
...PoV Arga Alexander...
Setelah perdebatan yang cukup membuatku naik darah dengan Arvian, akhirnya dokter sialan itu memerintahkan perawatnya untuk memasangkan alat KB itu pada Syahdu.
Dia tertawa terbahak-bahak melihat reaksiku. Tapi jelas aku tidak bisa terima jika Syahdu disentuh olehnya apalagi dibagian sensitif gadis itu. Sementara kekasih Syahdu sendiri saja belum pernah, kenapa pula harus Arvian. Yang boleh cuma aku! Gerutuku dalam hati.
"Wah-wah-wah.. ngga nyangka gue, selalu aja lo dapet yang cakep spek bidadari gitu." Arvian menggelengkan kepala, tanda ia kagum padaku.
"Lagi baek Tuhan ama gue." Jawabku ringan.
"Tapi, lo nemu dimana? Mukanya kayak anak baik-baik."
Aku bersandar dikursi, mengingat kembali dimana aku bertemu dengannya, di atap rumah sakit, yang bagiku adalah sebuah keberuntungan.
"Nggak sengaja. Diatap rumah sakit, lagi nangis mikirin biaya."
"Hah? Lo manfaatin anak baik-baik buat aksi bejat lo?"
Apa? Aku diam mencerna perkataan Arvian. Tapi setelah kupikir-pikir, dia benar juga. Aku memang memanfaatkan Syahdu, walau sekarang aku antara menyesal dan juga tidak.
Menyesal karena aku memanfaatkan situasinya demi nafsuku. Tapi juga senang, karena orang itu adalah dia. Syahdu, perempuan yang kini punya tempat di hidupku.
"Sianjing. Jadi, lo jatuh cinta sama tu cewek, makanya ngga boleh gue pegang?"
Arvian, salah satu teman SMP yang paling suka merecokiku bahkan saat kami sama-sama belajar di Inggris. Dia termasuk orang yang akan menjadi ember bocor jika itu mengenai hubungan asmaraku.
Karena dia pernah dengan setengah mati ingin merubah pikiranku. Dari yang tak ingin jatuh cinta, menikah, dan memiliki anak, sampai aku harus jatuh cinta, menikah, dan tentu saja memiliki anak.
Jika dia tahu aku punya perasaan pada perempuan, kuyakin dia akan menyebarkannya dengan sedikit bumbu supaya anak-anak lain mengejekku yang telah menjilat ludah sendiri.
"Siapa yang jatuh cinta. Gue cuma nggak mau punya gue dipegang orang lain." Elakku langsung.
"Pantes aja anak-anak pada bilang lo berubah. Udah ngga mau sewa perempuan, jarang ngumpul. Ternyata ini pawang lo. Gue jadi nggak sabar nunggu lo nikahin tu cewek."
"Nikah apaan. Nggak ada nikah-nikah di hidup gue. Ribet!" Jawabku cepat.
"Bilang aja kalo lo cinta, ntar lo nyesel kalo dia pergi. Gue bisa liat kok, dari cara lo memperlakukan dia."
Caraku memperlakukannya? Memangnya keliatan, ya? Sial.
"Siapa yang cintaaa. Dia cuma pelacur pribadi gue. Ya gue baikin lah, supaya dia nggak lari." Jawabku meyakinkannya.
"Hahaha. Sialan, nggak berubah juga si gila ini."
"Lo dulu deh, yang nikah. Jangan-jangan lo milih dokter kandungan biar bisa liat-liat, ya." Semprotku langsung.
__ADS_1
"Astagaa. Gila nih, gue milih ini murni karena ingin berbakti pada nyokab gue. Eh, asal lo tau, ya. Setelah gue milih dokter kandungan, gue sujud di kaki emak gue."
"Kenapa gitu?" Tanyaku.
"Lo ngga akan sanggup liatnya. Gue aja hampir pingsan, liat perempuan melahirkan anak. Bueehh.. ampun." Wajah Arvian mendadak berubah pucat.
"Gue jadi tau perjuangan nyokap gue, gimana susahnya dia mengandung, melahirkan, menyusui, merawat gue. Makanya, gue nggak pernah mau kalo kalian ajak gue sewa perempuan. Karena gue sangat menghormati mereka."
Penjelasan Arvian mendadak membuatku diam. Nampaknya dia juga tengah menasehatiku secara nggak langsung.
"Eh.." Arvian mendekatkan wajahnya lalu berbisik. "Beruntung cewek itu nggak hamil. Kalo nggak, sampe mati gue nggak akan mau kenal lo kalo lo mau ngegugurin kandungannya."
Aku terdetak. Memang aku frustrasi saat berpikir Syahdu hamil. Tapi aku tidak sampai kepikiran menyuruhnya menggugurkan kandungan seperti apa yang tertulis di kontrak. Tidak setelah aku mulai menyayangi Syahdu.
"Sudah selesai?"
Aku langsung menoleh kebelakang. Ternyata Syahdu sudah selesai dengan urusannya.
"Kalau gitu, kita balik dulu, bro. Thanks, ya."
"Ya-ya. Setelah ini lo nggak perlu lagi khawatir kayak tadi, ya. Hehehe."
"Tadi udah dijelasakan kan, sama perawat?" Tanya Arvian pada Syahdu tapi gadis itu hanya mengangguk lambat.
kamipun keluar dan berjalan di lorong rumah sakit.
"Lo masih syok, ya." Tanyaku padanya. Memulai percakapan supaya Syahdu bisa lebih rilex.
"Gue lega banget. Hah.. Syukur deh, gue nggak bisa bayangin kalo lo hamil. Sekarang gue nggak risau lagi. Lo inget kan, apa kata Arvian tadi. Kalo lo ngerasa ada yang-"
"Aku ke toilet dulu." Syahdu berjalan cepat menuju tanda panah toilet. Ada apa dia?
"Oke. Gue tunggu di lobi." Ucapku, tetapi aku masih berdiri menatapnya sampai menghilang dari pandanganku.
Aku harus apa ya, supaya Syahdu bisa lebih baik. Kupikir keadaan tadi sudah membuatnya lega. Tapi nampaknya tidak juga. Apa dia benar-benar masih terkejut soal kehamilan itu?
Entahlah. Aku menuju lobi dulu, menunggunya sembari berpikir kira-kira apa yang bisa membuat mood seorang perempuan membaik.
"Arga!"
Merasa ada yang memanggil, aku mengangkat kepala dan mendapati Naya berjalan cepat kearahku dengan wajahnya yang ceria.
Ah, lagi-lagi gadis itu...
"Hai, Ga. Ngapain kesini?"
__ADS_1
"Gue...." sebentar, aku mencari Syahdu. Semoga aja dia nggak keluar dulu selagi Naya masih disini. "Gue abis ketemuan sama temen."
"Disini?" Tanya Naya seperti heran.
"Arvian Jayantara, dia temen gue."
Naya terbelalak. "Hah? Serius kak Arvian temen lo?"
Aku mengangguk.
"Haha. Dunia sempit banget, ya. Kak Arvian itu pacarnya kakak gueee." Katanya sambil cekikikan.
Hah? Pacar? Si Arvian nggak cerita kalau dia punya pacar.
"Tuh, kakak gue lagi nemuin dia di dalam. Soalnya kita mau pergi bareng. Pas banget gue ketemu lo...."
Naya bercerita panjang lebar. Kulihat dari balik tubuh Naya, Syahdu berjalan cepat keluar gedung.
"Gimana, Ga?" Pertanyaan Naya membuatku tersadar.
"Apa?"
"Lo mau ikut kita, nggak? Kita mau jalan bareng kak Arvian. Ayo, dong, Ga. Biar gue ada temennyaa.." bujuk Naya, menggoyang-goyangkan lenganku.
"Sorry, Nay. Gue nggak bisa. Gue masih ada urusan."
Aku langsung membuka Hp, menanyakan dimana keberadaan gadis itu sekarang.
"Yaaah. Gitu, ya. Sayang banget.."
"Sorry, ya. Gue balik dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Naya, aku keluar. Mataku langsung berkeliling, tapi tidak menemukan Syahdu dimana pun.
Aku meneleponnya. Aktif, tapi tidak dijawab. Kemana dia? Apa masih disekitar sini atau sudah pergi?
Akupun memutuskan menunggu balasan Syahdu di dalam mobil. Siapa tahu dia masih bersembunyi disekitar sini.
Cukup lama aku menunggu, sampai Syahdu membalasnya.
Aku termangu saat membaca pesan dari Syahdu. Memang tak seharusnya aku mengkhawatirkan dia, karena gadis itu punya tempat khusus dimana ia bisa medapatkan kasih sayang tulus, yang mungkin nggak dia dapat dari siapapun, termasuk aku.
Hah. Apa, ya. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri. Tak bisa kupungkiri kalau aku semakin sayang pada gadis itu. Apalagi setelah drama panjang kami karena takut dia hamil, membuatku paham sebenarnya aku memang harus bertanggung jawab, walau aku sendiri masih ragu dengan yang namanya pernikahan.
__ADS_1
** Bagaimana menurut kalian di bab ini? Apa Arga harus berjuang, atau mengalah membiarkan Syahdu tetap bersama Wicak dan pergi dari kota itu? Jangan lupa like dan Komen, ya Pen😉**