
Syahdu berlari kencang tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya. Beberapa kali ia hampir tertabrak orang yang ada di lorong rumah sakit, dia sampai tidak meminta maaf saking paniknya setelah mendengar berita dari Khairul bahwa Wicak mengalami kecelakaan.
Khairul langsung berdiri saat melihat Syahdu datang dengan air mata yang sudah berlinang.
"Kak, gimana.." Dia tak sanggup melanjutkan pertanyaannya. Apalagi mata Khairul juga memerah.
"Duduk dulu." Ucap lelaki itu, tapi Syahdu tak menuruti. Pandangannya tertuju pada salah satu pintu yang dia yakin Wicak ada di dalamnya.
"Syahdu, duduk dulu." Dia menarik tangan Syahdu hingga gadis itu terduduk.
"Tenang, ya. Wicak lagi diperiksa."
"Ini.. gimana kak, kok bisa..." Syahdu sesegukan. Bayangan Suriani muncul dibenaknya. Dia tak mau Wicak menyusul juga.
"Tadi.. Wicak maksa ke Redsky. Aku udah ga enak perasaan dari awal. Tapi dia maksa. Kudengar dia berkelahi."
"Be-berkelahi?"
"Iya. Sama Arga."
Syahdu menganga. Wicak berkelahi sama Arga?
"Tadinya Wicak mau pulang sendirian. Katanya mau pergi kesuatu tempat. Trus tiba-tiba suara klakson mobil denger, ga taunya dapet kabar dari saksi disana, kalo Wicak ketabrak truk."
Air mata Syahdu menetes kembali. Dia menutup mulutnya saking tak sanggup membayangkan apa yang terjadi.
Syahdu menangis membungkuk. Ditabrak truk, apakah Wicak bisa selamat?
Suara tangisan Syahdu terdengar merintih di telinga. Dia sampai terduduk di lantai sambil menutup mulutnya. Bagaimana bisa yang seperti ini bertubi-tubi menghampirinya?
Khairul tidak bisa menenangkan Syahdu yang sangat terpukul. Dia hanya berdiri menatap gadis yang menangis terduduk itu.
Tak lama seorang dokter keluar dari ruang IGD setelah menangani Wicak. Dia membuka kacamatanya, saat Syahdu berhambur mendekatinya.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Tanya gadis itu dengan suara bergetar.
"Anda keluarganya?"
Syahdu mengangguk cepat.
"Pasien mengalami cedera di kepala cukup parah. Ini karena benturan keras saat terjadinya kecelakaan. Kami harus melakukan pemeriksaan radiologi untuk mengetahui lebih lanjut. Untuk sementara waktu, pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU."
Syahdu terpaku. Penjelasan dokter terdengar sukar di telinganya. Namun dia menangkap satu hal. Kondisi Wicak sedang sangat parah.
"Dok.. apa.. itu artinya.. kak Wicak udah ga bisa diselamatkan?"
Pertanyaan itu keluar dari mulut Syahdu begitu saja. Dia takut Wicak akan pergi meninggalkannya sama seperti Suriani yang tiba-tiba saja drop padahal sejak awal tubuhnya sudah sehat.
"Tugas saya membantu mengobatinya, tugas anda memanjatkan doa dan menyemangatinya. Masa kritis bisa terlewati jika pasien cepat sadar." Jelas dokter pada Syahdu. Kemudian dokterpun pergi.
Pintu terbuka. Wicak terbaring dengan perban di kepalanya yang begitu banyak. Selang pernapasan menempel menutupi hidung dan mulutnya. Beberapa suster mendorong brankar dan memegangi beberapa alat yang tersambung dengan Wicak.
__ADS_1
Air mata Syahdu tumpah melihat Wicak yang koma. Kakinya seperti tak berpijak, Syahdu lagi-lagi terduduk. Dia teringat Suriani yang sempat dipasangi selang dan alat lainnya saat kritis. Walau sempat membaik, tapi Suriani meninggalkannya. Apakah Wicak juga demikian?
Syahdu dibantu Khairul untuk bangkit. Mereka menyusul menuju ruang ICU.
Sudah hampir satu jam, Syahdu hanya berdiri di depan pintu menatap Wicak melalui celah kaca. Rasa bersalah mengalir dalam darahnya. Syahdu menyesal melakukan semua yang pernah ia lakukan.
Sejak awal, andai saja dia tidak meminta untuk pindah ke kota. Andai saja dia bekerja saja ketimbang kuliah dan membiarkan neneknya istirahat, andai saja dia tidak menjual dirinya kepada Arga, andai saja...
Syahdu menunduk, tersedu-sedu memikirkan semua itu. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Dirinya yang bodoh dan tidak bisa berpikir panjang. Sebab kebodohannya itulah banyak yang menjadi korban.
Karma. Satu kata yang mendadak muncul di pikirannya. Benarkah ini karma yang harus ia terima?
"Syahdu."
Khairul berdiri dibelakang gadis itu.
"Sorry. Aku ga bisa lama-lama disini. Aku udah ngubungin orang tua Wicak dan kayanya bentar lagi sampe. Kamu.. mau aku anter pulang?"
Syahdu menggeleng perlahan. Pandangannya tidak lepas dari Wicak.
"Aku disini. Nemenin kak Wicak."
Khairul mengangguk mengerti. "Besok temen-temen Wicak akan datang. Jadi, aku juga kesini lagi. Kalau ada sesuatu yang perlu di bawa, kabari aja. Oke?"
Syahdu diam, dia tidak butuh apa-apa selain Wicak. Dia mau Wicak cepat sadar sesegera mungkin.
Mata Syahdu terus menatap layar pasien monitor. Detak jantung Wicak berirama melalui layar itu. Dia bisa melihatnya, garis berliku yang berjalan lambat itu. Dia harap detak itu akan selalu ada. Dia tak bisa membayangkan jika detak itu menghilang.
~
Syahdu tak berani mendekat mengingat wanita itu tidak suka padanya. Tapi, dia pun tak akan meninggalkan tempat itu walau ibu Wicak mengusirnya sekalipun.
"Wicak.. kenapa kamu begini, nak. Padahal katanya mau sidang besok.. huhuu.." Ibu Wicak tersedu-sedu dipelukan suaminya. Syahdu entah kenapa merasa bersalah. Semua ini karena dirinya. Apa kalau dia tidak jujur, Wicak masih tetap sehat?
"Syahdu."
Bayu, ayah Wicak menyadari keberadaan kekasih anaknya.
"Apa kata dokter?" Tanya pria paruh baya itu.
"Ini semua pasti gara-gara kamu! Iya, kan? Kamu pasti suruh dia jemput kamu, kan! Trus dia kecelakaan? Iya, kan!" Hardik Mirna, Ibunda Wicak.
"Bu, sudah, bu. Tadi kan, ibu denger sendiri penjelasan teman Wicak kalau dia menyebrang saat lampu hijau. Jangan tuduh-tuduh, gitu. Ga baik." Tukas pak Bayu menasehati istrinya. Kemudian dia menatap Syahdu kembali. "Coba ceritakan pada kami, ya, Syahdu."
Syahdu malah menangis. Yang diucapkan ibu Wicak benar kalau ini semua memang karena dia. Entah bagaimana Wicak bisa tahu bahwa Argalah lelaki yang telah tidur dengannya. Lalu dia datang dan menghajar lelaki itu pasti karena dirinya. Syahdu menyadari itu.
"Ma-maaf.." Hanya itu yang Syahdu ucapkan ditengah isakannya.
"Ga apa-apa, Syahdu. Kita doakan semoga Wicak bisa melewati ini semua, ya."
Syahdu mengangguk, sementara Mirna membuang wajahnya dan duduk di bangku tunggu.
__ADS_1
"Syahdu, kamu ga pulang?" Tanya Bayu.
"Engga, pak. Saya.. nunggu disini."
"Ya sudah, ga apa-apa." Jawab lelaki itu kemudian kembali menenangkan istrinya yang masih tersedu-sedu.
~
"Dok, saya boleh masuk? Saya ibunya. Tolong izinkan saya masuk." Mirna menahan tangan dokter. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Boleh, bu, boleh. Tapi sebentar ya, kami akan melakukan pemeriksaan lebih dulu."
Dokter dan seorang perawat masuk kedalam ruang ICU.
Tak lama, dokter keluar membawa berita baik.
"Wicak sudah membuka mata, silakan masuj, Bu."
Mirna langsung masuk dengan memakai baju ICU, sedangkan dokter mengobrol dengan pak Bayu.
Syahdu ikut berdiri di depan pintu sembari memilin jari. Dia juga ingin masuk. Dia ingin melihat Wicak. Dia ingin menemui lelaki itu.
"Syahdu, kamu mau masuk?" Bayu menyerahkan jubah ICU pada Syahdu. Dia tahu, gadis itu sangat mengkhawatirkan anaknya. Apalagi Syahdu sampai tidak tidur dan terus berdiri menatap Wicak dari depan pintu.
Syahdu tak mau membuang kesempatan. Dia meraih baju ICU dan memakainya. Dia kemudian masuk ke dalam, saat bersamaan dilihatnya Wicak sudah membuka mata.
Mirna menangis sesegukan disebelah anaknya bersamaan dengan suara ritme jantung pada monitor yang ada disebelahnya.
"Yang kuat, Nak. Yang kuat. Ibu disini, ayah juga disini. Kamu ga sendirian. Sembuh ya, nak. Sembuh, ya. Ibu pengen liat kamu sembuh.. hiks..hiks.."
Buru-buru Syahdu menghapus air matanya. Dia tak kuasa melihat Mirna, juga Wicak yang sepertinya mengerti ucapan Ibunya.
"Syah.. du..." Ucap Wicak perlahan dengan suara yang hampir tak terdengar.
Mirna menoleh ke belakang. Syahdu sudah berdiri di depan pintu dengan sesegukan tak kuasa melihat kondisi Wicak.
"Syah.. du.."
Gadis yang namanya disebut itu berjalan mendekat. Sementara Mirna mundur, demi permintaan anaknya, dia membiarkan Syahdu di dekat anaknya.
Syahdu mengenggam tangan Wicak. "Aku disini." Bisik Syahdu di telinga Wicak.
Dia menatap lekat wajah lelaki yang amat dia cintai itu. Wicak tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Hanya matanya yang menatap keatas.
"Maafin aku, kak.." Syahdu menangis sesegukan disebelah Wicak. "Aku.. aku mencintamu."
Setetes air menetes di pelipis lelaki itu. Dia merindukan Syahdu. Dia senang perempuan itu akhirnya ada disebelahnya di saat masa kritisnya.
"Sembuh, ya. Kakak harus bisa melewati ini. Aku.. akan terus disebelah kakak. Aku ga kemana-mana. Aku terus disini, bersama kakak."
Wicak hanya mengedipkan mata, saat dia mengerti apa yang Syahdu ucapkan di telinganya.
__ADS_1
TBC