SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Prinsip Arga


__ADS_3

...Pov Author...


Setelah Syahdu masuk ke dalam tenda, mereka melanjutkan topik seru tentang rencana Arga yang tidak mau menikah. Alasannya, tidak diketahui karena dirahasiakan Arga, membuat mereka saling menebak.


"Trus.. trus, lo sampe saat ini nggak kepengen pacaran, Ga?" Tanya Alika. Dia tahu itu adalah pertanyaan Naya. Tapi pasti Naya malu menanyakannya.


"Gue ga pernah pacaran."


"Ah? Masa.." Alika tak percaya. Apalagi melihat akun media sosial Arga yang ramai sekali penggemar di kalangan perempuan.


"Belum menemukan yang klop, gitu ya, Ga." Sahut Dina, mencoba mengerti situasi Arga.


"Gue emang ga niat buat pacaran. Bagi gue, kalau udah pacaran, artinya gue serius ngejalani hubungan dengan komitmen dan perasaan, bukan cuma main-main."


"Kereen!" Alika mengacungkan jempol sementara Naya bertepuk tangan mendengar ucapan yang sungguh jantan, pikirnya.


Selama ini mereka memang melihat Arga dingin pada perempuan dan hanya mau mengobrol santai dengan laki-laki. Bahkan, Naya sendiri mengalami kesulitan mendekati lelaki itu.


"Bagus prinsip lo, Ga. Gue juga gitu soalnya." Ibra manggut-manggut.


"Kalau elo, emang nggak laku kali, Bra." Celetuk Naya.


"Ngga laku pale lo. Gini-gini gue banyak yang ngefan! Gue aja yang masih mau single."


"Eleeh. Bukannya lo mau deketin Laras waktu itu?? Naksir kan, lo? Tau-tau Laras udah punya pacar aja makanya lo mundur." Ungkap Adina sambil menahan tawa karena wajah Ibra yang kesal setelah niat awalnya dibongkar.


"Kebiasaan lo. Males gue cerita sama lo lagi."


Adina hanya tertawa mendengar kekesalan Ibra.


"Nah, kan. Belom begerak aja udah ditolak lo." Alika ikut-ikutan mengejek Ibra.


"Tapi, Ga. Maaf nih, gue emang kepo banget sama yang beginian soalnya jarang terjadi di negara kita, kan. Eng.. lo apa nggak kepengen punya keluarga, gitu? Istri, anak, keluarga kecil yang bahagia."

__ADS_1


Arga malah tergelak kecil mendengar ucapan Adina. Keluarga bahagia? Yang ada dirinya sebagai anak telah menjadi korban keluarga pura-pura bahagia di depan banyak orang.


"Enggak. Sama sekali."


"Tapi bisa aja sih, suatu hari kalo lo ketemu sama perempuan yang tepat, pemikiran lo yang sekarang ini, akan berputar 180 derajat." Lanjut Dina lagi.


Arga tak lagi menyahut. Dia menatap kobaran kecil api di depannya. Apa prinsip yang sudah ia bangun sejak kecil itu bisa luruh?


Arga menggeleng kecil. Tidak. Bahkan seorang Syahdu sekalipun, perempuan yang belakangan membuatnya resah jika dia tidak ada di rumah, perempuan penurut yang sekarang sudah mulai pandai memberontak, perempuan berwajah dan berhati halus, perempuan pengisi ranjang itu juga nampaknya tidak mampu mengubah pikiran Arga.


Malam semakin larut, pembicaraan mereka sudah melebar kemana-mana dan Syahdu tidak lagi keluar tenda. Mungkin dia sudah tidur, begitu pikir mereka.


"Eh tapi, kok Laras tidur di tenda cowok?" Ibra baru menyadari.


"Ya udah sih, tinggal tukar posisi. Ntar kita pindahin tas kita kesana." Usul Dina.


"Bukan gitu, Din. Itu tenda kalian lebih gede. Tenda kami lebih kecil. Kalian kan, empat orang. Sempit, dong." Jelas Ibra.


"Ngga usah. Biar aja dia disitu. Kita juga ngga ada yang tidur, kok." Kata Arga, kemudian menyalakan rokok dan mengesapnya perlahan.


Naya tidak bisa melepaskan tatapannya dari Arga. Melihat lelaki itu bernapas dengan kepulan asap saja sudah membuatnya jatuh cinta.


Ibra mengangguk-angguk dengan ucapan Arga. Sementara Awan hanya diam. Dia mana sanggup begadang sampai pagi. Bisa meper dia saat menyetir besok. Tapi tidak mungkin dia mengotot untuk membangunkan Syahdu supaya dia bisa tidur. Malulah...


Setelah tiga perempuan itu masuk tenda, Arga, Ibra, dan Awan banyak diam. Awan pula hanya memainkan gitar sampai beberapa laki-laki dari tenda sebelah ikut bergabung dan mengobrol santai sampai pukul 3 pagi.


Awan yang mulai tidak kuat menahan kantuk, berdiri dan mencoba berjalan kesana kemari sambil merokok supaya kantuknya hilang.


Namun ternyata tidak berhasil. Diapun masuk ke dalam tenda untuk tidur. Tapi dia malah bengong saat melihat Syahdu tertidur dengan memiringkan tubuhnya.


Gadis itu meringkuk, nampaknya dia kedinginan karena cuaca disini memang sangat dingin.


Awan membuka tasnya, mengeluarkan selimut tebal dari dalamnya dan membentangkan ke tubuh Syahdu hingga bahunya.

__ADS_1


Awan kemudian menggolekkan dirinya disebelah Syahdu, tepatnya menghadap gadis itu.


Dia menatap wajah tenang Syahdu. Saat dipikirkan, ternyata dia dan Syahdu sudah berteman selama dua puluh tahun lamanya. Selama itu pula, berbagai suka cita sudah mereka lalui bersama. Dia juga jelas tahu apa yang selama ini dilalui gadis itu. Penuh penderitaan.


Syahdu, gadis yang hampir tidak pernah terdengar keluhan dari bibirnya. Mencoba sabar dengan berbagai macam cibiran.


Dia bukannya tak pernah meledak. Dia pernah marah, bahkan melawan orang tua siswa lain yang dengan terang-terangan meghinanya.


Gadis itu sangat kuat. Berbagai macam maki dan hinaan sudah ia dengarkan dari lidah orang lain. Kadang jika hatinya sedang lapang, dia bisa menerima itu tanpa membalasnya.


Gadis itu pula pemberani, walau sebenarnya dia sangat takut. Dia hanya ingin membangun harga dirinya yang hancur karena sang ibu yang meninggalkan cap buruk pada dirinya.


Benar kata Adina. Syahdu adalah ciri istri idaman, yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk orang lain bahkan tak jarang sampai melupakan keinginan dirinya sendiri.


Awan tersenyum melihat wajah Syahdu yang tertidur. Raut saat-saat gadis itu mengomel dan memarahinya, sangat jelas di mata Awan. Tentu sangat berbeda dengan yang sekarang ia lihat.


Dia menyelipkan rambut Syahdu kebelakang telinganya, mengelus lembut pipi Syahdu sampai perempuan itu sedikit bergerak.


Tiba-tiba saja, Awan tergerak ingin menciumnya. Dia penasaran apakah selama 20 tahun berteman, Syahdu pernah menyukainya atau mengizinkannya mencium sekali saja atas nama pertemanan.


Entah dorongan apa yang membuat Awan benar-benar melakukan itu. Dia mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat ke wajah Syahdu. Saat hampir sampai, sebuah tangan menggapai kerah jeketnya.


"ANJING!"


Awan tentu kaget dengan apa yang terjadi pada dirinya. Bagaimana Arga bisa masuk dan melakukan ini padanya. Lelaki itu menarik kasar dan menyeretnya keluar tenda hingga terjerembab di atas tanah.


"Apa-apaan lo!" Awan tak terima dengan perlakuan Arga. Dia bangkit dengan wajah geram.


"Pergi sebelum gue habisi." Titah Arga dengan amarah di dalam dirinya. Bisa-bisanya lelaki seperti Awan ingin menyentuh Syahdu.


"Lo pikir, lo siapa?!"


Tak ada jawaban dari Arga. Lelaki itu masih dengan amarahnya menatap Awan yang sepertinya memang ingin mengajaknya berkelahi dari pertama kali mereka bertemu di area kantin kampus.

__ADS_1


__ADS_2