
Syahdu perlahan membuka mata. Dia merasa kepalanya masih pusing, namun dia juga merasakan sesuatu yang hangat terasa di telapak tangannya.
"Udah bangun?" Arga duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam tangan Syahdu. Gadis itu mengangkat tangan untuk melihat infus di punggung tangannya.
"Lo pingsan, jadi gue bawa kesini."
Syahdu menatap sekitar. Ya, ini apartemen Arga.
"Gue juga udah buatin lo bubur." Arga beranjak dari kursinya menuju dapur. Sementara Syahdu berusaha untuk duduk dan bersandar di kepala kasur.
Syahdu melihat bayangan wajahnya di kaca lemari. Matanya bengkak, wajahnya kusut dan pucat.
"Makan dulu. Lo ga ada tenaga karena ga makan berhari-hari." Arga duduk dan meletakkan nampan diatas nakas.
"Mau gue suapin?"
Syahdu diam menatapnya. Dia teringat dengan pertemuan terakhirnya dengan Arga. Saat dimana Syahdu menyadari bahwa Arga mulai menyukainya.
"Kenapa kamu bawa aku kesini." Suara Syahdu amat kecil dan parau. Dia mulai menangis lagi.
"Seharusnya biarin aja aku disana sampai mati." Mata dan hidungnya terasa perih. Lagi dan lagi, air matanya terjatuh. Luka di hatinya amat dalam karena Wicak dan Suriani meninggalkannya.
"Syahdu.." Arga meraih tangan Syahdu dan menggenggamnya perlahan. "Gue ngerti kondisi lo-"
"Nggak." Syahdu dengan cepat menarik tangannya dari Arga. "Kamu gak akan ngerti!" Sentaknya dengan sesegukan.
Syahdu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia menangis dengan tubuh bergetar.
Arga langsung memeluk tubuh gadis itu. Dia memang tidak pandai membujuk, tapi dia cukup tahu bagaimana perasaan gadis itu. Bahkan saat tertidur pun, Syahdu terisak dalam mimpinya dan itu membuat Arga tak tega.
Syahdu menangis kencang dipelukan Arga. Dia tersedu-sedu karena tak tahu arah hidupnya. Orang-orang tersayang sudah meninggalkannya dan kini, dia harus menjalani hidupnya seorang diri.
"Tolong jangan lakuin hal-hal kaya gini lagi. Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup lo. Please, gue mohon. Lo gak sendirian. Gue akan terus ada disisi lo. Gue janji."
Syahdu tak menyahut walau dia mendengar itu. Baginya janji bukanlah sesuatu yang ia harus percayai mengingat Suriani dan Wicak tidak menepatinya. Apalagi Arga, lelaki itu pasti dengan sangat mudah mengingkarinya.
Setelah tenang, Syahdu makan disuapi oleh Arga. Tentu saja dengan bujukan dari lelaki itu. Dia mengunyah sangat lamban dengan tatapan kosong, namun Arga sangat sabar menunggunya. Kondisi fisik dan psikis Syahdu benar-benar terguncang.
...🍁...
__ADS_1
Arga panik setengah mati saat tidak mendapati Syahdu diatas tempat tidur dan infus yang terlepas begitu saja. Dia mencari kesegala ruang namun tidak ada perempuan itu.
Arga berteriak memanggil nama Syahdu, tidak ada jawaban. Padahal dia hanya mandi sebentar. Tapi kenapa Syahdu malah lari darinya.
Arga bergegas menuju rooftop. Sejak Syahdu memutuskan untuk bunuh diri, Arga mengawasinya. Dia tidak mau kehilangan gadis itu. Dia ingin Syahdu tetap hidup bersama dirinya.
Sesampainya diatas, Arga berteriak memanggil nama Syahdu. Dia mencari kesegala sisi, namun tidak ia temui.
Arga menengok kebawah, dia takut perempuan itu sudah lompat. Gelapnya malam membuatnya sedikit kesulitan melihat kondisi dibawah. Tapi tidak ada tanda apapun yang membuatnya yakin Syahdu melompat dari atas gedung.
Dia merogoh ponsel di saku celana. Menelepon Syahdu, tetapi tidak aktif.
"ARRGGG!" Frustrasi, Arga berlari lagi kebawah untuk mencari Syahdu. Dia tidak mau kehilangan gadis itu untuk yang kedua kalinya.
Arga masuk kedalam apartemen. Dia mendapati jeket yang sering dipakai Syahdu masih tegantung di dekat lemari. Apakah itu artinya, Syahdu tidak pergi jauh? Ponselnya juga ternyata ada diatas meja.
Tak mau berlama-lama, Arga pun keluar dan mulai mencari Syahdu.
Sementara di tempat lain, Syahdu berdiri menatap sebuah pintu yang berdiri kokoh dihadapannya. Itu adalah kamar Wicak. Tempat dimana ia beberapa hari lalu masih tidur bersama lelaki itu di dalam. Sekarang, semua hanya menjadi kenangan.
"Syahdu."
"Mau masuk?" Tanyanya, kemudian masuk sebentar dan keluar lagi dengan sebuah kunci di tangannya.
"Ini kunci kamar Wicak. Katanya besok pagi orang tua Wicak akan datang untuk mengemasi barang-barang."
Syahdu menerima kunci itu. Dia mengangguk kecil lalu masuk kedalam kamar Wicak.
Khairul menghela napas. Dia bisa melihat keterpurukan Syahdu dari mata yang membengkak dan wajah pucat pasi itu. Dia merasa kasihan pada gadis itu.
Syahdu menatap seisi ruang. Gayanya masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Hanya saja saat ini ada setelan jas hitam tergantung di dinding. Jas itu yang mungkin akan dipakai Wicak untuk sidangnya yang seharusnya berlangsung kemarin, hari dimana ia meninggal dunia.
Syahdu duduk di atas kasur. Dia mengelus sprei yang juga belum diganti Wicak. Dia terbayang sosok lelaki yang memeluknya dengan erat malam itu, dengan bisikan cinta di telinganya.
Syahdu terisak-isak. Suaranya bisa di dengar Khairul yang menunggunya diluar. Air mata gadis itu tidak pernah kering saat mengingat semua hal tentang Wicak yang kini terasa begitu menyakitka.
Syahdu melirik sebuah kertas diatas meja kecil. Itu adalah lokasi desa yang ia dan Wicak ingin tuju. Kampung Bebatu. Syahdu mengambilnya. Dia menyimpan itu kedalam tasnya.
Setelah merasa puas, Syahdu keluar dari kamar itu dengan membawa beberapa barang yang dia perlukan.
__ADS_1
Syahdu berjalan tanpa arah dan tujuan. Malam semakin pekat dan mungkin sebentar lagi akan hujan.
Syahdu berhenti, dia menatap langit. Tiba-tiba saja muncul pertanyaan yang ada di benaknya.
"Kak, apa kakak ketemu sama nenek disana? Apa kalian sedang liat kearahku?" Tanya gadis itu pada langit hitam.
Pipi Syahdu kejatuhan setetes air dari langit. Gadis itu menghapusnya.
"Apa kalian berharap aku mati saja? Supaya kita berkumpul disana?" Suara parau itu terdengar lagi. Syahdu buru-buru menghapus air matanya dan bergegas jalan saat pikirannya mulai kacau. Dia tahu tak mungkin Suriani dan Wicak menginginkannya mati. Mereka pasti mengharapkan Syahdu melanjutkan hidup, walau gadis itu tidak tahu arah dan tujuan langkahnya hendak kemana.
Hujan pun turun dengan deras. Syahdu berlari kencang menuju salah satu halte bis di pinggir jalan.
Dia mengusap-usap lengannya yang sedikit basah. Untung saja dia sempat meneduh sebelum hujan benar-benar deras membasahi dirinya.
Syahdu menatap air yang jatuh dihadapannya. Belakangan memang musim hujan dan di musim inilah kehidupan menyedihkannya bermula.
Sekarang dia hanya perlu menata kembali kehidupannya. Syahdu teringat pada selembar kertas yang sempat diambilnya dari meja Wicak. Desa Bebatu, entah kenapa menarik perhatiannya.
Syahdu memilih duduk. Dia merasa lelah seharian ini. Belum ada 24 jam Wicak meninggalkannya dan ini sangat sulit baginya. Tapi dunia memaksanya untuk berjalan walau ia ingin berhenti.
Lagi-lagi dia teringat karma. Mungkin dia memang harus menjalani ini semua. Sesuatu yang harus ia bayar untuk menebus semua dosanya.
Syahdu menekuk lutut saat ia merasa mulai kedinginan. Angin begitu kencang hingga menyibakkan rambutnya.
Gadis itu hanya menatap kosong kearah dimana hujan menjatuhkan dirinya. Dulu dia pernah mandi hujan bersama Wicak dan itu sangat menyenangkan sekali. Apa itu bisa diulang kembali?
Sebuah tangan mengulur di depannya. Syahdu mendongak dan menatap Arga berdiri dengan tubuh yang sedikit basah. Ia menyugar rambutnya yang basah kebelakang.
"Gue gak terlambat, kan. Padahal baru aja janji untuk terus disamping lo. Untung aja ketemu disini." Katanya dengan senyum khasnya.
Syahdu menatapnya dingin. Tak membalas uluran tangan Arga padanya.
"Besok-besok kalo mau pergi, bilang aja ke gue. Ntar gue temenin kemanapun lo mau. Tapi hari ini, udahan dulu. Udah malem. Kita pulang, yuk." Lanjut lelaki itu lagi.
Syahdu tahu dan kini benar-benar bisa merasakan kasih sayang dan perhatian Arga padanya. Apakah ini sebuah harapan baru? Haruskah ia menerima itu? Tapi, bukankah dia juga nantinya akan ditinggalkan oleh lelaki ini? Mengingat Arga akan bertunangan sebentar lagi.
"Ayo." Ajak lelaki itu lagi saat dilihatnya Syahdu melamun menatapnya.
Syahdu menyambut uluran tangan Arga, kemudian berdiri. Sementara lelaki itu membuka jeketnya dan memayungkannya ke kepala Syahdu dan dirinya. Entah kenapa Syahdu malah melihat senyuman di bibir Arga. Lelaki itu tampak begitu senang padahal hati Syahdu sedang berduka. Tapi dia tak ambil pusing. Syahdu mengikuti langkah Arga yang membawanya menuju mobilnya.
__ADS_1
TBC