SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Happy Birthday, Syahdu.


__ADS_3

Arga baru selesai mengisi acara. Dia duduk bersama teman-temannya dalam satu meja. Mereka minum dan mengobrol ria bersama gandengan masing-masing kecuali Arga. Dia terus menatap ponsel, menunggu unggahan Syahdu. Tapi tidak ada update lagi dari gadis itu padahal dia sudah rindu tidak bertemu dalam dua hari ini.


"Ga, lo ngga ada gandengan, nih? Gue kasih satu, deh." Kata Rio, teman Arga yang memeluk dua perempuan disebelah kanan dan kirinya.


"Iya, nih. Tumben banget. Biasanya lo gercep soal cewek." Sahut Kenzo.


"Gue mau balik." Balas Arga.


"Eeeh, jangan dong. Lo ngga denger tuh, Soraya tadi bilang mau kesini." Sambung Rio lagi.


"Iya. Dari SMP lho dia ngejer-ngejer lo. Cobain dikitlah."


Arga memadamkan rokoknya, dia sama sekali tak memperdulikan ucapan teman-temannya.


"Lagi jatuh cinta lo, ya?"


Pertanyaan Rio membuat Arga meliriknya.


"Biasanya sih, ciri-ciri kaya lo gini tiba-tiba ngga mau booking cewek, ya karena cinta."


"Hahaha. Ngga ada cinta-cintaan di hati Arga. Dia mah, ngga niat bercinta pake hati!" Kenzo membuat yang lain ikut tertawa.


"Ngakak gue kalau Arga jatuh cinta." Lanjut Andre lagi.


"Kasian amat tu cewek yang ditaksir Arga." Tukas Rio.


"Kenapa, kak? Kan, kak Arga ganteng banget." Sahut salah satu cewek diantara mereka.


"Buat apa ganteng kalau nggak lurus kayak si Arga ini." Jawab Rio.


"Buktinya kak Arga masih booking cewek, kan?" Sambung cewek yang lain.


"Hahaha. Iya sih. Tapi dia ini, nggak niat nikah dalam hidupnya. Mau lajang teroos.. ngga mau sama satu cewek, mau ganti setiap hari. Hahahha." Jelas Rio. Dia masih mengoceh panjang lebar menjelaskan Arga pada cewek-cewek di meja mereka. Sementara Arga menatap ponselnya yang bergetar.


Nama Syahdu muncul di layar ponselnya, membuat Arga tersenyum kecil dan langsung mencari tempat untuk mengangkat teleponnya.


Arga berdehem, memperbaiki suaranya supaya terdengar bagus oleh Syahdu.


"Ada apa?" Tanya Arga. Dia menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.


Tidak ada suara. Hanya suara hujan yang terdengar.


"Halo, Syahdu?"


"Ga." Suara Syahdu terdengar parau dan Arga mulai panik.


"Ya?? Ada apa? Lo dimana?"


"Di stasiun."


Arga diam sebentar. Dia tengah berpikir, kenapa Syahdu terdengar sangat sedih padahal dia baru bersenang-senang dengan pacarnya. Nggak mungkin lelaki itu meninggalkannya disana jam segini.


Kaki Arga ingin melangkah untuk menjemput Syahdu, tapi dia harus mendengar dulu apa permintaan gadis itu karena dia tak mau salah langkah.


"Bisa jemput aku nggak, Ga?" Suara Syahdu terdengar ragu.


"I-iya gue kesana sekarang." Arga berlari menerobos orang-orang di dekatnya. "Lo tunggu disana, jangan kemana-mana." Ucapnya sambil terus berlari menuju mobilnya.

__ADS_1


...🍁...


Sebelumnya.....


Syahdu dan Wicak sudah turun dari kereta. Jam menunjukkan pukul 12 malam dan mereka tengah menunggu taksi online yang sudah dipesan Wicak.


"Kak.."


"Ya?"


"Aku.. pulang sendiri aja." Kata Syahdu.


"Kenapa? Biar kuantar ke rumah."


"Aku mau ke suatu tempat." Ucapnya.


"Biar aku antar, ya? Ini udah tengah malam."


"Rumah temanku dekat dari sini. Kakak jangan khawatir."


Ponsel Wicak berdering. Dia menerima panggilan dari supir taksi online yang menanyakan posisi mereka. Setelah memberitahu secara detail, Wicak menutup teleponnya.


"Syahdu, apa nggak sebaiknya aku yang antar?" Bujuk Wicak lagi. Dia sangat khawatir apalagi Syahdu nampak lemas.


"Enggak, kak. Aku sendiri aja." Syahdu meraih tangan Wicak. "Makasih ya, kak. Aku senang banget."


"Aku akan ajak kamu ke tempat yang lebih menyenangkan lagi. Tunggu aja waktunya." Ucap Wicak sembari mengelus kepala Syahdu.


Sebuah mobil berhenti tepat dihadapan mereka. Kaca mobilnya terbuka, "Bapak Adhitya Wicaksana?"


"Iya, pak." Jawab Wicak. "Syahdu, kamu yakin? Beneran ngga mau aku antar?" Tanya Wicak sekali lagi.


Wicak mengangguk. "Ya udah, kalau gitu. Kabarin aku kalau udah sampai rumah temen kamu, ya." Wicak memeluk Syahdu, dia mendekap dengan erat. "Happy birthday, sayang. I love you." Ucapnya kemudian mengecup puncak kepala Syahdu.


Syahdu pula membalas pelukannya dengan erat. Dia tengah menahan air mata yang sejak tadi hampir tertumpah di depan Wicak.


Setelah cukup lama berpelukan, Wicak mengangkat barangnya dan naik ke dalam taksi. Tak lupa memberi senyuman dari jendela mobil pada Syahdu.


Setelah mobil itu berlalu, Syahdu duduk di kursi tunggu. Air matanya mulai menetes. Tak peduli dengan sekitar, dia melepaskan tangisan yang sejak tadi membuat dadanya terasa penuh. Padahal baru menginjak menit kelima di hari ulang tahunnya, tetapi perasaan kalut sudah menyelimuti hatinya. Seharusnya hari ini adalah hari yang menggembirakannya sebab Wicak memberinya hadiah berupa jalan-jalan dan dia yakin, lelaki itu masih akan memberi kejutan siang nanti.


Syahdu terus mengingat ucapan Riska siang tadi. Apa yang dibilang teman lamanya itu benar sekali. Kata-kata Riska membuka pikiran bahwa masa depannya sudah tak terselamatkan. Jika dia membiarkan Wicak bersamanya, maka itu sama dengan membuat lelaki itu terseret dalam masa depan suramnya. Masa depan laki-laki itu juga bisa berantakan. Hanya saja untuk melepaskannya, Syahdu perlu pegangan supaya dia tidak ikut terjatuh.


Syahdu merasa tak berdaya dengan dirinya sendiri. Jika mampu, dia ingin mengulang waktu. Dia ingin lebih berusaha lagi supaya bisa mencari uang tanpa mengorbankan dirinya dan juga masa depan yang jauh-jauh tahun sudah ia mimpikan bersama Wicak. Tapi sekarang, semua pengorbanan Wicak harus melebur dan menjadi sia-sia karena ulah Syahdu sendiri.


Syahdu memejamkan matanya yang terasa perih. Air matanya pun tak juga mau berhenti. dia memeluk tubuhnya sendiri, rasanya tidak bisa digambarkan. Perih, kecewa, menyesal, merasa bodoh, semua bergabung menjadi satu. Wicak, lelaki itu harus bahagia dengan perempuan yang sepadan dengannya.


Lagi pula setelah dipikir-pikir, orang tua Wicak masih belum menyukainya. Tentu itu juga yang akan menjadi penghalang mereka selanjutnya.


Setelah merasa lebih baik, Syahdu mengeluarkan ponselnya. Dia perlu menghubungi seseorang untuk menjemputnya.


...🍁...


Arga berlari, dia mencari Syahdu di stasiun sambil meletakkan ponsel di telinganya. Dari tadi nomor Syahdu tidak aktif dan itu membuatnya mulai khawatir.


Setelah mencari kesana kemari, Arga akhirnya menemukan perempuan itu. Dia tengah duduk melamun menatap hujan.


"Syahdu."

__ADS_1


Perlahan gadis itu mendongak.


"Lo gimana, sih? Gue telponin nomor lo nggak aktif. Gue kira lo kenapa-napa!"


Syahdu diam menatapnya dengan sayu. Matanya masih terlihat basah. Dia juga sangat lesu. Sesuatu mungkin terjadi padanya.


Tanpa kata, Syahdu berdiri sambil membawa barang-barangnya. Berjalan perlahan melewati Arga yang masih berdiri menatapnya.


Arga mengikutinya dari belakang, menatap punggung Syahdu yang tampak menyedihkan. Ada apa? Bukankah dia baru pergi bersenang-senang? Apa yang laki-laki itu lakukan pada Syahdu? Tak bisa terjawab karena Argapun tak bertanya.


Di dalam mobil pun Syahdu bersandar lemas seperti tak bertenaga. Dia menyentuh rintikan hujan yang menempel di kaca mobil. Wajahnya murung, aneh sekali padahal baru liburan dan unggahan tentang kesenangannya pun belum hilang dari sosial media. Tapi kenapa tiba-tiba seperti itu?


Sesampainya di apartemen, Syahdu meletakkan barang-barangnya dengan sembarang, lalu naik ke tempat tidur. Dia membaringkan tubuhnya tanpa bertukar pakaian atau mandi seperti yang biasa dia lakukan.


Arga yang melihat keanehan Syahdu sejak tadi hanya diam. Dia tidak ingin membuat suasana hati Syahdu bertambah buruk. Terlihat pula Popi yang tadinya tidur, langsung bangun dan pindah kesebelah Syahdu.


Keesokan harinya, Arga pergi ke kampus. Dia tidak membangunkan Syahdu tadi. Perempuan itu tampak sangat nyenyak hingga membuat Arga enggan membangunkannya.


"Syahdu nggak dateng, ya?" tanya Dina. Dia melirik jam di tangannya.


"Iya, udah jam segini." Sambung Alika.


Tak lama, Dosen masuk dan pelajaran dimulai. Syahdu benar-benar tidak menunjukkan batang hidungnya sampai kelas bubar dan hanya menyisakan Adina dan yang lain sedang mengerjakan tugas kelompok mereka.


"Permisi."


Arga menoleh, dia mendapati Wicak berdiri di depan pintu membawa sebuah bucket bunga. Mata lelaki itu menatap ke arah Adina.


"Ada Syahdu?" tanya Wicak.


"Oh, Syahdu nggak datang, kak." Jawab Dina.


Alis Wicak berkerut. "Nggak datang?"


Adina dan yang lain saling pandang. Kenapa kekasih Syahdu itu malah tidak tahu.


"Apa dia sakit?" Tanya Wicak lagi.


"Nomornya nggak aktif, kak. Dia juga nggak ada bilang apa-apa." Jawab Alika.


Setelah mengucapkan terima kasih, Wicak keluar ruangan dengan wajah gelisah. Sebab dia pun mencoba hubungi Syahdu namun tidak dijawab.


"Romantis banget sampe bawa bunga segala." Ucap Alika.


"Hari ini ulang tahun Syahdu." Sahut Awan dari kursi paling belakang. Dia duduk sendirian sambil bermain ponsel barunya.


"Serius?"


"Apa kita rayain?"


"Tapi Syahdu kemana?"


Yang lain mulai membuat rencana, sementara Arga yang sejak kemarin mengamati Syahdupun belum paham dengan apa yang terjadi. Nampaknya lelaki itu tak bermasalah dengan Syahdu, juga membawa hadiah ulang tahun gadis itu. Tapi kenapa Syahdu sesedih itu?


~


Syahdu berbaring miring di tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Dia sudah mengirim pesan pada Wicak. Kini dia hanya menatap status Wicak yang mengunggah fotonya.

__ADS_1


Syahdu menangis. Kini hubungan dirinya dengan Wicak telah selesai. Dia berharap lelaki itu mau menerima keputusannya dan segera mencari pengganti karena kini Syahdu akan belajar menerima kehidupannya yang baru. Dengan status 'sendirian', dia tidak akan merasa bersalah lagi pada Wicak setiap harinya.



__ADS_2