SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Menebus Obat


__ADS_3

Arga sejak tadi tidak fokus mendengarkan dosen menjelaskan materi. Dia terus memikirkan Syahdu. Tanda capslock yang ditulis gadis itu tadi menandakan dia tengah marah. Tentu hal itu membuatnya agak resah.


"Sstt.. kenapa lu?" Bisik Ibra yang ada disebelahnya. Sejak tadi dia melihat Arga terus merubah posisi duduk dan kakinya bergoyang dibawah.


"Hari ini kelas selesai sampe jam berapa?" Bisik Arga balik.


"Jam 2 kayaknya."


Arga berdecak. Sudah pukul 1. Menunggu satu jam lagi rasanya sangat lama.


"Eh, mau kemana lu?"


Arga bangkit dengan menyandang tas. Dia keluar begitu saja tanpa penjelasan apa-apa pada dosennya.


"Sstt.. Kemana Arga?" Bisik Naya pada Ibra di depannya. Lelaki itu hanya angkat bahu tanda iapun tak tahu.


Arga masuk ke dalam toilet. Dia mencuci wajahnya di westafel, lalu menatap dirinya di cermin. Sebenarnya dia terus kepikiran Syahdu. Dia takut kalau perempuan itu hamil. Dia tidak bisa membayangkan itu terjadi.


Walau sesuai kontrak Syahdu harus menggugurkan kandungannya, tapi dengan perasaannya saat ini, dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Menggugurkan kandungan beresiko untuk Syahdu. Tapi punya anak...


Arga menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak mau punya anak. Dia tidak siap dan tidak mau menikah walau dengan Syahdu sekalipun. Dia tidak ingin berumah tangga dengan siapapun.


"Brengsek! Lo udah gila?"


Arga diam mendengarkan makian dari dalam salah satu bilik toilet. Seorang laki-laki tengah memaki sendirian di dalamnya.


"Ya trus lo mau gue nikahin lo, gitu? Gue nggak mau tau! Pokoknya lo harus gugurin kandungan lo!"


Arga tertegun. Nampaknya laki-laki di dalam tengah menelepon kekasihnya yang hamil.


"Gue nggak mau tanggung jawab. Bisa aja kan, itu bukan anak gue. Pokoknya lo harus gugurin tu kandungan!"


Pintu terbuka. Laki-laki itu kaget melihat Arga berdiri di depan westafel. Diapun buru-buru keluar dari toilet.


Arga menghela napas. Tidak mungkin dia seperti laki-laki itu jika Syahdu benar-benar hamil. Tapi dia juga tidak mau menikah. Arghh..


Arga tak punya pilihan selain membawa Syahdu pergi ke tempat kepercayaannya untuk memastikan keadaan Syahdu yang sebenarnya.


~


Syahdu mengembangkan senyum. Akhirnya nenek siuman dan alat bantu napaspun sudah dilepas.


"Nek, kalau butuh apa-apa bilang aja, ya?"


Nenek mengangguk. Dia menatap Syahdu dengan sendu.


"Du.." panggilnya dengan suara yang lemah.


"Iya, nek?"


"Kamu.. ini semua.. bayarnya gimana.."


"Nenek jangan khawatir, ya. Syahdu kerja, kok." Jawab Syahdu perlahan. Lalu tiba-tiba dia teringat dengan ucapan dokter bahwa nenek menangis sebelum akhirnya drop.

__ADS_1


"Syahdu tau, pasti nenek dengar gosip di sini, kan, soal Syahdu dan Arga." Syahdu menggenggam tangan nenek. "Itu cuma gosip karena mereka liat Arga baik sama kita. Sebenarnya, Syahdu kerja di rumah Arga. Bantu bersih-bersih, nyuci.."


"Kamu.. jadi.. pembantu?"


Syahdu mengangguk. Air matanya pun kembali menetes. "Nenek jangan khawatir. Rumah sakit beri keringanan karena.. nenek tahu kan, Arga yang punya rumah sakit ini? Keluarga Arga murni membantu, nek. Bukan karena Syahdu ada hubungan dengan Arga. Nenek percaya kan, sama Syahdu?" Gadis itu mencoba tersenyum di tengah air mata yang mengalir.


Nenek mengangguk, lalu Syahdu mencium tangan neneknya. Dalam hatinya meminta maaf atas kebohongan yang ia lakukan. Tapi ia tidak menyesal. Dia ingin nenek sembuh. Jika sudah benar-benar sembuh, Syahdu berencana akan pergi ke tempat yang jauh dari Arga, meninggalkan lelaki itu dan gosip-gosip ini akan menghilang dengan sendirinya.


"Kamu.. sakit?" Tanya nenek yang melihat mata sayu Syahdu, juga wajahnya yang memucat.


"Cuma masuk angin, nek." Jawabnya cepat.


"Maafin nenek, ya. Gara-gara nenek, kamu jadi kesulitan. Jangan maksain diri, pulanglah dan minum obat. Nenek ga mau kamu sakit.."


"Iya, nanti Syahdu istirahat. Pokoknya nenek harus janji, ga boleh mikirin apa-apa. Dan janji supaya sehat biar kita bisa pulang dan tinggal sama-sama lagi."


Nenek mengangguk. Dia mengelus rambut Syahdu dengan lembut.


Tok..tok..


Syahdu menghapus air matanya. Dan melihat ke arah pintu yang terbuka.


Arga, dia datang dengan membawa beberapa kantong plastik di tangannya.


"Kalau nenek masih ragu, nenek bisa tanya Arga."


Arga menatap Syahdu. Wajah gadis itu basah. Tentu membuat Arga merasa ada sesuatu yang tak beres disini.


"Iya, nek. Aku udah negur para perawat itu. Nenek jangan memikirkan gosip-gosip seperti itu." Jelasnya. Dia melirik Syahdu. Bertanya, kenapa hal semacam itu sampai diberitahukan ke nenek?


"Iya. Nenek percaya. Terima kasih, ya, Arga. Dan maaf, gara-gara kamu bantu kami, nama kamu jadi ikut jelek."


Arga hanya tersenyum. Dia melirik lagi ke Syahdu yang mengelus lembut tangan neneknya.


Tak lama, dokter masuk dengan beberapa perawat untuk mengecek perkembangan nenek Syahdu.


"Bu Suriani harus banyak istirahat. Jangan mikirin apa-apa, ya." Ucap dokter pada nenek. Nenek hanya mengangguk lemah.


"Gimana, dok?" Tanya Syahdu pada dokter visit.


"Ini sudah sangat bagus. Tapi ada obat yang harus segera ditebus, kebetulan disini sedang kosong. Bisa, kan?" Dokter itu mencatat sesuatu di kertas.


"Ini, kalau sudah dibeli, serahkan pada perawat, ya."


Syahdu mengangguk. "Terima kasih, dok." Ucapnya pada dokter yang kemudian keluar dan mengangguk pada Arga.


"Arga.." panggil nenek dengan suara hampir tak terdengar.


"Iya, nek."


"Tolong antar Syahdu pulang. Kasian, dia sakit."


Arga langsung menatap Syahdu dan memang mendapati wajah gadis itu pucat.

__ADS_1


"Nek, kalau Syahdu pergi, nenek bagaimana?"


"Ada suster Dewi, yang biasa bantuin nenek disini." Jawab Suri. "Nenek ngga mau kamu sakit. Ya? Kamu harus pulang."


"Nenek benar. Kalau kamu sakit, kasian nenek jadi kepikiran." Timpal Arga. Padahal dia juga ingin sekalian membawa Syahdu ke dokter. "Kita tebus obat sekalian, ya."


Syahdu mengangguk. Dia menurut saja.


"Nek, janji sama Syahdu, nenek jangan mikirin apapun kata-kata orang yang ada disini. Janji nenek sembuh."


"Iya. Nenek janji. Sudah, sana pergi."


Syahdu mengusap-usap tangan neneknya kemudian keluar dari ruangan.


"Kok lo nggak bilang, kalo nenek sakit karena gosip-gosip itu?" Semprot Arga langsung saat setelah Syahdu menutup pintu.


"Lo bilang gosipnya berawal dari gue narik tangan lo kemarin. Itu artinya, gosip itu ada sebelum gue ngajak lo sarapan, kan?"


"Ssst. Jangan keras-keras." Syahdu mengintip ke dalam, dilihatnya nenek memejamkan mata.


"Aku juga baru tau, Ga. Lagian udah lewat. Perawat-perawat disini juga udah ga ada yang ngegosipin kita."


Arga berdecak. Dia memang tidak bisa melakukan hal banyak soal ini dan mengancam para perawat melalui atasan mereka pastilah membuat mereka jera.


"Ya udah. Ayo beli obat dulu sebelum pulang."


Syahdu mengikuti langkah Arga. Dia bisa melihat para perawat itu menunduk saat mereka lewat. Arga juga tampak tak peduli. Dia jalan dengan postur tegak dan enggan menatap ke arah lain selain jalan di depannya.


Arga membawa Syahdu menuju salah satu apotek terbesar yang tak jauh dari rumah sakit. Sesampainya disana, Syahdu turun sendirian, dia memberikan resep dokter pada apoteker.


Tak berselang lama, apoteker itu datang memberikan sejumlah obat.


"Berapa?" Tanya Syahdu mulai mengeluarkan dompetnya.


"Dua juta tiga ratus, kak."


"Ha?" Syahdu membeku. Dua juta? Obat segini aja dua juta?


"Ee.. sebentar, mbak. Saya-"


Syahdu mengerutkan dahi saat sebuah tangan mengulur dari atas bahunya, meletakkan sejumlah uang diatas meja steling kaca di depannya.


"Terima kasih, pak."


"Sama-sama." Jawab Arga dibelakang Syahdu. Sementara gadis itu masih membeku, menatap wajah Arga dari pantulan kaca di depannya. Lelaki itu memakai kacamata hitam dan membungkukkan badan mendekati telinga Syahdu.


"Sama..sama.." bisiknya. "Ayo cepat. Lambat."


Dia pergi, Syahdupun menghela napas. Ya, dia belum bilang terima kasih pada Arga. Tapi laki-laki itu sudah bilang 'sama-sama' duluan. Sebuah kode bahwa Syahdu harus membayar kebaikannya, entah dengan apa..


TBC


Udah Vote belum?🤗

__ADS_1


__ADS_2