SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Bertemu Setelah Sekian Lama


__ADS_3

Arga masuk menerobos pintu pemeriksaan Redsky. Para penjaga pun tak menghalanginya sebab mereka mengenal siapa sosok yang kelihatan terburu-buru itu. Dibelakang, Ibra ikut berlari mengejarnya.


Arga bergegas, dengan hati yang berdebar tak karuan, ia berhenti. Matanya menyapu seluruh ruang. Ia bahkan menahan napasnya yang tersengal dan terus mencari seseorang yang sudah lama sekali ia ingin temui. Gadis yang selama ini wajahnya terus menggantung di pelupuk mata.


Syahdu, dimana dia? Hati Arga bertanya-tanya seiring mata yang terus menebar pandang kesemua arah.


Beberapa orang tampak menghampirinya, ingin bersalaman karena akhirnya bisa bertemu penyanyi favorit secara langsung. Namun Arga mengabaikan mereka karena tak ingin diganggu saat ini.


"Aduh, maaf ya, Arga lagi sibuk." Ibralah yang menyalami mereka menggantikan Arga tersenyum dengan ramah pada penggemar lelaki itu.


Arga akhirnya berhenti saat matanya menangkap satu meja bundar yang diisi oleh dua orang yang ia kenal, Alika dan Awan. Hanya berdua.


Arga diam sejenak dengan pikiran yang berkecamuk. Dia yakin sudah mencari keberbagai arah tapi matanya tak menangkap Syahdu. Kemana dia?


"Syahdu baru aja pergi." Ucap Alika yang sudah paham siapa yang Arga cari.


Tanpa kata, Arga dengan cepat berbalik badan, keluar lagi mencari Syahdu. Dia berharap gadis itu belum jauh dan masih ada disekitar sini. Tak bisa ia pungkiri, saat ini di dalam pikirannya hanyalah Syahdu dan Syahdu mendominasi dengan angan dan harapan supaya ia bisa bertemu dan merengkuh gadis itu dalam pelukannya lagi.


"Hei, lo punya nomor Hp Syahdu, kan?" Tanya Ibra pada Awan. Dari pada Arga yang tak bisa berpikir saat ini, Ibra lebih memilih mencari jalur cepat. Namun lelaki di depannya itu menggelengkan kepala.


"Dia ga pake Hp." Jawab Awan.


"Alamat, deh. Dia tinggal dimana?" Tanya Ibra lagi. Ingin masalah Arga cepat selesai.


Awan hanya mengangkat bahu, karena tadi dia sempat bertanya juga, tetapi Syahdu hanya tersenyum tanpa jawaban.


Ibra berdecak, ternyata Syahdu menutup dirinya. Apa itu artinya dia memang tak ingin menemui Arga?

__ADS_1


"Lo sih, dari tadi gue hubungin ngga ngerespon!" Keluh Alika pada Ibra yang akhir-akhir ini sangat sibuk.


"Mending lo bantu cari Syahdu, sana. Katanya dia cuma satu minggu disini. Kalo dalam seminggu ini lo ngga bisa ketemuin dia sama Arga, kesempatan emas ini bakalan ga pernah ada lagi."


Ibra mengerutkan dahi, "apa maksudnya?"


Awan lagi-lagi mengangkat bahu. Dia tak ingin mengatakan apa yang siang tadi Syahdu bilang, bahwa gadis itu tak akan kembali ke kota ini lagi karena ia lebih memilih tinggal di desa sampai akhir hayatnya.


Diluar, Arga hanya berdiri menatap jalan yang dilalui banyak kendaraan. Dia sudah mencari ke banyak tempat, tetapi tidak juga bertemu gadis itu.


Jelas dia kecewa dan kesal pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya kesempatan besar ini ia lewatkan begitu saja. Syahdu kembali, bukankah ini sesuatu yang ia nanti-nanti selama ini? Tapi kenapa dia tak bisa meraih Syahdu yang sudah berada di dekatnya? Syahdu seperti tak ingin bertemu dengannya.


Arga menyetop taksi. Ia tak mau menyerah. Tujuh tahun bukan hal mudah ia jalani seorang diri. Dia takkan lagi menyia-nyiakan ini. Sedetikpun ia tak mau melewatkan. Ia akan terus mencari Syahdu. Dia harus bertemu gadis yang sudah berkuasa di hatinya selama bertahun-tahun itu.


Dengan taksi, Arga berkeliling kota. Matanya tak lepas dari jalan sedetik pun. Ibra pula berkali-kali meneleponnya, namun Arga sudah katakan untuk tidak menelepon jika bukan mengenai Syahdu.


Setelah berjam-jam lamanya, dan malam semakin pekat, Arga memilih pulang ke apartemennya. Siapa tahu Syahdu ada disana. Siapa tahu ternyata gadis itu sudah menunggunya disana. Dengan segera Arga menyuruh supir untuk melajukan mobil dengan kecepatan tinggi supaya dia bisa cepat sampai kesana.


...🍁...


Arga meminta jadwalnya dikosongkan hari ini. Tadinya dia ingin mencari Syahdu, tapi dia tak tahu harus kemana hingga memutuskan untuk membawa Popi jalan-jalan pagi disekitar taman kota sekalian membantu pikiran kacaunya sedikit mereda.


Dia memakai jeket kulit dan masker hitam, membawa Popi dengan tali. Anjing kecil itu pula tampak bahagia. Berlari kecil dengan ekor yang bergoyang-goyang. Terakhir kali anjing kecil itu jalan-jalan sekitar dua minggu lalu bersama Shania. Dan kini, akhirnya ia bisa keluar rumah lagi bersama majikan tertuanya.


Arga singgah ke salah satu truk kopi karena sejak pagi tadi ia belum menyentuh minuman berkafein seperti yang biasa ia lakukan.


"Americano satu."

__ADS_1


Pelayan itu diam sebentar, memperhatikan lelaki yang berdiri dengan tampan sempurna yang bisa ia lihat walau lelaki itu memakai masker. Ia tak berkedip, hingga kemudian mengangguk dan membuatkan pesananya.


"Terima kasih." Ucap lelaki itu sembari memberikan selembar uang merah. "Ambil aja kembaliannya."


"Kakak.. Arga?"


Arga menggelengkan kepalanya. "Bukan."


Pelayan itu mengangguk-angguk lambat walau matanya tak lepas dari Arga. Sepertinya dia tak yakin dengan jawaban Arga.


Arga pula hanya berlalu tanpa memperdulikan sekelilingnya. Lantaran hari ini ia tak ingin diganggu siapapun. Sejak malam tadi tak bertemu Syahdu, perasaannya tak bisa ia gambarkan seburuk apa saat ini.


Arga kembali berjalan santai. Tangan kirinya memegang tali Popi. Sementara tangan kanannya memegang satu cup copi panas.


"Aarrkhh.. Popi!" Teriak Arga memanggil anjingnya yang tiba-tiba saja berlari entah kemana. Arga mengejarnya, berusaha menerobos orang-orang yang berjalan kaki.


Langkah Arga terhenti saat dilihatnya anjing kecil yang ia hadiahkan pada Syahdu dulu juga berhenti tepat dibawah kaki seorang gadis berambut pendek sepunggung.


Gadis itu berjongkok, lalu menggendong Popi dalam pelukannya. Terlihat gurat senyum dan bahagia di wajah gadis yang kini membuat Arga tak bisa bergerak.


Arga yang diam mematung itu menyadari siapa perempuan yang tengah menggendong Popi. Dia sangat mengenal wajahnya bahkan dari sudut manapun. Apalagi senyuman yang sangat ia kenali itu.


Hati Arga bergetar, bahkan jantungnya berdetak sangat kencang hingga kopi di tangannya terjatuh mengenai sepatu putihnya. Matanya terkunci pada sosok yang selama ini ia cari.


Perasaan Arga seperti tak bisa ia rasakan lagi saat gadis itu juga kini menatap kearahnya.


Waktu seolah berhenti. Mata keduanya bertemu, mereka saling tatap cukup lama, memancarkan kerinduan hangat yang saat ini mendominasi di dalam diri keduanya. Waktu tak mau berjalan, ia berhenti tepat saat wajah teduh yang Arga rindukan terlihat jelas di hadapannya.

__ADS_1


Selesai.


**Siapakah itu? Apa tukang pinjol atau penagih utang makanya Arga deg-degan**


__ADS_2