SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Ke Apartemen Arga


__ADS_3

Dia berjalan melewatiku, duduk di depan piano dan mulai memainkannya.


Mataku berbinar, jari-jari yang keriput milik wanita tua itu sangat lentur menari diatas tuts. Nada yang dihasilkan juga sangat lembut masuk ke telingaku. Oh, ternyata dia yang bisa bermain piano? Bukan bisa, tapi dia sangat jago sampai aku tidak bisa menggambarkan betapa kerennya dia saat ini. Aku kagum, wanita tua itu terlihat sangat anggun dan wajahnya berseri memainkan alunan musik itu. Kuterka, dia pasti sangat cantik waktu muda.


Prok..prok..prok..


Aku bertepuk tangan saat dia selesai memainkan pianonya. Dia tertawa kecil melihatku yang antusias dengan hasil permainannya.


"Aku dulu seorang pianis. Selalu menang jika berlomba dimanapun. Setelah menikah, aku harus berhenti karena mengurus anak." Jelas wanita itu tanpa bertanya siapa aku, dari mana asalku, kenapa ada di rumahnya, Apa dia tidak tahu kalau aku ini bisa saja penyusup?


"Oh, ya. Sudah makan?"


Aku benar-benar tidak bisa membuka mulut karena syok. Kok, dia tidak bertanya apa-apa soal aku? Atau jangan-jangan Arga udah cerita??


"Oma, Arga cariin di atas ngga ada. Taunya disini." Arga berjalan ke arah kami. Dia mencium dan memeluk omanya.


"Kamu sudah makan belum? Ajak dia makan sekalian." Kata wanita tua itu.


"Udah, kok. Oh ya, ini Syahdu, oma." Arga akhirnya memperkenalkan aku dan langsung menyalami tangan wanita itu.


"Wah. Arga nggak pernah, lho, bawa pacarnya kemari."


"Hah?" Aku melongo.


"Kalau dibawa berarti ada keseriusan." Wajah wanita itu tersenyum cerah menatap Arga yang juga tampak bingung. Dia melirikku sebentar.


"Kapan pacarannya? Kok baru sekarang dikenalin ke oma?"


"Eee, Oma, kalau nggak ada yang mau dibicarakan, kita pulang aja, ya? Soalnya siang ini ada kelas." Kata Arga mencari alasan. Aku menatapnya dengan mata membulat, kenapa tidak bilang langsung kalau kita nggak pacaran??


"Gitu, ya? Tapi nanti datang lagi ya, Syahdu." Wanita tua itu menggenggam tanganku dan menepuk-nepuk dengan lembut.


Lagi, aku melirik Arga. Bibirku juga ingin mengatakan kalau aku bukan kekasih cucumu, nek. Tapi kenapa berat? Arga juga melihatiku seperti itu, kenapa dia?


"I-iya, nanti kalau sempat kami kesini lagi." Jawabku dan membuat wanita itu tersenyum puas.


Setelah berpamitan, aku dan Arga masuk ke dalam mobil dan tiba saatnya aku menyembur dirinya.


"Gimana sih, Ga? Kok nggak bilang kalau kita itu nggak pacaran??"


"Ya mana gue tau kalau oma nganggepnya pacaran!"


"Ya makanya kamu bilang, dong, kalau aku bukan pacarmu. Aku punya pacar, Ga, gimana sihhh.." Ucapku kesal.


"Pacar lo kan, nggak tau! Lagian kenapa nggak bilang sendiri tadi??"


"Lah, itukan nenekmu. Aku juga segan mau bilangnya, wajahnya itu lohh, berharap bangett. Aku nggak tegaaa!"


"Ya udah, sama. Gue juga gitu, nggak tega!"


Ck! Aku berdecak kesal. Percuma juga berdebat sama Arga, nggak mempengaruhi apapun.


"Trus gimana kalau omamu nyuruh dateng lagi?"


"Ya, nggak usah dateng. Memangnya nenek-nenek bisa apa? Ntar gue tinggal bilang putus. Gampang, kan?" Arga menjalankan mobilnya keluar dari rumah besar neneknya.


Ya, benar juga, tinggal bilang nggak cocok dan putus, masalah selesai.

__ADS_1


Arga fokus menyetir, matanya juga terus menatap ke depan.


"Arga."


"Hm."


"Hari jum'at atau sabtu, aku mau pergi sampai minggu."


"Kemana?"


"Jalan-jalan. Ngga apa-apa, kan?"


Arga tak langsung menjawab. Wajahnya terus ke depan, sesekali memberi klakson dengan kasar.


"Ngga apa-apa, kan? Minggu sore aku balik, kok." Sambungku lagi.


"Hm."


Hm-hm itu apa, sih? Ngizinin atau enggak? Nggak jelas.


"Gimana? Boleh, kan?" Tanyaku memastikan.


"Memangnya kalau gue larang, lo bakalan nurut?" Tanya Arga padaku.


Aku diam menatapnya. Apa keputusanku untuk meminta izin terlalu berlebihan? Bukannya hal wajar mengingat aku harus selalu ada saat dia butuh.


"Ya udah kalau gitu."


Ah, begitu ya. Jadi aku sebenarnya tidak perlu izin? Bagus deh. Tahu gitu aku nggak perlu repot cari cara supaya dia baikan kemarin, kalau langsung pergi ternyata sah-sah saja.


...🍁...


"Eeng, gimana, ya?" Dina melirikku. Aku tahu, Dina nggak mau sekelompok bareng Naya karena gadis itu yang males belajar dan cenderung oper-operan tugas.


"Arga, Ibra!" Naya melambaikan tangan pada dua orang yang duduk di depan itu. "Kesini, kita satu kelompok lagi aja!"


Aku bisa mendengar ******* dari Dina. Dia pasti berat banget, tapi tidak tahu cara menolaknya.


Aku juga males banget kalau lagi-lagi sekelompok bareng Arga. Tau-tau dia udah duduk aja di depanku.


"Eh, Awan!" Alika memanggil Awan yang baru mau keluar dari ruangan.


"Sini, satu kelompok bareng kita." Ajak Alika pada lelaki itu. Dia melihat bergantian ke arah Arga dan aku cukup lama.


"Nggak. Gue udah di kelompok lain." Jawabnya sembari pamit pergi.


"Hngg, ya udah, deh."


"Nah, mari kita duskusikan materi kita untuk beberapa hari kedepan." Tukas Naya sambil membuka buku yang aku yakin, dia sendiri tidak tahu apa yang mau dibahas.


"Kayaknya kita perlu tempat nyaman buat diskusi, deh." Kata Alika.


"Dimana?" Tanya Ibra.


"Gimana kalau di rumah Arga aja??" Usul Naya.


"Boleh." Jawab Ibra sambil mengangguk.

__ADS_1


Ah, Naya, lagi-lagi dia yang mengusulkan seperti itu. Sesuka itukah dia pada Arga?? Tapi kenapa harus rumah Arga?


Sementara mataku terus menatap Arga yang masih fokus pada ponselnya. Awas aja kalau dia menyetujui.


"Gimana, Ga? Mumpung kosong nih, waktu kita." Tanya Alika lagi.


"Apartemen gue?" Arga kini menatapku yang sudah merapatkan gigi dengan mata membulat. Kuharap dia mengerti.


"Oke."


ARGA oh my God!! Dia tersenyum kecil menatapku yang sudah menahan kekesalan setengah mati. Gila, ya?? Dia sengaja??


"Yeeay. Kita kesana sekarang, kan?" Naya yang kegirangan mulai membereskan barang-barangnya diatas meja.


"Eee.. apa nggak bisa cari tempat lain? Di taman atau dimana, gitu." Usulku pada yang lain, berharap ada yang setuju denganku.


"Bising, Ras. Di apartemen Arga udah pasti nyaman." Kata Ibra yang malah dianggukin oleh yang lain.


Liat wajah Arga itu. Menatapku dengan senyum tipisnya, seolah memang tengah mengerjaiku.


"Gilaya??" Tanyaku padanya tanpa suara dan dia malah mengangkat bahu. Oh, God! Apa yang harus aku lakukan?? Bagaimana kalau ketahuan?


Naya mulai memesan taksi online untuk menuju rumah Arga. Sementara aku duduk dengan kaki yang terus bergoyang. Tidak nyaman, gelisah, apa yang akan terjadi nanti? Arga, dia sudah pulang duluan dengan alasan keperluan mendadak. Entah apa yang dia rencanakan, yang pasti aku akan membuatnya mati nanti.


"Masuk aja, nomor 21." Kata Arga saat kami sudah berada di lobi, sementara Dia baru saja datang menyusul.


Yang lain mulai berjalan sambil mengobrol asyik, sementara aku menunggu mereka menjauh dan menarik tangan Arga.


"Kau gila, ya? Mau aku mati, iya??" Ucapku pada Arga penuh penekanan.


"Apa, sih. Justru kalau gue nolak terus, mereka curiga. Makanya lo santai aja, bisa?" Ucapnya lalu pergi begitu saja. Arga memang luar biasa gilanya. Dia kira aku bisa santai disaat orang-orang ini memasuki tempat dimana dia dan aku tidur bareng??


Dag dig dug jantungku meningkat saat kaki kami berjalan di lorong apartemen. Arga mengikuti dari belakang dengan santai.


"Kaku amat." Bisiknya dari belakangku. Aku tak menjawab dan hanya memakinya saja dalam hati. Aku terus berdoa supaya tidak ada jejakku disana.


Arga membukakan pintu dan mereka semua masuk dengan perasaan kagum.


"Wah, keren banget, Ga!" Tukas Naya.


Apartemen Arga tanpa banyak bilik. Ruangan menjadi satu dimana sofa tamu dan kamar tidur berdekatan. Hanya dapur dan ruang menonton saja yang berbilik tanpa sekat sehingga membuat semua orang benar-benar bisa melihat semua isi apartemen Arga.


"Lo tinggal sendiran disini?" Tanya Naya lagi.


Guk!


"Eh, ada anak anjing. Aduh, imutnyaa." Naya hendak mengambil Popi di atas sofa, tetapi Popi malah berlari melewatinya dan melompat ke arahku. Akupun reflek menangkap dan menggendongnya.


GUK!


Popi menjilati tanganku, membuat basah dan tentu aku sedikit terganggu apalagi dilihati teman-teman yang lain, termasuk Naya dengan alis berkerut menatap ke arah anjing yang akrab denganku.


"Ah, Popi. Stop. Jangan jilatt!" Aku menjauhkan Popi, tanganku basah karena liurnya. Aku meletakkan Popi di atas karpet.


"Ras, lo tau nama anjingnya Arga?" Tanya Naya dengan tatapan menyidik dan aku spontan kaku di tempat. Mati aku!


TBC

__ADS_1


Visual Arga Alexander



__ADS_2