
Tuhan, Engkau tahu aku mencintainya dan tak ada yang bisa mengganti dirinya.
Tuhan, hanya dia yang selalu ada dalam anganku, dalam benakku - BlackOut
...*...
"Kalian mau pergi? Mau kemana?" Arif baru saja sampai di depan rumah saat Syahdu dan Tari baru menutup pintu rumah.
"Kita mau ke kota, pak. Ada yang mau dibeli." Jawab Tari.
"Kota? Mau aku antar?" Tanya Arif pada Syahdu.
Gadis itu menggeleng pelan. "Ngga perlu, Rif. Kami berdua aja naik angkutan umum." Jawab Syahdu dengan nada lemas. Pasalnya dia kurang tidur, terlalu banyak memikirkan seseorang sampai membuatnya sulit menutup mata.
"Kamu.. baik-baik aja, kan?" Arif mendekat, tangannya ingin memegang kening Syahdu, tapi gadis itu reflek memundurkan kepalanya.
"Aku sehat, kok. Aku duluan ya, Rif." Syahdu menarik tangan Tari pergi, sementara Arif masih terdiam dengan tangan yang menggantung. Dia sedikit kecewa lantaran Syahdu tidak memperlakukannya seperti orang-orang yang berpacaran pada umumnya. Contoh saja barusan ini. Syahdu mengabaikannya.
Tapi dia mencoba mengerti. Seperti cerita Nani kemarin, kalau Syahdu ternyata ditinggal mati oleh kekasihnya. Sebab itu mungkin yang membuatnya lari dari lingkungan lamanya. Jadi, Arif harus sabar dan mengerti kondisi Syahdu.
"Kakak kenapa? Dari tadi malam aneh dan lebih banyak diam." Tegur Tari saat mereka ada di dalam sebuah pick up yang mengantarkan mereka sampai kota.
"Ngga apa-apa, Tar. Kakak cuma sakit kepala."
"Kok ngga bilang dari tadi? Tau gitu kan, kita bisa batalin perginya."
Tidak, dia ingin ke kota dengan tujuan lain.
"Kan, mau beli bahan makanan yang kamu mau. Tenang aja, ini cuma sebentar kok." Jawab Syahdu.
Setelah beberapa jam, mereka sampai di kota. Syahdu menuju satu mini market untuk membeli bahan-bahan yang ia butuhkan.
Syahdu terhenti di salah satu baliho besar. Dia mendongak menatap wajah yang sangat ia kenal ada disana. Arga Xander, dia menghilangkan nama ayahnya. Arga sudah sangat terkenal bahkan sampai di kota terpencil seperti ini.
"Kak, kita ke warnet dulu, ya. Sebentar aja." Tari menyentuh lengan Syahdu, membuatnya tersadar.
Syahdu mengangguk setuju, dan mengikuti Tari menuju warung internet itu.
"Pesen dua." Kata Syahdu, membuat Tari menoleh.
"Kok dua? Kita kan, bisa gantian."
"Biar cepat." Syahdu mencari tempat paling sudut. Dia tak ingin diganggu siapapun termasuk Tari. Sementara gadis kecil itu mendapat tempat yang paling depan.
Syahdu membuka youtube. Kemarin dari cerita Tari, Arga ada disebuah podcast.
__ADS_1
Jari Syahdu sudah bersiap mengetik nama Arga, namun ia terhenti, ragu. Apa perlu sampai seperti ini? Syahdu mulai berperang dengan pikirannya sendiri. Jika ia sudah sejauh ini, buat apa masih mencari tahu soal Arga lagi? Bukankah seharusnya dia mengabaikan saja soal Arga? Seharusnya begitu, tapi ada yang mengganjal di hatinya.
Perlahan jemari Syahdu mengetik satu nama yang langsung keluar begitu banyak konser, video klip, juga wawancara lelaki itu.
Dia memilih podcast terbaru Arga yang sudah ditonton 2juta kali dalam sehari. Perlahan tangan Syahdu meraih earphone dan menempelkannya di telinga.
Syahdu menonton wajah Arga di dalam layar. Wajah yang sudah lama sekali ia tidak lihat. Hatinya bergetar saat melihat senyuman Arga disana.
Seorang youtuber perempuan menjadi host dalam chanelnya. Syahdu mulai fokus mendengarkan suara yang pernah membisikkan cinta di telinganya. Arga, tidak banyak yang berubah dari dirinya. Hanya saja, lelaki itu semakin bersinar.
Syahdu mematung disana. Dia tak bergerak sama sekali. Kata demi kata yang Arga keluarkan dari mulutnya membuat Syahdu selama ini mengabaikan sesuatu.
'Wah.. gila. Jadi kakak feeling in blue terus dong, kak. Gimana kalo cewek itu udah nikah, punya suami... punya anak?'
'Semoga aja enggak.'
'Kalau nih, kak. Kalau misalnya ternyata dia udah menikah?'
Syahdu memejamkan mata. Apa benar ini soal dirinya? Benarkah Arga memang mencintainya? Bahkan sampai sekarang? Dia bertanya-tanya dalam batinnya.
'Kalau dia udah nikah...' Arga menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah dengan sudah tersenyum. 'Kalau dia udah nikah, gue ucapkan selamat. Semoga menjadi keluarga yang bahagia.'
'Eh, gitu aja?' Tanya perempuan itu lagi.
Syahdu meremas kerah bajunya yang ikut bergetar karena jantungnya yang berdetak sangat kencang.
Kenapa Arga begitu? Kenapa dia berkata seolah aku menyukainya?? Tanya Syahdu dalam hatinya.
'Kok tema podcast kita jadi galau, guys. Hahaha. Kita next question aja yuk.' Gadis di chanel youtube itu berusaha membuat suasana kembali cerah.
'Next question ya, kak. Udah jomblo berapa lama, kak? Sebutin tipe cewek kesukaan, dong.'
'Kalo gue bilang belom pernah pacaran, kalian percaya, nggak?' Tanya Arga dalam podcast itu.
'Engga dong, kak. Ngga mungkin.'
'Tapi gue emang belum pernah pacaran. Menurut gue, pacaran itu bukan untuk main-main tapi keseriusan. Kalo gue mutusin buat pacaran, artinya gue serius sama cewek itu.'
'Wwwiiisss.. keren banget kak Arga. Jadi, serius belum pernah pacaran? Trus, cewek yang kakak ceritain tadi?'
'Dia cewek idaman gue. Yaah, belum sampe gue bener-bener bisa buktiin kalo gue sayang banget sama dia, jadi ngga sempet pacaranlah.'
'Tapi sebenarnya kakak nungguin dia selama ini, itusih udah bagian dari pembuktian.' Tukas host youtube itu. 'Soal cewek idaman? Kasih tau kita dong, kak. Kaya gimana cewek idaman kakak itu.'
'Hmm..' Arga tampak berpikir. 'Gimana ya, jelasinnya. Gue juga ngga ngerti soalnya perasaan gue datengnya tiba-tiba, sih. Hahaa.' Arga tertawa. Membuat Syahdu mengukir senyum tipis. Senang melihat Arga bisa tertawa seperti itu, walau tak diketahui oleh Syahdu bahwa Arga melakukan itu karena di depan kamera.
__ADS_1
'Yang pasti dia di mata gue cakep banget. No one can describe her, she amazed me.'
'Beruntung banget sih, cewek ituuu..'
Syahdu menatap wajah tersenyum Arga di layar komputer. Dia menyentuhnya seolah Arga ada di depannya. Tanpa sadar ia telah mengembalikan semua perasaan yang ia pendam selama ini.
'Next question. Sebentar lagi kan, ulang tahun kak Arga, apa sih yang paling spesial? Trus kakak mau kado apa?'
Arga meremas jarinya yang ada diatas meja. Wajahnya berubah, lalu ia kembali tersenyum.
'Sebenarnya gue ngga suka ulang tahun.'
'Hah? Kenapa gitu, kak?'
'Karena dia ninggalin gue pas di hari ulang tahun gue.'
Cewe di depan Arga itu menganga. 'Serius, kak?'
Arga menatap kamera, seolah dia tengah menatap Syahdu.
'Serius. Dia ngasih gue kenangan buruk tepat di hari ulang tahun. Itu yang buat gue sebenarnya ngga bisa bener-bener bahagia. Gue ngerasa, sakit 7 tahun itu keulang kembali setiap ulang tahun gue. Dan jujur.. Gue ngga suka ulang tahun gue."
Pembicaraan masih berlangsung tetapi bendungan di mata Syahdu telah hancur. Dia meneteskan air mata. Arga tidak menyukai ulang tahunnya, karena dirinya. Dia membuat luka di hati Arga selama bertahun-tahun tanpa ia sadari. Dia sudah sangat jahat pada lelaki itu.
Syahdu meninggalkan warnet begitu saja. Dia berjalan tanpa semangat. Setelah mendengar semua obrolan Arga mengenai kehidupan dirinya yang sebenarnya, membuat Syahdu merasa bersalah.
Gadis itu berjongkok tiba-tiba. Mengabaikan orang-orang yang melewatinya sambil memperhatikannya dengan heran. Syahdu tak peduli. Saat ini ia sudah tak sanggup merasakan denyut di hatinya. Kenapa dia merasa sesedih ini...
"Ya ampun, kak. Aku cariin malah jongkok disini!" Tari membantu Syahdu berdiri. Dilihatnya mata kakaknya itu basah.
"Lho, kakak nangis? Kenapa? Sakit ya, kepalanya?" Tari panik, dia menengok kesana kemari, mencari klinik terdekat.
"Ngga apapa, Tari. Kakak udah baikan. Kita pulang, ya?" Syahdu berjalan duluan kedepan, meninggalkan Tari dengan segala kebingungannya.
Sepanjang jalan Syahdu hanya melamun. Tari pun tak berani menanyakan apapun. Pasalnya, Syahdu tak seperti biasa.
Sampai di rumah pun masih sama, Syahdu memilih masuk kamar dan tak ikut makan malam. Tentu membuat Nani khawatir.
Setelah memberikan Syahdu waktu, Nani mulai mengetuk pintu kamar anak angkatnya itu.
Beberapa kali mengetuk, tidak ada jawaban. Nani memberanikan diri membuka pintu kamar Syahdu, tapi gadis itu tidak ada disana. Kamarnya tersusun rapi dan tempat tidur seperti tak tersentuh.
"Lho, kak Syahdu kemana, bun? Tadi dia masih ada di dalam kok." Tari cemas. Pasalnya Syahdu tadi bilang kepalanya sangat pusing. Tapi setelah dicek, kamarnya kosong.
**One more bab ya**
__ADS_1