SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
NightCafe


__ADS_3

Syahdu dan Wicak akhirnya bertemu dengan pemilik anjing itu. Seorang anak kecil yang sudah berkeringat mengejar anjing kecil itu.


Mereka kini duduk disebuah kafe kecil pinggir jalan. Setelah berkeliling kota membuat Syahdu sedikit lelah dan memilih memesan minuman disana.


TRING


Ponsel Syahdu berdering. Dia segera membukanya.


...Kemarin...


...Naya menambahkan Awan ke dalam grup...


...Hari ini...


Naya: Guyysss malam ini Arga tampil lohhh. Yukk ngumpul.


Alika: Hayukkk.


Adina: Dimanaaa. Cocok banget gue lagi suntukk!!


Ibra: Gue skip, Bro. Ada urusan.


Naya: Gaseru lu, Bra. Eh Bra wkwkwkw.


Ibra: Bgst !!


Alika: Jemput gueeee plizzz..


Syahdu menutup ponselnya. Tak berniat ikut apalagi menonton Arga mengisi acara. Yang semacam itu tidak ada dalam daftar keinginannya.


TRING


...Awan...


'Du, dimane lu. Hayuk ke tempat yang dibilang Naya.'


^^^'Engga, ah. Males.'^^^


Syahdu langsung meletakkan lagi ponselnya.


"Ada yang penting, ya?" Tanya Wicak.


"Emm.. engga sih, kak."


TRING!


...Awan...


'Ayolah. Kita ngga nonton tu kunyuk konser. Kita nongkrong ajaa. Aku traktir, deh. Ada orang yang mau kuperlihatkan, nih. Gimana?'


^^^'Siapa?'^^^


Wicak yang memperhatikan Syahdu bermain ponsel, mencoba mengerti jika kekasihnya itu memiliki kesibukan lain. "Kalau memang ada hal penting, ga apapa, kita balik sekarang."


"Engga penting sih, kak. Tapi teman-teman ngajakin ngumpul malam ini." Jawab Syahdu.


"Ya udah kalau gitu, aku anter. Kemana?"


TRING!


...Awan...


'Ada deh, rahasia. Aku jemput dimana? Ayo dong, ga ada lu kagak seru. Aku ngga begitu akrab sama mereka.'


^^^'Oke tapi jangan malam-malam pulangnya.'^^^


'Beres. Shareloc biar gue jemput'


"Aku dijemput sekitaran sini, kak. Kakak pulang duluan aja." Kata Syahdu.


"Ngga apa-apa. Aku tunggu sampe temen kamu datang."

__ADS_1


"Aku sama Awan kok, kak. Dia juga satu kelas denganku." Ucap Syahdu sedikit gugup. Karena walau Wicak mengenal Awan sejak di kampung, tetap saja dia kurang suka jika Syahdu terlalu akrab dengan Awan.


"Awan.. teman kamu itu?" Tanya Wicak memastikan.


Syahdu mengangguk. Matanya mengawasi raut Wicak yang mudah-mudahan tidak berubah.


"Ya udah. Aku tunggu sampai dia datang kesini." Tukasnya dengan tegas, seolah tak bisa diganggu gugat.


Syahdu menghela napas. Baiklah, semoga saat Awan bertemu Wicak, dia bisa menjaga sikapnya.


Tak lama, Awan datang dengan mobil hitamnya. Berhenti dan turun tepat di depan Syahdu dan Wicak yang sudah menunggu di tepi jalan.


"Eh, kak Wicak. Apa kabar, nih." Awan menyapa dan mengulurkan tangan, memberi salam pada Wicak.


"Baik." Jawab Wicak dingin dan menyambut uluran tangan Awan.


"Jadi? Yuk."


Syahdu menatap Wicak yang melihat Awan dengan tatapan menyelidik.


"Kak, aku pergi, ya."


"Hm. Hati-hati." Kata Wicak pada Syahdu. "Kalau ada apa-apa kabarin aku. Jangan malam-malam banget ngantar Syahdu pulang. Kalau ngga bisa nganter, hubungi aku." Tegas Wicak pada Awan yang langsung mengangguk.


"Oke. Aku akan antar sampe rumah, tenang aja." Awan mengangkat tangan pada Wicak sebagai perpisahan. Dia menjalankan mobilnya meninggalkan Wicak yang masih menatap mobil itu sampai menghilang dari pandangannya.


"Masih serem aja tuh abang-abang." Gerutu Awan yang sempat tegang berhadapan dengan Wicak.


"Seram apanya, sih."


"Aneh, kok bisa sih, lu tahan bareng dia terus. Kaku gitu orangnya."


"Kaku apa sih, Wan. Dia ngga gitu kok, aslinya. Biasanya dia gitu kalau ketemu yang mengancam, sih." Sahut Syahdu.


"Anjir. Mengancam apaan gue. Takut gue rebut, nih?"


Syahdu terkekeh. Percakapan mereka merambat sampai perkemahan yang akan mereka lakukan sebentar lagi dan itu akan mereka bicarakan pada yang lain malam ini, supaya bisa mengosongkan jadwal mereka nantinya.


Sesampainya disana, Syahdu mengekori Awan yang masuk ke dalam nightcafe tempat Arga mulai mengisi suara. Alunan musik sudah terdengar dari luar, suara lembut pun masuk ke telinganya. Suara siapa? Apa suara Arga?


"Syukur banget lo datang, Ras." Kata Dina yang langsung menyambut Syahdu duduk disebelahnya.


Naya tampak fokus menonton ke atas panggung dimana Arga bermain gitar sambil bernyanyi. Bibir Naya ikut bersenandung pelan. Lagu sendu yang dibawa Arga membuat suasana di ruangan itu hening.


Sementara yang diatas panggung, matanya melebar saat mendapati wajah Syahdu terlihat di matanya. Padahal yang dia tahu, gadis itu enggan datang ke tempat seperti ini.


"Arga keren bangettt.." Cicit Naya yang terus menatap ke depannya.


"Rame juga, ya." Ucap Syahdu memperhatikan sekitar.


"Ah, belom ini, mah." Dina melirik jam tangannya. "Ntar jam 11an lebih rame lagi."


Syahdu ikut melirik jam di tangannya. Jam 11 katanya? Ini masih jam 8 dan jam berapa dia akan pulang?


"Wan, jam berapa pulangnya?" Tanya Syahdu pada Awan yang duduk disebelahnya sembari main ponsel.


"Jam berapa lu mau pulang, gue anter." Jawabnya.


"Jam 10."


"Hah. Apaan jam 10. Maleman dikitlah."


"Ga bisa, ntar kak Wicak marah." Ujar Syahdu.


"Alaahh, Wicak ga akan tau. Boong dikit ga apalah." Kata Awan. "Eh bentar-bentar. Ikut gue." Awan menarik tangan Syahdu menuju satu meja yang diisi perempuan berambut panjang dengan pakaian seksi.


"Hai, Ris."


Perempuan itu berbalik badan, dan terbelalak melihat siapa yang dibelakangnya.


"Syahduu!!"

__ADS_1


Begitu pula Syahdu yang terkejut dengan teman satu kampungnya, Riska. Tampilan perempuan itu benar-benar membuat Syahdu terheran. Dia memakai rok mini dan baju seksi yang ketat.


"Syahdu, apa kabar? Kok lo ada disini?"


Riska memeluk Syahdu yang masih membeku. Riska juga sudah berubah cara bicaranya. Persis anak kota.


"Aku dan Awan satu kampus. Kamu gimana, Ris, kuliah dimana sekarang?"


Riska malah tertawa. "Kuliah apaan. Gue kerja disini, tau. Tapi lagi libur, sih. Eh, duduk sini."


Riska menarik tangan Syahdu untuk duduk. Dia menuangkan minuman untuk gadis itu.


"Minum, nih."


Syahdu hanya tersenyum saat Riska menggeserkan gelas berisikan alkohol ke arahnya.


"Jadi, pindah kemarin tuh, kesini, ya? Ngga sangka ya, kita bisa ketemu." Ujar Syahdu.


"Iya kan, yang. Kok bisa kamu bawa Syahdu kemari. Tau aja kamu, aku kangen."


Syahdu mengerutkan dahi. "Kalian jadian?"


"Yang, kamu ga bilang ke Syahdu??" Mata Riska menajam pada Awan yang masih berdiri.


"Bukan aku ga bilang, yang." Awan duduk berdempetan dengan Riska. "Aku ga keinget aja hehe."


"Kamu ih.."


Syahdu melongo melihat kemesraan kedua temannya itu. Kenapa bisa tiba-tiba jadian? Bukannya dulu saling ngehina?


"Ya udah kalau gitu aku balik ke teman-teman aku, ya."


"Eh, jangan dulu, dong. Cerita-cerita aja dulu. Eh gimana sekarang, sama nenek disini?"


Syahdu dan Riska pun bercerita panjang lebar, sesekali mereka mengingat masa lalu bersama saat di kampung yang tak terasa waktu begitu cepat berlalu.


Tak lama, Syahdu meninggalkan pasangan kekasih yang terus mengumbar kemesraan itu. Sesekali mereka berciuman singkat di depan Syahdu, membuat gadis itu mengernyit heran.


"Haha, Syahdu kaget, tuhhh.." Kata Riska yang melihat Syahdu bengong karena aksi keduanya. "Disini biasa kali, Du. Jangan heran."


Begitu penjelasan Riska padanya. Jadi, hal seperti itu sudah sangat biasa, ya? Apa dia yang ketinggalan zaman? Batin Syahdu. Dia kembali ke meja Dina dan yang lain berada.


Tempat sudah mulai ramai, jam sudah menujukkan pukul 11 dan benar kata Dina, tempat ini semakin malam akan semakin ramai.


"Arrgaaaa... wuuu keren bangeettt!!" Teriak Naya dari tempatnya, bertepuk tangan saat Arga selesai bernyanyi.


"Gue pulang duluan, ya. Nyokap gue nyariin nih, ribet ntar." Dina berdiri dari kursinya.


"Loh, kok gitu, Din? Aku gimana." Kata Syahdu.


"Kan, masih ada mereka. Gue gabisa nolak permintaan nyokap, Ras. Gue duluan, ya." Dina langsung pergi, sementara Syahdu melirik Awan yang masih bermesraan di mejanya. Aah, sial sekali. Menyesal dia datang hanya melihat orang itu bermesraan.


"Ras, minum, dong. Ga seru, nih." Naya menyodorkan segelas minuman ke arah Syahdu.


Syahdu hanya tersenyum, dia hanya mengambil satu makanan yang sejak tadi belum tersentuh. Tapi rasanya dia salah memilih makanan karena entah makanan apa yang masuk ke dalam mulutnya dan terasa begitu pedas.


Buru-buru Syahdu meneguk segelas minuman di depannya. Syahdu menyipitkan mata saat merasa minuman itu terasa aneh di lidahnya.


"Arrgh apa inii??"


"Hahaha. Itu alkohol, Laras. Gila lo baru datang main embat ajaa!" Pekik Alika sambil tertawa-tawa.


Naya mengusap-usap punggung Syahdu. "Ga papa,, ga papa. Dikit doang mah, ga ngaruh." Tukas perempuan itu.


Tapi Syahdu merasa sedikit berbeda. Rasanya malah ia ingin meminumnya lagi.


"Dikit-dikit aja aman, kok." Tukas Naya lagi yang langsung memfokuskan pandangannya lagi ke arah panggung.


Syahdu menuang sedikit alkohol itu, meminumnya perlahan sambil menikmati suara Arga dari atas sana.


Sementara Arga, bernyanyi dengan tatapan yang terkunci pada Syahdu. Perempuan itu terlihat menggoyang-goyangkan kepala sambil memegang gelas di tangannya. Nampaknya, Syahdu mulai mabuk dan itu membuat Arga cemas dari atas panggungnya.

__ADS_1


TBC



__ADS_2