
Arga sudah pergi. Setelah makan dengan Syahdu, dia memutuskan untuk pulang. Apalagi di rumah Margareth ada Julia. Pasti perempuan itu akan mengoceh panjang kalau tahu ternyata anaknya tidak tidur disana.
Syahdu pula sudah merasa lega. Jam 3 pagi sang nenek sudah sadar. Hanya saja nenek belum bisa banyak bergerak. Hanya kedipan mata saja tanda ia bisa merasa dan mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. Nenek juga bisa menggenggam tangan Syahdu dengan erat, juga tatapan mata yang tak lepas dari cucunya itu. Syahdu mengira, mungkin neneknya tengah takut. Untunglah Syahdu ada saat sang nenek terbangun.
Sekarang sudah pukul 8 pagi. Syahdu memencet tombol untuk mengatakan bahwa cairan infus nenek sudah habis. Tak lama, seorang perawat pun datang dengan botol infus baru.
"Sus.."
"Iya, mbak."
"Saya.. bisa.. lihat rincian dana pengobatan nenek?" Tanya Syahdu dengan ragu. Padahal dia digratiskan, buat apa rincian dana? Mungkin begitu pikir perawat itu.
Perawat itu diam sebentar. "Boleh, mbak. Mau saya ambilkan?"
"Iya, sus. Tolong, ya."
Suster mengangguk, lalu keluar dari kamar. Tak berselang lama, ia masuk lagi dengan sebuah map di tangannya.
"Semua rincian ada disini, mbak. Saya permisi dulu."
"Iya, sus. Makasih, ya." Ucapnya, lalu menatap map bergambarkan rumah sakit yang ia tempati sekarang.
Pelan-pelan Syahdu membukanya, lalu membaca dengan teliti semua rincian dana mulai dari kunjungan dokter, obat, ruangan, dan juga operasi besar yang sudah dua kali dilakukan.
Syahdu tercengang melihat deretan angka yang mulai sulit ia baca. Angkanya begitu banyak, namun Syahdu tahu, Arga sudah mengeluarkan sebesar delapan ratus juta lebih untuk pengobatan neneknya.
"Delapan ratus juta.." gumam Syahdu. Kini dia tidak bisa berkata-kata. Angka itu mungkin bisa ia dapatkan untuk dua belas tahun bekerja di kota ini. Itupun tidak dipotong biaya hidup.
Syahdu langsung menutup map. Dia tidak tahu lagi, apakah memang seharusnya ia bersedih, atau bersyukur.
Bagaimana pun, nenek bertahan sampai sejauh ini adalah karena perjuangannya mengotori diri, menjadi wanita simpanan Arga. Tapi bila tidak begitu, apa bisa ia mendapatkan uang sebanyak ini? Apa bisa nenek bertahan sampai sekarang?
Suara pintu terbuka membuat Syahdu reflek menyelipkan map dibawah bantal nenek. Wicak masuk dengan menenteng plastik kecil di tangannya.
"Sudah sarapan?" Tanya Wicak, dan Syahdu menggelengkan kepalanya.
Wicak duduk di sofa, diikuti Syahdu yang juga duduk disebelahnya.
"Makan dulu. Aku belikan bubur ayam." Wicak membuka kotak bubur dan memberikannya pada Syahdu.
Gadis itu menyuapkan makanannya. Dia diam, lidahnya sibuk mengecap bubur itu.
Syahdu menatap buburnya cukup lama. Dalam hatinya, dia memuji Arga. Bubur Ayam buatan Arga waktu itu jauh lebih enak dari pada ini. Aneh, padahal biasanya dia selalu makan saja apapun yang masuk ke dalam mulutnya.
"Kenapa? Ngga enak, ya?"
Syahdu tersentak. "Ah. Enak, kok." Ucapnya lalu menyendokkan lagi ke mulutnya.
"Hari ini aku ngga ada kelas. Jadi, aku bisa temenin kamu sampe siang. Karena jam dua aku ada rapat Expo. Soalnya kan, diadain minggu ini."
__ADS_1
Syahdu mengangguk-angguk saja. Dia lalu memejamkan mata saat merasa perutnya mual.
"Syahdu, ada apa?"
Syahdu buru-buru menutup mulut, dan meletakkan bubur ayam di atas sofa. Ia berlari masuk ke dalam kamar mandi, dan muntah di westafel.
Syahdu terus saja memuntahkan makanan yang baru ia telan. Sedangkan Wicak membantunya mengurut punggung gadis itu.
"Syahdu, kamu sakit?"
Gadis itu tak menjawab. Dia mencuci mulut dan menatap wajah pucatnya dari pantulan cermin.
"Kita cek ke dokter, ya?"
"Apa? Enggak, enggak. Gausah, kak." Tolak Syahdu dengan cepat. Cek ke dokter? Tidak, dia tidak siap. Bagaimana kalau ternyata dia benar-benar hamil? Entahlah, Syahdu menelan ludahnya dengan susah payah membayangkan hal itu.
"Kamu harus diobatin. Nanti kalau kamu juga sakit, kasian nenek."
"I-iya, kak. Kalau gitu, aku beli obat dulu."
"Ngga usah, biar aku aja yang beliin, ya." Ucap Wicak dengan lembut.
"Enggak. Beneran, aku aja. Kakak tolong jaga nenek, ya."
Syahdu langsung keluar ruangan. Dia berjalan perlahan menuju apotek rumah sakit.
"Selamat pagi, mbak. Ada yang bisa dibantu?" Sapa apoteker perempuan pada Syahdu yang sudah berdiri di hadapannya.
"Mbak Syahdu, beli obat, ya? Buat nenek?"
Syahdu menoleh. Seorang perawat yang biasa membantu nenek menyapanya.
Syahdu langsung tersadar, kalau ia beli testpack di rumah sakit ini, pastilah berbahaya bagi dirinya dan juga Arga.
Syahdu tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak. Sa-saya.. mau beli obat untuk masuk angin."
"Saya ambilkan sebentar ya, mbak." Ucap sang apoteker.
"Mbak Syahdu harus jaga kesehatan. Kebanyakan yang jaga orang sakit juga sering sakit." Kata perawat yang ada disebelahnya.
"Eh, Rum, sini." Seorang perawat lain memanggilnya dari belakang Syahdu.
"Apa?" Tanya perawat itu.
Perawat lain itu menarik tangannya dan sekilas memberikan senyum pada Syahdu. "Kau jangan disitu." Bisiknya pada perawat yang tadi menegur Syahdu. Lalu mereka pergi sambil bercerita, yang Syahdu tahu pasti efek teguran Arga pada para perawat itu.
"Ini, mbak. Lima belas ribu."
Syahdu memberikan uangnya, lalu segera pergi dari sana.
__ADS_1
Tidak bisa, ia tidak bisa membeli testpack disini. Walau sebenarnya Syahdu sangat penasaran. Terlambat menstruasi tiga hari saja sudah membuatnya sangat stres dan berpikir yang tidak-tidak, ditambah lagi dirinya yang selalu muntah, persis ciri perempuan hamil.
Ponsel Syahdu bergetar saat ia akan memutar handel pintu. Dia tertahan disana ketika membaca pesan dari Arga.
Arga menanyakan soal masa menstruasinya. Syahdu agak kesal. Pasalnya dia juga sangat bingung dan stres menghadapi semuanya. Arga malah nambah beban dengan mengajaknya pergi ke dokter.
Setelah merasa Arga tak akan lagi membalas pesannya, Syahdu membuka pintu dan dia diam disana saat mendapati Wicak menemukan map rincian dana rumah sakit yang tadi ia selipkan dibawah bantal nenek.
Wicak menatapnya, lalu berdiri dan duduk diatas sofa sambil terus membuka isi map.
"Kak.."
Wicak menepuk sofa, menyuruhnya duduk disana.
Syahdupun masuk dan duduk disana. Dia diam selama Wicak juga diam dan masih terus membaca isi dari map itu.
"Sekarang, jelaskan. Gimana cara kamu lunasin hutang yang hampir satu M ini selama dua tahun."
Syahdu meremas jari-jarinya. Beberapa kali dia menelan ludah karena merasa kerongkongannya mendadak kering.
"Menjadi pembantu di rumahnya, dengan permisalan gaji kamu lima juta saja, itu nggak bisa." Sambung Wicak lagi.
Syahdu hanya menunduk. Air matanya hampir saja keluar karena dia menahannya setengah mati.
"Aku akan bantu."
Syahdu langsung mengangkat kepalanya. Apa tadi kata Wicak?
"Aku akan cicil utang kamu ke dia. Gaji-gajiku nanti aku serahkan ke kamu. Jangan khawatir, ya."
Spontan air mata Syahdu menetes. Wicak salah sangka. Tapi itu terjadi karena dia yang tidak mungkin bercerita.
"Kak, ngga perlu seperti itu. Dia bilang.. cuma dua tahun dan itu semua akan lunas.."
"Lunas gimana? Dua tahun itu nggak cukup." Wicak tiba-tiba menatap Syahdu lekat-lekat. "Atau jangan-jangan, dia punya rencana lain padamu, ya?"
"Ah. Enggak kak. Dia bilang, dia cuma mau bantu." Elak Syahdu dengan cepat.
"Nggak mungkin, Syahdu. Ngga ada orang yang mau bantu secara cuma-cuma. Ini aja udah delapan ratus juta sampai hari ini. Belum besok-besok dan seterusnya. Ini mungkin lebih dari satu miliyar!"
"Kamu disuruh apa sama dia? Kamu diminta apa?" Tanya Wicak lagi. Dia tidak bisa berpikir positif tentang laki-laki itu.
"Enggak, kak. Ngga ada. Dia benar-benar mau bantu."
"Gak masuk akal, Syahdu."
"Karena aku miskin, kak!" Seru Syahdu. Air matanya terus mengalir. "Aku dapet pengobatan gratis karena aku miskin. Dan.. Arga cuma bantu tambahin biaya lain makanya aku dan nenek bisa di ruangan ini." Syahdu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis terisak, sudah entah keberapa kali ia berbohong dan Wicak selalu saja percaya.
__ADS_1
Laki-laki itu tak lagi berkata-kata. Dia menarik Syahdu kedalam dadanya. Kata maaf keluar juga dari bibir Wicak.
"Maaf, kak.." ucap Syahdu ditengah isakannya. Permintaan maaf yang tidak disadari Wicak bahwa itu karena dia sudah terlalu banyak berbohong pada kekasihnya.