
Syahdu turun dari mobil sendirian. Arga menunggunya di dalam, sesuai permintaan gadis itu. Tadinya Arga yang ingin membelikannya. Tapi Syahdu menolak. Dia ingin turun dan membeli sendiri, tak mau repot karena Arga yang berkeliaran tanpa memakai masker dan topi. Tentu itu akan merepotkannya juga nantinya.
Syahdu memesan dua gelas kopi. Dia melirik ke sekitar saat merasa orang-orang di dalam kedai kopi itu memperhatikannya.
'Memang orang-orang ini yang melihatiku atau cuma perasaanku aja?' Batinnya.
Syahdu mendengar suara berisik dari sebelahnya. Dia menoleh saat mendapati dua orang gadis tengah memperhatikannya dengan ocehan mereka. Syahdu tersenyum tipis pada mereka, lalu segera pergi setelah membayar pesanannya.
Terdengar helaan napas Syahdu setelah masuk kedalam mobil. Dia menyerahkan secangkir kopi pada Arga.
"Kenapa, sayang?" Tanya lelaki itu.
"Eng.. aku kaya diliatin gitu dari tadi."
"Sama siapa? Hantu?"
Syahdu berdecak melirik Arga. Hantu apanya. Batinnya.
"Udalah. Perasaan aku aja kali. Ayo, jalan. Ntar mami nungguin lagi."
Setelah menyeruput kopinya, Arga kembali menjalankan mobil menuju rumah Margareth. Sebab Julia yang meminta Arga mengantar Syahdu kesana. Julia ingin Syahdu mendesign sendiri gaun pengantinnya. Memilih sendiri wedding organizer sesuai seleranya.
"Aku ga antar kamu masuk, ya. Aku harus ngisi acara."
"Iya." Syahdu melepas seatbelt-nya dan bersiap turun.
"Syahdu."
"Ya?"
"Kiss?" Arga menunjuk pipinya.
Syahdu mendekatkan wajah, ingin mengecup pipi Arga. Tetapi lelaki itu memutar kepalanya dan menahan tengkuk Syahdu. Arga mellumat bibir bawah Syahdu sampai ia puas. Dan Syahdupun tak melawannya. Ia membiarkan saja apa yang Arga lakukan.
"Aku kayanya pulang tengah malam, sayang. Kamu ga apapa, kan?" Ucap lelaki itu sembari mengusap bibir Syahdu yang basah.
"Ga apa-apa."
"Tidur di kamar aku, oke?"
Syahdu mengangguk, kemudian keluar dari mobil.
Setelah melihat Syahdu masuk kedalam gerbang yang dibukakan penjaga, Arga meraih ponsel diatas dashboard. Ibra mengiriminya sebuah link dimana seseorang mengambil foto Syahdu secara diam-diam di sebuah kafe kopi.
Membaca tulisan disana saja membuat Arga tersenyum lebar. Apalagi dengan respon baik dari pendukungnya. Itu artinya, tidak ada masalah kedepannya, semoga saja, batinnya.
Arga menjalankan mobil menuju tempat yang sudah dijadwalkan untuknya, sementara Ibra sudah menunggunya sedari tadi disana.
__ADS_1
"Lama banget! Lo bisa gak sih, ngehargai waktu gue." Omel Ibra sesaat setelah Arga duduk di meja rias.
"Waktu gue lebih berharga. No time for you, kalo bisa gue mepetin banget-banget ketemu sama lo supaya bisa lama-lamaan bareng cewe gue." Omel Arga balik tanpa menoleh sebab wajahnya mulai dipoles oleh MUA.
Ibra mendecak, lalu duduk di sofa. "Lo udah liat belom, yang gue kirim tadi?"
"Udah."
"Itu gara-gara lo posting wajahnya, makanya semua pada tau. Dah ga bebas lagi tu anak."
"Bagus, deh. Supaya semua orang tau kalo dia cewe gue. Sebel gue liat dia dideketin cowok waktu nunggu gue di basement apartemen." Gerutu Arga mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Lah, wajar dong, dia cakep."
Arga tak lagi menyahut. Dia hanya diam sembari menunggu stylist-nya selesai dengan pekerjaannya.
...🍁...
Arga membuka pintu kamarnya secara perlahan. Lampu sudah redup, namun siluet tubuh yang terbaring diatas ranjang masih jelas terlihat.
Lelaki itu menjatuhkan tasnya diata lantai, lalu merangkak perlahan diatas tempat tidur, lalu merebahkan diri tepat disebelah Syahdu. Ia kecup kening gadis itu hingga Syahdu bergerak, lalu pulas kembali. Arga tersenyum, ia mengelus rambut Syahdu perlahan namun malah membuat gadis itu membuka matanya perlahan.
"Ga.." Suara berat Syahdu terdengar, membuat hati Arga berdebar. Lagi-lagi ia mengecup kening Syahdu lalu mengungkungnya seolah tak ingin gadis itu lari darinya.
"Syahdu.."
"Jangan tinggalin aku, ya." Arga merebahkan kepalanya di dada Syahdu. Hatinya sendu, sebab ia telah mendengar berita tak mengenakkan hari ini.
"Kamu.. jangan pilih cowo lain, ya. Aku akan berusaha jadi yang terbaik buat kamu. Janju ya, Syahdu, jangan pergi lagi."
Perlahan Syahdu membuka matanya. Sempat timbul pertanyaan dalam benaknya, apa yang terjadi sampai Arga seperti ini? Tetapi Syahdu menyimpan pertanyaan itu. Dia memilih menutup matanya lagi sebab ia sangat mengantuk.
"Aku ga mau kehilangan kamu lagi, Syahdu. I love you so much.."
"Love you too.." jawab Syahdu berbisik dan matanya menutup.
Arga mendongak, diperhatikannya lagi Syahdu yang tertidur.
"Kamu cinta kan, sama aku?"
"H'mm.." jawab Syahdu sekenanya.
Arga bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama dan Syahdupun menjawab singkat. Lelaki itu tidak merasa puas. Dia terus mendesak Syahdu dengan segudang pertanyaan tentang perasaannya sampai Syahdu kesal dan membuka matanya.
"Kamu mau aku jawabnya kaya gimana supaya kamu senang?"
__ADS_1
Arga diam. Dia juga tidak tahu. Nampaknya beberapa lalu dia melakukan kesalahan sampai saat ini banyak lelaki yang memuja-muji Syahdu di sosial media.
"Aku.. cuma ga mau kamu pergi lagi kaya hari itu.." jawabnya dengan nada lemah. Wajah sendu Arga membuat Syahdu tak mengantuk lagi.
"Aku ga pernah pergi dari kamu, sayang." Syahdu meyakinkan. Dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Arga yang berada di atasnya.
"Aku sayang dan cinta banget sama kamu, Ga. Makanya aku setuju nikah dan berumah tangga bareng kamu. Aku juga ga sanggup kehilangan kamu."
Syahdu menarik Arga untuk mendekat ke wajahnya, lalu mencium bibir lelaki itu. Syahdu bisa merasa bahwa Arga hanya diam, tak membalasnya.
"Kenapa?" Tanya Syahdu saat tak merasakan sensasi seperti biasa. "Kamu ada masalah?"
Arga melepaskan kaitan tangan Syahdu di lehernya, lalu duduk di tepi ranjang.
"Kamu ketemu siapa hari ini?" Tanya lelaki itu.
Syahdu merasa hawa mulai gerah. Dia tahu ada yang tak beres saat ini. Gadis itupun duduk dibelakang Arga.
"Hari ini aku ke butik temen mami kamu. Ketemu banyak temennya disana. Tadi aku udah nentuin gaun buat pernikahan kita, cuma katanya 2 minggu lagi baru bisa kita coba. Dekor dan lainnya juga aku udah pilih. Soalnya mami kamu minta aku yang pilih semua. Trus juga-"
"Aku tanya, kamu ketemu siapa hari ini?" Sela Arga ditengah penjelasan Syahdu.
"Aku ketemu temen-temen mami kamu, Ga.."
"Cowok?"
"Ngga ada. Cowok yang man..." Syahdu menjeda kalimatnya setelah memorinya berhasil mengingat seseorang saat di butik tadi.
"Ah, ada satu. Anak temennya mami kamu. Dia ada disana trus dikenalin biasa ke aku. Kamu tahu dari mana? Kamu cemburu? Dia tau kok aku mau nikah."
Melihat Arga tak bergerak, Syahdu memeluknya dari belakang.
"Jadi itu yang buat kamu kaya gini?" Syahdu menempelkan pipinya di punggung Arga. "Kami emang kenalan, tapi sekedar doang. Karena dia ada disana juga nganter mamanya. Kamu jangan cemburu, ya. Aku ga pernah punya niatan apapun apalagi kita mau nikah. Kamu tau aku, kan, Ga?"
"Iya. Tapi ga perlu sampe foto-foto segala, lah!"
Syahdu tersentak. Foto? Seingatnya, dia tak ada foto dengan siapapun tadi.
"Aku ga tau ada foto apa. Tapi kayanya itu diambil tanpa sepengetahuanku." Syahdu mengeratkan pelukannya. "Ga.. kamu pernah denger kan, katanya setiap pasangan yang mau menikah selalu diuji dengan berbagai hal. Mungkin kita juga lagi diuji. Yang penting kamu percaya aku, kan?"
Arga tahu Syahdu tak mungkin melakukan itu. Dia percaya Syahdu, tapi tidak dengan lelaki itu.
Arga akhirnya membalikkan badan. Dia memeluk Syahdu. "Maaf.." ujarnya.
"Aku ga suka kamu dekat dengan laki-laki manapun. Apalagi dia naksir sama kamu."
"Aku udah milik kamu sepenuhnya." Ucap Syahdu meyakinkan Arga ditengah cemburu butanya.
__ADS_1
TBC