
"Syahdu." Arga meraih lagi tangan gadis yang kini sudah berderai air mata. Beban di pundaknya memberat saat Arga tak mau melepaskannya. Sementara dia takut dengan ancaman ayah lelaki itu.
"Gue ga tau apa yang dia bilang sampe lo mikir buat pergi, tapi gue ga akan biarin lo pergi gitu aja." Ucap Arga, dan Syahdu hanya menangis menatapnya.
Arga menyugar rambutnya kebelakang dengan kesal. Dia sampai memiringkan badannya demi menghindari tatapan sendu Syahdu.
"Pulanglah, Ga. Aku mau sendiri."
"Syahdu." Tangan Arga yang meraih Syahdu, namun dilepaskan perlahan oleh perempuan itu.
"Aku ga pergi, aku akan disini sampe kontrak itu habis." Syahdu berbohong supaya Arga mau pergi dari sini. Dia menghapus air matanya. "Aku janji. Tapi pergilah dari sini. Aku perlu waktu sendiri." Sambungnya lagi.
Perasaan kecewa dan marah bercampur menjadi satu di hatinya. Namun Arga menuruti gadis itu dan melangkah pergi walau sebenarnya ia masih ingin berada di dekat gadis itu.
Syahdu masuk ke dalam kamar. Dia mendapati neneknya yang sejak tadi sudah meringis memegangi dadanya.
"Nek, kenapa, nekk!" Gadis itu langsung panik dan memencet tombol merah di tembok.
"Nenek.. Nenek kenapa!?" Lagi, Syahdu memencet tombol merah beberapa kali dengan tangan gemetar.
Suriani hanya memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Dia pula tak bisa mengatakan apapun karena sakit dibagian jantungnya yang teramat sangat.
"Nenek.. nenek kenapa!" Syahdu semakin kalut saat Suriani tidak mengatakan apa-apa kecuali air mata yang mengalir dan tangan yang menggenggam erat jari-jarinya.
"Dokteeer! Dokteeerr!" Syahdu berteriak dari dalam, dia tak bisa meninggalkan Suriani yang terus menggenggam tangannya.
"Dokteerr cepaatt!" Air mata Syahdu tumpah kembali. Seketika hatinya terasa patah melihat neneknya kembali mengalami kondisi kritis ini. Pikiran gadis itu juga sudah kacau, dia merasa nyawa Suriani seperti sudah diujung.
"Neekk.. hiks." Syahdu menunduk, "Jangan tinggalin Syahdu.. jangan tinggalkan Syahdu.." Isaknya dengan tangan yang masih memegangi Suriani.
Dari luar, beberapa perawat berlari menuju lorong vvip. Arga yang sejak tadi berjalan menunduk, sampai mengangkat kepalanya saat perawat dan dokter berlari melewatinya. Tentu itu membuatnya penasaran, apalagi mereka masuk ke dalam ruangan Suriani.
"Sebentar, biar saya periksa." Ucap dokter jaga yang baru saja masuk.
Dokter jaga itu melakukan serangkaian pemeriksaan, sementara Syahdu hanya bisa menangis tergugu apalagi Suriani tampak menahan kesakitannya.
__ADS_1
Brankar Suriani didorong beberapa suster keluar ruangan.
"Dok, mau dibawa kemana nenek? Nenek kenapa?" Teriaknya sambil menarik lengan sang dokter.
Dokter itu menarik napas, lalu menepuk-nepuk tangan Syahdu yang menggenggam lengannya. "Ibu Suriani akan dibawa ke ruang ICU untuk dipasangi alat. Saat ini, dia mengalami kesulitan napas akibat jantungnya yang kambuh. Saya akan melakukan serangkaian tes untuk melihat kondisinya lebih dalam."
Syahdu sampai menutup mulutnya. Dia tak paham kenapa masalah hari ini sangat berat dan besar. Dokter keluar ruangan untuk menyusul Suriani, sementara Syahdu terduduk disana.
Dia tak sanggup berdiri karena batin yang mengatakan bahwa hari ini mungkin akan menjadi hari terburuk dalam hidupnya.
Arga datang, dia melihat Syahdu yang sudah menangis sesegukan. Dia langsung berjongkok memeluk Syahdu. Dia tahu keadaan gadis itu sangat tidak baik-baik saja.
Syahdu menangis dengan jeritan. Dia tidak bisa menahan dirinya, melihat Suriani seperti tadi membuatnya merasakan bahwa umur neneknya tidak akan lama.
Padahal dia akan pergi besok. Dia ingin lari dari semuanya. Kenapa malah nenek jatuh sakit lagi? Syahdu bahkan tak sadar bahwa Arga sejak tadi memeluknya, mendekapnya erat. Keberadaan Arga tak lagi nampak. Di matanya hanya bayangan Suriani yang menangis. Suriani yang menahan sakit di jantungnya.
"Mbak.. Syahdu.." Suster Dewi berdiri di depan pintu. "Nenek..." Mata suster Dewi berkaca-kaca.
Syahdu langsung berdiri. Suster Dewi tidak mengatakan apa-apa kecuali jari-jarinya yang ia remas karena rasa sedih dan bersalah.
Syahdu sudah melihat dokter Fahri yang biasa menangani nenek berdiri di depan ruang ICU bersama perawat. Saat Syahdu ingin masuk, namun langkahnya dihalangi oleh dokter Fahri.
"Syahdu."
"Dok, aku mau liat nenek. Gimana nenek, dok. Dia selamat, kan??! Jawab, dok." Syahdu tersedu-sedu. Teriakannya bahkan membuat beberapa yang lewat melihat kearahnya. Tapi tak ada yang gadis itu pedulikan selain neneknya.
"Syahdu, dengarkan saya dulu."
Air mata membanjiri baju Syahdu. Dia menutup telinga sambil terisak. "Jangan bilang... jangan bilang dia meninggal."
Dokter Fahri sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya saat sepertinya Syahdu sudah tahu jawabannya. Dari belakang, Arga datang. Dokter Fahri langsung memberitahu Arga soal berita itu. Arga mematung menatap Syahdu yang terus menutup telinganya.
"Saya permisi dulu." Ucap dokter Fahri dan melangkah pergi bersama perawatnya.
Arga membalikkan tubuh Syahdu menghadap kearahnya.
__ADS_1
"Syahdu."
Syahdu tergugu. Dia bahkan menutup matanya dan terus menangis.
"Nenek ga boleh mati..." Syahdu menggelengkan kepala. "Aku belum siap kehilangan nenek."
Arga memeluknya saat Syahdu mulai merasa tenaganya sudah habis. Dia menjatuhkan diri dan terduduk dalam pelukan Arga. Lelaki itu dengan erat mendekap Syahdu yang menjerit seolah tahu kepergian neneknya padahal dia belum mendengarnya.
Suriani meninggal dunia. Jantungnya tidak bisa bertahan dalam deguban yang amat keras saat mengetahui fakta bahwa Syahdu mengorbankan dirinya demi pengobatannya. Dia merasa sangat bersalah. Sementara Syahdu, perasaannya hancur berantakan karena ditinggal satu-satunya keluarga yang tersisa dalam hidupnya. Tidak ada orang lain, kini Syahdu hidup sebatang kara.
...🍁...
Syahdu duduk terdiam di depan jasad Suriani yang terbaring diatas brankar berselimut kain putih. Wajah pucat itu terus ditatap oleh Syahdu. Dia tidak lagi bisa berkata-kata.
Syahdu tak mengerti kenapa beban hidupnya sebesar ini. Satu langkah lagi saja dia akan bebas. Tapi sang Pencipta bahkan tak mengizinkannya hidup dengan tenang. Sekarang, dia kehilangan neneknya. Dan apa yang di hadapannya adalah saat terakhir untuknya menatap wajah Suriani.
Bulir bening di matanya jatuh lagi. Saat ini ia merasa kehilangan arah dan tujuan hidup. Dia ingin sekali pergi menyusul sang nenek. Dia tak tahu hidup harus untuk apa, semua sudah sangat kacau bahkan harga dirinya sudah tidak ada lagi di tubuhnya.
"Tega sekali." Lirihnya sembari menghapus air yang mengalir ke dagunya. Dia merasa neneknya jahat, tega meninggalkannya di kala sulit dan sendirian. Padahal dia belum sanggup hidup sendiri.
"Bisa bangun dan peluk aku?" Lirihnya lagi. Matanya tak putus menatap wajah neneknya untuk yang terakhir kali.
"Aku janji akan kuliah dan lulus. Katanya mau lihat aku pakai toga. Katanya mau temani aku sampai menikah."
Syahdu tersenyum kecil lalu menunduk. Miris, dia berbicara sendiri pada manusia yang ruhnya sudah naik keatas langit. Janji itu juga tidak berguna sekarang.
"Tidak ada nasihat untukku? Aku diambang kehancuran. Aku sendirian. Setega itukah."
Syahdu tak kuasa menahan sesak. Dia menutup wajahnya, lalu menangis tersedu-sedu. Hancur perasaannya, sakit hati dan jiwanya saat ini karena kepergian nenek yang begitu mendadak.
Tadi, 10 menit yang lalu, neneknya masih tertidur pulas di dekatnya. Suara napasnya bahkan masih bisa ia dengarkan. Tapi kenapa.. kenapa sekarang.. Syahdu terisak-isak. Dia benar-benar kehilangan seorang yang paling berharga dalam hidupnya.
Wicak datang langsung memeluk Syahdu yang masih menyembunyikan wajahnya. Kedatangan Wicak justru membuat Syahdu melepaskan tangisan terpilunya. Dia tergugu, seolah dunianya runtuh dan hancur berkeping-keping. Untuk pertama kali, Wicak tak bisa menenangkan Syahdu yang berderai air mata dengan segala kepedihannya.
TBC
__ADS_1
Oh hei, jangan lupa Vote🙌