
Jangan pergi dari diriku, tak sanggup harus hidup tanpamu. Karena jauh lebih indah bila kita bersama, seperti yang terjadi kemarin...
Kini harus aku lewati langkah demi langkah yang menyepi, membalut luka lagi yang kutahan hingga kini. Habis sudah napasku menyebut namamu.
Takkan hilang cintaku padamu, takkan hilang walau kau memilih pergi. Sampai diujung waktuku mencintamu...
...***...
"Awan.."
Lelaki berkemeja hitam itu mendekat. Dia menatap Syahdu dengan rasa bersalah yang sudah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Awan mengulurkan tangan. Matanya tak lepas dari Syahdu. Syahdu pula bisa merasakan sorot mata penyesalan disana. Dia menyambut tangan Awan.
"Maaf.. "
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Awan, saat tenggorokannya terasa tercekat. Bagaimana jahatnya ia pada Syahdu dulu sampai membuatnya dihujat orang-orang hingga akhirnya menghilang selama bertahun-tahun lamanya.
"Kamu.. ngapain disini?" Tanya Syahdu dengan raut cemas. Siapa yang meninggal?
Tangan Awan menunjuk salah satu makam tak jauh dari tempatnya berdiri. Makam itu tampak masih baru dan penuh dengan bunga.
Mata Syahdu masih bisa membaca nisan yang beratas namakan ibunda Awan. Syahdu kembali menatap Awan yang matanya sudah memerah. Mungkin ia tengah menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan Syahdu.
"Minggu lalu, Mama meninggal. Setelah kejadian dulu, Mama sering sakit. Bokap lari bawa semua uang yang ia dapat dari hasil menjual semua aset. Dia lari entah kemana, sampe Mama stres dan akhirnya jatuh sakit. Gue kerja serabutan buat biayain adek dan nyokap yang sakit bertahun-tahun sampai akhirnya Mama meninggal."
Penjelasan Awan membuat Syahdu ikut bersedih. Hidup begitu keras dan penuh perjuangan. Semua orang punya masalah dan ujian masing-masing, begitu juga dirinya.
Syahdu mengelus pundak Awan. Walau begitu, dia tetap tahu lelaki didepannya tak sejahat yang selama ini orang pikirkan. Dia tetap Awan sahabatnya.
Syahdu dan Awan duduk di bangku yang menghadap pemakaman umum. Gadis itu membiarkan Awan yang masih terdiam karena keadaannya yang tiba-tiba semenyedihkan sekarang.
"Lo selama ini kemana aja? Gue cariin tapi lo ga pernah ada kabar. Selama 7 tahun ini gue ngga pernah ngelewatin buat ikut reuni atau acara apapun dari kampus. Gue berharap banget lo muncul supaya gue bisa minta maaf. Tapi lo bener-bener ngga keliatan."
Syahdu tersenyum tipis. Pandangannya lurus kedepan, tepat dimana ia melihat pengurus makam sedang menata tanah kuburan.
"Gue minta maaf banget sama lo, Du. Sebenarnya gue ngga nyebarin apapun soal lo ke kampus. Itu perbuatan Soraya, yang gue sadari emang itu karena gue secara ngga langsung." Lanjut Awan lagi.
"Ya udahla, Wan. Udah lewat. Aku juga udah ngga mikirin itu."
"Tetap aja, Du. Gue ngerasa bersalah. Bertahun-tahun gue nyimpen penyesalan."
Syahdu mengerti. Karena dia pun sama, menyimpan penyesalan terdalam yang sampai kapanpun tidak akan bisa ia bayarkan pada Wicak.
"Soal Wicak, gue baru tau setelah dua minggu dia meninggal dunia. Waktu itu gue langsung cari lo. Lo bener-bener ngga kuliah lagi, ya. Gue ngga bisa bayangin kaya gimana perasaan lo saat nenek dan Wicak meninggal di waktu yang berdekatan."
Syahdu tersenyum samar. Waktu itu dia terus berdoa agar Tuhan mempercepat waktu, supaya saat ia mengingat kejadian buruk itu, hatinya tidak lagi sesakit itu.
"Soal Arga...."
Kalimat Awan tergantung. Dia menoleh pada Syahdu yang juga tengah melihat kearahnya.
"Lo kesini, apa karena podcast Arga?" Tanya Awan.
Syahdu tak langsung menjawab. Walau yang dikatakan Awan benar.
__ADS_1
"Sejak awal perilisan single dia yang pertama, gue tau itu buat lo."
"Belum tentu." Jawab Syahdu.
"Udah pasti, Du. Semua lagunya berkisah tentang lo. Kentara banget. Apalagi lagu yang baru ini rilis. Missing the piece of you. Lo udah dengerin?"
Syahdu menggelengkan kepala. Awan mengeluarkan ponsel dan memutar lagu Arga yang langsung membludak di hari pertama perilisan.
🎶Hari bertambah gelap, bayanganku bertambah panjang
Matahari jauh disana terbenam
Sepertinya aku sedang berkeliaran di dalam kegelapan yang semakin bertambah gelap
Apakah aku terkunci di tempat ini? Tempat yang masih beraromakanmu.
Setiap hari kamu terlihat sangat jauh, semakin hari semakin menjauh.
Aku menunggumu di tempat yang sama, setiap malam aku melihatmu di mimpiku.
Setiap malam selalu begitu, aku berakhir menangis.
Aku ada disini sekarang. Tempat dimana waktu telah berhenti. Namun engkau tak juga muncul. Aku sangat merindukanmu, sampai kapan aku harus menunggu..🎶
Syahdu menghentikan musik di ponsel Awan. Gadis itu tak mau lagi mendengarnya.
"Dia.. begitu menghayatinya." Kata Awan sembari menyimpan kembali ponselnya.
"Nanti malam ada reuni kelas. Lo dateng, ya? Acaranya ngga jauh, kok. di Redsky. Lo tau kan, tempatnya? Yang dulu Arga suka manggung."
"Sini nomor lo." Awan mengeluarkan ponselnya.
"Aku ngga punya Hp."
"Hah?" Awan cengo.
"Aku tinggal di desa yang ngga ada sinyal sama sekali."
Awan mengerutkan dahi. "Serius? Selama ini lo tinggal di pedalaman?"
Syahdu mengangguk-angguk. Melihat ekspresi Awan membuatnya geli juga.
"Astaga, Du. Kok bisa kecampak kesana?"
Syahdu tertawa mendengarnya. Lalu ia pun bercerita pada Awan mengenai desa Bebatu yang baru satu minggu ini dialiri listrik dan beberapa bulan lagi akan di dirikan tower BTS yang akan memudahkan masyarakat Bebatu untuk menghubungi kerabat mereka. Tak perlu lagi jauh-jauh ke kota untuk sekedar menelepon atau bertukar pesan, seperti yang selama ini Tari lakukan.
...🍁...
Awan sudah mengabarkan pada yang lain, bahwa Syahdu akan datang malam ini. Tentu hal itu disambut gembira oleh Adina. Dia tak sabar melihat sahabatnya kembali sejak beberapa tahun silam tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Malam itu, Redsky dipenuhi oleh alumni yang tengah reuni hingga memenuhi beberapa meja. Suasana yang masih pukul 7 itu sudah sangat meriah karena kedatangan hampir satu kelas mahasiswa.
Pada satu meja bundar yang diisini Awan, Adina, Alika, dan tentu saja Naya, tengah tertawa dan bercanda ria. Mereka kembali mengenang masa dulu, dimana mereka masih sangat gampang terbakar emosi.
"Wan, mana? Kata lo Syahdu bakalan dateng. Lo serius nggak, sih? Gue sampe pulang cepet dari luar kota supaya bisa ketemu Syahdu." Celoteh Adina yang sudah tak sabar bertemu sahabat lamanya.
__ADS_1
"Dateng. Beneran, deh. Tadi dia sendiri yang bilang."
"Lo ketemu dimana?" Tanya Alika.
"Di makam pas gue ziarah. Ternyata Syahdu juga lagi nyekar di makam neneknya dan Wicak."
Yang lain manggut-manggut paham.
"Nah, itu dia." Awan menunjuk salah satu arah, dimana seorang perempuan berambut pendek berjalan dengan penuh pesona.
"I-itu.. Syahdu?" Mata Adina tak berkedip. Dia melongo, merasa Syahdu yang dulu dan sekarang amat berbeda.
Sementara Alika, terus-terusan memencet ponselnya karena Ibra tak kunjung membalas pesannya.
"Ck! Kemana sih lo, nyet!" Rutuk Alika pada Ibra yang bisa-bisanya tidak mengecek grup kelas.
"Syahdu.." Adina berhambur kepelukan Syahdu. Gadis itu pula membalas pelukan Adina. Dia teramat rindu.
"Cantik banget.." Adina menatap Syahdu. Wajahnya tak berubah, justru Syahdu masih terlihat seperti usia belasan tahun saat dulu berkuliah.
"Adina, makin cantik aja.." Syahdu melihat Adina yang dulu berambut pendek kini memanjangkan rambut. Dina juga tengah memakai rok selutut dan blazer hitam beserta kemeja putih. Sekarang, Adina pasti karyawan kantor. Begitu tebakan Syahdu.
"Kok, lo bisa makin cakep gitu, sih. Keliatan lebih segar." Sahut Alika dan Syahdu tertawa kecil.
Ya, memang. Dia juga merasa begitu. Mungkin efek suhu dan udara di Bebatu yang masih sangat alami tanpa polusi. Apalagi Syahdu makan makanan sehat dari tanah desa langsung dan tentu saja tidak memakan makanan cepat saji seperti kebanyakan disini.
"Ras.." Kini giliran Naya. Dia mendekat, lalu memeluk Syahdu.
"Maafin gue, ya. Gue salah banget. Gue bodoh dan malah nyalahin lo waktu itu. Padahal.. semua itu ngga ada sangkut pautnya sama lo."
Syahdu melepas pelukannya. "Aku udah lupain kok, Nay. Itu masa lalu.."
Naya mengangguk-angguk. "Makasih banget, Ras."
"Syahdu. Panggil aku Syahdu." Ralatnya cepat.
Sementara di tempat lain, Ibra berlompat-lompat, berharap Arga yang tengah menyanyi di panggung melihat kearahnya.
"Heeeiii.. siniii.. sinii.." Teriak Ibra tanpa suara. Tangannya melambai-lambai kearah Arga, yang kemudian melirik namun mengabaikannya.
"Ah kampret. Berita penting iniii, astaga!"
Arga akhirnya menyelesaikan lagunya. Dia memberi salam penutup dan akhirnya berjalan santai kebelakang panggung.
"Apa sih, berisik amat!" Protes Arga sembari mengelap keringatnya.
"Nih, lo baca!"
Arga dengan malas mengambil ponsel Ibra, lalu membaca pesan grup.
Seketika tubuhnya tegak dan matanya membulat. Arga reflek melempar ponsel Ibra ke sembarang arah dan langsung berlari keluar stage.
"ANJIR HP GUEE!!" Pekik Ibra berlari kearah dimana Arga mencampakkan ponselnya.
__ADS_1
TBC