SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Melawan Balik


__ADS_3

Wicak baru menyelesaikan berkas-berkas dan telah mendaftarkan dirinya untuk ikut sidang yang akan dilaksanakan minggu depan. Dia sangat bersemangat dan akan menyampaikan berita ini pada Syahdu. Dia akan menemui gadis itu dan berjalan kearah kelas dimana Syahdu berada.


"Wicak."


Seorang teman perempuan memanggilnya. Wicak menoleh dan mendapati perempuan itu berjalan mendekat bersama seorang laki-laki.


"Cak, gue nanya, dong. Disini tuh, lagi berisik banget soal cewek lo."


Alis Wicak menyatu. "Hah, kenapa cewe gue?"


"Loh, lo ga tau, apa? Cewek lo jadi bahan gosip, katanya dia anak pelacur. Emang bener, ya? Aduh!" Perempuan itu mengaduh saat teman lelaki disebelahnya menginjak kakinya.


"Difilter kalo ngomong." Ujar lelaki itu.


"Gue cuma mastiin. Kalo beritanya ga bener, kan kasian cewek Wicak."


Wicak terpaku. Jadi, orang-orang sejak kemarin membicarakan Syahdu? Tahu dari mana orang-orang ini tentang itu?


"Berisik banget tau, Cak. Apalagi si Imel dkk. Lo kayaknya perlu ngomong, deh. Bilang kalo itu tuh, ga bener. Cewe lo juga keliatan anak baik-baik, kok."


"Siapa yang bilang gitu." Tanya Wicak dengan nada tegas. Membuat kedua temannya sedikit kaget dengan perubahan perangai itu.


"Eee.. kalo itu gue ga tau. Tapi, ini udah gempar dari kemaren."


"Apa?"


"Makanya, gue tanya sama lo. Kok gue liat tadi pagi lo sama cewe lo kayak ga tau apa-apa gitu."


Wicak tak lagi menyahut. Dia langsung berlari kearah dimana Syahdu berada.


...~...


Syahdu keluar dari kelas setelah ia membereskan alat tulisnya. Dia berdiri diambang pintu menatap awan yang mulai menghitam. Dia melirik jam di ponsel, baru pukul 3 tetapi hari sudah nampak gelap seperti malam. Hujan besar mungkin akan tumpah sore ini.


Beberapa mahasiswa yang lewat menatap Syahdu dengan sinis. Aneh, Syahdu sampai memperhatikan bajunya. Dia mengira, ada yang salah dari penampilannya. Dia pun menuju toilet.


Di dalam, Syahdu bercermin. Dia tak menemukan apapun yang salah dalam penampilannya. Semua rapi seperti biasa.


Seseorang keluar dari bilik toilet, dia menatap Syahdu sebentar, lalu cuci tangan disebelahnya.

__ADS_1


Satu perempuan lagi keluar, ternyata itu Imel, teman Wicak. Syahdu mengenalinya.


Syahdu tersenyum saat Imel melihat kearahnya. Dia hanya berusaha ramah, apalagi Syahdu tahu Imel suka pada Wicak.


"Eh, elo."


Syahdu mundur saat Imel mendekat, memberinya ruang untuk bercermin.


"Iya, kak. Eng... Aku permisi dulu." Syahdu tersenyum lagi pada Imel yang tengah mengoleskan pelembab bibir, ia kemudian melangkah keluar.


"Hh.. anak pelacur." Gumam Imel pelan, namun itu masih bisa didengar Syahdu sampai ia berhenti melangkah.


Apa yang dia katakan tadi? Anak pelacur? Dalam hati Syahdu bertanya-tanya.


"Maaf, kak. Bilang apa ya, tadi?" Tanya Syahdu memberanikan diri. Dia tak ingin nantinya terjadi salah paham.


"Oh, jadi belum nyadar juga, ya." Imel berbalik menghadap kearah Syahdu.


Syahdu mengerutkan alis. Dia tak paham kenapa sikap Imel mendadak seperti lawan.


"Lo lari dari kampung karena selalu dibully sebagai anak pelacur, kan?"


"Kaget, kan lo. Haha." Imel merasa kini dirinya seperti diatas awan, saat dia mengetahui keburukan yang ada pada kekasih Wicak itu.


"Sebaik apapun lo nyimpen ******, bakalan kecium juga. Dan satu kampus, udah tau siapa lo."


Seketika mata Syahdu terasa perih. Ia terpaku dan benar-benar tidak bisa bicara apa-apa lagi. Berita tentang ini ternyata menyebar juga di kampusnya. Lalu, siapa yang dalangnya?


Saat Syahdu tengah sibuk dengan pikirannya, Imel terus menyerangnya.


"Kasian banget, Wicak. Kok bisa sih, pacaran sama anak yang gue yakin bapaknya aja dia ngga tau yang mana."


Disinggung seperti itu, bendungan air mata Syahdu pecah. Dengan sigap ia menghapus air matanya.


Dulu dia pernah bertanya, satu kali, tentang siapa ayahnya. Tapi saat nenek diam, Syahdu langsung tersadar, bahwa pelacur itu juga mungkin tidak tahu benih siapa yang berhasil tumbuh di rahimnya.


"Lo juga diem-diem punya hubungan kan, sama temen sekelas lo. Hmm.. Siapa namanya?" Imel pura-pura berpikir. "Oh.. Arga."


Syahdu tak berani menatap Imel. Tubuhnya mulai bergetar saat nama Arga disebut. Tahu sejauh apa perempuan di hadapannya ini soal dirinya dan Arga?

__ADS_1


"Gue tau, kok, lo diem-diem deketin cowok lain. Mungkin Wicak ga sadar karena terlalu buta. Tapi gue bisa liat hubungan kalian." Imel tersenyum sinis. "Kelakuan anak sama Ibunya, sama aja."


Syahdu sejenak menyadari, bahwa Imel hanya berusaha menyerangnya saja.


Syahdu pun membuang wajah, sembari tersenyum miring. Dia tidak akan pernah diam untuk kesalahan yang tidak ia lakukan.


Melihat senyum miring Syahdu, Imel tak senang. Dia seperti dilawan, padahal dia melihat Syahdu seperti perempuan yang mudah ditindas.


"Segitunya mau deketin Wicak."


Imel mendadak kaget. Dari mana gadis di depannya itu punya keberanian untuk bicara? Terlebih dia tahu soal itu?


"Yaa, ngga papa sih, namanya juga naksir, apa aja pasti dilakuin demi dapetin hati kak Wicak. Sayang banget, dia bahkan ngga ngelirik kamu." Syahdu menatap tajam kearahnya, walau matanya masih terlihat basah. Tangannya mengepal walau dalam hatinya ciut. Bagaimana pun ucapan Imel menjadi beban dalam pikirannya.


"Apa lo bilang?!" Pekik Imel mulai berang, lantaran Syahdu membawa-bawa perasaannya pada Wicak.


"Mel, udah yuk." Cintya menenangkannya, mengajaknya untuk pergi tapi gadis itu menepis tangan Tya.


"Lo ngerasa diatas awan karena Wicak pasti bela elo, gitu? Dia gak tau kelakuan lo kayak apa! Kalo dia tau lo punya hubungan sama laki-laki lain, dia bakalan ninggalin lo!" Tukas Imel menggebu. Dia tak tahan ingin menjambak perempuan di depannya kalau saja dia tak memikirkan Wicak.


Syahdu sangat sadar, sekuat apapun dia mencoba mengelak dan menjelaskan bahwa itu tak benar, mereka takkan percaya.


"Coba aja bilang. Aku juga pengen tau, dia percaya aku, atau kamu." Tantang Syahdu dan benar-benar membuat Imel semakin murka.


"Dasar jallang! Sini, lo!" Imel hendak meraih Syahdu namun Cintya lebih dulu menariknya, mengajaknya keluar dari toilet.


"Udah, Mel."


"Lepas, Yak. Gue mau kasih pelajaran buat anak itu!"


"Udah, lo ngga mikir gimana sikap Wicak nanti ke elo kalau dia tau lo nyiksa cewenya."


Bisikan Cintya berhasil membuat Imel menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam pada Syahdu.


"Awas aja, gue bakalan rebut Wicak dari lo! Gue bakalan nunjukin kalo lo itu bener-benar anak pelacur yang nggak punya harga diri!!"


Imel dengan napas yang memburu marah, keluar dari toilet disusul Cintya.


Sepeninggal kedua orang itu, Syahdu langsung ambruk. Satu tangannya memegang dadanya yang bergemuruh. Dari tadi ia menahan diri untuk tidak menangis, untuk tidak rapuh, tapi ia tidak bisa. Perasaan hancur itu muncul saat mengetahui bahwa sekarang dirinya sama seperti saat berada di kampung.

__ADS_1


__ADS_2