen makan sop buatan Arga." Jawabnya, lalu duduk didekat Julia.
"Makan yang banyak. Supaya ngelahirinnya kuat." Tukas Julia. Ia mengelus perut buncit Syahdu. "Mami masuk dulu, ya. Ngantuk banget. Kalian nikmatin waktu berdua, ya."
"Nite, Mi.." Ucap Arga pada Julia yang tersenyum hangat pada kedua anaknya. Dia pun masuk kedalam kamarnya dilantai atas.
Syahdu sebenarnya mendengar pembicaraan Arga dan Julia tadi. Tapi ia tak mau membahas. Tak ingin suasana diantara mereka saat ini memburuk.
~
Arga menuntun Syahdu berjalan. Setelah makan cukup banyak, ia kepayahan melangkah.
"Enak ya, masakan aku?" Tanya Arga sembari merangkul bahu Syahdu.
"He'em. Enak banget.."
"Berarti.. selama ini kamu pengen banget sama sop buatan aku?"
"Iya. Dulu kalau masak sop, aku selalu ngerasa kurang sedap."
Arga berbunga mendengarnya. Ternyata lidah Syahdu sudah lekat sekali dengan masakannya.
"Kalau kamu pengen makan sesuatu, bilang ke aku."
"Kamu kan, gak selalu di rumah."
"Aku akan pulang kalo kamu yang minta."
"Yang bener?" Tanya Syahdu meyakinkan.
"Iya, sayang. Aku akan berusaha buat kamu bahagia. Anak kita juga, tentunya."
Syahdu memeluk suaminya. Rada sulit, sebab ada yang menghalangi.
Setelah perbincangan yang cukup panjang, Syahdu pun terlelap dengan Arga yang mengelus lembut dahinya. Lelaki itu mengecup Syahdu, kemudian menaikkan selimutnya. Tak tidur, Arga masih ingin mengerjakan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
Beberapa jam kemudian, Arga mendengar rintihan dari tempat tidur. Dilihatnya Syahdu sudah memegangi perutnya.
"Syahdu!" Arga bergerak cepat. Ia memeriksa kondisi istrinya.
__ADS_1
"Sakitt.." rintih Syahdu dengan bulir keringat di dahinya.
Arga terlonjak mengambil ponsel menghubungi Arvian. Setelahnya, Arga buru-buru membawa Syahdu menuju rumah sakit.