
...PoV Author....
Syahdu terbangun saat mendengar suara kicauan burung di balkon pagi hari. Matanya langsung terbuka lebar ketika silau cahaya matahari mengenai wajahnya.
Syahdu mencium aroma sedap dari dapur. Suara masakan pun terdengar. Dia tersenyum kecil saat tahu Arga tengah memasak. Air liurnya ingin menetes mengingat betapa lezatnya masakan Arga. Tapi tiba-tiba, mata Syahdu membulat seketika saat menyadari kalau hari sudah mulai siang dan dia ingat, bahwa dia ada kelas pagi ini.
"Aaakhh telaatt!" Pekiknya yang langsung berlari ke kamar mandi.
Tak menunggu lama, Syahdu buru-buru memasukkan bukunya ke dalam tas tanpa melihat Arga yang berdiri memperhatikannya.
"Sarapan dulu."
"Gak sempat! Aku telat." Jawabnya tanpa menoleh. Dia fokus memasukkan buku-buku yang akan ia bawa hari ini.
"Pergi bareng gue. Cepet makan." Titah Arga yang langsung berjalan ke arah meja makan.
Dengan malas, Syahdu mengikutinya melangkah menuju dapur. Matanya terasa segar seketika saat melihat makanan yang tersedia di atas meja. Uwah, sangat menyelerakannya.
Syahdu langsung menyendokkan nasi ke piring Arga, lalu menarik kursinya sendiri untuk memulai sarapan.
Arga melirik jam di tangannya saat melihat Syahdu makan dengan cepat.
"Santai aja. Masih ada satu jam lagi."
Syahdu tak menghiraukannya. Dia tak ingin pergi bareng Arga. Dia takut ketahuan sama teman-teman Wicak, bisa berabe urusannya.
"Aku pergi sendiri. Buru-buru, soalnya mau mengerjai tugas." Sahutnya sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Masakan Arga beneran enak banget, batinnya.
"Makanya, bangun pagi."
Syahdu melirik tajam pada Arga. Memangnya karena siapa dia ketiduran dan akhirnya terlambat bangun?
Syahdu mengakhiri makannya. Dia langsung bangkit tanpa pamitan pada Arga, menuju pintu dan sedikit membantingnya karena kesal pada Arga. Lelaki itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah wanita sewaannya itu.
~
Syahdu memaki diri sendiri sembari berlari melintasi lorong kampus. Dia malah terjebak macet tadi dan sekarang, sudah waktunya kelas dimulai sedangkan tugasnya masih belum sempat ia kerjakan.
Syahdu berhenti di depan pintu. Dia mengintip sebentar dan melihat pak dosennya tengah menulis sesuatu di papan tulis.
Syahdu memberi kode pada Awan yang tengah melihat ke arahnya.
"Cepat masuk." Ucap Awan tanpa suara. Syahdu bisa membaca itu dari gerak-gerik bibir Awan.
Tak sengaja mata Syahdu beratatapan dengan Arga. Laki-laki itu tampak menggelengkan kepalanya, membuat Syahdu semakin kesal saja padanya. Anehnya, jelas dia dulu yang pergi, tapi kenapa laki-laki itu bisa sampai duluan?
Tangan Awan mengayun, menyuruhnya cepat masuk berhubung pak dosen tengah sangat fokus melihat ke bukunya sebelum akhirnya merubah posisi sambil menulis lagi ke papan tulis dengan posisi tubuh yang membelakangi pintu.
Syahdu berjalan perlahan, berjinjit supaya tidak menimbulkan suara. Dia berhasil masuk melewati satu baris kursi dan segera duduk di bangku paling belakang.
__ADS_1
DUBRAK!!
Semua mata melihat ke belakang, tak terkecuali pak dosen.
Awan terkikik tanpa suara melihat Syahdu terjatuh karena ia sengaja menyandung kaki perempuan itu. Sementara Syahdu mencubiti paha Awan dengan geram. "Sialan!" Maki Syahdu pada Awan yang hanya tertawa menutup mulutnya dengan tangan.
Syahdu berdiri, "M-maaf, pak." Ucapnya pada pak Mawardi, dosennya saat itu.
Dosen itu kembali menghadap papan tulis. Dengan cepat Syahdu mengambil tasnya yang terjatuh dan duduk disebelah Awan yang masih saja terkekeh.
"Gila, ya?!" Bisik Syahdu dengan penuh tekanan.
"Maap. Khilaf." Ucapnya sambil terus menyembunyikan wajahnya. Tapi bahunya naik turun karena masih saja tertawa.
Setelah beberapa menit berlangsung, pak dosen menyelesaikan kelas dan meninggalkan tugas (lagi) untuk mahasiswanya. Pak dosen itu keluar ruangan dan Ibra membawakan tugas yang telah dikumpulkan menuju ruangan pak Mawardi.
Syahdu langsung berdiri mengejar Ibra yang bersiap membawa tumpukan kertas dengan kedua tangannya.
"Ibra, tunggu! Aku belum ngumpulin tugas. Gimana, ya. Maksudku, sebelum dikasih ke pak Mawardi, aku mau ngumpulin tugas dulu, gitu. Bisa, nggak?"
"Tugas lu kan, udah dikumpul. Noh." Ibra memanyunkan bibir menunjuk kertas paling atas. Nama Syahdu ada disana. Mata gadis itu terbelalak.
"Loh, kok?"
"Ngimpi, ya? Udah ah!" Ibra melanjutkan langkahnya.
"Ga, gue ga ngerti, nih. Bisa jelasin dikit ngga. Gimana ya, maksudnya?"
Syahdu terus menatap laki-laki yang tengah menjelaskan sesuatu pada Naya. Apa dia yang mengerjakan tugasnya? Apa Arga merasa bersalah karena sudah membuat tubuh dan tulangnya terasa mau patah dengan segala aksi gila Arga tadi malam?
"Heh, kesambet lho. Ayo, ke kantin. Laper, nih." Awan menghampiri Syahdu yang masih bengong di depan pintu.
"Wan, kaukah orang yang ngerjain tugasku?" Tanya Syahdu. Agak ngga mungkin Arga yang mengerjakannya. Bisa aja Awan, kan?
"Tugas apaan. Gue aja ngga ngerjain tugas. Ngapain gue ngerjain punya elu."
"Lah? Ga ngerjain tugas??"
"Enggak. Males." Jawab Awan asal.
"Astaga. Kok ngga ngerjain? Gimana, sih. Ih."
"Kenapa? Emang bisa tinggal kelas? Nggak, kan? Udah ah, ayok."
"Ntar nilaimu jelek, lho."
"Alah, gampang kalau itu." Awan merangkul Syahdu menuju kantin. Sedangkan Arga, matanya menangkap Syahdu yang menoyor kepala Awan sembari tertawa berjalan keluar kelas.
"Oh, jadi gitu, ya. Thanks banget ya, Ga."
__ADS_1
Arga tersenyum tipis pada Naya, sampai akhirnya ia juga memilih keluar kelas.
...🍁...
"Bagaimana? Jadi, kan?" Tanya Wicak pada Syahdu siang itu, saat kelas mereka sama-sama kosong.
"Eng.. aku belum bilang, kak."
"Nanti aku bantu bilang ke nenek, ya?" Timpal Wicak.
Eh, padahal maksud Syahdu, dia belum bilang pada Arga. Entah laki-laki itu mengizinkan atau tidak, tapi Syahdu benar-benar ingin pergi bersama Wicak.
"Minggu depan lho, waktunya." Sambung Wicak lagi.
"Nanti malam aku kabari ya, kak. Aku kan, juga harus izin dengan bos.." ucap Syahdu dengan menggigit bibir. Dia berbohong lagi.
"Iya. Aku tunggu, ya."
"Oh, ya. Kita nginap, kak?" Tanya Syahdu memastikan.
"Iya. Kenapa? Kamu ngga suka, ya?"
"Eh, engga, kok. Cuma nanya aja. Soalnya kan, harus tau izin berapa lama." Jawab Syahdu.
"Dua hari satu malam. Kamu ngga keberatan, kan?" Tanya Wicak sekali lagi dan Syahdu menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, mau nonton?"
"Mau..mau..mau.." Dengan cepat Syahdu menganggukkan kepalanya.
Syahdu menggandeng Wicak, mereka berjalan keluar menuju parkiran dimana motor Wicak berada.
Di tempat lain, Arga berdiri di depan mobilnya, menyambungkan ponselnya dengan seseorang yang tak kunjung mengangkat telponnya.
Hari ini, Arga ingin meminta Syahdu menemaninya sebagai imbalan atas dirinya yang mengerjakan tugas perempuan itu tadi malam. Padahal tubuhnya juga sangat letih, matanya juga hampir tertutup. Tapi dia tetap mengerjakan tugas Syahdu karena merasa bersalah sudah membuat perempuan itu pingsan karena kelelahan melayaninya.
Arga memutuskan untuk mencari Syahdu ke dalam kelas. Siapa tahu perempuan itu masih mengobrol bersama yang lain.
Arga berjalan lebar dan cepat, namun langkahnya perlahan memendek saat mendapati Syahdu tengah tertawa riang menggandeng tangan Wicak.
Dia tahu, bola mata Syahdu sekilas mengarah padanya. Tapi perempuan itu segera memalingkannya. Dia dan pacarnya yang bergandengan sambil bercanda, berpapasan melewati Arga yang masih terus menatap Syahdu.
Perempuan itu benar-benar tak lagi melihat ke arahnya. Dia melewati Arga begitu saja seperti orang yang memang tidak saling kenal.
Arga pun menghentikan langkahnya. Dia langsung mengerti kenapa sejak tadi Syahdu tak mau mengangkat telepon darinya. Ternyata, perempuan itu sedang asyik bersama pacarnya.
Oh, ini sama persis dengan waktu itu. Saat pertama kali mereka saling berpapasan. Namun waktu itu Syahdu menatapnya dan Argalah yang berperan sebagai orang yang berpura-pura tidak mengenalnya, saat hari dimana kontrak itu pertama kali mulai berlaku.
Bersambung...
__ADS_1