
Syahdu membuka mata. Dia tersenyum saat merasa lengan hangat Arga memeluknya dari belakang. Perlahan gadis itu memutar tubuh menghadap kekasihnya yang masih terlelap. Tadi malam, Arga pulang dan langsung mencumbu Syahdu sampai gadis itu tak berdaya.
Entah berapa kali mengulang, Syahdu tak bisa menghitungnya. Alasan lelaki itu karena Syahdu akan kembali ke Bebatu siang ini, jadi Arga ingin terus menghabiskan isi cairannya sebelum kepergian gadis itu.
"Arga.." Bisik Syahdu. Lelaki itu tak bergerak.
"Arga.." panggil Syahdu lagi dengan nada lembut. "Argaa, bangun.."
"Hmm.."
Syahdu terkekeh pelan saat Arga menyahut panggilannya sambil tetap menutup mata.
"I love you.." bisik Syahdu tepat di wajah Arga.
"Love you too." Balas Arga dengan suara pelan. Syahdu kembali menutup mulutnya dengan tangan karena merasa lucu dengan Arga yang mengigau itu.
"Wake up, baby.." bisik Syahdu, mengelus rahang tegas Arga.
Lelaki itu tak bergerak. Hanya hembusan napasnya yang terdengar.
"Are you tired, honey?"
"Hmm.." Arga nampaknya tak mampu membuka mata. Dia lelah karena ditengah jadwal padatnya, harus menggempur Syahdu beberapa kali malam tadi, sampai keduanya tidak sempat memakai baju sebelum tertidur.
"Ham hem mulu dari tadi." Syahdu mengecup bibir Arga, mellumatnya hingga Arga yang tadinya tidur, langsung sadar dan membalasnya. Lelaki itu sampai naik dan mengungkung Syahdu yang sudah terkekeh.
"Hmmpp.. becandaaa." Teriak gadis itu saat ia merasa sesuatu berdiri tegak dibawah sana.
Tapi nampaknya, tak ada bercanda bagi seorang Arga untuk urusan ranjang. Lelaki itu kembali meluncurkan aksinya. Olahraga pagi pun akhirnya terlaksana dengan kenikmatan disetiap desahhan yang lolos dari bibir Syahdu.
~
Arga dan Syahdu baru saja selesai mandi bersama. Arga duduk ditepi tempat tidur, memperhatikan Syahdu yang tengah memasukkan beberapa bajunya kedalam koper.
"Kenapa pakai koper segala? Kamu kan, balik lagi."
"Ini nggak semua barang aku, kok. Kamu jadi, kan, temenin aku belanja oleh-oleh buat bunda dan adik-adik aku?" Tanya gadis itu, sesekali melirik Arga yang telanjang dada dengan rambutnya masih basah.
"Jadilah, beibs." Sahutnya. Arga menarik Syahdu sampai gadis itu berdiri tepat di hadapannya.
"Berapa lama kamu pergi?" Tanyanya mendongak.
"Eemm.. aku ngga bisa pastiin. Tapi ngga lama, kok. Paling lama satu minggu, lah."
Arga menghela napas. Satu minggu, menurutnya itu sangat-sangat lama.
__ADS_1
"Ibra udah kasih jadwal kamu ke aku. Minggu ini kamu sibuk banget, kan."
"Iya. Itu jadwal yang udah disusun sebelum kamu ada dan ngga bisa di cancel gitu aja. Setelah ini jadwal aku bakalan banyak kendor, kok."
Syahdu membelai rambut Arga yang masih basah. "Iya. Kamu itu laki-laki yang hebat banget. Aku salut sama kamu bisa berdiri sendiri dan bersinar terang begini."
Wajah Arga berubah sendu, lalu ia pun memeluk Syahdu. Wajahnya berada tepat di dada gadis itu. "I will miss your boobss."
"Iss, apaan, sih." Syahdu sampai tergelak mendengar penuturan Arga itu.
"Kamu pake baju, gih. Aku tunggu diluar, ya." Syahdu melepas pelukannya.
Dia kemudian mengambil tas dan jeket, sementara Arga berdiri menghadap jendela sambil memakai bajunya dengan malas. Syahdu mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen itu.
"Udah?"
Arga mengangguk dan meraih jeketnya. Dia menggandeng tangan Syahdu untuk keluar bersama pagi itu.
...🍁...
Setelah membeli keperluannya bersama Arga yang sempat protes karena tak bisa menunjukkan wajah di tempat umum, akhirnya Syahdu bersiap untuk berangkat menuju bandara.
Sejak tadi Arga tak membiarkan Syahdu tenang menyusun barang kedalam koper. Selalu saja Arga mengganggu. Dia terus mengekor dibelakang Syahdu yang kesana kemari mengambil barang-barang keperluannya, atau memeluk gadis itu dari belakang, membuat Syahdu kesulitan bergerak.
"Gaaa, bisa ngga biarin aku berberes sebentar!!" Tukas Syahdu akhirnya.
"Aku bakalan balik. Aku cuma sebentar, kok." Kata Syahdu, meluluh melihat mata jernih Arga yang memelas.
"Besok balik, ya?"
Syahdu menarik napas panjang, kemudian menutup kopernya. Permintaan aneh Arga yang tak bisa ia turutin.
"Aku pergi sama supir kamu, kan? Kata Ibra kamu ada pemotretan siang ini."
Arga tak menyahut. Dia membuntuti Syahdu yang menyeret koper menuju pintu.
"Baik-baik disini. Dengerin kata Ibra. Katanya kamu tuh, suka ngeyel kalo dikasih tahu."
Arga hanya diam dengan wajah cemberutnya. Ditinggal Syahdu, jelas dia merasa berat.
CUP
Satu kecupan singkat Syahdu berikan dibibir manyun Arga.
"Aku balik, ya. Kamu ngga usah keluar. Kata Ibra tadi ada paparazi yang ngikutin kita sampe sini. Kayanya ada yang ngenalin kamu deh, tadi."
__ADS_1
"Aku ngga peduli." Sahutnya, lalu merengkuh Syahdu kedalam pelukan. "Jangan lama-lama.." ucapnya dengan nada manja.
"Iya. Ya udah, aku pergi dulu." Syahdu melepaskan pelukannya. "Nanti aku kabarin kalau udah sampe. Kali aja disana udah ada sinyal."
"Iya. Hati-hati kamu.." Arga dengan hati berat melepaskan Syahdu. Lelaki itu masih berdiri didepan pintu tanpa membalas lambaian tangan Syahdu.
"Lebay lu!" Celetuk Ibra yang tadi sempat membalas lambaian tangan Syahdu. Dia sudah menunggu lama di depan pintu. Sebenarnya sudah mengetuk beberapa kali, namun sadar kehadirannya tak diinginkan, iapun menunggu diluar.
"Lo jomblo mana paham." Arga masuk, diikuti Ibra dibelakangnya.
"Gue jomblo juga baru ini. Kemaren-kemaren gue pacaran tuh, sama artis pendatang."
"Serah lu." Kata Arga kembali merebahkan diri.
"Ck, Eeehh. Kenapa malah tiduran! Cepat siap-siap. Pemotretan lu satu jam lagi!" Ujar Ibra sembari menarik tangan Arga yang malas-malasan setelah perginya Syahdu.
Arga dengan terpaksa berganti pakaian. Ditengah itu, Ibra duduk menunggunya di sofa.
"Kayanya lu bedua ketangkep kamera, deh. Sorry, ya. Padahal gue udah sewa pengawal. Tapi tetep aja ada kamera paparazi."
"Biarin aja. Ngga apapa. Gue juga mau bawa Syahdu ke publik." Jawab Arga santai.
"Lo ngga takut, kalau Syahdu diserang fans gila lo itu."
"Nggak apapa. Ada gue." Jawabnya lagi sembari memakai jam tangan.
"Bukan itu doang. Kemungkinan nih, masa lalu kalian berdua bakalan terkuliti. Engg.. Syahdu sih, masa lalunya juga."
Arga menghembuskan napas sampai pipinya menggembung. "Gue juga udah pikirin itu, kok. Sialnya dulu gue asal ambil aja tawaran nyanyi sampe ngga mikirin nasib Syahdu nantinya. Tapi setelah gue pikir-pikir, emang mau gimana pun semua itu bakalan terungkap. Tapi kali ini ada gue. Gue bakalan jadi tameng buat dia."
Ibra mengangguk-angguk, walau dia tetap merasa khawatir terlebih pada Syahdu. Tapi Arga benar. Lambat laun semua itu akan terungkap oleh orang-orang yang mengulik masa lalu keduanya. Apalagi kisah Syahdu, Arga, dan Wicak sangat terkenal di kampus dulu.
"Ya udahlah, lo ngga usah pikirin. Gue tau apa yang harus gue lakuin buat Syahdu. Kalopun gue harus kehilangan semuanya, gue rela. Semua ini ngga berarti tanpa ada Syahdu disisi gue." Ucap Arga kemudian, saat melihat masih ada keraguan di wajah Ibra.
"Gue dukung apapun keputusan lo, bro."
Arga melempar kunci mobil pada Ibra, lalu berjalan keluar untuk menuju lokasi pemotretan iklan jam tangan yang baru saja dipakai olehnya. Sebelum itu, dia mengirim pesan terlebih dahulu untuk Syahdu yang baru pergi lima menit yang lalu.
...**...
TBC
__ADS_1
**Kalian udah Vote Syahdu dan Arga??**
**Yuuk 150 likes Yuukkk***