SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Musim Semi di hati Syahdu


__ADS_3

Ponsel Syahdu berdering. Dia langsung terduduk diatas tempat tidur sambil membulatkan mata ke arahku. Kenapa lagi dia?


Syahdu mulai melirik kesana kemari, seperti mencari sesuatu.


Dia lalu duduk disebuah kursi kecil menyudut dan memberiku kode untuk diam dengan meletakkan telunjuk di bibirnya.


Aku yang tak paham maksudnya ikut diam, melanjutkan pekerjaanku.


'Syahdu, sibuk, ya?'


Telingaku terangkat, dia.. sedang video call dengan pacarnya, ternyata.


Syahdu tampak sigap memasang earphone dan melirikku sekilas.


"Enggak, kak." Jawabnya.


Tak terdengar lagi apa yang dikatakan pacarnya itu karena kini mereka tengah asyik mengobrol berdua.


Akupun melanjutkan pekerjaanku, berusaha untuk fokus tapi perbincangan Syahdu di sudut sana membuatku terganggu. Dia tertawa-tawa dengan suara manja. Hal yang tak pernah aku dengar sebelumnya.


Aku melirik jam di dinding saat merasa Syahdu terlalu lama mengobrol. Kini pukul 12 malam dan dia masih segar dan terus tertawa. Membuatku kesal saja mendengar cengengesannya.


"Mau dengar? Mau dengar??" Suara Syahdu terdengar lebih kencang sekarang. Dia masih saja dengan senyum lebarnya.


"Gak percaya? Kenapa? Kita kan, udah 7 tahuuuunn..." Ucapnya manja. Bicara apa sih, mereka. Bisa biasa aja, nggak? Batinku kesal.


"Ya udah, mau denger, kan?" Katanya lagi.


"Bagaimana caranya agar kamu tahu bahwa kau lebih dari indah di dalam hati ini🎶"


Aku melihat Syahdu yang tengah bernyanyi.


"Lewat lagu ini, kuingin kamu mengerti, aku sayang kamu. Kuingin bersamamu...🎶"


Dia tertawa lagi. Lagu itu, dia pasti memberikannya untuk lelaki itu. Tak sadar aku menatapnya tanpa berkedip. Suara yang syahdu, serta wajah cerah cerianya itu selalu saja kulihat saat dia bersama kekasihnya. Sampai aku berpikir, apa aku bisa membuat wajahnya seceria itu?


"Dadah.. love you too, kak."


Syahdu mengakhiri percakapannya dan akupun langsung memfokuskan mataku ke arah laptop.


Perempuan itu langsung naik ke atas tempat tidur dengan wajah yang masih bersemi.


Aku menutup laptop dan membereskan berkas. Besok pagi akan aku lanjutkan karena waktuku benar-benar terkuras hanya untuk mendengarkan Syahdu mengobrol dengan kekasihnya yang mengusikku.


Kulihat gadis itu berbaring dengan earphone di telinganya. Matanya perlahan mulai tertutup, tangannya yang memegang ponsel perlahan merenggang.


Aku mendekat, memperhatikan wajah damai Syahdu yang sudah tertidur. Aku sangat mengerti kenapa laki-laki itu mempertahankannya. Syahdu gadis yang pintar, baik, dan penurut. Di zaman sekarang ini, sangat sulit mendapatkan perempuan sepertinya.


Bagaimana jika laki-laki itu tahu kalau Syahdu sudah menjadi perempuan sewaan? Pertanyaan itu muncul lagi di kepalaku. Sesuatu yang bukan menjadi urusanku, tapi selalu penasaran dengan hasil akhirnya.

__ADS_1


Perlahan aku melepaskan earphone dari telinganya, mengambil ponsel Syahdu dan meletakkannya di atas nakas.


Layar ponsel itu menyala, menampilkan foto Syahdu dan kekasihnya yang melingkarkan tangan kanannya di leher perempuan itu.


Aku memandang wajah Syahdu cukup lama di layar itu. Seperti yang sering kulihat, wajah bahagianya yang seperti itu hanya timbul saat dia bersama laki-laki itu.


Aku merebahkan tubuh disebelah Syahdu. Entah kenapa belakangan aku selalu ingin tahu apa yang terjadi setelah hubungan kami berakhir nanti. Akupun memiringkan tubuh memandang gadis itu.


Lagi, setiap melihatnya tertidur seperti itu, membuatku merasa sedikit kasihan. Aku sangat berharap akan ada yang menerima dirinya dengan tulus jika lelaki bernama Wicak itu tidak bisa menerimanya. Harapan yang selalu muncul saat melihat Syahdu tertidur.


Aku menarik dan menutupkan tubuhnya dengan selimut, mengecup lembut kening perempuan itu. Kegiatan yang sering kulakukan belakangan ini sebelum akhirnya ikut tertidur disebelah perempuan yang kuharapkan selalu kebahagiaan dalam hidupnya.


~


Pagi-pagi sekali Syahdu bangun dan memasak. Aku terbangun saat mencium aroma masakan dari dapur.


Kulihat perempuan itu bernyanyi disana. Dia bergoyang sambil mengaduk-aduk masakannya.


Seru sekali kelihatannya. Suasana hatinya masih seperti musim bunga sejak kemarin. Lihatlah, dia menjadikan spatula sebagai mic-nya.


"Cinta ini!! kadang-kadang tak ada logikaa !"


Dia mulai ngegas saat memasuki reff.


"Berisi semua hasrat dalam hati !!"


"Dan hanya ingin dapat memiliki, dirimu hanya untuk sesaatt !!"


"Bukannya aku tak tahu!! Kau sudah ada yang punyaa !!"


Aku mulai tertawa pelan melihat tingkahnya. Ternyata bisa absurd juga dia.


"Karena kau tlah bisikkan cintamu padaku kutau engkau berdustaaa !!"


Suaranya mulai nge-rock. Tak lupa mengaduk supaya masakan itu tidak gosong.


"Cinta iniiii.. aakhh!"


Dia menjatuhkan spatula saat berbalik dan terkejut melihatku yang berdiri bersandar di pintu penguhubung.


Syahdu berdecak kecil, lalu mengambil spatula yang jatuh. Senyum dan keceriaan yang sejak tadi timbul kini meredup menjadi raut kesal. Lagi-lagi karena kehadiranku.


Aku menarik kursi dan duduk di meja makan. "Masak apa lu."


Lama dia menjawab, sampai ia selesai memindahkan masakannya ke dalam piring.


Syahdu meletakkan hasil masakannya di depanku, "Tumis kangkung, sambal cumi, dan goreng tempe. Hehe. Mantap, kan?"


Aku hanya menunjuk piring kosong di depanku, minta diisi karena aku mau makan. Tiba-tiba saja terasa lapar.

__ADS_1


Dengan bibir manyun dia mengisi nasi ke dalam piringku.


"Coba diicip. Ini masakan terbaikku. Soalnya dimasak dengan rasa cinta."


Aku mengerutkan dahi. Rasa cinta?


"Jangan salah paham. Hari ini aku akan pergi bersenang-senang. Itu sebabnya aku memasak dengan penuh kebahagiaan." Ocehnya.


Aku membiarkannya mengoceh supaya rumah ini agak rame.


Aku mulai memasukkan satu suapan ke dalam mulut. Tapi wajah Syahdu menatapku dengan serius. Kenapa, sih.


"Enak?" Tanyanya dengan mata membulat.


"E-"


"Hepp!"


Baru aku mau bicara, dia langsung memberi lima jari di depanku, menyuruhku untuk berhenti.


"Jangan bicara dulu. Ingat, ya. Ini masakan terbaikku. Jadi lidahmu itu harus bisa dikondisikan sebelum menilai."


"Enak." Kujawab langsung tanpa mendengarkan ocehannya. Tapi dia malah diam cukup lama menatapku.


"Enak? Serius?" Tanyanya meyakinkan.


"Iya. Enak."


Syahdu buru-buru mengambil sendok dan memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya. Lalu matanya langsung berbinar.


"Eemmm.. iyaa. Enakkkk." Ucapnya dengan menggenggam erat sendok. Dia kesenangan, mengisi lagi sambal cumi ke piringnya, Kepalanya juga ikut bergoyang senang sambil mulutnya mengunyah.


Dia kenapa, sih. Hahaha.


"Uhukkk!" Aku tersedak, Syahdu buru-buru mengisi air dan memberikannya padaku.


"Saking enaknya ya, masakan aku. Hehe."


Dia malah cengengesan dan aku bisa melihat itu dari balik gelas yang kusesap.


Aku tak bilang padanya kalau aku tersedak karena tingkah anehnya itu.


Setelah sarapan, Syahdu buru-buru berganti pakaian sedangkan aku masih melanjutkan pekerjaan sebelum jam makan siang. Karena nanti akan bertemu klien.


Aku menganga saat menangkap Syahdu mondar mandir tanpa busana. Dia hanya memakai dalemannya saja.


Tunggu dulu. Perempuan itu beberapa waktu lalu masih malu-malu walau berulang kali aku katakan, kalau aku sudah sangat hapal dengan bentuk tubuhnya itu. Tapi kini, dia merasa bebas berkeliaran di rumah ini dengan tellanjang seperti itu?


Tak lama berada di dalam walk in closet, Syahdu keluar dengan memakai baju yang kemarin aku pilihkan. Sangat cocok dengannya yang menguncir rambut ke belakang dan menyisakan sedikit rambutnya di depan. Sangat cantik. Dia tersenyum cerah di depan cermin, merapikan rambut, lalu mulai berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Arga, aku ga tau jam berapa pulangnya. Soalnya aku mau kencan dengan kak Wicak. Jadi, jangan chat atau telepon aku. Oke?" Syahdu keluar dari apartemen, sementara aku masih melongo. Jadi, dia memintaku memilihkan baju yang dia pakai untuk kencan dengan pacarnya? Sial, tahu gitu aku pilihkan yang jelek-jelek!


TBC


__ADS_2