SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Kondisi Terbaru Wicak


__ADS_3

Syahdu keluar dari ruang ICU saat Wicak sudah kembali tertidur. Dia mendapati Mirna duduk menunggunya.


Syahdu dengan perasaan tak enak pun mendekat. Entah apa yang akan ia jawab jika Mirna memintanya pergi. Dia mungkin akan memohon dan bersujud asal Mirna mau membiarkannya berada disisi Wicak.


"Saya ga pernah mengizinkan anak saya pacaran dengan kamu sejak awal saya tahu hubungan kalian."


Baru Syahdu duduk, Mirna sudah mengungkapkan perasaan tak sukanya pada Syahdu. Gadis itu hanya tertunduk.


"Selama ini saya menunggu kamu melakukan kesalahan, supaya saya bisa menyuruh Wicak putus denganmu. Tapi saya ga nemu. Saya tau kamu anak baik-baik."


Air mata Mirna mengalir, ia teringat Wicak dan betapa lelaki itu menyukai gadis disampingnya ini.


"Saya udah coba ngenalin dia ke anak-anak teman saya yang hebat-hebat, cantik-cantik, tapi dia ga mau dan kekeh pilih kamu. Saya sampe mikir apa kamu guna-gunain anak saya, sampe dia secinta itu sama kamu."


Air mata Syahdu menetes. Mendengar itu perasaannya hancur saat menyadari beberapa bulan belakang, betapa Syahdu tega mengkhianati perasaan Wicak. Padahal lelaki itu dengan keras memperjuangkan hubungan mereka.


"Liat, saat kritis begitu dia ingatnya cuma sama kamu." Bahu Mirna terguncang. Dia menangis sedih lantaran anaknya sangat mencintai gadis yang dia benci.


"Dia sampai buat tabungan sendiri untuk bisa nikahi kamu." Sambung Mirna dengan suara meratap.


Syahdu ikut tersedu-sedu. Bahkan ibunda Wicak sendiri mengakui bagaimana hebatnya perasaan anaknya pada Syahdu.


"Kamu.. jangan tinggalin Wicak, ya. Jangan buat dia kecarian." Mirna memiringkan tubuhnya, menggenggam tangan Syahdu. "Tolong, jagain anak saya. Tetap disampingnya sampai dia sembuh. Jangan tinggalin dia, jangan tinggalin Wicak. Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan dia." Mirna menangis menunduk. Tangannya meremas erat tangan Syahdu. Wanita itu, dia menangis sampai dadanya terasa sesak.


Syahdu merasa, ada sesuatu yang Mirna sembunyikan darinya.


"Apa.. ada yang ibu sembunyikan dari saya?"


Mirna terus menunduk dengan isak tangisnya. Syahdu merasa Mirna memang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Syahdu, berjanjilah untuk tidak meninggalkan Wicak disaat tersulitnya."


Syahdu menatap kedua mata Mirna. Untuk pertama kali, mata yang biasa menatapnya dengan kebencian, kini berubah dengan tatapan memohon. Syahdu tahu, sesuatu pasti menimpa Wicak. Tapi apapun itu, dia pasti akan menerima Wicak dengan seluruh jiwanya.


"Saya janji. Saya akan terima kak Wicak dalam kondisi apapun." Janji Syahdu dengan tulus dan bersungguh-sungguh. "Beritahu saya, bu. Ada apa dengan kak Wicak?"


"Dia.. hiks.. dia.. mengalami kelumpuhan."

__ADS_1


Seketika tubuh Syahdu lemas seolah tulang-tulangnya menghilang, membuatnya tak bisa duduk dengan tegak.


Wicak lumpuh. Bagaimana itu bisa terjadi? Apa lelaki itu nanti bisa menerimanya? Daripada memikirkan dirinya, Syahdu memikirkan bagaimana Wicak saat tahu itu nanti.


Air mata Syahdu tak bisa kering. Dia merasa menyesal sedalam-dalamnya. Semua terasa sesak. Gadis itu berlari mencari tempat untuk menjerit. Dia naik keatas lantai atas rumah sakit.


Sesampainya diatas, Syahdu mengadah menatap langit dengan wajah yang basah.


"Yang salah akuu! Aku yang salaah!!" Teriak Syahdu keatas langit.


"Kenapa Kau hukum diaa! Kenapa dia!! Akuu. Seharusnya aku yang Kau hukuumm!" Isak Syahdu dengan jeritannya. Dia terduduk saat menyadari semua yang ia jalani adalah skenario dari yang diatas. Tapi bisakah dia meminta untuk menukar takdir?


"Seharusnya aku.." lirih perempuan itu. Dadanya terasa nyeri. Wicak, dia mengasihani lelaki itu.


"Kenapa bukan aku saja." Syahdu menunduk. Untuk apa berteriak jika Tuhan sudah menjalankan takdirnya. Sampai suaranya habis pun Tuhan tidak akan menukar takdir itu.


Wicak, lelaki yang baik itu tidak pantas mendapatkan cobaan sebesar ini. Dia seharusnya hidup dengan bahagia. Tapi Syahdu tak bisa melakukan apa-apa. Kini tugas yang dulu Wicak selalu lakukan untuknya, akan ia lakukan juga untuk Wicak. Dia akan terus mencintai lelaki itu apapun ceritanya.


~


"Ibu, dari mana aja?" Tanya Bayu pada Mirna yang baru datang dan duduk disebelah suaminya.


"Perempuan itu pergi, mas. Dia ninggalin anak kita saat aku bilang kalau Wicak lumpuh. Padahal dia udah janji ga akan ninggalin Wicak." Mirna menunduk lesu. Hatinya terasa sakit saat tahu Syahdu malah meninggalkan anaknya disaat seperti ini.


"Siapa, Bu? Kamu bicara apa? Syahdu, maksudnya? Dia ada di dalam, nemenin Wicak."


Mirna langsung mendekati pintu, mengintip dari luar dan benar menemukan Syahdu tengah menciumi tangan Wicak. Seketika perasaannya lega dan terharu melihat itu. Menyesal, itu yang ada di hatinya. Coba saja dia menyetujui sejak awal, pasti anaknya itu akan bahagia.


"Mas.." Mirna duduk di dekat suaminya. "Kalau Wicak sembuh, kita nikahkan aja dia dengan Syahdu, ya."


"Tanya Syahdu dulu, bu. Kita ga boleh egois. Kalau Syahdu ga mau, kita ga bisa paksakan."


"Mau, mas. Katanya mau."


"Kalau begitu, ya bagus. Aku udah bilang kan, dia anak yang baik. Bu Suri itu orang tua yang baik, merawatnya dengan penuh kasih sayang walau anak itu ga punya ayah dan ibu. Syahdu itu ga salah apa-apa." Ujar Bayu pada Istrinya.


"Iya. Aku tahu. Aku nyesel sekarang." Kata Mirna sembari merebahkan kepalanya dibahu suaminya.

__ADS_1


Di dalam, Syahdu tak henti menatap Wicak. Dia cium tangan lelaki itu tanpa henti. Sesekali ia mengelus bahu bidang yang sering menjadi sandaran untuknya. Apapun yang terjadi, dia tak akan meninggalkan Wicak. Dia akan menerima apapun kekurangan Wicak saat ini.


Perlahan mata Wicak terbuka. Syahdu menghapus air matanya dan mengganti dengan senyum cerah.


"Kakak udah bangun."


Lelaki itu menatapnya dengan mata yang berat. Tangan Wicak mengeratkan genggamannya. Respon yang membuat Syahdu semakin tersenyum.


"Syah.. du.."


"Iya. Aku disini."


"Aku.. cinta.." ucap Wicak dengan napas berat.


Syahdu tertawa namun air matanya ikut keluar. "Iya. Aku juga cinta sama kakak." Hatinya terharu mendengar itu dari Wicak yang kondisinya sedang tidak bisa bergerak banyak.


"Ada yang sakit? Bilang sama aku."


Wicak menggeleng pelan. Matanya terus menatap Syahdu.


"Jangan.... pergi.."


"Enggak. Aku disini. Kakak harus sembuh, supaya kita bisa main-main lagi. Oke?"


Lelaki itu mengangguk lemah. Dia sudah menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Dia mengingat dengan jelas malam itu, dimana dia mengikrarkan bahwa dirinya akan menerima Syahdu apapun yang telah terjadi pada kekasihnya itu.


Mata keduanya saling menatap dalam diam. Syahdu meletakkan tangan Wicak di pipinya, dia tersenyum akhirnya Wicak menunjukkan pergerakan yang positif.


"Tadi, teman-teman kakak dateng. Semua ada disini. Tapi sayangnya ga bisa jengukin ke dalem." Ucap Syahdu mulai mengoceh.


"Oh, ya. Kakak tau, gak. Ibu kakak baik banget sama aku. Dia ga ngelarang aku sama kakak. Akhirnya, setelah sekian lama.."


Syahdu bisa melihat respon Wicak yang ikut bahagia mendengar itu. Mata lelaki itu berkedip beberapa kali, juga bibir yang sedikit menyungging senyum.


"Makasih, udah mau semangat demi aku. Demi kita." Ucap Syahdu pada Wicak. Lalu ia merebahkan kepalanya di dekat leher Wicak, sembari meletakkan tangan laki-laki itu diatas kepalanya. Syahdu bisa merasakan elusan Wicak yang hanya menggerakkan jari-jari. Pergerakan Wicak menjadi tanda bahwa lelaki itu kini mulai membaik sedikit demi sedikit.


TBC

__ADS_1


**Like seperti biasa utk Up bab baru ya. thanks ya, pen🦋**


Sudah VOTE belum??👇👇


__ADS_2