
Arga mengetuk-ngetuk kemudi dengan jarinya. Tatapannya tak lepas kearah sebuah rumah berwarna kuning putih. Motor berwarna hitam terparkir di depannya, yang Arga tahu bahwa itu milik Wicak.
Lelaki berjeket hitam keluar dari rumah itu. Arga mulai duduk tegak saat Wicak pergi dengan motornya. Arga menunggu beberapa menit sampai melihat motor yang ditunggangi Wicak benar-benar menghilang dari pandangannya, ia pun keluar dari mobil.
Arga sempat ragu, apakah kehadirannya disukai atau tidak. Atau jangan-jangan Syahdu tak lagi ingin bertemu dengannya.
Perlahan Arga membuka pintu yang tak terkunci. Dia menengok ke dalam dan mendapati Syahdu duduk menunduk, gadis itu bahkan tak menyadari bahwa ada yang berjalan kearahnya.
Sesibuk apa pikiran Syahdu sampai suara pintu pun tidak terdengar di telinganya?
Arga semakin mendekat sampai bayangan tubuhnya tepat di depan Syahdu, gadis itu mengangkat kepala dan terkejut mendapati Arga berdiri di hadapannya.
"Hai."
Syahdu malah terbengong, membuat Arga menjadi bingung sesaat.
Arga langsung menarik kursi dan duduk di dekat gadis yang masih diam menatapnya.
"Belum sarapan, ya? Ngga selera?" Tanya Arga saat melihat nasi uduk yang belum tersentuh dan teh yang sudah dingin.
"Mau gue masakin makanan kesukaan lo?" Tawar lelaki itu.
Syahdu tiba-tiba teringat saat ia hampir bunuh diri. Arga ada disana. Syahdu bahkan melupakan bagian dimana Arga menyatakan sesuatu yang belum pernah ia dengar dari mulut lelaki itu. Juga jani-janji Arga padanya, dan...
"Malah ngelamun. Gue tanya, mau gue masakin makanan kesukaan lo, nggak?"
Arga kembali menggunakan gaya bahasanya yang biasa padahal kemarin dia sempat merubahnya menjadi aku-kamu. Seolah mereka punya hubungan yang berbeda.
Tapi, makanan kesukaan? Syahdu sampai berpikir berulang kali, makanan apa yang menjadi kesukaannya sampai Arga mau memasaknya? Rasanya Syahdu tidak punya makanan kesukaan khusus.
"Ayo, ikut gue." Arga menarik tangan gadis itu.
"Kemana."
"Ikut aja." Lagi, Arga menaikkan alis, meminta Syahdu ikut saja dengannya dan gadis itupun beranjak.
Di dalam mobil, Syahdu hanya diam. Dia menatap keluar jendela dengan wajah sendunya. Arga berkali-kali meliriknya, tapi gadis itu bahkan tidak bergerak.
"Mau beli sesuatu, nggak? Atau mau belanja apaa, gitu."
Tak ada jawaban, Syahdu hanya diam tanpa beralih pandang. Dalam pikirannya, Arga hanya berusaha membujuk karena dirinya adalah 'pelayan' diatas ranjang yang harus diperlakukan dengan baik. Begitukan?
"Ayo." Arga membuka seatbelt dan pintu mobil saat mereka sudah sampai. Tapi Syahdu masih diam disebelahnya.
Apartemen. Mau apa Arga membawanya ke apartemen? Syahdu menghela napas kecil. Entah kenapa dia jadi malas berurusan dengan Arga. Karena dia adalah salah satu yang menjadi alasan kenapa kehormatan Syahdu harus ia lepaskan dengan keterpaksaan.
"Lo ngga kangen sama Popi? Belakangan dia kayak nyari lo, gitu."
Syahdu ingin mengakhiri ini. Dia keluar dari mobil Arga lalu berjalan duluan masuk ke apartemennya.
__ADS_1
Popi seketika berlari saat melihat Syahdu datang. Dia menggendong anjing berbulu itu. Senyum kecil tersungging saat melihat Popi, membuat Arga ikut merasa senang dengan perubahan mimik wajah Syahdu.
"Tungguin, ya. Gue mau masakin lo dulu."
Lelaki itu meletakkan kunci mobil dan jeket dengan sembarang, sesuatu yang belum pernah Syahdu lihat semenjak satu tempat tinggal dengan Arga. Karena lelaki itu biasanya akan mengomel kalau Syahdu yang sembarangan seperti itu.
Syahdu ikut ke dapur sembari menggendong Popi. Dia penasaran lelaki itu masak apa, sih? Dia sendiri tidak tahu makanan kesukaannya yang mana satu.
Syahdu memperhatikan punggung Arga yang bergerak kesana kemari. Lelaki yang tengah fokus itu tidak sadar bahwa mata Syahdu terus kearahnya tanpa kedip. Gadis itu diambang kebingungan dengan hidupnya. Ada Wicak yang menginginkan pernikahan, juga Arga yang memiliki kontrak dua tahun dengannya.
Arga meletakkan sepiring hasil masakannya di depan Syahdu.
"Taraa. Mirip nggak, sama yang lo makan di restoran waktu itu? Penampilan bisa beda, tapi rasa.." Arga membusungkan dada. "Masakan gue jauh lebih enak."
Arga meletakkan sendok di dekat Syahdu, meminta untuk mencicipi hasil masakannya.
'Jadi ini makanan kesukaanku ?' Tanya Syahdu dalam hati. Kenapa dia juga baru tahu. Yah, memang waktu itu dirinya makan dengan sangat lahap karena kelaparan dan mengomentari hasil masakan restoran yang memang sangat enak.
Syahdu kini beralih memandang Arga yang masih berdiri menunggunya memakan masakannya.
'Jadi, dia memperhatikanku sampai seperti itu? Tapi kenapa?' Untuk saat ini, Syahdu masih bertanya-tanya dengan sikap Arga padanya.
Diambilnya sendok dan ia coba hasil masakan Arga. Syahdu mengunyah makanan dengan santai. Dilihatnya bibir Arga yang terbuka, mungkin dia penasaran rasanya di lidah Syahdu lantaran gadis itu tak berekspresi saat memakan itu.
"Nggak enak, ya?"
"Enak."
"Percuma dong, gue belajar masak sampe UK kalo gini doang ngga bisa." Celotehnya sembari mengambil nasi dan ayam bumbu rujak yang baru ia masak.
Syahdu melanjutkan makannya. Memang dia selalu suka masakan Arga. Pasti beruntung perempuan yang mendapatkan lelaki itu. Kalau dipikir-pikir, Arga ini sudah paket komplit. Cuma keras kepala dan sedikit kasar aja, batin Syahdu.
"Nah kan, masakan gue seenak itu ya, sampe makannya belepotan."
Tangan Arga mengulur, mengusap sisa makanan di sudut bibir Syahdu dengan ibu jarinya, lalu mengecapkan ibu jarinya itu ke mulutnya.
Syahdu terpaku dengan apa yang barusan Arga lakukan padanya. Lelaki itu tidak terlihat jijik dan malah melanjutkan makannya.
Ini bukan pertama kali Arga bersikap seperti ini. Kalau diingat lagi, Arga selalu memperlakukannya dengan baik. Dia juga seharusnya tidak perlu sampai datang ke kontrakan, membujuk agar mau ikut bersamanya untuk memasakkan makanan kesukaan yang Syahdu sendiri tidak pernah tahu. Buat apa semua itu?
Lalu kemarin, sorot mata Arga juga berbeda. Lelaki itu juga menjanjikan banyak hal untuk melindungi dan menjaganya.
Syahdu kini menyadari sesuatu. Dia tahu, dia tidak sepolos itu sampai tidak menyadari kalau Arga menaruh hati padanya.
Mungkin itu sebabnya kenapa Arga bersikeras memintanya tetap disini dan mencari cara supaya Syahdu terbebas dari ancaman ayahnya.
"Oh ya, Oma bilang, katanya kalo lo bingung mau tinggal dimana, Oma tawarin untuk tinggal bareng dia. Lo juga bakal disekolahin sama Oma sampe keluar negeri kalo lo mau."
Syahdu tak menyahut. Dia masih berbicara dengan dirinya sendiri perihal Arga. Dia tengah mengumpulkan potongan ingatan perlakuan hangat Arga padanya. Dan saat ia memikirkan itu semua, lagi-lagi dia hanya tahu satu hal, Arga memang punya perasaan padanya. Sebab itukah Arga sampai rela hujan-hujanan demi menjemput dirinya, atau mengatakan ia akan bertunangan demi supaya Syahdu tidak bunuh diri? Padahal siapapun tahu bahwa lelaki itu tidak tertarik untuk menikah.
__ADS_1
"Kamu.. jadi tunangan, Ga?" Tanya Syahdu tiba-tiba, mengabaikan ucapan Arga.
Lelaki itu diam. Dia bahkan berhenti mengunyah makanannya. Pikiran Arga langsung tertuju pada ucapannya diatas rooftop rumah sakit.
"Kapan? Apa bulan depan?"
Arga menenggak air putih di dekatnya. Kini selera makannya langsung menghilang.
"Kalau gitu, selamat ya, Ga. Aku ucapin sekarang. Aku takut ga sempat ucapan ini ke kamu." Lanjut Syahdu lagi. Mata mereka bertemu cukup lama, terlebih Arga tidak menyukai ucapan Syahdu barusan. Terkesan perempuan itu ingin meninggalkannya.
"Soal... kontrak. Aku minta maaf. Aku ga bisa lanjutkan itu. Makasih banyak banget, Ga. Kamu benar-benar seperti malaikat penolong. Sampe kapanpun aku ga akan bisa membalas kebaikanmu."
Syahdu tak ingin Arga punya perasaan padanya. Itu bahaya. Bukan cuma dirinya, Arga juga bisa membuat hubungan keluarganya berantakan.
"Aku tahu, aku terkesan menghilang dan lari dari tanggung jawab. Tapi, kita memang ga bisa lanjutin ini lagi. Orang yang aku perjuangkan udah ga ada. Kamu juga bentar lagi tunangan dan aku.." Syahdu mengambil napas, mencoba tersenyum pada Arga yang tak lepas pandang darinya.
"Aku akan menikah dengan kak Wicak."
Berdenyut kencang. Hati Arga seperti terhantam dengan keras hingga terasa nyeri.
Syahdu menahan dirinya untuk tidak menangis walau entah bagaimana perasaannya tidak karuan sekarang. Jantungnya ikut berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kak Wicak mau nikahin aku, jadi.. "
Syahdu bisa melihat mata yang mengalihkan pandang kearah lain. Syahdu tak mau lagi melanjutkan ucapannya yang terasa tak berguna. Dia berdiri.
"Aku akan ambil barang-barangku besok, aku cuma mau ambil jeket kak Wicak." Gadis itu beranjak menuju walk in closet.
Dia mengambil jeket abu-abu yang tergantung dideretan baju-bajunya, lalu memakainya.
Saat berbalik, dia mendapati Arga berdiri dibelakangnya. Wajah lelaki itu kusut, berdirinya tidak tegak seperti biasa. Syahdu mendekatinya.
"Sekali lagi, makasih banyak ya, Ga. Maaf juga, selama ini udah ngerepotin kamu." Syahdu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Semoga kamu bahagia ya, semoga suatu hari kita bertemu dalam keadaan yang sama-sama bahagia."
Arga menatap tangan yang mengulur itu. Tangan yang pernah mengelus bahu dan rambutnya sampai tertidur.
Ditariknya tangan Syahdu hingga mendekat dan ia peluk gadis itu dengan erat. Kepalanya ia rebahkan di bahu Syahdu, membuat Syahdu terdiam sejenak.
Pertemuan yang dikira sebuah cara untuk menghibur Syahdu, ternyata menjadi perpisahan. Arga seperti tak terima, tapi dia tak bisa menolak saat semua terasa berat bagi mereka untuk bersama.
Syahdu mengangkat tangannya, memeluk erat Arga. Dia menepuk-nepuk pelan punggung lelaki itu. Bulir bening jatuh ke pipinya. Syahdu tidak pernah merasakan perpisahan dengan siapapun, namun ia bisa tahu beratnya perpisahan setelah Suriani meninggalkannya. Lalu kini, dia dan Arga akan berpisah. Sebuah hal baik untuknya dan juga Wicak.
Syahdu melepas pelukan. Dia menghapus air matanya sambil tertawa kecil.
Tangannya sedikit terangkat lalu melambai. "Aku pulang dulu." Ucap gadis itu dan melangkah meninggalkan Arga yang tak mau menyaksikan kepergian gadis yang sudah merajai hatinya.
TBC
__ADS_1
**Udah Vote belum? Jangan lupa Like supaya kita cepat up bab baru**