
Syahdu dan Adina akhirnya bermain di pinggir pantai. Karena tak bawa ganti, mereka tak bisa mandi dan terpaksa menggulung celana supaya tidak terlalu basah. Apalagi, mereka hanya melewatkan satu mata kuliah dan tetap mengikuti ujian siang nanti.
Suasana pantai cukup terik dan untungnya, tidak ada orang disana. Sepi, karena ini masih pagi dan bukan hari libur pula.
Sementara dari tempat lain. Arga tengah mengamati satu orang yang tengah asyik bermain bersama temannya. Kacamata hitam yang dikenakan Arga tidak membuat Ibra tak mengetahui kemana arah lirikan lelaki itu.
"Sesuka itu ya, lo sama dia."
Arga menoleh. "Hah, siapa?"
"Udah, ga usah sok nutupin. Keliatan banget, tau." Ibra kembali menyeruput air kelapa di depannya.
Dibilang begitu, Arga tak lagi bisa mencari alasan.
"Emang sih, wajar lo suka sama dia. Gue juga awal-awal naksir. Sesuai namanya, wajahnya itu bener-bener syahdu. Apalagi anaknya keliatan baik." Ibra ikut menatap Syahdu.
"Tapi, lo kan tau, dia udah pacaran selama 7 tahun." Sambungnya lagi.
"Gue ga niat pacaran. Cuma sukak aja." Jawab Arga. Matanya belum lepas dari Syahdu.
"Sayang ya, ada cowok yang terus berada disebelah Laras. Cowoknya juga kayak ga bisa lepas dari Laras, kan?"
Entahlah. Arga tidak peduli dengan lelaki itu. Yang dia mau hanya Syahdu terus tertawa. Bagaimana caranya supaya perempuan itu tidak sedih, apalagi Arga tahu bagaimana Syahdu menjalani hidup selama ia di kampung.
Syahdu dan Adina menyudahi permainan mereka. Wajah lelah itu mendekat dan duduk di atas pasir berdekatan dengan Ibra dan Arga.
"Nih, minum." Ibra menyerahkan buah kelapa yang sudah dihiasi payung kecil diatasnya pada Adina.
Syahdu bercelinguk, dia melihat hanya satu buah kelapa yang diberikan Ibra.
"Untuk Syahdu, mana?" Tanya Adina yang mengerti.
Ibra melirik Arga. Lelaki itu hanya tersenyum kecil menatap kearah pantai.
"Din, ikut gue, deh." Kata Ibra kemudian berdiri.
"Hah, kemana?"
Ibra mengambil buah kelapa dari tangan Adina dan menarik tangan gadis itu untuk berdiri.
"Bentar aja. Ada yang mau gue bilang ke lo penting."
"Apaan?" Adina mau tak mau mengikuti kemana arah Ibra menarik tangannya. Syahdu hanya menatap diam. Dia juga tidak penasaran soal apa yang ingin Ibra katakan pada Adina.
"Nih, minum." Arga memberikan buah kelapa miliknya pada Syahdu. Gadis itu, tanpa bertanya langsung menyesap sedotannya. Apalagi cuaca terik dan dia kehausan.
Arga tersenyum kecil melihat Syahdu yang tengah asyik meminum air kelapa. Dan sebenarnya air kelapa itu bekas dirinya.
"Itu punya gue. Lo ga jijik?"
Syahdu meliriknya tajam, tapi dengan sedotan yang masih mengapit di bibirnya.
Arga malah tertawa melihat tatapan tajam Syahdu padanya. Tapi gadis itu juga tidak melepaskannya.
"Ya udahla. Uda terlanjur. Mau dimuntahin juga sayang." Ucap Syahdu setelah menghabiskan isinya. Arga hanya menahan senyuman yang ingin mengembang saat tahu Syahdu tak keberatan minum satu sedotan dengannya.
Ponsel Syahdu bergetar. Nama Wicak tampil di layar ponsel Syahdu.
"Eh, bentar." Gadis itu memberi kode supaya Arga tidak bicara saat dia bertelepon dengan kekasihnya.
"Iya, kak?"
'Syahdu, aku udah coba daftar sidang tapi ternyata data-dataku belum lengkap.'
"Jadi gimana?"
'Emm.. ini mau balik ke kos. Ngurus berkas yang belum selesai. Kamu kalau udah selesai kelas, tunggu aku, ya.'
"Iya. Aku tunggu, kok." Mata Syahdu melirik Arga saat lelaki itu menepuk lengannya.
__ADS_1
Baru Arga membuka mulut, Syahdu langsung membekap mulut Arga dengan telapak tangannya. Membuat lelaki itu terkekeh.
"Iya, kakak tenang aja." Ucap Syahdu lagi pada Wicak.
Arga memejamkan mata, dia mencium tangan Syahdu yang mampir di bibirnya. Tangan itu sangat lembut dan halus.
"Iya, kak. Love you too.." balas Syahdu pada Wicak, lalu menutup ponselnya.
Dengan segera dia menarik tangannya dari bibir Arga.
"Bau amis tangan lo!"
"Masa?" Syahdu mencium tangannya. "Wajar sih, namanya juga tadi abis megang kepiting mati disitu."
"Hah?" Arga menganga. Padahal tadi dia cuma bercanda. Jadi dia nyium tangan yang bekas megang bangkai kepiting?
"Sorry, ye." Tukas Syahdu kemudian dia berdiri saat Adina dan Ibra mendekat.
"Kita balik, yuk. Udah jam segini." Syahdu melirik jam di ponsel.
"Ya udah, ayo." Adina menyandang tasnya.
"Duluan aja, aku mau ke toilet bentar." Syahdu melangkah menuju arah yang dimaksudnya. Sementara yang lain menuju mobil.
Syahdu masuk kedalam bilik toilet. Setelah menunaikan hajatnya, dia keluar dan terkesiap saat Arga ternyata di depan pintu bilik.
Lelaki itu dengan sigap mendorong tubuh Syahdu masuk kedalam bilik dan menguncinya.
Syahdu menegang. Jelas, karena mereka tengah diluar, ada Adina dan Ibra pula.
Arga merapatkan tubuh Syahdu ke dinding. Dia menatap dengan tajam seolah Syahdu punya kesalahan.
"A-apa yang.."
Belum Syahdu menyelesaikan kalimatnya, Arga membekap mulut Syahdu dengan bibirnya. Syahdu menegang seketika, namun perlahan ketegangannya meluruh saat ternyata Arga memainkan bibirnya dengan sangat lembut.
Respon tubuhnya tak bisa ia tahan. Sekujur tubuh Syahdu meremang, namun ia masih sadar dan dengan cepat mendorong tubuh Arga.
Suara pintu terbuka membuat Arga menghentikan aktifitasnya.
"Syahdu, lo di dalem, kan?"
Arga menatapnya, menyuruh gadis itu menjawab.
"I-iya, Din. Udah mau selesai, kok."
"Oh, kirain lo nyasar. Oke, deh. Gue tunggu di mobil."
Suara pintu terdengar lagi, tanda Adina sudah keluar.
"Apa-apaan, sih." Berang Syahdu dengan suara yang ia tahan supaya tak terdengar keluar.
"Nanti malam lo harus ke apartemen gue." Bisik Arga dengan tatapan yang tak lepas dari mata Syahdu.
"Aku ngga bisa."
"No excuse. Gue tunggu."
Syahdu melepaskan tangannya dari cengkraman Arga dengan wajah kesal. Lalu ia keluar dari kamar mandi tanpa memikirkan bagaimana cara Arga keluar dari toilet perempuan itu.
Syahdu berjalan gontai. Tiba-tiba saja merasa sial. Apalagi nanti malam harus ke apartemen Arga, padahal sudah lama ia merasa bebas karena bisa tidur di rumah sakit.
...🍁...
Setelah selesai ujian dan Ms. Lora keluar kelas, yang lain mulai bubar dan sebagaian lagi heboh membahas jawaban mereka.
Syahdu meregangkan badan. Dia merasa lega lantaran 85% soal ujian bisa ia jawab dengan yakin.
"Aaaakkhh.."
__ADS_1
Arga ikut meregangkan tubuhnya kebelakang, tepat di depan Syahdu.
"Huh, pegel gue." Ibra juga meregangkan lehernya kiri dan kanan. Nampaknya ujian pertama ini membuat banyak orang syok, apalagi bahasa inggris.
"Gimana, sulit, gak?" Tanya Arga, memutar tubuhnya untuk bertanya pada Syahdu.
"Biasa aja."
"Lo ngga nyontek gue, kan? Bisa aja lo jadi jerapah untuk liat jawaban gue di depan." Tuduh Arga.
"Dih, ngga penting banget." Cebik Syahdu dan Arga terkekeh.
Adina hanya menggelengkan kepala. Belakangan Arga jadi banyak bicara saat bersama Syahdu.
"Punya iket rambut, gak?" Tanya Arga dan Syahdu menggelengkan kepala.
"Gue ada, nih." Adina memberikan satu berwarna hitam pada Arga. Tetapi Arga malah memberinya pada Syahdu lalu menunjuk kepalanya, menyuruh gadis itu untuk mengikatkan rambutnya.
Lelaki itu langsung menghadap kedepan supaya memudahkan Syahdu mengikatkan rambutnya. Dengan malas Syahdu mengikatkannya asal-asalan.
Adina dan Ibra sudah tak terkejut. Karena mereka juga sudah melihat kedekatan keduanya di pantai saat mereka tinggalkan tadi. Tak mau terlalu memasuki kehidupan keduanya, baik Ibra maupun Adina memilih diam.
Tak jauh dari Syahdu, Alika dan Naya sudah bersiap pergi. Mata Syahdu mengikuti keduanya yang keluar kelas. Dia merasa ada sesuatu yang ganjil pada dua orang itu, entah kenapa.
"Gue pulang dulu." Ibra bersiap pergi, disusul Adina yang berdiri.
"Lo gimana, Du?" Tanya Adina, dia sudah terbiasa memanggil Syahdu.
"Aku masih nungguin kak Wicak. Kalian duluan aja." Ucap Syahdu dan yang lain mengangguk.
"Yakin?" Tanya Arga. Dia menoleh ke sekeliling, sudah sepi. Jam segini juga mahasiswa sudah banyak pulang, jadi pasti aman, pikir Arga.
Syahdu mengangguk.
"Oke, kita cabut, ya." Adina, Ibra, dan juga Arga meninggalkan Syahdu sendirian di dalam kelas. Gadis itu membereskan barang sebelum keluar.
~
Sudah satu jam berlalu. Arga sibuk dengan pekerjaannya yang fokus pada laptop.
Tapi fokusnya harus terbelah saat ia mendapat chat dari Syahdu. Gadis itu hanya memanggil namanya. Tidak ada pesan lain. Saat Arga membalas juga Syahdu hanya membacanya. Tak ada balasan.
Arga malah khawatir. Dia melirik ke jendela luar. Hari sangat gelap padahal masih siang. Gemuruh langit sesekali terdengar, membuat Arga khawatir. Dia langsung menelepon Syahdu. Dua kali panggilan tak ada jawaban, sampai yang ketiga, panggilannya tersambung.
"Syahdu?" Arga menegang saat tak mendapatkan suara dari seberang.
"Halo, Syahdu."
"Arga."
Lelaki itu langsung berdiri. Suara Syahdu parau. Dia menangis sesegukan.
"Syahdu, ada apa? Kenapa?" Tanyanya dengan tegang, tak sabar mendengar jawaban gadis itu.
"Arga.. A-aku.. mereka.. bagaimana mereka tahu aku anak pelacur.."
Seketika Arga mengepalkan tangan. Syahdu, dia sudah tahu dan tangisannya membuat hati Arga ikut teriris.
"Lo dimana?? Cepat kasi tau gue lo dimana!" Arga meraih kunci mobil lalu bergegas dengan handphone yang masih di telinga, menunggu jawaban Syahdu.
Arga menerobos hujan saat ia sudah memarkirkan mobilnya. Lelaki itu terus berlari. Syahdu tadi mengatakan kalau ia masih ada disekitaran kelas.
Arga berlari dengan keadaan tubuh yang basah. Ia mencari dimana Syahdu berada. Dia terus mencari dan berlari, lalu terhenti.
Dia menemukan Syahdu, gadis itu tengah menangis dibangku koridor.
Namun Arga tak bisa kesana, sebab dia bersama kekasihnya, Wicak, lelaki itu ada disampingnya, memeluknya dengan sangat erat.
TBC
__ADS_1
*Banyak dulu like nya baru up. Semangaattttt...*