
Karena kuyakin cinta dalam hatiku hanya milikmu sampai akhir hidupku
Karena kuyakin disetiap hembus nafasku hanya dirimu satu yang slalu kurindu~
***
Arga berjalan santai dengan setelan jas biru. Sorak sorai menggema memenuhi ruang tatkala dia muncul dan berdiri tegak menatap sekelilingnya. Lelaki itu tersenyum dihadapan banyaknya orang-orang yang datang untuk melihat penampilannya diatas panggung.
Arga mulai duduk dan memposisikan mic dekat dengannya. Kedua tangan lelaki itu bersiap menekan tuts hitam putih sebagai iringan suara merdunya.
Penonton pun mulai hening. Mereka ingin mendengar suara dan kepiawaian seorang Arga dalam memainkan alat musik dihadapannya.
Jari-jemari Arga mulai menari diatas papan piano. Matanya terpejam meresapi setiap alunan suara dari jarinya sendiri.
Selalu saja, setiap kali Arga menyanyikan ini, ingatannya kembali ke masa lalu. Masa dimana seorang perempuan berparas syahdu menemani malam-malamnya.
Namun sekarang, perempuan itu sudah lama sekali ia tidak pernah lihat. Bagaimana kabarnya, kehidupannya, seperti apa dia sekarang, apakah dia semakin membaik atau sebaliknya, Arga tidak tahu. Padahal ia sangat merindukan gadis itu. Gadis yang karenanyalah lagu ini tercipta.
🎶Selama ini aku tenggelam seperti batu
Kucoba menutup mata dan telinga di singgasanaku
Aku kehilangan jalan pulang, tapi justru kau datang
Bisakah mata ini terus bertatap untuk waktu yang lama.
Bisakah setiap hari kita berpegangan tangan.
Bisakah aku tetap memilikimu walau dunia ini menentang kita.
Karena aku ingin tetap disampingmu, walau dunia ini bergetar sekalipun, aku akan baik-baik saja asal bersamamu.
Kenapa kau tidak tinggal disini saja?'🎶
Arga membuka mata saat suara tepuk tangan begitu meriah terdengar. Dia merasa terharu. Lagu pertama yang ia luncurkan tujuh tahun lalu ternyata masih disukai sampai sekarang.
Bukan tanpa alasan. Arga sengaja menghubungi kembali orang yang selalu menawarinya untuk menjadi penyanyi terkenal. Tak butuh waktu lama baginya untuk tenar, apalagi lagu pertama ciptaannya langsung booming dan meledak di pasaran.
Tujuan Arga, tentu saja Syahdu. Supaya gadis itu bisa melihatnya dimanapun ia berada. Supaya Syahdu mendengar lagu yang pernah ia nyanyikan didepannya. Supaya Syahdu mengerti kalau selama ini Arga masih mengharapkannya kembali. Lagu yang barusan ia nyanyikan, sebagian liriknya adalah tulisan Syahdu, ciptaan gadis itu.
"Udah kelar, kan?" Tanya Arga pada Ibra yang kini menjadi manager yang mengatur semua jadwal manggungnya.
"Udah." Jawab Ibra ikut duduk disebelah Arga di ruang artis.
Arga lalu mengeluarkan rokok dan menghisapnya perlahan keatas, asap pun mengepul diatas kepalanya.
"Ga, gue rasa lo perlu buka hati, deh. Tujuh tahun, man." Kata Ibra, yang paham situasi hati Arga setelah menyanyikan lagu itu.
Arga menghembuskan asap lagi keatas. Tangannya merentang di sandaran sofa.
"Lo apa ngga mikir, barang kali Syahdu udah bahagia. Udah nikah, punya suami, punya anak.."
Arga memilih diam supaya Ibra cepat selesai dengan ocehannya. Pasalnya ini bukan yang pertama, melainkan kesejuta kalinya.
"Lo cuma perlu kenalan sama cewek doang. Ntar kalo lo dapet yang enak diajak ngobrol, hati lo kebuka sendiri, kok."
__ADS_1
Arga mengabaikannya. Lagi, dia mendongak dan menghembuskan asap dari mulutnya.
"Kalo emang dia juga suka sama lo, dari dulu juga dia pasti datang. Apalagi lagu dan semua lirik lo bener-bener nyangkut banget ke dia. Tapi buktinya, Syahdu menghilang total! Keliatan batang hidungnya aja enggak! Nyerah aja deh, nyerah!" Celoteh Ibra panjang lebar.
"Hei!" Panggil Arga pada Ibra. "Kalo gue nyerah, lo nganggur." Ujarnya pada lelaki itu.
Ibra pun diam dengan helaan kecil dari mulutnya. Itu memang benar. Karena tujuan Arga menjadi terkenal adalah Syahdu. Dia sudah katakan pada Ibra, jika suatu hari ia bertemu Syahdu, atau menyerah dengan perasaannya sendiri, maka dia akan berhenti menjadi musisi terkenal.
Arga memadamkan rokok diatas asbak, lalu berdiri. "Besok gue free, kan?" Tanyanya sembari berjalan keluar.
"Iya. Sampe lusa, sesuai permintaan lo. Trus senin sore lo ada podcast bareng artis yang udah lama banget ngajakin collab." Ujar Ibra mengikuti Arga.
Arga manggut-manggut tanpa peduli siapa artis itu. Dia lalu masuk kedalam mobil dikursi belakang.
"Malam ini gue di rumah Oma. Trus lo juga ngga usah ngubungi gue kalo ngga penting-penting banget."
"Iya. Istirahat, deh. Pak, hati-hati." Kata Ibra pada supir Arga. Supir itu mengangguk lalu menjalankan mobil dengan perlahan.
Arga menyandarkan kepalanya di jok mobil. Wajahnya menoleh kesamping, menatap lampu berwarna-warni sepanjang jalan malam.
Lampu merah, mobil berhenti. Sebuah baliho besar dengan gambar dirinya terpampang cukup besar. Festival musik kota dengan Arga sebagai bintang tamunya akan dilaksanakan dua minggu lagi. Tepat di malam ulang tahunnya.
Mobil kembali berjalan. Arga memijit keningnya. Setiap kali mengingat ulang tahunnya yang mulai dekat, dia selalu merasa pusing karena harus mengingat masa pahit ditinggal oleh seorang Syahdu. Seheboh dan semeriah apapun kejutan yang orang-orang berikan, tidak membuat Arga melupakan kejadian itu.
Mobil berhenti di depan rumah Margareth. Arga keluar dan berlari kecil tak sabar melihat orang-orang di dalam rumah. Pasalnya, sudah hampir satu bulan dia tidak berkunjung.
Arga berhenti saat melihat Margareth duduk tenang dengan majalah di tangannya.
"Oma.." Arga merangkul Margareth dari belakang, lalu mengecup pipi wanita tua itu.
"Arga, tumben pulang kesini."
Ya, sejak hari itu, hari dimana Arga pulang bersama ayahnya, disana juga Margareth memberi ancaman pada Alex. Tentu wanita tua itu tak suka melihat keadaan cucu satu-satunya yang terpuruk seperti itu.
Margareth dengan tegas menolak pertunangan itu. Bahkan ia tidak peduli dengan berapa jumlah denda yang harus ia bayar, atau rasa malu karena pertunangan dibatalkan. Asal Arga kembali ceria seperti sedia kala.
Lalu Soraya, setelah keputusan pembatalan pertunangan, dia tetap masih mengejar Arga. Setahun belakangan, barulah ia berhenti karena Sutomo memaksanya pindah keluar negeri.
Hubungan dua keluarga itu tentu saja memburuk dan beberapa pembatalan kerja sama yang membuat aset Margareth dan Alex sempat menurun. Namun itu tak membuat Margareth menarik keputusannya sampai akhirnya Margareth berhasil mendapatkan kerjasama dari perusahaan lain.
Jangan tanya bagaimana berangnya Alex, sampai ia kembali pulang ke negara asalnya bersama Julia, dan tak lagi menatap Arga sebagai anaknya. Tentu itu bukan masalah bagi Arga.
"Sering-sering kesini, ya. Tuh, dia juga rindu." Mata Margareth mengarah ke sisi meja.
"Enggak. Siapa yang rindu!"
Suara sanggahan itu membuat Arga menyembunyikan senyum, lalu duduk disebelah gadis kecil yang sejak tadi menggambar diatas meja.
"Masa nggak rindu?" Arga mulai menjahili.
"Enggak. Udah sana, pergi lagi."
"Yang bener..."
"Iya, bener!" Jawabnya lantang.
"Yang bener??" Arga menggelitiki pinggang gadis itu.
__ADS_1
"Aaah. Geli, tauuuk." Katanya menghindar dari Arga.
Margareth hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
"Oma ke kamar dulu, ya."
"Iya, Oma." Jawab keduanya serentak.
Margareth dibawa seorang perawat menggunakan kursi roda. Usianya yang sudah sangat tua membuatnya kesulitan berjalan juga karena beberapa penyakit yang ada di dalam tubuhnya.
"Tidur, gih."
"Belum ngantuk." Jawab gadis cilik itu.
"Lanjutin di kamar aja. Kalau nggak, ntar diaduin ke mami supaya mami marah."
Gadis kecil itu berdecak, melirik tak suka kearah Arga. Jarang pulang, sekalinya pulang selalu mengajak bertengkar, batin gadis itu.
Arga pula tertawa gemas melihat wajah jutek adiknya. Dia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dan meletakkannya di atas meja.
"Waah. Apa ini, kak??" Seru gadis itu kegirangan.
"Buka, dong."
Gadis cilik itu langsung membuka bungkusan dan terlihat senang dengan hadiahnya.
"Crayon terbaru! Wah, makasih, kaak." Gadis itu memeluk Arga, lalu sibuk membuka crayon baru untuk diaplikasikan ke buku gambarnya.
"Syahdu.. Syahdu.." Arga menggelengkan kepala gemas. Adiknya itu hobi sekali menggambar sampai segala yang ia inginkan hanyalah pewarna.
Arga membelai rambut adiknya dengan lembut. Shania Alexandra, adiknya yang lahir 6 tahun lalu. Dia hadir karena ancaman dari Margareth yang akan menghentikan aliran dana dan kerjasama pada perusahaan Alex di UK. Dengan lemas Julia menuruti kemauan Margareth untuk punya anak lagi dan inilah dia. Gadis bermata indah yang selalu dipanggil Arga dengan nama Syahdu. Shania pula sudah terbiasa sejak dulu dipanggil dengan nama yang diberikan kakaknya.
Setelah mengantar Shania ke kamar, Arga juga kembali ke tempat dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Dia menghempaskan tubuhnya yang lelah seharian bekerja. Selama ini dia selalu tersenyum di depan kamera dan juga penggemar. Namun semua itu ia lakukan karena keterpaksaan. Tempat satu-satunya Arga menjadi dirinya sendiri adalah kamar tidurnya.
Arga menatap langit-langit. Lalu menoleh kesamping. Dimana pun ia berada, selalu ada bayangan Syahdu disampingnya. Apalagi tempat tidurnya ini juga pernah ditiduri oleh Syahdu, tentu saja mereka pernah melakukannya diatas ranjang itu.
Arga merogoh saku, membuka ponsel tipe lama yang selalu ia bawa kemana-mana. Ponsel Syahdu.
Dia membuka galeri yang pernah ia pulihkan karena Syahdu telah menghapus semuanya. Kini semua isinya kembali dan karena itulah Arga yakin bahwa Syahdu juga memiliki perasaan yang sama dengannya
Arga mengelus layar ponsel yang menampilkan foto Syahdu bersama Popi. "Sampai kapan aku harus menunggu, Syahdu.." Lirihnya dengan mata yang lelah, hingga akhirnya perlahan tertutup, Argapun terlelap dalam tidurnya.
~ Andai kau tahu ku tak pernah mampu ku tuk lupakanmu
Tak bisa kupaksa hati ini tuk membencimu. Tak sadarkah dirimu ku selalu rindu...
Kan ku sembunyikan luka sampai kau tak melihatnya. Meski ku tak tahu mungkinkah aku bertahan. Adakah kesempatan memulai kembali~
...TBC...
...****...
Halooo.. sorry nungguin lama, yak. Gw skrg udah kerja, Pen.. Hehe kasi selamat dong gw nggak nganggur lagi. Wkwkwk. Jadi kalo telat Up dimaklumin ya🥺🥺
Eits, Btw gw juga bentar lagi ultah. Eh ultah gw sama kayak Syahdu. Ntar ucapin guek ya😝 Ntar di ultah gue up 3 bab gimana?? Wowkokok
__ADS_1
JANGAN LUPA BACA NOVEL TERBARU: DEAR, MAJIKANKU YANG LUMPUH.