SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Perkelahian Arga dan Awan


__ADS_3

Gadis itupun tampak kaget dengan reaksi ku dan Arga, membuatnya menatap kami berdua secara bergantian.


"Hahaha. Syok gitu mukanya. Hayoloh, ngapain aja lo sama kak Wicak." Alika tertawa terbahak-bahak. Menyadari tatapan Naya, akupun mencoba tertawa walau terlihat aneh.


"Emang lo hamil? Udah gitu-gitu sama Wicak??"


Spontan aku memukul kepala Awan disebelahku. "Muncungmu! Ya, nggak lah. Aku cuma masuk angin paling."


"Biasa, penyakit pendaki, Masuk angin." cetus Ibra.


"Oh, kirain. Kalau nggak kan, kita bakal punya ponakan. Ya nggak, Ras?"


"Jangan, dong. Baru juga masuk kuliah." Adina merespon ucapan Alika.


"Ya nggak apa-apa, kali. Toh, gue yakin pacar Laras bakal tanggung jawab. Soalnya kan, pacarnya kayak bucin banget gitu."


"Iya juga."


"Wajah lo pucet banget, Ras. Lo ngga apapa?" Tanya Naya.


"E-enggak, kok. Nggak apa-apa. Eh, Din. Bawa minyak angin, nggak?" Tanyaku pada Adina.


"Ada tuh, di tas."


Aku berdiri dan langsung masuk ke dalam tenda. Aku hanya diam di dalam. Tidak mencari apa yang kutanya pada Adina tadi.


Sebenarnya aku tegang dan takut saat mendengar ucapan Naya. Kucoba pegang perutku. Rasanya tidak mungkin kan, aku hamil. Karena rasa-rasanya aku ngga pernah melewati itu tanpa minum pil.


Akupun mengecek jadwal menstruasi di ponsel. Ah, hari ini. Seharusnya hari ini aku mulai mens tapi tidak terasa apa-apa.


Kemudian, mataku mendadak membulat. Malam itu, saat aku mabuk, apa aku minum pil? Apa aku ada meminumnya? Aah. Tubuhku lemas seketika.


Panik. Jelas aku panik. Bagaimana kalau aku hamil? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika di perutku ada janinnya Arga?


Tidak. Kutepis semua prasangka dan hal buruk yang mendadak melintas di dalam pikiranku. Aku nggak mau ini terjadi dan pasti ini salah, kan? Lagi pula aku mual bukan karena hamil. Aku yakin karena tadi hanya mendengar ocehan mereka perihal pernikahan.


Aku memeluk lutut dan memendamkan wajahku. Rasanya jantungku tidak berhenti berdetak kencang sampai seluruh tubuhku ikut bergetar.


Tanganku dingin, aku bisa merasakannya. Kupegangi jantungku supaya bisa berdetak normal saja, jangan membuat aliran darahku juga ikut berlari kencang hanya karena sesuatu yang belum pasti.


Kalaupun.. aku hamil. Aku.. harus menggugurkan kandungan ini. Kalaupun ada janin di dalam, aku akan membuangnya.


Akh, memikirkan untuk menggugurkan kandungan saja aku tidak sanggup. Apa aku tega melakukan itu. Tapi.. Aku tidak mau hamil. Rasanya aku ingin menangis.


Ponselku bergetar. Aku membuka pesan yang jelas terlihat namanya.


Dari Arga. Dia menanyakan kondisiku dan tentu saja, soal kehamilan.

__ADS_1



Ku baringkan tubuh, lalu memejamkan mata. Aku tidak mau hamil. Aku tidak ingin ini terjadi. Jangan, jangan sampai aku hamil karena aku masih mengharapkan masa depan yang lebih baik....


~


"BRENGSEK!"


BUG!


Aku terbangun saat mendengar makian dan teriakan dari luar tenda. Tapi tunggu, kancing tenda terbuka lebar sampai aku bisa melihat dengan jelas, Arga berada di atas tubuh seseorang yang tergeletak di tanah dan mengahajarnya.


A-ada apa sebenarnya?


Ibra langsung menarik tubuh Arga yang memerah karena marah, juga beberapa orang ikut menahan tubuh Arga tidak melakukan tindakan kekerasan.


Aku terbelalak saat melihat Awan terbatuk di atas tanah. Hidungnya sudah mengeluarkan darah yang cukup banyak.


"Awan!"


Buru-buru aku keluar dan duduk di dekat Awan.


"Awan, astaga. Hidungmu." Aku panik, mencari sesuatu yang bisa menutupi hidungnya.


"Udah, ngga apa-apa." Awan berdiri masih dengan memegangi hidungnya. Begitupun aku yang ikut berdiri, memegangi lengan Awan karena merasa khawatir. Tapi, apa yang terjadi?


"Mohon maaf, abang-abang, kakak-kakak sekalian. Ini cuma salah paham. Silakan lanjutkan istirahatnya. Maaf ya, semua. Maaf sudah membuat keribuatan." Ibra meminta maaf pada beberapa orang yang sampai keluar tenda karena mendengar keributan.


"Bisa-bisanya berantem disini."


"Nggak jaga adab tuh, dua orang."


"Tau nih, ganggu aja."


Bisik-bisik orang-orang itu terdengar sambil bubar dan kembali ke tempat mereka masing-masing.


Aku menatap Arga kesal. Apa yang dia lakukan pada Awan? Apa dia gila?


"Apa yang udah kamu lakuin sama Awan? Lihat ini." Aku menujuk darah di hidung Awan pada Arga. "Dia sampe berdarah kayak gini! Memangnya ada apa, hah??" Tanyaku dengan nada yang sedikit tinggi.


Arga berjalan mendekatiku. Tepat di depanku, dia menunduk dengan tatapan tajamnya. "Lo tanyak aja dia!"


Arga langsung pergi, entah kemana. Sementara aku menatap Ibra, tapi lelaki itu mengangkat bahu tanda ia pun tidak tahu, lalu pergi mengejar Arga.


Kini tinggal aku dan Awan berdua. Jam berapa, ya, sekarang? Karena aku merasa sangat kedinginan dan tak kulihat Naya, Alika, dan Dina lagi diluar.


"Wan, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu dan Arga berantem?" Tanyaku pada Awan, tapi dia tak menjawab.

__ADS_1


Aku memegang lengan Awan. "Wan.." lalu dia menepisnya dan masuk ke dalam tenda tempatku tertidur tadi.


Aku mendesah pelan, mencoba untuk bersabar dari dua orang itu. Aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi sampai Arga memukuli Awan begitu.


Akupun berjongkok dan menyibakkan kancing tenda. Kulihat Awan berbaring membelakangiku.


"Wan, sini biar aku obatin dulu."


"Nggak perlu."


Hah. Ada apa, sih? Memangnya aku salah apa sampai dua orang itu jadi seperti ini?


"Wan, ayolah. Kenapa, sih? Aku nggak pernah liat kamu sampe berantem-berantem kaya gini!"


Awan langsung duduk menghadapku, dan menatap wajahku dengan tajam.


"Lo ada hubungan kan, sama Arga?"


DEG! Aku seketika menegang. Kenapa dia tahu? Apa Awan hanya menebak saja?


"Jawab!"


Aku langsung merubah ekspresiku yang tadi sempat terkejut. Nampaknya Awan memang belum tahu apa-apa.


"Ngomong apa, sih?" Aku mencoba menutupi. Tak ingin sampai Awan tahu walau aku yakin, kalaupun dia tahu, tidak mungkin Awan menyebar-nyebarkannya. Tapi, dia pasti kecewa.


"Alaah, udalah. Lo ngaku aja. Kalau gak, nggak mungkin dia ngehajar gue sampe kaya gini." Awan menunjuk hidungnya.


"Memangnya ada apa, sih??" Tanyaku mulai frustrasi karena tidak tahu penyebab dari perkelahian mereka.


Awan tak menyahut. Dia bahkan enggan melihat ke arahku.


Akupun menghela napas. "Wan, hubunganku dengan Arga itu sebatas teman. Nggak ada hubungan lain."


Awan membuang wajah sambil tersenyum sinis. "Emang lo anggap gue apa, sih, sampe nutupin kaya gitu."


"Tapi aku emang ngga ada hubungan apa-apa, Wannn!" Aku bersikeras, karena aku tak ingin siapapun tahu perihal hubunganku dengan Arga.


"Udah deh, lo sana pergi. Males gue liat lo." Awan menutup dan mengancing tenda, membuatku melongo di depannya.


"Wan, kenapa sih? Kok kamu marah sama sesuatu yang aku nggak pahami?? Ada apa sebenarnya??" Tanyaku lagi. Tapi hening, tidak ada jawaban sama sekali.


Hah. Kekanakan! Aku hanya terduduk disana. Tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua sialan itu.



**Menurut kalian, Apakah Syahdu Hamil? Kalau hamil, bagaimana nasib Wicak? Apakah Arga akan bertanggung jawab atau malah menyuruhnya menggugurkan sesuai isi kontrak?**

__ADS_1


__ADS_2