SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Keputusan Akhir Karir


__ADS_3

Arga menggandeng Syahdu berjalan di lorong gedung apartemen. Wajahnya cerah ceria karena kini ada gadis impian disebelahnya yang akan menemaninya manggung malam ini. Untuk pertama kali, di malam ulang tahunnya pula.


Tadi, Arga sudah bilang kalau acara akan memakan waktu sampai tengah malam. Dan menurut tebakan Arga, akan ada pesta perayaan ulang tahunnya pukul 00 seperti yang sudah-sudah.


Sesampainya di basement, Ibra sudah berdiri menyambut mereka, tepatnya Syahdu yang sudah lama sekali tak ia lihat wajahnya.


"Syahduuu, akhirnya..." Ibra hendak memeluk temannya itu, namun tubuhnya ditahan oleh tangan Arga.


"Mau ngapain lo?"


"Peluk, lah. Temen gue, ini." Jawab Ibra.


"Ngga ada peluk-peluk. Minggir lo!" Ketus Arga, membuat Ibra rasanya ingin menonjok lelaki itu kalau saja dia tidak butuh pekerjaannya yang sekarang.


Arga membukakan pintu belakang, meminta Syahdu untuk masuk dan disusul olehnya.


"Seneng banget tampang lo!" Celetuk Ibra yang melihat Arga dari spion depan. Dia kemudian fokus lagi ke jalan di depannya.


Arga tak menyahut. Pandangannya kini kearah Syahdu yang tampak takjub dengan perubahan kota yang semakin maju.


Arga mengeratkan genggaman yang sejak tadi tak ia lepas. Dia memang belum mendengar ucapan sayang dan cinta dari Syahdu untuknya. Tetapi dia bisa merasakan bahwa Syahdu juga punya perasaan yang sama.


"Aku turun di depan." Ucap Syahdu tiba-tiba.


"Lho, kok turun? Katanya mau temenin aku manggung." Protes lelaki itu.


"Aku ngga mau jadi pusat perhatian kalau turunnya sama kamu." Ucapnya pada Arga. "Di depan aja ya, Ib.."


"Syahdu.."


"Aku ngga lari, Ga. Aku disekitaran sini." Kata Syahdu saat menyadari reaksi Arga yang tak ingin tangannya terlepas dari Syadu.


"Oke. Tapi tunggu disini dulu sampe orang kepercayaanku datang buat jagain kamu." Ujarnya pada Syahdu, lalu beralih pada Ibra yang sudah menepikan mobil. "Suruh mereka kesini." Titahnya pada Ibra.


Mata Syahdu membulat. Mereka? Berapa orang memangnya penjaga yang diberikan Arga untuk Syahdu? Lelaki itu benar-benar tak ingin ditinggal untuk kedua kalinya.


Tak lama menunggu, empat orang wanita berpakaian santai dan kacamata hitam turun dari mobil. Mereka mendekat ke mobil Arga, lalu menunduk saat Arga menurunkan kaca mobil.


"Jangan sampe lecet!" Tukas Arga pada empat orang yang lalu mengangguk.

__ADS_1


"Mereka akan jagain kamu selama ada di kuruman orang-orang. Aku selalu pegang Hp, jadi kalau ada apa-apa hubungi aku, jangan Ibra."


Syahdu mengangguk saja walau dia merasa Arga teramat berlebihan padanya.


Gadis itu turun, lalu melangkah mengikuti Syahdu yang masuk kedalam mobil di depannya. Argapun pergi sampai melihat mobil yang ditumpangi Syahdu juga bergerak dari tempatnya.


~


"Malam semua."


Sambutan yang begitu singkat, namun berefek luar biasa. Seluruh penonton bersorak dan para gadis menjerit menyambut suara Arga yang menggema.


Syahdu sampai tak bisa melihat Arga dengan tenang karena orang-orang di depannya melompat-lompat girang.


Arga pun terkekeh kecil diatas panggung melihat reaksi penggemarnya. Tak lupa matanya menyisir penggemar yang begitu ramai dengan cahaya lampu yang cukup terang sampai Arga bisa melihat wajah-wajah dibawahnya. Namun dia belum menemukan Syahdu walau kata pengawalnya, Syahdu sudah berada di bawah panggung ikut menontonnya.


"Gue.. mau bilang sesuatu. Ehmm." Arga berdehem, sebelah tangannya memegang leher gitar yang sudah ia kalungkan di pundaknya. Sebelah lagi memegang mic yang berdiri di depannya.


"Mungkin ini bakalan jadi tahun terhebat buat gue. Setelah berhasil sampai disini, dengan banyaknya lagu yang gue ciptain, akhirnya gue berhasil menemukan apa yang selama ini memotivasi gue buat jadi yang kaya sekarang."


Semua penonton tenang mendengarkan Arga. Mereka juga ingin tahu apa yang ingin disampaikan lelaki itu.


"Kenapa gue bilang ini bakalan jadi tahun terhebat, yang mungkin jadi ulang tahun yang spesial buat gue.. karena.. gadis yang gue cari akhirnya dateng lagi."


"Emmm.. by the way, dia ada disini juga. Hehe." Lelaki itu terkekeh senang walau dia belum bisa melihat Syahdu ada dimana sekarang. Namun ia yakin Syahdu melihatnya.


"This song belongs to you." Ucap Arga yang kemudian mendapat banyak sorakan dan sambutan yang meriah.


Arga mulai memetik gitar dan bernyanyi dengan suara penggemar yang begitu ramai.


Syahdu diam menatap lelaki yang penuh kebahagiaan di hatinya itu. Syahdu senang, tetapi dia juga punya beban. Waktunya di kota ini hanya 4 hari lagi dan dia belum bilang bahwa ia akan kembali lagi ke desa asalnya. Syahdu belum bilang tujuannya datang untuk apa. Dia kini bingung dengan posisinya. Dia masih ingin kembali pada Nani, tetapi juga tak ingin Arga bersedih lagi.


Syahdu meresapi bait demi bait lirik lagu Arga. Hatinya bergetar saat ternyata Arga menemukannya. Mata lelaki itu terus tertuju kearahnya sambil bernyanyi dengan senyuman diatas panggung. Kebahagiaan lelaki itu, apa dia tega merusaknya (lagi)?


Beberapa lagu sudah Arga nyanyikan. Dia pun sudah berganti pakaian baru. Lagi, matanya menangkap Syahdu yang masih setia berdiri melihatnya dari jarak yang tak begitu jauh. Mata Syahdu juga tak berkedip seiring dirinya yang tengah dilanda dilema besar.


"Syahdu.."


Mata Syahdu membulat. Arga.. menyebut namanya dari atas sana.

__ADS_1


Lelaki itu tertawa. "Entahlah. Hari ini gue pengen terus menyebut satu nama yang udah lama banget ada di benak gue. Malam yang Syahdu ini, gue pengen kalian angkat tangan untuk lagu pertama yang gue ciptain. Why don't you stay.."


Arga mulai lagi memetik gitar dan bernyanyi. Kini dia menutup mata, seperti biasa, lagu ini merasuki jiwanya. Dibuat saat ada Syahdu, untuk Syahdu, dan sekarang gadis itu ada dihadapannya.


Sudah memasuki pukul 12 malam, Arga hendak mengakhiri perform-nya. Namun tiba-tiba semua lampu mati, membuat penonton seketika berisik karena kaget akan gelap gulitnya tempat itu.


Lampu kembali hidup, membuat wajah Arga terlihat lagi. Namun tanpa ia sadari, dibelakangnya sudah ada kue tingkat yang melebihi tinggi tubuhnya.


"Happy Birthday, Argaxanderr. Yeaaaa." Sorak penonton bersamaan dengan topi dan berbagai aksesoris ulang tahun yang sudah terpakai ditubuh mereka.


Arga menoleh kebelakang dan tertawa melihat apa yang ada disana. Wajah Arga juga tertampil di layar panggung bersamaan dengan nyanyian ulang tahun dari para penonton yang ada disana.


Kini mata lelaki itu kearah Syahdu. Dia bahagia melihat gadis itu masih setia melihatnya dari jauh.


"Thank you. Gue.. ngga tau harus bilang apa lagi. Karena.. gue ngerasa ulang tahun kali ini ngga buat gue truama lagi hehee.."


Tepuk tangan meriah dan sorakan buat Arga masih terdengar. Dia melakukan semua yang penggemar minta. Mulai dari menjawab berbagai macam pertanyaan, selfie bareng penggemar, potong kue, juga yang terakhir, harapan dan doanya di ulang tahun yang sudah memasuki kepala tiga itu.


"Kalau itu..." Kembali mata Arga mengarah pada Syahdu.


"Aaakkk dia liat kearah kita, ka Arga liatin kitaaa.." Pekik gadis-gadis yang berdiri didepan Syahdu.


"Harapan gue sekarang adalah hidup bahagia dengan syahdu. Tenang, damai, tanpa ada lagi masalah panjang. Gadis yang selama ini gue harepin dan gue tunggu, dateng tepat di hari ulang tahun gue. Yang gue tau, dia pasti ingin gue ngehapus momen tersedih dalam hidup gue yang tepat berada di hari ulang tahun gue. Dan sekarang, dia ada diantara kalian, nonton gue, nemenin gue..."


Suara berisik mulai lagi terdengar. Penonton menoleh kiri dan kanan memastikan siapa yang ada di dekat mereka, gadis yang mana yang dimaksud oleh Arga itu. Tak sedikit pula terdengar suara kecewa dari penggemar lainnya.


Syahdu mengulum senyum. Dia tak tahu harus bersikap bagaimana saat Arga menceritakan dirinya di depan banyak orang. Terlebih, entah sadar atau tidak orang-orang ini bahwa Arga sudah menyebut nama gadis itu.


"Hm... satu lagi yang mau gue sampein ke kalian semua. Mungkin ini terdengar mendadak, tapi ini memang udah gue plan-in sejak awal karir gue di dunia hiburan. Bahwa gue memutuskan untuk mengakhiri karir gue di bidang musik dan Entertain ini.."


Terdengar lagi suara kecewa dari semua yang ada disana. Tak terkecuali Syahdu. Dia tak tahu, dan Arga juga tidak cerita soal ia yang memutuskan untuk berhenti menjadi penyanyi seperti sekarang.


"Jadi, sejak awal gue jadi artis adalah supaya memudahkan gue mencari cewek yang sayang. Kalau orangnya udah ketemu, gue mau berhenti dan... nggak lagi bekerja di dunia entertain. Maaf banget, tapi emang ini keputusan yang sejak awal gue buat. Dan.. dalam seminggu ini, gue masih akan ngehibur kalian. Karena pekan depan, gue mau fokus lagi di perusahaan dan memulai hidup baru dengan... Syahdu."


Syahdu terpaku. Ucapan Arga tidak didiskusikannya terlebih dahulu seolah ia tahu bahwa Syahdu akan menetap bersamanya. Padahal, bukan itu rencana gadis itu. Tentu kalimat Arga juga membuat Syahdu seolah tak bisa bernapas.


Syahdu keluar dari kerumunan dan itu, tentu saja dilihat oleh Arga. Lelaki itu kemudian menutup acaranya dan berlari mengejar Syahdu.


__ADS_1


TBC


**guys kalo ada typo atau kebingungan sama kalimatnya tolong komen di kalimat itu yee. Gua ngga baca2 ulang karena hayati lelah wkwkw. Eitts jangan takut ini itu.. 'Thoorr syahdu gini dong. Thorr Arga gitu donggg..' sabarrr pemirsa. Cerita ini udah gw susun dan sejauh ini lumayan sesuai dgn skrip sampe tamat ya. Beda dgn novel Menikahi Lelaki Tunanetra yang komplikasi ceritanya dadakan dan ending yang dikarang detik itu juga. Yaa mudah2an Syahdu bisa memuaskan pembaca ngelebihi novel lainnya ya peeeennn.. Sorry kalo telat up soalnya gw skrg kurang tidur banyak kerjaan. Kantung mata gw dah kekpanda. Udah ah malah curhat. Jangan lupa VoTEEE WOYY VOTEEE!! Maksa nih gw**


__ADS_2