
Arga berlari kencang masuk kedalam gedung apartemennya. Tadi kata pengawal Syahdu, gadis itu sudah kembali ke apartemen dan mereka mengantar sampai depan pintu.
Walau tahu Syahdu tak kabur darinya, namun kepergian mendadak tadi membuatnya takut. Apalagi ia teringat saat Syahdu meninggalkannya di hari ulang tahunnya. Tentu ia tak ingin hal itu terjadi lagi.
Dia penasaran, apa yang membuat Syahdu beranjak. Apa ada kalimat salah yang ia ucapkan diatas panggung tadi, yang membuat gadis itu tak nyaman atau semacamnya.
Arga sampai di depan pintu. Dengan buru-buru ia masuk dan mendapati ruangan itu gelap gulita. Padahal biasanya lampu akan otomatis menyala jika pintu dibuka.
Arga meraba tembok, memencet tombol lampu dan teranglah ruangan apartemen yang membuatnya terpaku.
Di dalam, Syahdu berdiri sembari memegang kue ulang tahun dengan lilin yang belum menyala diatasnya. Ruangan itu juga tampak didekor sedemikian rupa hingga membuat Arga menyentuh jidatnya dan tertawa sambil menggelengkan kepala.
Segala macam hal buruk sudah ia pikirkan mengingat Syahdu yang pergi begitu saja tadi. Tahu-tahu gadis itu menyiapkan kejutan super istimewa untuknya. Ya, super istimewa karena walau terlihat sederhana, namun mampu membuat hatinya berdebar tak menentu, juga tersanjung setengah mati.
"Happy birthday to you, happy birthday to you..." Syahdu menyalakan lilin, mendekati Arga. Dia bernyanyi dengan suara merdunya. Lagu ulang tahun itu terdengar sangat indah mendayu, seperti wajah penyanyinya saat ini, yang membuat Arga tak bisa menatap kearah lain.
Setelah bernyanyi, Syahdu mendekatkan kue dengan lilin yang masih menyala.
"Selamat ulang tahun, Arga. Semoga panjang umur, selalu diberikan kesehatan, dan semua impianmu tercapai. Make a wish?"
Lama Arga menatap manik hitam milik Syahdu. Impiannya sedikit lagi bisa tercapai jika Syahdu mau bekerja sama dengannya.
"A wish?"
Syahdu mengangguk. "A wish.."
"I have a wish. But not to God. A wish to you."
Mata Syahdu menyipit. "Me?"
"Ya." Kata Arga mengangguk kecil. "Bisa kabulkan permintaanku?"
Syahdu menggelengkan kepala. Dia belum mendengar permintaan Arga padanya, tapi dia tahu itu sesuatu yang mungkin tak bisa ia kabulkan.
"Why.." Ucap Arga dengan nada kecewa.
"Karena aku ngga bisa mengabulkan keinginan manusia, Ga. Aku bukan malaikat." Jawabnya dengan memikirkan banyak alasan supaya Arga berhenti berharap padanya.
__ADS_1
Arga kemudian tersenyum kecut, sadar kalau Syahdu sedang menghindarinya.
Lelaki itu meniup lilin tanpa membuat permohonan. Baginya, memohon di depan api tidak membuat doanya terkabul kecuali usahanya sendiri untuk membuka hati Syahdu yang nampaknya masih belum terbuka lebar itu.
Arga meletakkan kue yang dipegang Syahdu, lalu menarik tangan gadis itu untuk duduk di atas tempat tidur.
Mungkin permintaannya akan memberatkan bagi Syahdu, dan Arga tak ingin gadis itu pergi lagi hanya kerena itu. Yang pertama harus ia tahu adalah mengenai perasaan Syahdu.
Arga menarik laci nakas, lalu mengeluarkan ponsel lama Syahdu. Gadis itu terbelalak. Dia menerima ponselnya dengan sejuta keheranan apalagi isinya masih sama dan lengkap. Padahal dia ingat kalau dia sudah menghapus semuanya.
"Da-dari mana kamu dapat ini?" Tanyanya penasaran.
"Itu ngga penting. Yang aku mau tau itu cuma satu." Arga menarik lagi ponsel Syahdu lalu membuka galeri gadis itu.
"Ini." Arga menunjukkan satu foto yang membuat Syahdu merapatkan bibirnya. "Ini juga, ini .. lalu ini.." Arga menggeser layar ponsel Syahdu, menunjukkan beberapa foto yang ada di dalamnya.
"Syahdu, kamu tau kenapa aku nungguin kamu untuk datang lagi kekehidupanku? Kenapa aku seyakin itu, nunggu kamu padahal aku ga tau kamu dimana. Apa udah menikah, atau bahkan punya anak? Aku ngga tau. Yang aku yakini cuma foto itu. Dari situ, aku tau kalau kamu juga suka sama aku. Iya kan, Syahdu?"
Syahdu hanya menunduk, tak berani menatap kearah Arga.
"Kalau kamu ga suka sama aku, kenapa kamu foto diam-diam aku yang lagi tidur? Semua foto ini di waktu dan hari yang beda-beda."
Arga tersenyum cerah mendengar jawaban Syahdu walau gadis itu belum mengangkat wajahnya.
"Aku pengen denger dari kamu langsung."
Arga perlahan mengangkat dagu Syahdu. Ditatapnya bibir merah yang membuatnya selalu bernapsu. Ingin dia **********, namun semua ini sudah berbeda. Dulu Arga bisa sesuka hati mengatur dan menarik Syahdu untuk melayaninya diatas tempat tidur. Tapi sekarang, kontrak itu sudah berakhir dan dia tak mau melakukannya kalau bukan Syahdu yang memberinya izin.
"Liat aku, Syahdu."
Perlahan mata Syahdu menatap mata coklat Arga yang di dalamnya terpancar cahaya hangat dan teduh untuknya.
"Coba bilang, kenapa kamu foto aku diam-diam, kenapa kamu simpan itu di hp kamu, kenapa kamu lakuin itu? Hm?" Tanya Arga sembari mengelus dagu Syahdu dengan ibu jarinya. Hatinya mulai bergetar menanti jawaban Syahdu yang sudah sangat lama ia tunggu-tunggu. Kalau saja Syahdu mengaku tentang perasaannya, dia akan mencium bibir ranum itu.
Syahdu kembali tertunduk, menatap ponselnya. Sementara Arga menunggu jawabannya sembari mengelus lembut rambut Syahdu.
Syahdu pula menggeser-geser layar dan memperhatikan semua foto Arga yang ia ambil. Benar, dia menyukai Arga yang tampak berbeda dengan wajah saat sadar, dan tertidur.
__ADS_1
Wajah tidur Arga begitu lembut dan tampak sangat indah. Berbeda sekali dengan saat lelaki itu terbangun. Itu sebabnya Syahdu memotretnya karena diam-diam dia mengagumi seorang Arga.
Jari Syahdu terhentu, saat tiba-tiba tak sengaja foto Wicak dan dirinya kembali terbuka. Foto itu masih ada disana dan Arga tidak menghapusnya.
Ah, Wicak. Apa dia pernah melihat foto-foto Arga di hpnya? Syahdu jadi menebak-nebak sendiri setelah mendengar ucapan Nani waktu itu. Hati Syahdu kembali merasa bersalah. Apa boleh dia bersama Arga yang sudah berkhianat pada lelaki luar biasa seperti Wicak?
"Syahdu.." panggil Arga, membuat Syahdu menutup ponselnya.
"Aku.. mau tidur." Syahdu beranjak kedalam kamar mandi, membuat Arga menghela napas. Lalu ia meraih kembali ponsel Syahdu dan membukanya.
Dia termangu, lalu dalam hatinya bertanya-tanya. Apakah perasaan Syahdu sebenarnya masih untuk Wicak?
...🍁...
Pagi-pagi Arga terbangun. Dia meraba tempat tidur dengan mata terpejam, hendak memeluk tubuh Syahdu. Namun tangannya mendapati tempat kosong hingga membuatnya langsung terduduk dari tidur.
Ingatannya kembali ke masa 7 tahun silam, dimana tepat pagi hari ini, di ulang tahunnya, Syahdu pergi meninggalkannya.
"SYAHDU!" Teriak Arga kencang. Dia panik apalagi tak mendapati Syahdu dimana pun.
"SYAHDU!!" Panggilnya lagi, namun suara pintu terbuka membuatnya menoleh.
Syahdu dan Popi masuk. Dengan wajah cerah pagi, Syahdu tersenyum dan menyapa Arga yang tubuhnya sudah bergetar setengah mati.
"Selamat pagi."
Arga terduduk di sofa. Dia tahu, dia berlebihan. Lelaki itu menyandarkan kepala ke sofa, mengusap wajahnya yang sejak tadi pasti terlihat bodoh.
"Arga, kenapa?" Syahdu mendekat saat menyadari ada yang tak beres dari lelaki itu. "kamu mimpi buruk, ya?" Tanyanya dengan serius menatap Arga yang masih mendongak memejamkan matanya.
Arga menghela napas berat, lalu mulai menatap Syahdu lekat-lekat. "Syahdu.."
"Iya?"
"Marry me."
"Hah?" Syahdu cengo. Hari masih sangat pagi dan Arga memberinya kalimat yang membuatnya sungguh tak mampu memikirkan hal lain kecuali Arga yang benar-benar sudah merubah jalan pemikirannya sekarang. Menikah? Kata yang seharusnya tidak ada di dalam kamus lelaki itu.
__ADS_1
TBC