SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Susu Stroberi


__ADS_3

...PoV Syahdu Larasati...


"Lo bawa bekal apa, Din?" Tanya Alika.


"Biasalah. Ayam goreng. Ini gue bawain sambel buatan mbok gue. Bueehh.. bakalan nagih lo pada!"


Mereka mulai mengobrol tentang makanan dan jelas aku nimbrung karena suka pembahasannya.


Lalu ponselku bergetar, kupikir pasti dari kak Wicak. Tapi ternyata... Arga.


Aku meliriknya yang kebetulan duduk di hadapanku. Dia fokus ke ponsel, sesekali menyesap rokok bersama Ibra.


Dia menanyakan aku di mobil siapa. Menurutku itu tidaklah penting. Mau di mobil siapa juga tidak masalah asal sampai tujuan dengan selamat.


"Kalau lo, masak apa, Ras?" Tanya Alika padaku.


"Eng.. aku tadi buat beef blackpaper, sosis saus tiram, dan chicken fillet."


"Wuaaah. Pasti enak banget ituuu.." Seru Adina.


"Lo pinter masak kayanya ya, Ras." Ujar Alika.


"Enggak, kok. Ini juga lagi belajar."


"Oh ya? Belajar sama siapa? Mau dong, ikut belajar." Sambung Adina antusias.


Aku melirik Arga sekilas, dia tersenyum miring padaku. Sial, sok banget.


"Belajar sendiri. Dari gugel." Jawabku asal dan Arga hanya menggeleng kepala sambil menghembuskan asap rokok.


Ponselku bergetar lagi. Masih dari Arga. Aku membalasnya cepat lalu menutup ponsel karena tak ingin ketahuan.



"Kenapa muke lu, Ga? Tiba-tiba gitu?" Tanya Ibra, membuatku menatap Arga. Laki-laki itu menghembuskan asap bersamaan dengan helaan napas yang terlihat kesal.


"Nggak. Klien gue bodoh banget." Celetuknya sambil melirikku sebentar.


Yah, aku tahu dia tengah menyindirku. Biarkan saja.


"Eh, sorry-sorry. Kejebak macet tadi." Awan mendadak muncul setelah 10 menit kami menunggunya.


"Lama banget, Waaan.." Naya berdiri dengan ransel di punggungnya, bersiap ingin langsung ke mobil Arga.


"Iya, sorry. Macet!" Jawabnya.


"Macet ato ketiduran lo!" Seru Alika.


"Astaga nggak percaya banget. Yauda ayo, gerak sekarang!" Awan membantuku membawa ransel, dan tentu saja aku mengikuti ke dalam mobilnya.


"Eh, Wan. Semuanya udah lo siapin, kan?" Tanya Ibra pada Awan. Dia harus memastikan supaya kami bisa tidur dengan layak di atas sana nanti.


"Udah. Beres, pokoknya. Semua ada di mobil gue." Jawab Awan menunjuk bagasi mobilnya.


"Yauda, cuss!"

__ADS_1


Semua bergerak ke tempat masing-masing.


Adina mengikutiku ke mobil Awan. Sisanya di mobil Arga. Tapi memang, mobil Awan tidak bisa dimasuki banyak orang. Soalnya bangku belakang penuh dengan barang-barang.


"Wan, banyak banget bawaan lo." Kata Adina saat kami sudah masuk ke dalam mobil.


"Itu perlengkapan kita disana, tau." Sahut Awan. Matanya sudah fokus ke depan dengan kemudi.


"Segini banyak siapa yang bawa??" Tanya Adina lagi.


"Ya bawa sama-samalah. Masa gue doang. Lagi pula ini tuh, cuma bukit. Nggak tinggi banget dan mobil masih bisa naik sampe setengahnya. Jadi, okelah kalo cuma bawa barang dikit ke atas."


Jelas Awan. Lalu dia melirikku yang duduk disebelahnya.


"Nape lu. Kusut gitu. Kita ini mau refreshing. Masa muke lu betekuk gitu."


"Ngga kenapa-napa." Jawabku langsung.


"Sedih dia, bakalan ngga ketemu ayang dua hari." Ledek Adina di belakang.


"Ya elaaah. Pacaran udah kek kredit perusahaan gugel lu, masih aja kaya gitu." Ejek Awan.


"Kok perusahaan gugel, Wan?" Protes Adina.


"Ya iyalah. Kredit rumah cuma lima taun. Lah, dia. Udah lama banget. Sampe selama-lamanya mah, ngga kelar-kelar."


Adina tertawa lebar, sementara aku hanya tersenyum menanggapinya. Mataku mulai mengantuk.


"Wan, berapa menit ya, sampenya." Tanyaku pada Awan.


"Ya kan, lo tinggal jawab pake menit gitu lho, Wan..hahaha." Adina tergelak.


"Ini tuh, sekitar 2 atau 3 jam."


"Lama, ya." Keluhku.


"Lo itu cuma duduk disebelah doang. Gue yang ngemudi. Bisa-bisanya ngeluh." Protes Awan yang mulai berisik.


"Kalau gitu, aku tidur, ya. Ngantuk soalnya." Aku pun mengatur posisi bangku supaya lebih rendah dan membuatku nyaman.


"Baru juga jalan. Masa lo udah mau tidur aja! Temenin gue lah!" Gerutu Awan. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap memejamkan mata karena tadi malam tidurku sangat kurang.


~


"Ras, bangun."


Dina menepuk-nepuk bahuku. Akupun terkesiap dan mendapati mobil sudah berhenti.


"Udah nyampe, ya?" Tanyaku yang masih belum sadar seratus persen.


"Belum. Lagi singgah di minimarket, beli makanan ringan untuk cemilan diatas. Yang lain udah pada turun. Si Awan minta istirahat soalnya."


Mendengar penjelasan Dina baru membuatku sadar kalau ternyata Awan sudah tidak ada disebelahku.


Lalu mataku melihat ke depan. Disana Awan tengah menelepon sementara yang lain duduk di meja kecil depan minimarket sambil mengobrol santai.

__ADS_1


"Udah lama ya, Din, berhentinya."


"Sepuluh menit yang lalu, sih. Kata Awan, lo ngga usah dibangunin. Tapi gue pikir, kali aja ada sesuatu yang lo pengen beli."


"Ngantuk banget. Aku ke toilet dulu, deh." Ucapku sembari membuka pintu.


Baru saja pintu mobil terbuka, aku sudah merasakan hawa yang dingin merasuk ke dalam kulitku.


"Dingin. Abis ujan, ya?" Tanyaku.


"Engga, kok. Emang hawa disini dingin. Kata Ibra 30 menit lagi nyampe. Lo pake jeket, deh. Gue tunggu diluar." Adina keluar dari mobil dan aku mencari jeket di dalam ransel.


Aku mencari-cari jeket yang dulu sering kubawa saat mendaki, tapi tidak ketemu. Padahal aku yakin, aku sudah menaruhnya tadi malam. Tapi, kok tidak ada?


Malahan aku menemukan sesuatu yang aku tidak kenali di dalam tasku.


Aku mengeluarkannya, dan terdiam sesaat, mencoba mengenali sebuah jeket berwarna hitam-lavender yang entah bagaimana bisa ada di dalam tasku. Lalu kucoba mengecek tas yang aku buka, barangkali punya Adina. Tapi tidak, itu memang tasku.


Tapi jeket ini, milik siapa? aku terus berpikir, kali aja sebenarnya memang punyaku. Tapi tidak, benda itu jelas bukan punyaku.


Kulihat jeket itu masih berlabel. Dan saat melihat harganya yang mahal, langsung aku sadar kalau itu pasti ulah Arga, menukar jeketku dengan jeket yang baru dia beli tadi malam.


Aku melihat ke arah lelaki itu. Dia tengah asyik bernyanyi sambil bermain gitar bersama yang lain. Sesekali ia melirik ponselnya yang terletak diatas meja.


Tokk..tokk..


"Ras, lama banget. Buruan, aku belet pipis." Teriak Dina dari depan kaca jendela mobil.


Mau tak mau aku memakai jeket itu dan memang terasa sangat nyaman.


Aku keluar dari mobil dan bersama Dina berjalan melewati mereka karena kami ingin ke toilet terlebih dahulu.


Aku bisa melihat mata Arga menarik senyum miringnya dengan sekilas melirik padaku, lalu aku mengabaikannya.


Setelah selesai dari toilet, Adina langsung ikut bergabung bernyanyi dan duduk disebelah Naya. Tapi aku masih berdiri, karena kursi yang tersisa hanya yang disebelah Arga.


"Ras, duduk. Nih, minum." Alika meletakkan sekotak susu stroberi di depan meja yang bangkunya kosong.


Aku tahu, aku harus bersikap biasa saja. Jadi, aku duduk disebelah Arga dan lelaki itu masih terus bernyanyi bersama Naya dan Ibra.


"Sini, gantian gue yang main." Ibra mengambil gitar dari pangkuan Arga, dan mulai menggenjreng melanjutkan lagu.


Aku menggenggam kotak susu itu. Sebenarnya, aku tidak suka susu stroberi. Tapi karena ini pemberian Alika, mau tak mau, aku meminumnya.


Saat aku mengambil susu itu, tanganku, entah sengaja atau tidak, Arga menyentuhnya sedikit keras sampai susu itu terjatuh.


"Eh, Sorry. Ngga sengaja." Ucapnya padaku, tapi tak berniat mengambil susu yang terjatuh dan malah melanjutkan nyanyiannya. Sial sekali.


Akupun menunduk, mengambil susu yang terjatuh dibawah meja. Untung saja belum sampai terbuka.


Namun saat aku ingin mengangkat kepala, tangan Arga menjulur kebawah bersama sekotak susu coklat. Kulirik ke atas, dia bernyanyi dengan penuh penghayatan. Pintar sekali, pikirku.


Tapi, bagus juga. Soalnya aku takut mual saat meminum susu stroberi. Akupun mengambil susu cokelat di tangan Arga dan menggantinya dengan susu stroberi yang terjatuh tadi.


Aku duduk lagi dengan menyedot susu coklat pemberian Arga.

__ADS_1


__ADS_2