
Arga terus mengembangkan senyum melihat bayi mungilnya yang tengah menyusu pada Syahdu sembari mata yang tertutup. Apalagi dengan kencang bayi itu menyusu tanpa henti.
"Kamu gemes banget, gak mau berhenti. Mirip ayah, ya." Arga terkikik sendiri menyamakan dirinya dengan sang bayi yang menyusu itu.
"Arsya.. jadi anak baik budi, ya?"
Alis Syahdu berkerut. "Arsya?"
"Iya. Aku mau panggil dia Arsya. Kan aku yang ngide nama itu."
"Kok jadi beda-beda gini panggilannya serumah?"
"Ya nggak apa-apa. Aku juga gitu, kan? Terserah dong, mau panggil apa." Jawab Arga cuek menatap si bayi mungil yang masih setia menutup mata.
"Gini ya, rasanya punya anak." Arga mengelus pipi lembut anaknya sambil terus menatap haru. "Untung aja aku tergerak untuk nikah sejak kenal kamu, Syahdu. Kalau enggak, kurasa aku akan sendiri sampai sekarang dan ga bisa ngerasain gimana bahagianya seperti sekarang."
"Bahagia banget, ya?" Beo Syahdu.
"Bangetlah!! Aku punya kamu, punya anak kaya gini lucunya. Ngga ada laki-laki yang lebih bahagia dari aku, Syahdu. Dan semua ini karena kamu."
Syahdu tersenyum mendengarnya. "Aku juga bahagia karena kamu, Ga. Cuma aku ngerasa ada yang kurang."
"Kurang? Kurang apa, sayang? Kamu butuh sesuatu?" Tanya Arga, mulai duduk tegak mendengar apa yang dibutuhkan sang istri.
"Aku kangen sama Bunda."
Bunda Nani, orang yang banyak berjasa atas dirinya selama bertahun-tahun. Dulu Nani pernah bilang, kalau dia akan sangat senang jika Syahdu menikah dan punya anak. Tapi Nani tidak ada disisinya saat ia menikah maupun telah punya anak seperti sekarang.
"Sabar ya, sayang. Kalau Arsya udah gede, kita bawa dia kesana untuk ketemu sama keluarga kamu." Arga mengelus rambut Syahdu, menenangkan wanita itu.
"Aku telpon Tari, ya. Siapa tahu dia lagi aktif." Arga mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Tari, tapi tidak aktif.
"Aku kirim pesan ke Tari supaya dia telepon kamu kalau udah diatas bukit."
"Makasih, ya Ga."
"Aku yang makasih. Perjuangan kamu luar biasa untuk kebahagiaan di rumah ini." Tuturnya yang kemudian mengecup lama kening Syahdu.
...π...
'KYAAAAAA.. LUCU BANGETTTT!!'
Syahdu tertawa melihat reaksi lucu Tari dan Adit yang ada di layar ponselnya. Saat ini mereka tengah mengobrol video call.
'Adududuu Tari jadi pengen banget ketemu langsung. Siapa namanya, kak?'
"Arsya Alexander Loui."
'Arsya? Ceilee, Arga Syahdu maksudnya?' Lagi, Tari terkekeh bahagia yang ikut tertular ke Syahdu.
"Adit.." Panggil Syahdu pada anak angkatnya yang hanya diam melihat bayi mungil yang diarahkan Syahdu ke kamera.
"Adit sehat, nak?"
'Adit, ih. Ditanya kak Syahdu.' Tari menepuk pundaknya.
'Bunda. Bunda kapan pulang.' Suara Adit bergetar. Matanya pun mulai berair. 'Bunda udah mau setahun nggak kesini lagi. Tiba-tiba Bunda ada anak lagi. Bunda nggak kangen sama Adit? Bunda udah lupa ya, sama Adit?'
'Adit, ih. Ga boleh ngomong gitu. Kan, kakak udah jelasin ke Adit kalo kak Syahdu itu udah menikah disana.' Jelas Tari pada Adit yang hanya diam menunduk. Terlihat ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Tentu hal itu membuat hati Syahdu berdenyut. Adit yang paling dekat dengannya sebab sejak Adit bayi, Syahdu lah yang merawat dan membesarkannya.
__ADS_1
"Adit, sayang. Bunda kangeeen banget sama Adit. Tapi Bunda belum bisa pulang, Nak. Nanti kalau adik Arsya udah besar, Bunda main-main kesana, ya? Atau Adit mau kesini biar Bunda jemput? Adit udah libur belum?"
Adit menggelengkan kepalanya. Ditahannya air mata supaya tidak jatuh lagi.
"Kalau udah libur, kabarin Bunda, ya? Nanti Bunda bujuk Bunda Nani supaya mau liburan ke rumah Bunda. Oke?"
Adit mengangguk lambat. Lalu ia menghilang entah kemana.
'Adit belakangan cengeng, kak. Padahal Tari udah bilang kalau kakak pasti akan balik kesini. Tapi setiap hari Adit nanyain kakak ke Bunda Nani.' Jelas Tari lagi.
"Gitu, ya.." Syahdu jadi merasa bersalah. Dia pun sangat menyayangi Adit seperti anak sendiri. Tapi kondisi saat ini tak membuatnya bisa melakukan apa-apa.
'Kakak jangan khawatir, Adit baik-baik aja, kok. Tari bantuin PR-nya Adit. Bunda juga sehat. Nanti kalau bunda udah pulang, Tari ajakin naik bukit supaya bisa ngobrol sama kakak, ya.'
"Makasih ya, Tari. Jagain Adit dan Bunda, ya?"
'Pasti, kak. Tari udahan dulu, ya. Dadah, kak..'
Syahdu melambaikan tangan, lalu sambungan video pun terputus.
Pikirannya langsung teringat Adit yang memang sangat dekat dengannya. Bisa-bisanya selama ini ia bahagia sendiri sementara anaknya disana terus merasa rindu.
Syahdu melirik berkas yang baru tadi malam diberikan Arga padanya. Surat bangunan yang baru dibeli Arga untuk membuat panti asuhan sesuai permintaannya dulu. Jika nanti ia kembali, sekali lagi, ia ingin mengajak Bunda, Adit, dan Tari ikut bersamanya. Semoga saja mereka mau menuruti keinginan Syahdu yang ingin dekat dengan mereka terus menerus.
...π...
Enam bulan kemudian...
"Gimana, Tar?" Tanya Syahdu. Dia mengarahkan kamera keseluruh ruang.
'Wuaah. Itu mah, mewah banget. Kayak bukan panti sih, kak.'
'Hah, orang kaya mah bebas.'
"Hehehe. Oh ya, Tar. Gimana? Kamu udah bilang ke Bunda?"
'Belum.. eumm.. sebenarnya...'
"Ada apa, Tar?" Tanya Syahdu saat melihat perubahan raut wajah Tari.
'Eh, enggak deh. Ngga ada apa-apa. Udah dulu ya, kak. Tari ada les sebentar lagi. Baaayyy!'
"Hei, Tar!"
Belum sempat bertanya banyak, Tari memutuskan sambungan video. Perasaan Syahdu jadi tak enak. Dia yakin Tari pasti menyembunyikan sesuatu.
~
Syahdu berjalan lunglai masuk kedalam rumah. Dilihatnya Arga tengah bermain bersama Loui di taman belakang. Pria itu tengah menyuapi anaknya makan dengan riang. Tak sekali dua kali Loui menyembur-nyemburkan bubur yang disuapkan ke mulut mungilnya. Hal itu tentu membuat Arga sedikit frustrasi.
"Aah. Nak, jangan dibuang-buang. Ayo, dimakan. Ngga enak ya, bubur buatan Papa?"
Syahdu yang berdiri di depan pintu penghubung tertawa kecil. Lucu melihat kecewanya Arga.
Waktu usia Loui 4 bulan, bayi kecil itu mulai mengoceh. Kata pertama yang berhasil keluar adalah Mama. Lalu, saat Arga mengajarinya untuk mengatakan 'ayah', Loui tidak tergerak. Bayi itu malah mengoceh kata lain, yaitu Papa.
Sontak Arga tercengang dan langsung merubah nama panggilannya tak lagi Ayah, melainkan Papa.
"Aaaaakkk.." Loui merentangkan tangan gembira melihat siapa yang berdiri tak jauh darinya. Syahdu melambai-lambaikan tangan pada si bayi berwajah bule itu.
__ADS_1
Arga menoleh kebelakangnya, merengut saat Syahdu mendekat.
"Kenapa?" Tanya Syahdu. Wanita itu membersihkan wajah Arga dari bubur semburan Loui.
"Arsya nih, ga mau makan. Padahal tadi awal-awal lahap banget."
"Kenyang mungkin." Syahdu mengambil alih tempat makan Loui, lalu mulai menyuapinya lagi.
"Aaak, ayo makan, sayang.."
Loui membuka mulutnya dan langsung melahap bubur yang disodorkan Syahdu. Sempat tersenyum Syahdu saat melihat anaknya menyantap, walau sedetik setelahnya Loui kembali menyemburkan bubur di mulutnya.
"Oh, udah kenyang ya, sayang. Makannya udah banyak banget nih.." ucap Syahdu mengelap pipi Loui yang bercelemotan.
"Hmm.. Ga."
"Iya, sayang."
"Kok aku khawatir sama Bunda, ya. Tadi Tari kayak nyembunyiin sesuatu dari aku. Aku yakin dia dilarang bicara sama Bunda. Apa ada sesuatu, ya?" Syahdu mendudukkan Loui di dekatnya. Anaknya itupun mulai mengambil buku dan memainkannya.
"Kenapa nggak tanya langsung aja?"
"Udah, tapi Tari beneran ngga mau kasih tau aku. Aku jadi khawatir. Gimana.. kalo aku balik, Ga."
"Kamu mau ke desa?"
"I-iya, kalo kamu izinin. Soalnya perasaan aku ngga enak, Ga."
Arga menghirup napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan menimbang permintaan istrinya.
"Ya udah, aku temenin, ya. Tapi kita jangan bawa Arsya. Mami katanya mau terbang kesini dua hari lagi, rindu berat sama Arsya. Jadi, kita titip sama Mami tapi ngga bisa lama-lama."
Syahdu mengangguk-angguk cepat lalu memeluk Arga. "Makasih banyak, Ga. Aku seneng banget kamu izinin aku liat Bunda."
"Iya, aku juga ngga bisa liat kamu kalau khawatir terus gini.." Ucap Arga sembari terus mengusap punggung istrinya.
Loui tak sengaja mengoyakkan sebuah halaman dalam majalah. Dimana itu adalah foto Arga bersama model wanita.
"Oh, Loui. Kamu kok ngerobek majalah kesayangan Papa?" Syahdu mengambil bagian yang koyak dan menyatukannya lagi.
"Siapa yang bilang itu majalah kesayangan aku?"
Syahdu mengabaikan Arga. Ia membuka lebar halaman majalah dan menunjukkannya ke Loui.
"Liat, sayang. Ini tuh Papa kamu lagi tebar pesona." Kata Syahdu menunjuk gambar Arga yang tengah manggung di sebuah festival musik tahun lalu dengan mengenakan singlet putih.
"Papa tuh suka buka baju gini kalo tampil di depan publik. Ngga tau kayanya Papa kamu ga suka pake baju kalo di atas panggung. Biar apa, ya?"
"Babaabaahh" Oceh Loui meremas halaman majalah dengan gemas. Sementara Arga tersenyum-senyum mendengar celotehan Syahdu.
"Biar nggak gerah, sayang." Jawabnya.
"Oh. Aku kira mau pamer tubuh ke cewe-cewe." Sindiri Syahdu dan Arga menahan tawa melihat cemburunya Syahdu.
"Udah ah. Malah dibuka-buka. Ini bisa jadi perang nih, gara-gara ini." Arga menutup majalahnya, namun Loui ternyata menangis sebab ia masih suka melihat warna-warna yang ada disana.
"Huuu kok nangis. Ayo mandi, abis itu kita jalan-jalan biar Mama nggak cemberut lagi, Oke?" Arga menggendong Loui dan membawanya ke kamar mereka. Diikuti Syahdu yang menahan senyuman dibelakangnya.
__ADS_1
** Lanjutan kisah Syahdu dan Arga ada di High School Relation-shitt TAPI adanya di bab pertengahan ya, pas PoV Arsya yang paling banyak nampilin kebahagiaan mereka setelah Arsya besar.