SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Happy Birthday, Arga.


__ADS_3

...PoV Arga Alexander...


Waktu terus berlalu


Dan aku sadari yang ada hanya, aku dan kenangan


Masih teringat jelas senyum terakhir yang kau beri untukku~


...***...


Aku menaikkan selimut saat kurasakan dinginnya angin menusuk sampai ke tulangku. Cahaya masuk dari celah gorden mengenai mata, dan membuatku terpaksa menutup seluruh wajahku dengan selimut. Namun yang kurasakan justru gerah.


Aku membuka selimut, disaat bersamaan, aku langsung teringat dengan malam yang terasa begitu indah. Wajah Syahdu yang belum pernah kulihat sebelumnya, saat dimana ia merasakan kenikmatan dari tubuhku, kini melekat di pelupuk mata. Dessahan gadis itu selalu terngiang di telinga.


Aku tersenyum mengingat itu. Syahdu, benar-benar membuatku seperti orang gila. Dia mampu mendebarkan hati dan pikiranku terus tertuju padanya. Bahkan saat ini aku sudah berpikir bagaimana supaya aku dan Syahdu tetap bersama, karena perasaanku telah terbayar dengan nyata.


Aku menoleh kesamping. Perempuan itu tidak ada disana. Aku duduk menatapi sekitar. Tidak ada suara apapun yang menandakan Syahdu ada. Sesaat aku teringat kalau Syahdu ingin pergi, tapi tidak mungkin. Syahdu sudah berjanji tadi malam untuk tidak meninggalkanku. Baju hingga ********** pun masih berserak diatas lantai.


Ah, mungkin dia sedang di dapur, atau kamar mandi. Aku bangkit mencari gadis itu. Rasanya ingin memeluknya, atau mungkin melakukannya satu kali lagi pagi ini?


Aku ke kamar mandi, tidak ada Syahdu disana. Lalu ke dapur dan walk in closet, juga tidak ada.


Tiba-tiba saja tubuhku menegang. Bagaimana kalau ternyata Syahdu pergi? Bagaimana kalau dia tidak menepati janjinya?


"SYAHDUUU!!" teriakku memanggilnya. Aku merasa Syahdu membohongiku. Tapi tetap aku cari disekitar ruangan itu.


"SYAHDU!"


Hening, tidak ada jawaban sama sekali.


Aku memeriksa lemari, pakaiannya masih lengkap disana. Aku melihat high heels-nya juga masih ada di dekat sofa.


Aku mencoba membuka lemari untuk mencari tas yang biasa ia pakai. Dan ternyata tidak ada.


Kuperiksa tempat dimana ia menyimpan jeket kekasihnya, juga tidak ada disana.


Ponsel yang selalu diatas tempat tidur, tidak ada. Dompet yang biasa ia letak diatas nakas, tidak ada. Hanya sebuah kartu ATM yang pernah aku berikan padanya, ada diatas meja. Lalu secarik kertas kecil.


Tenggorokanku tercekat setelah membacanya.


'Happy Birthday, Arga.'

__ADS_1


Hanya itu yang ia tulis disana. Kemana dia? Apa dia pergi membeli hadiah, atau apa??


Aku membeku saat menyadari Syahdu pergi. Kukepalkan tangan kuat-kuat. Rasanya ingin marah, tapi kutahan karena aku masih mencoba berpikir tenang. Siapa tahu dia memang sedang keluar sebentar.


Syahdu pasti sedang pergi keluar membeli sesuatu. Dia tidak mungkin meninggalkanku. Dia sudah berjanji, kan. Dan janjinya itu sangat meyakinkan.


Kuraih ponsel, tak kutemukan pesan apapun darinya. Hanya pesan dan banyak panggilan terlewatkan dari Papa, Mami, dan Soraya yang pasti mempertanyakan keberadaanku, karena aku meninggalkan acara pesta diam-diam.


Aku tidak peduli. Saat ini yang kuinginkan hanya Syahdu.


Tanganku gemetar, mencari nama Syahdu di kontak Whatsapp. Biasanya nama gadis itu ada paling depan, tapi kini menghilang dan sekarang, aku tidak menemukan namanya di kontak whatsappku.


"Sial. Ponselku pasti rusak!!" Kataku saat melihat ruang obrolan kini redup, foto Syahdu tidak tertampil disana.


Kucoba telepon nomornya. Aku diam menunggu...


'Nomor yang anda tuju tidak terdaftar. Silakan-'


"BANGSAT!!" Aku membanting ponsel ke lantai, dan sialnya ponsel itu masih hidup.


Syahdu benar-benar pergi. Syahdu meninggalkan aku begitu saja tanpa pesan. Dia bahkan menghapus nomornya.


Aku terduduk lemas, menjambaki rambutku. Menangis, meratap, dan mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku terlalu percaya pada gadis itu. Kenapa aku tertidur pulas dipelukannya padahal seharusnya aku terjaga, supaya dia tidak lari.


"Mas Arga, selamat pagi.." Sapa security yang berjaga di depan pintu lobi.


Aku segera mendekatinya. Siapa tahu dia melihat Syahdu.


"Pak, liat Syahdu?" Tanyaku dengan suara bergetar.


"Oh, neng Syahdu tadi pergi. Pagi-pagi sekali. Katanya mau pergi jauh."


Pergi jauh?


"Kemana? Apa dia bilang mau kemana??" Tanyaku tergesa-gesa, membuat security itu tampak bingung melihatku.


"Eee.. saya nggak tahu, mas."


Arrgh! Syahdu kemana..


"Tapi, dia berikan ponselnya sama saya. Katanya-"

__ADS_1


Aku langsung merampas ponsel Syahdu yang ada di tangan si security. Benar, ini ponsel Syahdu dalam posisi nonaktif.


Aku mengeluarkan setumpuk lembaran merah dari dompet dan memberinya pada Security. "Saya beli ponselnya. Bapak beli yang baru."


Kataku lalu keluar dari sana menuju mobil untuk menemukan Syahdu.


Kuedarkan pandangan kesuluruh jalan untuk mencari Syahdu. Siapa tahu dia masih ada disekitar sini. Satu-satunya yang ingin kudatangi adalah kontrakannya. Aku yakin dia ada disana.


Setelah sampai, aku buru-buru menggedor pintu sambil teriak memanggil namanya. Besar hatiku berharap ada suara dari dalam yang menyahut dan membukakan pintu, supaya tubuh itu bisa kembali kupeluk. Dan aku kabulkan apapun permintaannya, bahkan jika ia memintaku untuk membatalkan pertunangan itu, dengan suka hati aku akan mengabulkannya. Tapi berkali-kali aku menggedor, tidak ada suara.


"Hei, cari siapa, sih? Jangan gedor-gedor, dong. Berisik tahu!" Suara dari sebelah membuatku diam. Seorang wanita tua keluar dari rumahnya.


"Orangnya ngga ada. Tadi pergi bawa barang-barangnya."


"Ke-kemana ya, buk."


"Mana kutahu!" Sentaknya lalu masuk lagi ke dalam rumah.


Aku menatap pintu kontrakan Syahdu cukup lama. Ternyata Syahdu memang sudah pergi meninggalkanku. Hancur hatiku mengetahui itu. Kemana lagi harus kucari, aku tidak pernah tahu tujuan Syahdu. Selama ini dia hanya disekitar sini, sangat mudah bagiku menemukannya. Tapi sekarang, dia menghilang. Benar-benar menghilang.


Aku kembali ke mobil dan mencari Syahdu lagi. Aku tidak semudah itu menyerah. Aku akan menemukan Syahdu apapun caranya. Aku akan mencarinya ke bandara, stasiun, atau apapun tempat yang ada di kota ini.


Aku akan menemukan kamu, Syahdu.


...🍁...


Aku berhenti di sebuah taman. Sejak tadi ponselku bergetar, tapi aku tak berniat diganggu oleh siapapun termasuk lelaki tua bernama Alex. Aku hanya menunggu panggilan Syahdu. Siapa tahu dia menghubungiku dan memintaku menjemputnya.


Lalu tiba-tiba saja, entah dari mana, aku mendapat satu pukulan keras di wajah.


"Anak kurang ajar!"


Satu hantaman cukup membuatku yang tengah lesu terhuyung dan jatuh diatas tanah. Mataku langsung menangkap langit yang mulai menghitam. Seharian penuh aku mencari tapi tidak menemukan Syahdu, sampai aku menyadari, gadis itu memang pergi dari hidupku. Dia menghilang, dia memilih pergi dari sisiku.


Secepat itu, kah? Aku baru saja merasakan bahagia yang luar biasa yang ia ciptakan untukku. Kali pertama Syahdu membalas ciumanku. Kali pertama Syahdu menikmati sentuhanku, kali pertama dia menangis karena takut kehilanganku. Tapi kenapa sekarang dia yang menghilang?


"Bangkit, sialan! Kau membuatku malu! Bisa-bisanya kau mengkhianati Soraya di hari pertama kau bertunangan dengannya!!" Bentak lelaki tua itu padaku. Tapi aku tidak peduli dengan apa yang ia amukkan. Aku tidak bisa mendengar ocehannya disaat kepalaku penuh dengan Syahdu, Syahdu, dan Syahdu.


Kututup mataku dengan lengan kanan. Aku merasa hatiku hancur hingga membuatku menangis sesegukan. Bahuku terguncang, aku bisa mendengar suara tangisanku sendiri sampai lelaki tua itu menghentikan ocehannya.


Hampa, luka, dan amarah menjadi satu, membuatku lantas tak bisa merasakan hal lain selain itu, karena kepergianmu, Syahdu...

__ADS_1


TBC


**Sudah Vote??πŸ€—πŸ€—**


__ADS_2