SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Berbeda Prinsip


__ADS_3

Setelah makan sendirian di meja makan, Arga mengeluarkan kertas-kertas lirik yang ia ciptakan kemarin. Dia akan melanjutkan menulis lirik sambil menunggu Syahdu keluar dari kamar mandi.


Arga mencoba menulis beberapa bait. Tapi lagi-lagi dia mencoret kertas karena merasa kata-kata yang ia tulis kurang pas di hatinya.


Tak lama, Syahdu keluar dari kamar mandi masih dengan jubah mandinya.


"Sini bentar." Arga memanggilnya. Syahdu pun menurut dan duduk ketika Arga menyerahkan selembar kertas.


"Apa ini?"


"Lirik. Coba lo tulis kata-kata tentang seseorang yang mempertahankan cinta atau keinginan untuk tetap stay bersama orang yang lo suka."


"Kamu mau ciptain lagu?" Tanya Syahdu dengan terus memandang kertas di tangannya.


"Iya. Tapi liriknya ngegantung. Bisa bantu?"


Syahdu membaca lirik yang ditulis Arga, dia mengangguk-angguk saat mengerti inti dari lirik itu.


"Bagus, kok."


"Tapi belum sempurna, makanya gue minta lo nambahin lagi."


Syahdu mengambil pulpen dan mulai menulis kata perkata di atas kertas. Arga pun memperhatikan kalimat yang ditulis Syahdu sambil tersenyum menatap wajah serius gadis itu.


"Lo curhat, ya?"


Syahdu menghentikan tulisannya dan melirik Arga. "Mau dibantu, nggak?"


Arga terkikik, lalu membiarkan Syahdu melanjutkan tulisannya sampai beberapa bait dan dia menyerahkan tulisan itu sementara Syahdu berganti pakaian.


Arga membaca dengan perlahan. Dia tersenyum puas dan mulai mencocokkan dengan nada yang sudah ia persiapkan dengan lirik itu.


'Bisakah mata ini terus bertatap untuk waktu yang lama.

__ADS_1


Bisakah setiap hari kita berpegangan tangan.


Bisakah aku tetap memilikimu walau dunia ini menentang kita.


Karena aku ingin tetap disampingmu, walau dunia ini bergetar sekalipun, aku akan baik-baik saja asal bersamamu. Kenapa kau tidak tinggal disini saja?'


Arga tersenyum menyanyikan itu. Lirik yang diciptakan Syahdu saat ini bukan hanya menggambarkan suasana hatinya. Tetapi juga mirip sekali dengan perasaannya.


Arga menengok ke arah Syahdu. Gadis itu duduk bersandar pada tembok dengan memandangi ponselnya yang terus berdering. Mungkin saja yang meneleponnya adalah Wicak. Lihatlah, wajah Syahdu berubah sendu lagi. Arga yang melihat itupun langsung menuliskannya di dalam lirik.


'Rasa sakit tidak akan bisa hilang dengan sendirinya. Pegang aku erat-erat maka kita akan meninggalkan semuanya. Karena aku ingin terus disisimu, maka jangan pergi. Tetaplah disini..'


Arga menulis judul besar di atas kertas. 'Tetaplah disini.' Dia bernapas lega saat berhasil menyelesaikan lirik dengan kata-kata yang sempurna.


Arga berdiri. Dia ingin memamerkan hasil ciptaannya pada Syahdu. Tapi gadis itu bertekuk lutut dan menangis tanpa suara. Dia bisa melihat bahu Syahdu yang lagi-lagi bergoyang.


Arga mengurungkan niat. Sudah tiga malam Syahdu habiskan dengan menangis. Kenapa dia terus seperti itu?


Arga meremas kertas di genggamannya. Rasanya cinta Syahdu pada lelaki itu sangat besar. Apalagi Syahdu terlihat sangat tidak berdaya dengan sesak yang mengguncang tubuhnya. Itu adalah respon dari tubuh Syahdu yang merasa tak sanggup dengan apa yang ia tengah rasakan.


Syahdu menangkat wajah dan buru-buru menghapus air matanya. Tapi percuma, karena mata itu terus mengeluarkan air mata.


"Aku ngga apapa." Jawabnya tanpa ditanya. Suaranya parau dan sesegukan sangat terdengar jelas dari napasnya.


Arga duduk disebelah gadis itu. Dia ikut menekuk lutut dan menatap ke arah Syahdu.


"Gue ngga habis pikir. Kalau emang lo masih sayang, kenapa putus?" Tanya Arga tanpa basa-basi lagi.


Syahdu hanya diam. Orang seperti Arga memangnya mengerti apa yang dia rasakan? Enggak. Apalagi semua terjadi juga karena dirinya.


"Lo itu, kalau kayak gini justru nyiksa diri sendiri. Dia mah, enak. Laki-laki, pasti cepat banget dapat cewek. Nah, elo. Nangiiis mulu."


"Baguslah kalau dia dapat cewek. Semoga aja ceweknya baik-baik. Ngga kaya aku."

__ADS_1


"Emang lo ngga baek?"


Syahdu menggelengkan kepalanya. "Aku udah khianatin dia. Ngga pantes sama dia."


Arga menghela napas. Dia merasa aneh dengan pemikiran Syahdu saat ini.


"Gue tebak, deh. Lo pasti putus karena udah nggak virgin lagi, kan? Trus lo ngerasa bersalah karena nggak ngasih itu untuk dia. Begitu?"


Syahdu diam lagi. Itu memang alasan yang dia buat untuk berpisah dari Wicak. Tapi itu bukan sembarang alasan, karena dia pun memikirkan masa depan Wicak.


Melihat Syahdu diam, Arga melanjutkan ucapannya.


"Nih ya, gue kasih tau. Zaman sekarang, yang kayak gitu tuh, udah ngga begitu penting, tau. Lo pikir semua cewek di kota ini virgin?"


"Itu kan kamu, Ga. Aku beda. Menurutku, itu tuh suatu kehormatan. Itu sebabnya dari dulu aku menjaganya. Kalau udah kaya gini, aku merasa udah ngga bisa bersama Wicak yang ikut jagain itu buatku. Aku benar-benar udah mengkhianati dia."


"Syahdu, dengerin gue. Emang lo ada benernya. Tapi, gue yakin kok, cowok lo itu pasti nerima lo apa adanya. Dia juga paham, kali, kalo itu bukan puncak awal suatu hubungan. Kalo dia cinta, ya cinta aja ngga usah mandang yang begituan."


Entah kenapa, walau Arga berpihak padanya, tapi jawaban lelaki itu tidak bisa diterima Syahdu.


"Tapi, Ga. Gimana kalau dia tau aku udah ngga virgin. Dia pasti kecewa, kan? Dia pasti sakit hati, kan?" Tanya Syahdu dengan suara parau.


Arga tak bisa menjawab itu. Karena dia sendiri tahu, setiap laki-laki memiliki prinsip yang berbeda.


"Kenapa kamu bisa dengan mudah bicara begitu, karena kamu melakukan hal yang sama. Kalau kamu dapet perempuan yang udah ngga virgin, kamu ngga masalah karena sudah menikmati banyak perempuan. Tapi dia beda. Dia ngga pernah kaya gitu."


Arga menyandarkan kepalanya. Dia diam cukup lama sampai akhirnya mendesah pelan, menatap ke atas dan bergumam. "Lo benar. Tapi lo harus tau, perasaan yang udah jauh diatas cinta pasti bisa menerima itu. Dan gue yakin, cowok itu pasti bisa nerima, karena yang dia butuhkan cuma adanya lu disampingnya. Gue sendiri bisa ngerasain cintanya dia ke elo, kok."


Benarkah begitu? Syahdu menunduk. Lagi-lagi dia menangis. Merasa dirinya ini memang tidak pantas bersama Wicak.


Arga mendesah kasar mendengar tangisan Syahdu lagi. "Saran gue, ngga usah mikir kejauhan dulu. Mending lo jalanin aja, buat diri lo bahagia. Seiring berjalannya waktu, kalian berdua pasti nemu jalan untuk kehidupan kalian." Arga mengelus kepala Syahdu. "Lo jangan khawatir, masih banyak laki-laki yang mau sama lo kalau dia menolak elo." Katanya kemudian pergi.


Sesimpel itu Arga berucap. Dia memang menjalani kehidupannya seperti itu. Jika suka katakan suka, jika tidak maka berarti tidak. Dia tidak suka berbelit. Baginya semua bisa dibicarakan dan pasti ada solusi. Itu sebabnya ucapan Arga sulit diterima oleh Syahdu.

__ADS_1


"Sayangnya kita beda, Ga. Laki-laki tetap bisa diterima walau udah ngelakuin apa aja dalam hidupnya. Beda dengan perempuan yang berbekas dan terasa jika dia melanggar norma kehidupan." Lirih Syahdu sambil menatap Arga yang sudah memeluk gitarnya diatas sofa.


__ADS_2