
"Udah, lo tenang aja. Dari pada naik angkot mending naik ini, kan." Ucapku padanya yang kemudian menurut saja walau wajahnya penuh selidik menatap bapak itu.
Setelah bersepakat dengannya, aku membayar uang dimuka, lalu kami pun menaiki mobil hitam yang dimiliki bapak tadi.
Sepanjang jalan, aku dan pak supir mengobrol santai. Nampaknya bapak itu tidak mengenal siapa aku. Baguslah, setidaknya aku bisa bernapas lega berjalan tanpa masker dan topi di desa ini.
Setelah menempuh dua jam perjalanan, si supir menghentikan mobilnya di sebuah pedesaan yang tak tampak ramai penduduk.
"Udah sampe ya, pak?" Tanyaku pada si supir.
"Mobilnya mogok nih, dek."
"Haahh?" Ibra langsung lemas mendengarnya.
"Bantu dorong ya, dek."
Walau sangat lelah, aku tetap keluar dari mobil. Disusul Ibra yang membawa tasku dan juga tasnya.
"Ngapain lo bawa tas?" Tanyaku heran.
"Iya dek, kenapa dibawa? Taruh aja di mobil biar ngga capek." Sahut si bapak.
Ibra tak menyahut. Dia menyandang tasnya di depan, dan tasku dibelakangnya.
Aku hanya menggelengkan kepala. Aneh melihat Ibra. Tapi karena sudah malas berbicara panjang lebar, akupun membiarkannya. Lalu kami mulai mendorong.
"Terus dek.." ucap bapak itu dengan kepala yang keluar dari jendela mobil.
"Lo itu bego atau apa, sih." Cibir Ibra padaku, hampir seperti berbisik.
Alisku mengerut. "Maksud lo apa?" Tanyaku sembari terus mendorong mobil.
Mesin mobil hidup, aku langsung menyela keringat yang muncul di dahiku. Namun sial, detik itu juga, mobil yang kami tumpangi tadi meluncur begitu cepat. Membuatku bengong seketika.
"Hoii paakkkkk..." akupun berteriak memanggilnya saat menyadari ternyata kami telah ditipu.
Ibra malah terduduk diatas rumput tepi jalan. Dia mengenggak air dalam botol.
"Wah, anjing! Gila, ya! Gue udah bayar mahal malah pergi gitu aja." Makiku kesal luar biasa.
"Emang dasar lo aja yang bego." Ucapnya padaku.
"Hah? Lo udah tau itu penipu? Kok lo nggak bilang, nyet?"
"Emang lo dengerin omongan gue? Nggak, kan?"
Aku menatapi mobil yang sudah menghilang. Benar juga. Tadi Ibra memang sempat protes tapi aku yang membungkam mulutnya. Hah. Entah kenapa Syahdu membuatku lupa untuk berhati-hati. Keinginanku bertemu dengannya sangat besar sampai apapun akan aku lakukan asal bisa lekas melihatnya.
"Trus.. ini gimana?"
__ADS_1
"Mana gue tau." Ibra memilih duduk dibawah pohon, mengibas-kibaskan topi ke wajahnya yang gersang. Sementara aku masih mematung menatap kearah dimana mobil tadi menghilang.
Setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Siang itu terik, kami pun berjalan lambat.
"Lagian lo kenapa sih, mendadak gini. Jadi ketipu, kan. Coba lo bilang ke Syahdu, pasti dia udah jemput kita di kota tadi." Repet Ibra dari tadi.
"Siapa yang nipu gue sampe nyangka Syahdu dateng? Gara-gara lo gue jadi makin ga sabar ketemu cewe gue!"
Ibra tak lagi menyahut. Wajahnya terlihat berantakan dan kelelahan. Yah, aku juga merasa penampilanku begitu saat ini.
Terdengar suara motor menderu dari belakang, kami pun menepi. Tiga orang anak muda sekitaran belasan tahun memperlambat jalan motornya sembari memperhatikan aku dan Ibra yang berjalan.
"Kak, mau kemana? Di depan hutan, lho. Nggak ada gunung yang bisa didaki."
Kami spontan menghentikan langkah. Begitu juga ketiga anak itu, mungkin mereka penasaran dengan kami.
"Desa Bebatu bukannya kearah sana?" Tanyaku menunjuk kearah kami berjalan.
Mereka serentak menggelengkan kepala.
"Bukan, kak. Itu udah masuk ke ladang penduduk dan hutan." Jelas anak itu. "Kakak ini mau ke Bebatu, ya? Bebatu berapa? Satu, dua, tiga, atau empat?"
Aku pun cengo. Syahdu tidak pernah cerita ada banyak Bebatu disini. Terus, di desa Bebatu berapa Syahdu berada?
"Ee.. yang listriknya baru dipasang, itu Bebatu berapa?" Tanya Ibra, mengingat cerita Syahdu waktu itu.
"Oh, Bebatu satu. Setengah jam lagi dari sini. Arahnya kesana." Anak itu menunjuk arah lain dari tempat kami berdiri.
Anak-anak itu saling pandang, lalu mengangguk. "Ayo, kak."
Kami pun naik, walau awalnya Ibra masih merasa ragu, tapi dari pada terus berjalan tanpa arah, lebih baik naik motor. Lagian ini hanya anak-anak remaja. Kalaupun mereka berniat jahat, kuyakin aku dan Ibra bisa menghabisinya.
"Kakak dari kota, ya?" Tanya anak yang memboncengku sedikit keras supaya aku mendengarnya.
"Iya."
"Kok kaya pernah liat ya, tapi dimana.."
Aku menahan tawa. Ingin mengatakan bahwa aku penyanyi yang kuyakin pasti dia pernah mendengar lagu-laguku.
Setelah menempuh setengah jam perjalanan, anak itu kembali bertanya.
"Kak, mau ke rumah yang mana?"
"Engg.. kenal yang namanya Syahdu, nggak?"
Dia menggeleng cepat. Hah, aku juga tidak tahu rumahnya yang mana. Tapi melihat kampung ini tidak padat, kurasa tak sulit untuk menemukan Syahdu.
Anak itu pun menghentikan motornya di pos satpam yang kosong. Aku memberi mereka dua juta seratus untuk dibagi tiga.
__ADS_1
"Hah? Se-serius ini, kak?" Matanya berbinar menatap uang ratusan di tanganku.
"Iyaa, makasih udah bawa kami. Cepat ambil."
Anak itu dengan cepat mengambil uang ratusan sembari berteriang girang. Aku menyukai itu. Dia dan dua temannya sangat bahagia mendapat uang yang mereka anggap sangat banyak itu.
"Makasih, kak. Makasih."
"Sama-sama." Jawabku sembari memasukkan lagi dompet ke kantong celana.
Mereka pun pergi dengan kegirangan. Berkali-kali pula mereka mengucapkan terima kasih.
"Huhhhh. Sampe juga." Aku menghembuskan napas. Kuperhatikan sekelilingku.
Terdapat beberapa rumah yang tak begitu rapat. Pohon-pohon juga tak banyak yang tinggi. Tempat ini lebih mirip lapangan sepak bola yang dibangun rumah. Rumput hijau terbentang luas dan kudapati sebuah bukit kecil disana. Aku tersenyum, aku yakin itu pasti tempat Syahdu mencari sinyal.
Entah kenapa jantungku berdetak kencang. Padahal ini Syahdu, tapi aku merasa berdebar seperti pertama kali bertemu dengannya waktu itu.
"Eh, ada yang lewat tuh. Tanya adek itu aja, Ga." Ibra menunjuk seorang anak perempuan yang berjalan sendirian.
"Hei, dek. Fwiittt.."
Aku menggelengkan kepala. Dasar hidung belang. Pantang nampak yang cakep pasti langsung beraksi. Lihatlah wajahnya, yang tadi lesu lunglai menjadi ceria bak bunga yang tersiram air.
"Sstt. Sini bentar."
Anak gadis itu mengerutkan dahi melihat Ibra. Lalu matanya membulat lebar. Dia mematung.
"Yaelah. Abang memang ganteng, dek. Tapi jangan liatin kaya gitu dong."
Tangan gadis itu terulur menunjuk kearah kami.
"Kak... Arga?"
"Eh?" Ibra langsung menoleh kebelakangnya, tempatku berdiri.
Tidak kusangka ada yang mengenalku di desa seperti ini. Tapi ya, kalau mengingat adik Syahdu yang kemarin, dia bilang ngidolakanku, artinya aku memang terkenal disini, kan?
Eh tapi tungguu..
Kuperhatikan wajah anak itu. Dia....
"Adik Syahdu?"
Dia mengangguk cepat dengan wajah sumringah penuh keceriaan.
"Kak Syahduuuuu.. kak Syahduuuu.. ada yang dataaang." Adik Syahdu langsung berlari sembari memanggil-manggil nama kekasihku. Akupun berjalan mengikutinya dari belakang. Untunglah, tidak ada drama lagi setelah perjalanan yang cukup melelahkan hari ini.
TBC
__ADS_1
kalian tinggal bilang ke aku kalau ngerasa terlalu banyak gambar atau sebagainya. Tp jangan d laporkan ya soalnya bakalan ngaruh ke karya aku🥹🥹 Coba dikasih tau aja aku kalau ada yg buat ngga enak ini itu.. atau kalian skip aja kalo ceritanya ga sesuai keinginan kalian. But please jgn d lapor2 yaa. Makasih atas pengertiannya🥹💞