SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Why don't you stay?


__ADS_3

Syahdu masuk ke dalam rumah Margareth. Dia sudah disambut wanita tua itu di depan. Mencium pipi kiri kanan, lalu memeluknya dengan hangat. Sampai membuat tegang Syahdu sedikit berkurang.


"Akhirnya kamu datang juga. Oma nunggu, lho. Arga janji bawa kamu dari dulu. Tapi baru dibawa sekarang." ucap Margareth pada Syahdu.


"Ayo, kita makan dulu." Margareth merangkul lengan Syahdu yang hanya tersenyum sejak tadi. Begitu juga Arga, ikut tersenyum melihat omanya sebegitu senang saat Syahdu datang.


"Juul.. Juliaa. Cepat turun, Syahdu udah dateng!" Teriak Margareth dari bawah tangga.


"Iya, Ma.."


Terdengar sahutan dari atas. Suara Ibunya Arga, membuat Syahdu malah deg-degan.


"Syahdu, suka makan apa? Biar oma bilang ke koki, biar dimasakin." Margareth menarik kursi makan dan mempersilakan Syahdu duduk. Arga pula duduk tepat disebelah Syahdu.


"Yang ada aja, oma." Jawabnya malu-malu. Masih segan dengan Margareth.


"Oh, udah dateng, ya." Julia menuruni anak tangga. Senyumnya sudah terukir sejak melihat Arga menaril kursi disebelah Syahdu.


"Syahdu, kan?"


"I-iya, tante."


Syahdu berdiri menyambut tangan Julia. Dia mencium punggung tangan wanita itu, membuat Julia membulatkan mata sesaat, lalu melirik Margareth. Seolah mengiyakan ucapan mamanya kalau Syahdu anak yang sopan.


"Syahdu, kamu sekelas Alexander?"


Syahdu melirik Arga. Lelaki itu sudah menyantap makanannya duluan.


"Iya, tante."


"Dia gimana di kelas? Pasti ngga punya temen, ya. Nakal, nggak?" Tanya Julia basa-basi.


"Mami, pertanyaannya kaya Arga anak Sd." Gerutu Arga.


"Enggak kok, tante. Arga yang paling pintar di kelas." Jawab Syahdu.


"Arga juga bilang gitu, katanya kamu yang paling pintar di kelas. Yang benar, yang mana?" Tanya Margareth melirik Arga dan Syahdu bergantian.


"Kita dua emang pinter." Celetuk Arga.


"Bagus, dong. Tante senang dengarnya." Julia tersenyum cerah. Dia merasa Syahdu anak yang cantik dan juga baik, pantas saja anaknya suka dengan perempuan itu.


"Bagaimana kabar nenek kamu? Sudah sembuh?" Tanya Margareth.


Mendadak Syahdu merasa sungkan. Apalagi Arga bilang, omanya sudah tahu soal biaya gratis di rumah sakit itu.


"Oma, terima kasih banyak bantuannya. Syahdu sangat berhutang budi pada oma. Nenek sekarang udah lebih baik." Air mata Syahdu berlinang. Dia segera menunduk dan menghapus air matanya. Sementara Arga disebelah menahan senyum melihat Syahdu yang cengeng.


"Syukurlah. Kamu tidak perlu berterima kasih sama oma. Karena oma nggak lakuin apa-apa. Rumah sakit itu Arga yang ngelola. Jadi, dia juga yang udah kasih bantuan ke kamu." Jelas Margareth.


"Really?" Julia seperti tak percaya mendengar itu. "Baik banget kamu, Alexander. Jangan-jangan ada apa-apanya lagi." Celetuk Julia dan membuat Syahdu tak berani mengangkat kepala.


"Mami jangan buat Syahdu merasa bersalah, dong." Elak Arga.


"Mami bukan mau buat Syahdu merasa bersalah. Mami mempertanyakan ketulusanmu."


"Tulus mi, dari hati yang paling dalam!" Tekan Arga pada Julia.

__ADS_1


"Ehem, ehem." Margareth sampai ingin tertawa mendengar seorang Arga bicara seperti itu. Kali ini, dia bisa melihat berisiknya Arga di meja makan. Biasanya lelaki itu tak banyak bicara.


"Syahdu, kalau Xander macam-macam, cepat beritahu mami, ya."


"Iya, tante."


"Eee. Jangan panggil tante. Samain aja kayak Alexander. Mami." Senyum Julia terlihat tulus. Apalagi dia tidak mempunyai anak perempuan.


"I-iya, mami." Ucap Syahdu kaku. Sementara Arga, bibirnya terus menyunggingkan senyum yang dapat perhatian dari Julia dan Margareth. Tak menyangka, Arga bisa terus tertawa dan tersenyum selama ada Syahdu di dekat mereka.


"Syahdu, nginap disini, kan?" Tanya Margareth.


"Ee..."


"Iya. Tidur disini aja. Kamarnya banyak, kok." Sambung Julia cepat.


Syahdu melirik Arga. Meminta bantuan supaya dia tidak perlu menginap.


"Ngga apapa. Lo tidur di kamar gue aja. Biar gue di kamar tamu."


Mendengar itu, Margareth dan Julia saling pandang. Sama-sama meyakinkan pendengaran mereka. Bukankah hal aneh, Arga memberikan kamarnya pada orang lain?


"Kamar tamu nggak nyaman. Nanti gue bersihin lagi kamar gue." Sambung Arga lagi.


"Biar Bi Minah aja yang bersihin." Ucap Margareth, memastikan apakah cucunya sudah sembuh dari penyakit 'tak boleh sentuh'-nya itu.


"No. That's my room. Seperti selalu, ngga boleh dimasukin siapapun tanpa izin dari Arga." Tolaknya langsung. Margareth dan Julia semakin yakin melalui jawaban Arga, kalau perempuan itu benar-benar sudah mempunyai tempat di hati anak mereka. Julia saja sulit masuk ke kamar Arga, kenapa Syahdu malah semudah itu?


"Selamat malam, oma dan tante Julia."


"Malam, Soraya. Duduk sini, makan bareng. Ini lho, ada Syahdu, teman sekelas Arga." Sambut Julia, mempersilakan Soraya duduk di dekatnya. Mata gadis itu terus menatap Syahdu.


Tahu ketidaknyamanan Syahdu, Arga langsung berdiri.


"Lo udah siap, kan? Ayo, keatas. Sekalian beresin kamar." Arga menarik tangan Syahdu. Gadis itu menunduk pada oma dan Julia, lalu mengikuti langkah Arga naik ke lantai dua.


Mata Soraya masih mengikuti langkah keduanya. Wajahnya tampak tidak suka dengan kehadiran Syahdu di rumah Margareth.


"Tante, mau ngapain mereka keatas?" Tanya gadis itu.


"Arga lagi siapin kamarnya. Malam ini Syahdu tidur disini. Jadi Arga beresin kamarnya untuk Syahdu tidur." Terang Margareth, sekalian memanasi gadis itu.


"Apa? Lho, bukannya tante bilang, Arga nggak suka barangnya disentuh orang lain??"


"Itu juga tante bingung. Soalnya tadi tante tawari kamar tamu, tapi Xander malah menyuruh Syahdu tidur di kamarnya." Jelas Julia dan tentu membuat tangan Soraya mengepal.


Dia tidak terima. Syahdu juga baru saja diancam dan perempuan itu jelas menantangnya, seolah memintanya cepat-cepat bertunangan dengan Arga, tidak tahunya malah sudah mendekati keluarganya. Soraya benar-benar akan membuat perhitungan dengan gadis yang kini ia benci itu.


~


Arga membuka pintu kamar, Syahdu ikut masuk. Dia memperhatikan isi kamar Arga yang sangat lebar. Bahkan sepuluh kali lipat lebar kamar yang ada di rumahnya dulu.


Tidak banyak hiasan, kamar arga aesthetic dengan gitar di dinding seperti apartemennya.


"Gue ganti sprei dulu."


"Ngga usah, Ga. Ngga apapa. Lagian aku cuma satu malam."

__ADS_1


"Oke. Lo mau ke taman?"


"Dimana?" Tanya Syahdu dengan mata membulat.


"Disebelah. Yuk." Arga mengambil gitarnya lalu keluar dari kamar menuju balkon.


"Wah. Ada tamannya. Keren banget!" Syahdu mengitari taman yang cukup lebar itu. Dia menatap satu-satu bunga yang tumbuh dan juga lampu-lampu kecil.


"Udah, duduk sini." Arga duduk di gazebo, memeluk gitarnya.


"Padahal rumah ini kaya istana, Ga. Kok kamu ngga mau tinggal disini." Syahdu mendaratkan pantatnya di dekat Arga. Matanya masih menjelajah taman.


"Gue lebih suka sendiri." Jawabnya sambil memetik gitar.


"Masa, sih. Atau jangan-jangan kamu nggak punya temen, ya."


"Temen gue banyak. Gue aja yang lagi males berteman." Jawabnya cuek.


"Kalau ngga punya, bilang aja. Aku mau kok, jadi temen kamu."


"Lo kan, udah jadi teman tidur gue. Teman diatas ranjang." Jawab Arga sembari tertawa, membuat Syahdu mencebik.


"Gue udah ciptain lagu. Lo mau denger? Ini yang liriknya lo bantu tulis."


Arga berdehem. Lalu mulai serius memetik gitar.


🎶Selama ini aku tenggelam seperti batu


Kucoba menutup mata dan telinga di singgasanaku


Aku kehilangan jalan pulang, tapi justru kau datang...


Bisakah mata ini terus bertatap untuk waktu yang lama.


Bisakah setiap hari kita berpegangan tangan.


Bisakah aku tetap memilikimu walau dunia ini menentang kita.


Karena aku ingin tetap disampingmu, walau dunia ini bergetar sekalipun, aku akan baik-baik saja asal bersamamu.


Kenapa kau tidak tinggal disini saja?'🎶


Suara merdu Arga, juga lagu yang dibawanya begitu mmebuat perasaannya terhanyut. Untaian kata demi kata ia resapi, sampai tanpa sadar, air matanya kembali mengalir. Setiap kata yang dinyanyikan oleh Arga mengingatkannya dengan kisah hidupnya sendiri. Dimana ia ingin sekali bersama Wicak, namun ada sesuatu yang membuatnya tak bisa memaksakan kebersamaan itu jika suatau hari, Wicak tahu.


"Malah nangis."


Syahdu tertawa kecil, lalu mengusap air matanya.


"Ini kan, lo juga yang nyiptain liriknya."


"Sedih aja, Ga. Ingat kisahku sendiri. Aku cuma perlu nunggu. Karena nanti, akan ada masa dimana aku harus kehilangan semua orang yang kusayang." Jawabnya dengan suara parau.


Arga ingin mengelus rambutnya, tetapi tangannya tertahan diatas. Dia ingin bilang, kalau suatu hari Syahdu ditolak dan sendirian, dia akan ada terus disamping gadis itu. Dia ingin gadis itu tinggal, sesuai dengan isi lagu yang pernah ia tulis.


Kenapa kau tidak tinggal disini saja?'🎶


TBC

__ADS_1


__ADS_2