SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Terhinakan oleh Status


__ADS_3

"But you sleep with my son." (Tapi kau tidur dengan anakku)


Syahdu terlihat geram. Dia meremas kain roknya sambil menahan air mata yang hampir jatuh.


"Tidak mungkin dia memberimu pengobatan secara free. Dia pasti memintamu melayaninya. I know my son." Ucapnya lagi dengan senyum kecil di bibirnya, dengan yakin merasa tebakannya benar.


"Ther's no difference between you and your muther." (Tak ada bedanya kau dan ibumu)


Alex mengabaikan Syahdu yang tengah mengeraskan rahang dan dengan geram menatap kearahnya. Alex mengeluarkan selembar kertas dari balik jasnya. Lalu meletakkan kertas itu diatas meja depan Syahdu.


"Itu cek kosong. Isi sesukamu, tapi jauhi Alexander."


"I do not need your money." Balas Syahdu dengan suara menahan tangis. Dia bahkan tak melihat kearah cek kosong di depannya.


Gadis itu berdiri, hendak pergi. Tapi tawa Alex membuatnya mengurungkan langkah.


"Kenapa orang sepertimu selalu sama. Seolah tidak butuh uang."


Alex berdiri dengan kedua tangan yang berada di saku celana.


"Sepertinya kamu bukan perempuan bodoh, i know that. Oleh karena itu aku yakin kamu bisa berpikir jauh. Alexander punya masa depan yang baik. Aku tidak akan membiarkan sampah apapun menempel padanya."


"Jika dengan cara halus tidak membuatmu pergi, tunggu saja cara kasarnya." Alex tersenyum sebelum keluar melangkah.


"Aku akan pergi."


Alex menengok kebelakang. "Good girl."


"Tapi setelah anda memastikan Arga tidak akan menghalangi kepergianku." Ucap gadis itu dengan berani walau dia juga merasa khawatir akan ada pertengkaran antara Arga dengan ayahnya karena kepergiannya nanti.


"Don't worry about it." Tukas Alex kemudian keluar dari ruangan itu. (Jangan khawatir soal itu)


Syahdu terduduk lagi. Bendungan air pun tumpah ke pipi Syahdu yang sejak tadi berhasil ia tahan. Diperlakukan buruk sejak dulu sebenarnya sudah sering ia rasakan. Tapi ini, ayah kandung Arga, menganggapnya seperti sampah.


Syahdu tersedu-sedu. Dia tak tahu kenapa hatinya sangat sakit. Disamakan dengan pelacur, dianggap sampah sampai harus disingkirkan sedemikian kuat.


Setelah berusaha mengeluarkan semua air yang tumpah, Syahdu bergerak keluar ruangan untuk menemui dokter terlebih dahulu, menanyakan apakah besok ia dan neneknya bisa segera keluar dari rumah sakit.


Sudah saatnya Syahdu mengatakan rencananya pada sang nenek. Karena ia tak ingin lagi ada keributan antara Arga dan keluarganya. Ini juga berpotensi pada hubungannya dan Arga yang bisa terkuak. Dia tak ingin itu terjadi, itu sebabnya Syahdu menguatkan tekat bahwa ia akan segera pergi bersama neneknya.


...🍁...


Arga masuk ke dalam rumah Margareth dengan amarah yang berkecamuk dalam dadanya.


Langkah lebar lelaki itu mendapat perhatian Julia dan Margareth yang duduk di ruang keluarga.


"Arga, ada apa?" Tanya Margareth yang terkejut melihat wajah berang Arga.


Lelaki itu tak menyahut. Dia melanjutkan langkah menaiki tangga dengan cepat. Melihat itu, Julia juga bergegas naik ke atas, takut anak dan ayah itu bertengkar lagi.


Gebrakan pintu yang kuat tak membuat Alex terkejut. Pria dingin itu hanya memecahkan fokusnya dari laptop, kemudian menatap anaknya yang berdiri diambang pintu dengan tangan mengepal.


"I said she had nothing to do with this!!" Teriak Arga dengan lehernya yang menegang.


"Sayang." Julia segera menahan anaknya yang hendak mendatangi sang ayah di meja kerjanya. "Ada apa, sayang. Kenapa marah-marah sama papa?"


"Mami kasih tau dia! Dia gak perlu datang dan ancam Syahdu kayak gitu. Pengecut! Lo hadapi gue, bukan cewek itu, sialan!" Pekik Arga sambil berusaha melepaskan tangan Julia dari tubuhnya.

__ADS_1


"Alexander!!" Bentak Julia. "Bukan begitu caranya bicara sama papamu!"


Alex membuka kacamata yang sejak tadi bertengger di hidungnya. Dia menutup laptop, tapi tidak berniat keluar dari meja kerjanya.


"Ternyata dia mengadu padamu." Wajah tenang Alex membuat Arga semakin membencinya.


"Gue tau apa yang lo lakuin tanpa aduan dari dia. Lo harusnya langsung hadapin gue!" Tubuh Arga ditahan oleh Julia saat lagi-lagi ia ingin mendatangi Alex untuk memberinya pelajaran.


"Benar kamu ancam Syahdu?" Tanya Julia pada suaminya.


"I didn't do anything." Alex mengangkat bahunya.


"Trus ngapain lo dateng ke rumah sakit, hah? Lo nyuruh dia pergi dari kota ini, kan?!" Lagi, Arga berteriak pada sang ayah dengan mata memerah. Napasnya terdengar kasar karena amarah yang hampir dipuncaknya.


"Aku tidak suruh, dia sendiri yang mau pergi. Dia juga minta aku buat kamu tidak menghalanginya pergi." Alex kemudian berdiri. "Dia sendiri ingin pergi darimu, son. You have to realize that."


Amarah Arga tertahan. Tiba-tiba saja dia merasa kalah mendengar apa yang disampaikan Alex. Apa benar Syahdu yang ingin pergi darinya?


"She refused all of the thing i offer to." (Dia nolak semua yang kutawarkan padanya)


"We had a deal, dia cukup pintar dan sadar diri." Sambung Alex lagi.


"But why did you do that?" Tanya Julia dengan alis menyatu.


"Aku cuma tidak suka ada sampah di keluarga kita. Apa aku salah?"


Julia sampai menggelengkan kepala atas apa yang dilakukan suaminya.


"Cocok banget sama Soraya. Ngga ada bedanya kalian berdua!" Tukas Arga kemudian keluar dari ruangan Alex.


"That is why i choose her." Jawab Alex ringan. (makanya aku pilih dia)


Arga berhenti sebentar berhadapan dengan sang nenek. Matanya seperti ingin meminta tolong. Tapi Arga sadar, dia sudah kalah apalagi Margareth belum tahu siapa Syahdu sebenarnya. Kalau dia tahu, tentu Margareth yang mementingkan keturunan akan menolaknya juga.


Lelaki itu pergi, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Margareth terus menatap Arga yang menghilang dibalik pintu. Kekalutan cucunya itu, dia bisa melihatnya. Bagaimana Arga berteriak memasang badan untuk Syahdu, dia bisa merasakannya.


Margareth tidak ingin bertanya apapun pada putrinya. Dia masuk ke dalam kamar dan menitahkan orang kepercayaannya menggali informasi atas apa yang saat ini tengah terjadi.


...🍁...


Syahdu menekuk lutut diatas kursi. Dia menatap nenek yang tengah tertidur. Tangannya menggenggam erat neneknya. Nanti malam, Suriani akan lepas selang infus dan besok dia akan bersiap untuk pulang. Saat ini Syahdu masih bimbang, apakah dia akan memberitahu Wicak, atau meninggalkan lelaki itu juga.


Mata Syahdu perih, sejak tadi ia hanya menangis saja. Air mata juga tak kunjung surut. Dengan segera ia menghapus air mata yang jatuh di pipi. Dalam hatinya menginginkan kebebasan.


Syahdu ingin sekali berteriak. Kenapa dari dulu dia tidak bisa bernapas dengan tenang tanpa beban apapun di pikirannya.


Dia ingin bahagia. Dia ingin otaknya berhenti mencari jalan keluar dari masalah apapun. Tapi kenapa sulit sekali. Ada saja masalah yang ia hadapi.


Syahdu menoleh saat melihat pintu terbuka dan Arga berdiri disana.


Syahdu menunduk dan segera menghapus air matanya.


"Gue.. mau bicara."


"Bicara disini aja."


Arga menatap Suriani yang terlelap diatas brankarnya.

__ADS_1


"Keluar sebentar." Lelaki itu mundur dan berdiri di depan pintu, menunggu Syahdu.


Dengan perlahan Syahdu melepaskan tangannya dari nenek, lalu keluar dan menutup pintu.


"Apa yang orang itu bilang ke lo?"


Sejenak Syahdu berpikir, siapa 'orang itu' yang dimaksud Arga.


"Maksudnya.. ayahmu?" Tanyanya dengan suara parau, namun Arga hanya diam menatapnya.


"Ga ada apa-apa. Dia.. cuma tanya kondisi nenek." Jawab Syahdu.


"Gausa bohong."


"Aku ga bohong."


Arga menghela napas. Lalu meraih tangan Syahdu. "Gue ga akan biarin siapapun nyakitin lo. Gue janji. Gue cuma minta waktu untuk cari jalan supaya gue atau lo bisa bebas dari ancaman dia."


Pandangan Syahdu turun ke tangannya yang di genggam Arga. Lalu dengan perlahan ia menariknya.


"Ga ada ancaman apapun. Kamu juga ga perlu janji apa-apa karena aku baik-baik aja."


"Gue tau lo diancam. Makanya lo mau ninggalin gue. Ya, kan."


Syahdu hanya diam. Dia juga hanya menatap kebawah, tak berani melihat wajah Arga.


"Lo ga perlu pergi dari kota ini. Gue akan bikin dia pergi dan lo ga perlu repot-repot pindah."


Syahdu menatap mata sendu Arga yang membuat Syahdu menyadari ada sesuatu yang berbeda dari cara Arga menatapnya. Tapi apa? Tidak mungkin cinta.


"Aku ga diancam. Itu.. kemauanku sendiri."


Arga memalingkan wajah kesamping. Sejak tadi ia berusaha menepis ucapan Alex soal Syahdu yang meminta supaya bisa lepas dari dirinya. Dia pikir itu hanya ucapan Alex untuk menjatuhkannya. Tapi mendengar langsung dari mulut Syahdu, sungguh itu membuat hatinya pedih.


"Kamu mau tunangan. Jadi kupikir, kontrak kita sudah berakhir."


"Gue ga pernah bilang kalau tunangan buat kontrak itu berakhir. Lo akan tetap jadi teman tidur gue sampe dua tahun atau gue sendiri yang udahin itu."


"Ga bisa gitu, Ga. Kamu mau nikah dan aku-"


"Ga ada yang mau nikah. Gue ga nikah. Gue cuma ikutin kemauan dia sampe gue nemuin jalan!" Nada Arga naik satu oktaf. Tidak ada orang di koridor, dia tahu itu.


"Tapi aku harus pergi, Ga." Ujar Syahdu dengan air mata yang berlinang.


"Gue izinin lo pergi asal lo bisa bayar ganti rugi dana rumah sakit yang udah gue keluarin buat lo."


"Arga, please.."


"Kenapa lo mau kabur dari gue? Diancam kan, lo?"


Syahdu menghapus air matanya. "Bukan gitu, Gaa.."


"Kalau gitu lo ga punya alasan!"


Perdebatan itu membuat seseorang dibalik pintu memegang jantungnya yang berdebar. Suriani yang hendak keluar harus tertahan karena nyeri di dadanya. Dia berpegang besi brankar, mencoba berjalan kembali ke tempat tidurnya.


Suriani mengatur napasnya yang sesak. Dia bahkan tak bisa menahan air mata yang tumpah saat mengetahui bahwa selama ini gadis kecil yang ia rawat telah menjual diri demi pengobatannya.

__ADS_1


TBC (Abaikan Bahasa Inggris yang berantakan)


* Kalian baik banget udah apresiasi karya aku. Makasih💞**


__ADS_2