
"Gue kamarin putus cinta, perasaan nggak kayak lo gini, deh." Tukas Awan. Dia menenggak botol air di tangannya.
Syahdu menatap sahabatnya itu. Awan juga kasihan, karena orang yang dia sayang malah lebih memilih ayahnya. Rasanya jahat kalau Syahdu nggak bilang soal Riska. Tapi, dia sudah janji pada gadis itu untuk tutup mulut.
"Hidup itu kejam ya, Wan."
Awan mengerutkan dahi. Sejak kapan Syahdu mengeluh tentang kejamnya hidup. Dia terlihat baik-baik saja padahal selalu di bully karena perbuatan yang bahkan tak ia lakukan.
"Kenapa tiba-tiba bilang gitu?"
Syahdu tak menjawab, karena dia tak bisa mengatakannya pada Awan. Bagaimana dia belakangan merasa terhimpit antara uang dan kehormatan.
Syahdu kekurangan dana dan mencari jalan cepat untuk mendapatkannya. Begitu juga Riska. Awan yang orang kaya juga punya masalah besar yang memang tak berhubungan dengan uang, namun perasaan. Semua orang punya masalah, kecuali Arga. Bukankah dia beruntung?
"Sebenarnya ada masalah apa sih, du? Wicak kayaknya ngga tau lu gini. Dia datang dengan sumringah gitu tadi. Tapi lu yang nangis-nangis padahal lu yang mutusin."
Syahdu ingin sekali bercerita. Tapi dia tidak percaya pada Awan. Laki-laki itu juga pasti akan marah dan meninggalkannya kalau tahu sekejam apa perbuatannya pada Wicak.
"Aku.. aku cuma ngerasa nggak pantes aja, Wan."
"Mana mungkin tiba-tiba gitu. Jadi selama 7 tahun itu apa? Hah?"
Syahdu menghela napas, melihat langit hitam di atasnya. Awalnya memang Syahdu merasa percaya diri saja karena Wicak mungkin akan menerimanya jika suatu hari lelaki itu tahu. Tapi apa benar demikian?
Setelah bertemu Riska, semua pikirannya langsung terbuka, kalau dia memang harus mundur. Apalagi perasaannya pada Wicak tidak main-main, dalam hatinya ada rasa kasihan jika Wicak mendapatkan barang kotor sepertinya.
"Anggap aja sekarang pikiranku udah mulai terbuka."
"Kasian aja, sih. Wicak tuh, emang keliatan banget sayangnya sama lu. Emangnya, lu ikhlas kalau dia dapet pengganti lu?" Tanya Awan.
Terdengar lagi helaan napas Syahdu. "Ikhlas aja, sih. Asal dia memang dapet perempuan yang jauh lebih baik dari aku."
Awan menatap Syahdu dengan tatapan tak percaya. Baginya, dari dulu Syahdu memang pandai menutupi perasaannya.
Syahdu yang merasa terus dilihat Awan, sangat tahu maksudnya.
"Iya, iya. Aku pasti sedihlah, nangis, kesal dengan kenyataan. Tapi lebih kasihan lagi kalau dia dapet aku." Jawab Syahdu dengan jujur.
"Ya emang lo kenapa?? Nggak jelas banget kalau cerita." gerutu Awan.
Syahdu tak ingin membahas dirinya. Dia ingin bertanya sesuatu pada Awan.
"Wan, kalau misalnya, nih, ada temanmu yang ternyata memiliki hubungan dengan orang tua temanmu yang lain, apa yang akan kau lakukan?"
"Kenapa jadi bahas masalah yang lain, sih?"
"Jawab aja dulu."
Awan menggaruk kepalanya lagi. Dia tengah berpikir. "Eem. Ya.. biarin ajalah. Ngapain juga ikut campur. Ntar lu yang jadi sasaran."
Syahdu malah melihati Awan dengan iba. Itu hanya ucapannya saja, kan? Kalaulah Awan tahu bahwa Syahdu membantu Riska menutupi itu, dia pasti akan marah,kan?
Bagaimana pun Awan banyak membantunya sejak dulu. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Tapi satu sisi, bagaimana jika dia beritahu sekarang? Keluarganya akan hancur dan Riska juga pasti akan menanggung malu.
__ADS_1
"Ini lo beneran putus, Du? Kok aku nggak percaya, ya?" Tanya Awan mengembalikan pembahasan ke topik semula.
"Kak Wicak baik banget, Wan. Dia mau melakukan apapun demi aku. Tapi orang tuanya ngga setuju kalau kak Wicak terus bersamaku."
"Alah, itu doang. Itu mah, urusan Wicaklah. Ngapain lo pikirin." Sahut Awan.
"Namanya juga hubungan serius, Wan. Menikah itu bukan cuma menerima pasangan aja, tapi keluarganya juga. Kalau hubungan kami buruk, gimana bisa membangun keluarga besar?" Jelas Syahdu yang sudah berpikir panjang.
"Ya masalahnya, kok baru ini lo mikirin soal itu, gitu lho. Tujuh tahun itu lo kira bentar? Yakin gua, Wicak ngga terima itu."
Syahdu menunduk. Dia juga tahu itu. Sebab dia pun terus ditelepon oleh Wicak, juga belum berani membaca pesan dari lelaki itu sejak tadi.
"Tapi, kalo emang itu udah jadi keputusan lo, apa boleh buat."
"Eh, Du. Gimana kalau kita kemah." Usul Awan.
"Kemana?"
"Bukit disini lumayan tinggi. Disebelah danau Batur. Pemandangannya Beeuhhh.. mantap."
Syahdu belum menjawab. Dia memang butuh sesuatu untuk meredakan kesedihannya sedikit demi sedikit.
"Ayolah, aku juga kan, lagi galau mikirin Riska. Dendam nih, aku. Seenaknya aja mutusin hubungan, selingkuh gitu."
Syahdu menghembuskan napas perlahan. Andai dia tahu dengan siapa Riska selingkuh, apakah Awan kuat menerimanya?
"Oke, deh." Jawab Syahdu.
"Naah, gitu dong. Aku akan tanya yang lain biar aku atur jadwalnya." Kata Awan dengan semangat.
Syahdu masuk ke dalam apartemen Arga, lelaki itu tengah memangku Popi sambil bermain ponsel. Melihat kehadiran Syahdu, Popi langsung berlari ke arahnya.
Arga menutup ponsel saat melihat kemunculan Syahdu. Dia masih penasaran apa yang terjadi antara gadis itu dan pacarnya. Apalagi saat ini Syahdu tampak kacau dengan mata sembab. Dia pasti habis nangis.
"Bau alkohol. Lo dari mana?" Tanya Arga.
"Ngga dari mana-mana."
"Ngga dari mana-mana apanya. Abis mabuk-mabukan, ya?"
"Enggak."
"Trus, mabuk dimana?"
"Siapa yang mabuk, sih? Udah ah, aku mau mandi." Gadis itu mengelak dan langsung menuju kamar mandi.
TRING
Awan: guys, ada yang mau ikut kemah?
Ibra: wah, boleh tuh. Hobi gue. Kemana?
Awan: rencana sih, bukit danau Batur.
__ADS_1
Ibra: boleh deh, walau udah sepuluh kali gue kesana.
Naya: serem nggak tempatnya.
Ibra: cakep pemandangannya, yang.
Naya: yang yang pale lo!
Ibra: Wuahaha
Alika: gue ngga pernah, sih. Tapi boleh dicoba.
Awan: Lo semua tinggal bawa barang pribadi aja. Soal yang lain urusan gue.
Ibra: Lo gimana, Ga? Jangan read doang lo.
Arga: Sibuk gue.
Naya: Aahhh.. Kalo Arga ngga ikut, mana seruuš
Alika: Gayaan lo sibuk. Bilang aja malesš
Ibra: Wahaha sibuk malam jumatan tuh, diaš¤£
Naya: Ayo, dong.. Kok gue mendadak mau banget, ya. Kayaknya seru, deehš£
Syahdu keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai jubah mandi dan mulai memakai body lotion ke tubuhnya.
TRING!
Dia berhenti sejenak untuk mengecek ponselnya yang sejak tadi berdering.
Dina: gue mau asal rame-rame.
Ibra: kapan emangnya?
Awan: jumat kita naik. Jadwal pak Subono kosong, kan?
Naya: Ayooowww!!
Dina: Laras, gimana? Say something dong.
Awan: justru acara ini disponsori oleh Laras yang baru putus dengan kekasihnya.
Dina: What????
Naya: sumpe lo???
Alika: hahhh?????
Syahdu melempar ponselnya. "Awan brengsek!!" Maki gadis itu. Sementara Arga menatapnya dari sofa.
Arga: Deal.
__ADS_1
Jawabnya di grup dan langsung menutup ponselnya.