
Syahdu berdiri di depan cermin. Dia tengah menatap dress hitam yang ia dapat dari Arga kemarin. Malam ini, dia akan datang sebagai tamu diacara pertunangan Arga dan Soraya. Dan mungkin saja, setelah ini, dia tidak akan bisa lagi bersama Arga.
Tadi, entah kenapa Arga bisa sekesal itu hanya karena Syahdu membohonginya masalah kecil. Lalu, Arga tiba-tiba saja melontarkan kata-kata tak masuk akal soal perasaannya. Tentu itu membuat Syahdu syok dan memutar otak untuk memberinya jawaban yang pantas.
Perasaan Arga dianggap biasa oleh Syahdu. Lelaki itu dan dirinya sama-sama terbiasa satu sama lain. Itu sebabnya Syahdu pun tidak terlalu memikirkan perasaannya sendiri.
Syahdu mulai memakai bajunya. Sejak tadi Arga pergi entah kemana. Padahal keduanya sedang bertengkar, atau mungkin Arga sakit hati dengan ucapannya? Syahdu sampai mematung dengan baju yang belum terkancing dibelakangnya. Benarkah Arga sakit hati? Kalau dipikir-pikir, perkataannya memang sedikit keterlaluan.
Suara pintu terbuka membuat Syahdu menatap kebelakang melalui cermin dan Arga muncul dengan setelan jas dan dasi hitam. Dia tampan sekali. Syahdu sampai lupa berkedip melihat Arga seperti itu untuk pertama kali.
"Aku tahu, aku tampan." Kata lelaki itu, kemudian berdiri tepat dibelakang Syahdu.
Perlahan Arga menaikkan kancing baju yang belum sempat Syahdu kancingkan.
"Aku salah, aku minta maaf soal tadi. Aku terlalu maksa."
Syahdu diam menatapnya dari cermin. Lelaki itu mengecup bahu Syahdu yang mulus.
"Aku tunangan malam ini dan pastinya aku nuntut hadiah darimu."
Syahdu mengerutkan dahi. Hadiah? Hadiah apa?
"Kamu ngga lupa, kan. Hadiah yang pernah aku kasih tau waktu itu?"
Syahdu mencoba mengingat hadiah yang dimaksud Arga. Tetapi dia benar-benar lupa.
(readers ada yang ingat di eps berapa?)
Arga membalikkan tubuh Syahdu. Dia menatap dalam kedua bola mata gadis itu.
"Cantik banget." Bisiknya dihadapan Syahdu. Ia sampai tak mau melepaskan pandangannya dari wajah gadis yang sangat ia cintai itu.
"Syahdu. Supaya kamu ngga salah paham soal yang tadi, aku mau yakinin kalau aku benar-benar sayang dan cinta banget sama kamu. Mungkin ini kedengarannya terlalu tiba-tiba, tapi setelah pertunangan ini semakin dekat, aku semakin takut kamu hilang dari aku."
Arga mengeluarkan sebuah kotak dari celananya. Dia membukanya, cincin dengan mutiara kecil ditengahnya, terlihat sangat menarik di mata Syahdu.
Kilau mutiara kecil itu membuat mata Syahdu ikut berbinar. Cantik sekali.
Arga meraih tangan Syahdu, ia hendak menyematkan cincin itu dijari manis, namun dengan cepat gadis itu menarik kembali tangannya.
"Ini cincin yang kubeli khusus untukmu." Ucap Arga yang mengerti kekhawatiran Syahdu.
Dia meraih lagi tangan Syahdu. Lalu menyematkan cincin indah itu di jari manisnya.
"Kumohon jangan pergi walapun aku udah tunangan, Syahdu. Aku akan cari jalan supaya kita bisa terus sama-sama lagi."
"Arga-"
"Ssst. Aku belum selesai."
Syahdu diam melihat jarinya digenggam oleh Arga.
"Untuk sementara, tinggal aja disini. Apartemen ini udah jadi milik kamu. Aku kasih ini buat kamu, Syahdu. Kemana pun kamu pergi, please, balik lagi kesini. Ini rumah kamu. Aku juga akan lengkapi semua kebutuhan kamu asal kamu tetap disini. Kumohon."
"Arga.."
"Aku sangatt-sangattt sayang sama kamu, Syahdu." Tutur Arga dengan wajah serius, lalu ia mengecup tangan Syahdu cukup lama, sampai Syahdu bisa merasakan ada air yang menetes di punggung tangannya.
__ADS_1
Syahdu membeku saat ia tahu Arga tengah memohon dan menangis padanya.
Syahdu tidak bisa berkata-kata lagi. Dia menarik tangannya perlahan dari Arga.
"Arga.. aku ngga bisa."
"Pikirin dulu, Syahdu. Aku mohon, pikirkan dulu." Ucapnya dengan lemah, lalu menarik Syahdu kedalam pelukannya.
Syahdu bisa merasakan detak jantung Arga yang sangat kencang. Ia juga merasakan hangat napas Arga di ceruk lehernya.
"Pertunanganku ini ngga ada artinya. Arti sebenarnya ada di cincin itu." Bisik Arga lagi, mengungkapkan semua isi hatinya.
Arga melepaskan pelukan saat ponsel di saku jasnya berdering kencang.
"Aku pergi dulu. Nanti aku akan balik kesini lagi." Ucapnya, kemudian mengecup dahi Syahdu.
Arga pergi, menutup pintu. Di detik yang sama, Syahdu melepaskan napas yang terasa menyesakkannya. Dia sampai bersandar di cermin.
Syahdu mengangkat jarinya, melihat cincin indah yang tersemat. Indah sekali, dan Arga mengungkapkan perasaannya sampai menangis seperti itu. Membuat Syahdu merasa bersalah pada lelaki itu.
Ponsel Syahdu berdering, Adina memberi info kalau dia dan yang lain sudah ada disana. Syahdu kembali menghadap cermin, menyelesaikan dandanannya sebelum akhirnya ia berangkat kesana.
...š...
Syahdu berhenti dibawah. Sebelum menapaki tangga, ia melihat keatas. Sudah ramai dan lampu-lampu terlihat sangat indah. Nama Arga dan Soraya pun ada di berbagai sudut.
Angin malam berhembus, membuat Syahdu dan hati dinginnya membeku. Tiba-tiba saja ia merasa enggan untuk menunjukkan wajah. Dia membalikkan badan, bersiap untuk pergi. Namun panggilan dari seseorang membuatnya menoleh kebelakang. Adina melambaikan tangannya dari atas.
Syahdu menghela napas. Memang tidak ada salahnya ia mengikuti acara ini. Toh, dia sudah sampai disana. Setelah berperang dalam pikiran, Syahdu pun menaiki anak tangga dengan perlahan.
"Iya nih, cantik banget. Ntar dikira, elo lagi calon tunangan Arga." Sahut Alika.
Syahdu tersenyum kecil. "Terima kasih. Naya mana?" Tanyanya.
"Pake ditanya. Lagi nangis dikamar." Jawab Ibra yang saat ini tampak sangat rapi, tak seperti biasa.
"Iya. Kasian, sejak waktu itu dia ngga kuliah-kuliah dan ngurung diri terus di kamar." Alika ikut cemberut menceritakan itu.
Yah, mau bagaimana lagi? Bukan jodohnya, batin Syahdu.
"Kalau gitu, aku kesana bentar, ya." Syahdu pamit pergi, ingin menyindiri sebentar.
Syahdu mengambil satu gelas minuman berwarna merah, lalu menuju tempat yang tidak banyak dilewati tamu. Dia berdiri disana, mengamati satu persatu orang-orang yang tampak bukan sembarang.
Matanya menangkap Alex yang tengah mengobrol riang bersama koleganya. Wajahnya tampak sumringah dan sering tertawa, berbeda dengan wajah yang ia tampilkan di depan Syahdu, menyeramkan.
Di tempat lain, Margareth pula duduk di sofa bersama beberapa wanita dan pria yang tampak seumuran. Seperti biasa, Margareth dengan senyuman hangat bercengkrama dan tampak asyik sekali.
Semua orang menikmati kebersamaan mereka. Kecuali Syahdu. Entah kenapa rasanya ia ingin kabur saja.
"Syahdu."
Syahdu menoleh kesamping, Arga berdiri tepat disebelahnya.
"Kalau berubah pikiran, kita bisa kabur sekarang."
Syahdu menggelengkan kepala lalu pergi, enggan menanggapi Arga yang aneh itu.
__ADS_1
"Syahdu?"
Langkah Syahdu terhenti. Itu Arvian, dokter kandungan sekaligus sahabat baik Arga.
"Ternyata benar, Syahdu." Ucapnya sembari melangkah mendekat.
"Wah, cantik banget kamu malam ini.".
"Makasih, dok." Jawab Syahdu tersenyum kecil.
"Kamu ngga apa-apa, Arga tunangan sama orang lain?" Tanya Arvian langsung pada Syahdu, tanpa basa-basi, karena dia sudah tahu hubungan dua orang itu.
"Dokter ngomong apa, sih? ya senanglah."
Arvian mengangguk-angguk. "Hmm.. Gitu, ya. Tapi dia enggak, tuh." Arvian menunjuk Arga dengan matanya.
Syahdu menoleh, mendapati Arga berdiri bersama kolega papanya. Tangannya digamit oleh Soraya yang sangat berseri-seri. Berbeda dengan Arga, lelaki itu tidak tersenyum dan menatap Syahdu dari jarak yang cukup jauh. Syahdu buru-buru membuang pandangannya dan beralih pada Arvian.
"Dia.. emang gitu." Jawab Syahdu asal.
"Tapi.. kamu tau kan, kalau dia itu cinta mati sama kamu?"
Syahdu seketika membulatkan mata. Apa katanya?
"I'm so sorry about your boyfriend, aku juga baru tahu."
"Ngga apa-apa, dok. Itu udah takdir." Jawab Syahdu mencoba tegar.
"Waktu itu.. aku liat sendiri Arga berantem sama pacar kamu. Dibelakang Bar. Aku sengaja diem, biarin mereka adu jotos karena aku juga sadar Arga memang brengsek, udah ngambil kamu dari cowok baik-baik kaya.. Wicak?" Arvian mendapat anggukan dari Syahdu, telah benar menebak nama kekasihnya.
"Tapi aku juga liat sisi lain dari Arga. Aku kira Arga ngga sehebat itu. Aku cukup acungi jempol. Dia biarin Wicak lebih banyak ngehajar dia. Padahal aku tau banget dia kaya gimana kalo udah berantem. Biasanya dia itu parah banget kalo lagi gelud. Beuuhh, bisa mati tuh, lawannya. Tapi dia tahan. Setelah aku tanya, katanya sih, anggap aja karena dia memang jahat udah ngambil keuntungan waktu kamu lagi diujung jurang."
Syahdu diam mendengar cerita Arvian, walau dalam hatinya punya sejuta pertanyaan.
Arvian tetap melanjutkan walau lawan bicaranya banyak diam.
"Aku cuma mau kamu tau, kalo Arga itu banyak berubah dan untuk kali pertama aku liat dia jatuh cinta sama cewek. Dan itu kamu."
Tanpa sadar Syahdu menyentuh cincin yang tadi Arga berikan untuknya.
"Dia bilang ke Wicak, kalau dia mau nerima kamu jika seandainya Wicak ngga bisa terima kamu lagi. Tapi Wicak malah ngehajar Arga sampai tu anak hampir mati kalo aja ngga ada yang ngelerai. Arga bilang, kalo kamu itu perempuan luar biasa yang harus dia perjuangkan."
Syahdu menunduk, mengatur ekspresi wajahnya dan kembali tersenyum pada Arvian.
"Makasih udah ceritain ini ke aku ya, dok. Sekarang Arga udah punya masa depan baru. Semoga aja dia bahagia, aku permisi dulu." Syahdu mengangguk kecil lalu pergi.
"Kamu tau dia nggak bahagia, kan?"
Syahdu menghentikan langkahnya sebentar, lalu kembali berjalan mencoba mengabaikan ocehan Arvian.
TING-TING-TING...
Suara gelas dan sendok beradu membuat langkah Syahdu terhenti dan semua mata kini beralih pada seorang pria paruh baya, ayah dari Soraya. Dia memulai pidatonya, dan disanalah pertukaran cincin akan dimulai.
TBC
**HAI, SUDAH 3 BAB, YA. JANGAN LUPA VOTEš¤**
__ADS_1