
...Playlist: Andai Kau Datang - Andmesh🎧...
"Bangkit lo, Brengsek! Gua ga akan ampunin sampe lo sekarat sekalipun!!" Sentaknya keras dengan napas yang memburu karena emosi yang kini sudah berada di puncaknya.
Arga bangkit. Dia mengelap darah yang keluar dari hidungnya.
"7 taun gue ngejalanin hubungan. Selama itu gue gak pernah nyentuh dia sedikit pun. Gue jaga kehormatannya. Dan lo..." Wicak menunjuk wajah Arga dengan rahang mengeras. Perasaan kalut mendadak muncul saat mengingat apa yang sudah Arga lakukan pada kekasihnya.
Arga kini mengerti. Ternyata Syahdu sudah menceritakan tentang hubungan yang selama ini mereka jalani.
Wicak meraih kerah baju Arga dan mencengkramnya dengan kuat.
"Bajingan!" Satu hantaman keras membuat Arga lagi-lagi terjatuh. Dia tak diam, Arga bangkit dan memberikan satu tinjuan di wajah Wicak.
"Bangsat!" Pekik Wicak lagi.
Perkelahian dua orang itu terjadi. Beberapa orang yang menyaksikan tak ada yang berani melerai.
"Kenapa, hah. Lo ga mau nerima dia?" Arga meludahkan darah yang ada di mulutnya.
Wicak menatapnya dengan napas terengah.
"Kalo lo buang dia, gue yang nampung. Gue yang akan jagain dia. Gue yang akan nerusin hubungan lo sama dia, gimana?"
Ucapan Arga memancing kemarahan besar bagi Wicak. Lagi-lagi dia meninju wajah Arga sampai terjatuh. Lelaki itu duduk diatas tubuh Arga dan menghajar Arga dengan membabi buta.
Arga pasrah dibawah. Tubuh besar Wicak membuatnya tak berdaya.
Sekali lagi, Wicak mencengkram baju Arga hingga membuat kepalanya terangkat. "Lo denger baik-baik, bangsat. Sampe kapanpun gue ga akan nyerahin Syahdu sama orang kayak lo. Gue akan bawa dia jauh dari lo. Sampe kapanpun gue ga akan ninggalin Syahdu dan akan pertahankan dia sampe gue mati!" Wicak melepaskan cengkramannya dengan kasar.
Dia bangkit dan berjalan sempoyong. Orang-orang yang ada disana tidak berani mendekati Wicak. Amarah lelaki itu benar-benar membuat mereka bergidik. Sebagian lain menghubungi penjaga bar dan membawa Arga ke rumah sakit.
Wicak berjalan lambat sembari memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan Arga. Tidak ada rasa lega walau dia sudah menghajar lelaki itu sampai terkapar sekalipun. Dia tidak juga merasa tenang.
Wicak bersandar di tiang listrik pinggir jalan untuk mengambil napas. Dia sudah bertekat untuk menerima Syahdu. Dia akan menikahi gadis itu dan pergi jauh dari kota ini. Dia tak mau membuat Syahdu dan Arga bertemu. Dia akan membawa Syahdu jauh dan hidup bersamanya dengan bahagia.
Dia tahu Syahdu mencintainya. Dia akan mengingat bahwa gadis itu melakukannya dengan terpaksa. Dia sangat yakin dan bisa melihat itu. Rasa cinta yang amat dalam untuk gadis itu membuatnya takluk pada Syahdu.
Ponsel Wicak berbunyi. Dia menyeret langkah berat sembari mengangkat telepon dari Khairul.
'Cak. Lo dimana? Katanya sebentar, kok lama banget. Buru, Cak. Mau hujan, nih.'
Jalan Wicak terhenti, dia mendongak menatap langit. Gemuruh petir pun menyala sekilas.
'Cak..'
Wicak tersadar. Dia melanjutkan langkah menyebrang jalan.
__ADS_1
"Lo pulang duluan aja. Gue mau ke suatu tempat."
'Kemana? Gue jemput, deh.'
"Ngga usah. Gue lama. Ntar gue hubungin lagi, oke?"
Wicak menoleh saat suara klakson mobil nyaring terdengar dan lampu dim menyilaukan pandangannya. Truk besar melaju kencang membuat Wicak tak bisa mengelak. Dalam hitungan detik, tubuh Wicak tercampak cukup jauh.
Wicak tergeletak pasrah dengan tubuh yang berlumur darah. Matanya setengah terbuka. Telinganya masih bisa mendengar bunyi klakson yang tidak berhenti dan orang-orang yang menjerit.
Tapi Wicak tak bisa bergerak. Dia hanya melihat keatas langit hitam yang sudah meneteskan air hujan. Wicak melihat Syahdu dalam pandangannya. Senyum dan kelembutan Syahdu. Suara dan tawa Syahdu, dia mencintai gadis itu.
Gambaran Syahdu yang indah membuatnya ingin menyentuh gadis itu. Wajah itu tepat berada di depan wajahnya dengan tawa dan rambut yang tertiup angin.
Wicak tersenyum, sudah dua hari tidak bertemu Syahdu membuatnya sangat rindu hingga tanpa sadar air mata Wicak mengalir melalui pilipisnya.
Tangan Wicak naik, dia ingin menggapai Syahdu yang terlukis dalam ingatannya. Wicak menangis sambil tertawa. Bagaimanapun perjalanannya dengan Syahdu sangat panjang dan penuh rintangan. Bukan hal mudah baginya untuk melepaskan gadis itu. Tidak, ia tak mau melepaskannya.
Bau amis darah segera menyadarkan lelaki itu. Rasa sakit mulai menguasai dirinya. Air mata Wicak tak kunjung reda bercampur air hujan yang semakin deras, membuat Wicak juga semakin merindukan Syahdu, dia mencintai gadis itu. Dia ingin bertemu Syahdu.
Perlahan tangan Wicak turun dan pandangan gelap datang bersama sirine ambulan yang kian mendekat. Air hujan telah membasahi tubuh dan mengalirkan darahnya. Wicak tiba-tiba melihat satu bintang muncul dalam gelapnya pandangan, hingga akhirnya matanya benar-benar tertutup.
...🍁...
Arga menyandarkan kepala dan punggungnya di brankar. Baru saja Arvian dan teman-temannya yang lain pulang karena dia yang mengusirnya. Lantaran Arga saat ini hanya ingin sendirian.
Arga teringat ucapan lelaki itu, bahwa dia telah menerima Syahdu. Itu sudah bisa ia tebak. Sebagai laki-laki, Arga sendiri bisa merasakan bagaimana perlakuan Wicak pada kekasihnya.
Lelaki itu berbesar hati menerima Syahdu, bukankah itu bagus? Tapi kenapa mendengar itu batinnya tersiksa. Mereka akan menikah dan pergi jauh dari kota ini.
Arga memejamkan mata. Rasa sakit di tubuhnya saat ini tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di hatinya. Sebenarnya dia harus menerima ini karena memang seperti inilah seharusnya. Jika kontrak selesai, maka Syahdu bebas dan pergi dari hidupnya. Tapi kenapa rasanya berat sekali?
Suara pintu terbuka membuat Arga juga membuka mata dan mendapati wajah panik maminya diambang pintu.
"Xander! Astagaa. Apa yang terjadi??" Julia mendapati Arga duduk bersandar diatas brankar dengan beberapa lebam di wajah, kepala yang diperban, juga tangan yang dibalut gips.
Julia langsung panik melihat kondisi anaknya yang ternyata sangat parah.
"Mami, kenapa kemari." Sambutnya dengan malas.
"Cepat bilang sama mami, siapa yang udah ngehajar kamu kaya gini, hah?"
"Ga ada mi, Arga ketabrak motor."
"Tabrak motor apanya wajah kamu lebam-lebam begitu!" Sentak Julia kesal.
Margereth masuk, dia mencoba lebih tenang dari Julia.
__ADS_1
"Mama, lihat Xander. Pokoknya mami ga mau tau, ya. Siapapun yang buat kamu kaya gini, akan mami beri dia pelajaran." Oceh Julia menggebu-gebu.
"Mami, udahlah. Arga ga apa-apa, kok!"
"Ga apa-apa, apanya!"
"Jul, kalau Arga bilang ga apa-apa, artinya memang ga apa-apa." Sahut Margareth tak mau ambil pusing. Baginya anak laki-laki berkelahi adalah hal biasa.
"Kamu adu jotos sama siapa? Rebutin perempuan?" Tanya Margareth pada cucunya.
"Apa? Kamu rebutin perempuan??"
"Aduuuh. Ini apa-apaan, sih. Arga itu mau tenang, Mi, Oma. Kenapa datang malah bikin stres." Keluh Arga.
"Ih, anak ini! Mami tuh, panik, khawatir sama kamu!"
Pintu terbuka kembali, semua mata mengarah kesana. Soraya langsung masuk dan panik melihat Arga. Sementara lelaki itu membuang wajahnya.
"Ngapain pake datang segala, sih." Gerutunya.
"Ya ampun, Argaa.. kenapa bisa begini??" Soraya mendekat, berusaha menyentuh wajah Arga namun lelaki itu menyinkirkan tangan Soraya.
"Soraya, kamu kan, calon dokter. Jadi, kamu yang rawat Arga. Sebentar lagi mau tunangan, jangan sampe wajah Arga masih babak belur." Ucap Julia yang ingin anaknya dan Soraya bisa lebih dekat karena akan menikah.
"Nggak. Gue mau pulang." Tolak Arga.
"Ga boleh. Kamu harus sembuh dulu baru pulang." Larang Julia.
"Tante, Oma, tadi Soraya udah minta rekaman cctv-nya dan akan Soraya laporin ke polisi." Ujar gadis itu, berharap mendapat dukungan dan menyentuh hati Arga. Namun bukannya senang, Arga justru marah.
"Lo apa-apaan, sih! Gue ga butuh bantuan lo dan lo ngga perlu lapor-lapor!" Bentak Arga dengan berang.
"Alexander! Kenapa kasar begitu pada Soraya?!" Julia sampai membentak anaknya yang ia anggap tak tahu terima kasih.
"Kenapa? Apa karena yang ngehajar kamu itu cowok Syahdu?" Soraya memulai topik panasnya.
"Apa? Cowok Syahdu?"
Arga menatap tak suka pada gadis itu. "Mending lo keluar. Semua keluar. Gue mau istirahat!"
"Aku temenin, ya."
"Nggak!" Sentak Arga dan membuat Soraya kesal berkali-kali dibentak Arga.
"Keluar, gue mau tidur." Katanya sambil membaringkan tubuh. Arga membelakangi semua orang yang ada disana, dia tak ingin diganggu terlebih Soraya. Arga menutup mata dan membukanya kembali saat mendengar semua orang keluar dari ruangannya.
TBC
__ADS_1