SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
You and Sunset!


__ADS_3

"Syahdu, bagaimana?" Tanya Wicak pada gadis itu.


Syahdu sedikit bergetar. Bagaimana pun pikirannya sudah tidak bisa lurus lagi. Terlebih dia sering mengkhayalkan wajah Arga adalah Wicak saat mereka berhubungan. Ditambah halusinasi Syahdu baru-baru ini, tentu itu membuatnya sedikit khawatir.


"Nanti aku tidur di sofa. Kamu jangan takut." Kata Wicak pelan, dia tahu kekhawatiran Syahdu.


"Nggak apa, kami ambil kamarnya." Jawab Wicak pada sang resepsionis.


Mereka berjalan ke arah kamar di lantai dua. Kamar itu paling sudut dan nampaknya lebih luas dari yang lain.


Wicak meletakkan dua ransel di atas tempat tidur. Dia membuka tirai jendela yang mengarah langsung ke pantai. Pemandangan yang indah, Wicak tidak salah pilih hotel walau harganya sedikit lebih mahal.


"Waaah.. cantikk." Ucap gadis itu, berdiri merentangkan tangan dan menutup mata. "Aaah.. nikmatnya.."


Wicak mengacak pelan rambut Syahdu. "Kau suka, kan?"


"Bangetttt.." Jawabnya sambil memeluk Wicak.


Wicak merasa bangga karena lagi-lagi mampu menyenangkan kekasihnya. Lagi pula, bukan hal sulit membuat gadis itu senang, karena dia memang gadis riang. Hanya saja, lingkungan dan kondisi hidupnya yang sering kali membuatnya sedih.


"Untunglah kamu suka."


"Kalau kakak bilang seru, aku percaya. Makanya aku semangat pergi sama kakak." Kata Syahdu sambil mendongakkan kepalanya.


Wicak mengecup lembut kening Syahdu. "Apapun yang kamu alami, cepat kasih tau aku. Apapun itu, senang atau sedih. Atau kalau ada orang yang buat kamu ngga nyaman, kasih tau aku." Kata Wicak, saat ingatannya pada Syahdu dan Arga tiba-tiba muncul di benaknya.


"Mau diapain memangnya?"


"Aku mau kasih pelajaran. Siapapun yang buat kamu nangis, aku akan hajar."


"Hemmm.. Beneran? Aku ngga pernah lho, liat kakak marah sama orang lain. Apalagi berkelahi." Tutur Syahdu. Dia memang belum pernah melihat Wicak marah-marah. Kalaupun ada sesuatu yang dia tidak suka dari Syahdu, biasanya laki-laki itu akan menasehati, atau mendiami Syahdu hanya beberapa jam saja sampai perasaan tak sukanya menghilang.


"Kalau sampai kamu terluka, aku ngga bisa bayangkan apa yang akan aku lakukan pada orang itu."


Syahdu terdiam. Nada bicara Wicak memang terdengar sangat serius. Alisnyapun mengerut dan itu menunjukkan kalau apa yang dia katakan benar adanya.


Syahdu merapatkan tubuhnya, mendekap Wicak yang selalu ada untuk melindunginya. Syahdu merasa aman di dekat lelaki itu.

__ADS_1


"Mau main di pantai?" Ajak Wicak dan Syahdu mengangguk cepat.


Mereka langsung menuju pantai. Airnya begitu bening dan terlihat hijau dari jauh. Benar-benar pemandangan yang menyejukkan mata Syahdu.


Syahdu berlarian di pinggir pantai. Tak lupa dia menyirami Wicak yang hanya berdiri menonton kekasihnya. Syahdu terus menyirami lelaki itu, memancingnya agar juga ikut bermain.


"Syahdu. Jangan.."


"Ayo, dong. Masa diam aja disituu.." Seru Syahdu sambil terus menjahili Wicak.


"Nanti basah, Syahdu." Ujar Wicak dengan tangan yang berusaha menghalangi air asin itu mengenai wajahnya.


"Ngga mau, pokoknya harus main juga kesini." Ucap Syahdu dengan tawa riang, terus menyirami Wicak.


"Kamu minta dikasih pelajaran, ya!"


Benar saja, Wicak langsung mengejar Syahdu karena sudah membuat bajunya basah.


Syahdu berlari kencang, namun dengan cepat Wicak menangkap dan mengangkat tubuhnya. Menggendong Syahdu masuk ke dalam air dan menjeburkan dirinya hingga membuat tubuh Syahdu ikut basah.


"Kak, ini makin dalem.."


"Nggak apapa. Aku pegangin."


Tubuh mereka terombang kesana kemari karena ombak.


Wicak menaikkan tubuh Syahdu hingga dia harus mendongak menatap wajah yang tampak mulai kedinginan.


Syahdu yang merasa agak takut, mengeratkan dekapannya. Dia tak mau terlepas dari Wicak, apalagi ombak benar-benar membuat tubuh mereka kesana kemari.


"Jangan takut, ada aku." Bisik Wicak pada Syahdu. Gadis itu menunduk, melihat wajah yang tersenyum padanya.


Syahdu terenyuh. Wicak belakangan terlalu sering mengeluarkan senyuman untuknya. Padahal senyum Wicak mahal dan jarang terlihat. Sekarang, Wicak benar-benar menunjukkannya terus menerus pada Syahdu.


Perlahan Wicak menurunkan tubuh Syahdu hingga wajah perempuan itu dekat dengan wajahnya. Syahdu semakin mengerti, dengan apa yang ingin Wicak lakukan untuknya. Dia menunduk dan mendekatkan bibirnya, hingga Wicak menyambut dan mengecup bibir Syahdu dengan lembut. Manis, itu yang mereka berdua rasakan. Nampaknya, baik Syahdu maupun Wicak sudah saling paham semenjak ciuman pertama mereka. Keduanya tak lagi merasa malu dan saling mengerti apa yang sama-sama mereka inginkan.


Ciuman itu hangat dan menyebar keseluruh tubuh. Dingin yang sempat terasa pun meluruh karena kehangatan yang mereka ciptakan. Namun sayang, ciuman itu harus terlepas lantaran ombak yang mengganggu, membuat keduanya tertawa lebar dan memilih duduk di pasir pantai sambil menunggu matahari terbenam.

__ADS_1


Mereka duduk berdampingan menatap ombak yang terkadang gulungannya sampai menyentuh kaki mereka.


Angin pantai pula membuat anak rambut Syahdu beterbangan di wajahnya. Gadis itu melepas ikat rambutnya untuk mengulangi ikatan yang lebih kencang. Wicak menatapi Syahdu yang tengah membenarkan posisi rambutnya dengan mengapitkan ikat rambut di bibirnya. Jika begitu, Syahdu terlihat seksi di matanya.


"Mpasii.." (apa, sih?), Ucap Syahdu dengan ikat rambut yang masih menempel di bibirnya. Syahdu merasa malu karena Wicak menatapnya sambil tersenyum-senyum.


"Kamu cantik."


Syahdu semakin mengkuncup bagai putri malu. Wicak terlalu sering memujinya dan itu sebenarnya sangat menyenangkannya.


"Kakak pinter banget sekarang ngegombal. Diajarin siapa?"


"Nggak ada yang ngajarin, karena semua itu muncul begitu saja saat melihatmu."


Lagi, Syahdu merapatkan bibirnya supaya tak terlalu mengembangkan senyuman.


Wicak meraih tangan Syahdu, menggenggam dan menyimpannya di kedua tangannya. Mata Wicak menatap ke depan, matahari mulai tenggelam dan cahaya temaram serta angin membuat keheningan diantara mereka sangat merasuki jiwa.


"Syahdu."


Syahdu menoleh, dia menatap wajah Wicak yang seperti ingin menyatakan cinta.


"Aku mencintaimu."


Benar, dia mengungkapkannya lagi. Syahdu mengeratkan genggaman tangannya, menyandarkan kepalanya di bahu Wicak. Mereka terus menatap dimana cahaya temaram itu memancar, sambil masing-masing mengutarakan harapan di dalam hati mereka.


Di tempat lain, Arga memutar-mutarkan ponsel di jarinya. Sejak tadi dia membuka chat room Syahdu di ponsel itu, mengetik sesuatu lalu menghapusnya lagi. Dia ingat gadis itu meminta untuk tidak menghubunginya. Tapi tetap saja, ada yang kurang di hari-harinya sekarang.


Sudah berjam-jam lamanya sejak Syahdu pergi siang tadi. Dia ingin tahu kabar gadis itu. Kemana dia pergi, bersama siapa saja, apakah sudah sampai tujuan sejak tadi, atau malah kejebak macet atau lainnya yang membuat gadis itu bahkan tidak timbul di story whatsapp-nya.


Arga dengan cepat membuka status Syahdu saat muncul di ponselnya. Seketika dia merasa kekhawatirannya sia-sia, saat ia tahu, ternyata Syahdu tengah bersama pacarnya.



TBC


**Arga, You have no chance!

__ADS_1


__ADS_2