SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Hot News Paparazi


__ADS_3

"Itu Argaaa! Itu Arga kan, kaaakk!!" Teriaknya dengan wajah tak percaya. Sementara Syahdu memegang jantungnya yang berdetak hebat karena kehadiran Tari yang tiba-tiba.


"Tari! Bikin kaget aja!"


Tari tak lagi peduli ucapan Syahdu. Matanya terus terfokus pada Arga yang juga tampak kaget dari seberang sana.


"I-itu.. beneran kak Arga?"


"Iyaaa." Jawab Syahdu malas.


Tari malah bengong. Sebegitu tidak menyangkanya dia dengan apa yang ada di depannya saat ini. Terlebih Arga melambaikan tangannya dengan wajah sumringah.


'Hai..' sapa Arga.


Tari mematung. Rasanya tidak mungkin dia bisa mengobrol dengan penyanyi kesukaannya. Seperti mimpi.


'Adik Syahdu, ya? Cakep banget.'


Mata Tari membulat dan jantungnya berdetak seperti ingin melompat keluar. Dibilang cantik oleh Arga?? Tari malah ingin pingsan.


"Ga, udahan dulu, ya."


"Eh, jangaann!!" Pekik Tari. Dia memang masih belum benar-benar tidak menyangka saat ini.


"Kak Argaaa aku ngefann sama kakak. Kakak ganteng banget ya Tuhaaannnn.." Seru Tari yang menguasai ponsel Syahdu. Dari seberang, Arga hanya tertawa-tawa.


'Makasih, ya, udah nge-fan.'Kamu-*# ..'


"Hah? Sinyal nih.." Syahdu pun merebut ponselnya lagi dari Tari.


"Ihh kak, aku belum selesai tauuukk."


"Halo, Ga?"


Tidak ada respon. Panggilan video itu macet, karena sinyal yang hanya satu titik.


Syahdu pun memutuskan sambungan video call. Dia mengirim chat pada Arga supaya lelaki itu tidak salah paham kenapa Syahdu memutuskan sambungan teleponnya.


"Aaahh ngga seruuu. Padahal baru juga mau ngobrol. Iihhh aku harus kasih tau temen-temen aku kalo tadii barusan aku ngobrol sama ka Arga. Aaaaaakkk." Tari berlompat-lompat riang. Dia sampai tak teringat dengan tujuannya naik keatas tadi.


"Ehhh. Jadi bener kalau kakak yang dicari kak Arga selama ini? Soalnya kemarin Tari pinjem majalah dari temen, katanya Ka Arga udah ketemu sama perempuan berinisial S. Itu kakak, kan?"

__ADS_1


Syahdu menarik napas panjang. Rasanya dia belum mau menjelaskan ini, tapi cepat atau lambat Tari juga akan tahu sebenarnya.


"Iya. Kakak orangnya."


Tari menutup mulutnya yang menganga lebar. Kemarin dia hanya berspekulasi, dan berangan-angan, andai saja kakaknya yang dicari, pasti bahagia rasanya punya abang seorang Arga. Ternyata semua pemikirannya benar.


"Ja-jadi.. kakak datang kesini karena lari dari kak Arga??" Tanya Tari penasaran. Selama ini dia tidak banyak tahu soal Syahdu yang mendadak muncul menjadi pengasuh baru. Tari bukannya tak mendengar soal gosip di kampung. Dia hanya tak mau memikirkan soal apapun yang menjadi buah bibir mengenai kakaknya, apalagi dilihatnya bahwa Syahdu bukan perempuan sembarang.


Syahdu gadis pintar. Cara bicaranya juga sopan dan anggun. Syahdu bahkan tidak pernah berkata kasar ataupun marah-marah tak jelas pada anak-anak panti. Sifat penyayangnya itu membuat semua orang takkan percaya dengan gosip yang beredar bahwa Syahdu adalah ibu dari Adit yang ditemukan sehari setelah Syahdu tiba disini.


"I-iyaa.. Enggg.. lebih tepatnya kakak cuma mau nenangin diri. Karena waktu itu Arga tunangan sama perempuan lain, jadi kakak pikir.. untuk apa kakak disana lagi." Jawab Syahdu, mencoba untuk membuat Tari paham.


"Kok dia bisa tunangan sama orang lain kalau dia pacaran sama kakak?"


Ah, Tari benar-benar ingin tahu semuanya. Syahdu menghela napas. "Tari, ceritanya panjaaaang banget. Kakak ngga bisa jelasin semuanya. Intinya, hubungan kakak sama Arga itu ribet banget. Dia dijodohin keluarganya waktu itu dan ngga bisa nolak. Kakak juga ngga mungkin ada disana waktu itu. Jadi, kakak pindah kesini supaya hubungan Arga dan keluarganya, juga tunangannya itu berjalan dengan lancar." Jelas Syahdu panjang lebar.


Tari pun mengangguk kecil. Nampaknya dia cukup mengerti mengingat usianya sudah hampir menginjak dewasa.


"Kaya cerita di filem-filem, ya kak?"


Syahdu tergelak mendengarnya. Memang kalau dipikir-pikir, kisah ribet dan ruwet seperti hidupnya ini sering dijadikan cerita untuk film.


"Hah?" Syahdu cengo. Kenapa Tari bisa mengatakan itu?


"Tari tadi liat pak Arif sedih wajahnya pas turun dari sini. Kok, Tari jadi kasihan, ya. Cintanya ditikung masa lalu kak Syahdu."


"Haisss.. anak ini. Kamu tuh, kok ngerti banget yang kaya gini. Kalau pelajaran sekolah aja, selalu nanya!"


"Ehehe.." Tari hanya cengengesan. Selama ini dia lebih suka membaca novel ketimbang membaca buku pelajaran. Tentu hal yang seperti ini pun dia sudah sangat hafal.


Tak berapa lama, Syahdu pun mengajak Tari untuk turun dan istirahat, sebab tubuhnya juga terasa lelah setelah perjalanan yang sangat panjang.


~


Hari ini di sekolah, Tari bilang ada acara perpisahan dengan guru matematika mereka, yaitu Arif. Syahdu tak ingin datang, karena tadi malam dia dan Arif sudah menyelesaikan semuanya. Dan tidak ada lagi hal yang harus dibahas.


Syahdu baru pulang berbelanja bersama Nani. Dia langsung terduduk saat merasa perutnya mulai sakit.


"Syahdu.."


Nani menepuk pundak Syahdu. Gadis itu tengah duduk memegangi perutnya.

__ADS_1


"Bunda.. kayanya Syahdu datang bulan." Kata gadis itu dengan rintihan sakit. Seperti biasa, setiap datang bulan, Syahdu pasti merasakan perutnya yang seperti dipelintir.


"Kamu istirahat, ya. Nanti bunda buatkan jamu."


"Iya, bun." Syahdu kembali ke kamarnya. Dia melihat ponselnya yang ada diatas nakas. Sepertinya dia belum ada menghubungi Arga. Syahdupun menahan sakitnya dan naik keatas bukit untuk memberi kabar kepada Arga, kalau tidak, lelaki itu bisa mengomel panjang lebar nantinya.



Tetapi yang paling ditunggu Syahdu adalah laporan dari Ibra. Karena lelaki itu akan memberitahu dengan detail apa yang dilakukan Arga tanpa sepengetahuan lelaki itu. Syahdu selalu saja tersenyum jika Ibra memotret kekasihnya secara diam-diam.



...🍁...


Arga baru turun dari panggung. Setelah sesi foto dan tanda tangan dengan para penggemar, dia pun langsung memasukkan gitarnya kedalam tempatnya. Hari ini Arga ingin jadwalnya cepat terselesaikan. Sejak Syahdu kembali, Arga tak lagi suka berlama-lama diluar kota.


"Hei, Ga.." Ibra mendekatinya. Sejak tadi ia menunggu Arga dengan wajah cemas setelah melihat satu informasi dari sosial media.


"Napa lu." Tanya lelaki itu.


"Ga, gawat nih. Bener kan, dugaan gue. Di twitter lagi rame banget." Tangan Ibra menyodorkan layar ponselnya kearah Arga.


Arga menghentikan aktifitasnya, mengambil ponsel Ibra dan melihat apa yang ada disana.


"Ck. Biarin ajalah. Gitu doang." Jawabnya cuek.


"Hei. Ini tuh masih baru. Lo ngga baca komentarnya mulai negatif gini?"


Arga berdiri, lalu menggendong tas berisikan gitarnya. "Nanti gue bakalan tulis klarifikasi."


"Yang bener, lu."


"Iyaaa, berisik banget, sih."


Arga pun mengeluarkan ponselnya. Senyum di bibirnya pun muncul begitu melihat pesan dari Syahdu.


"Eh?" Mendadak dia merubah ekspresi wajahnya. "Syahdu sakit?" Tanyanya dengan mata yang tak lepas dari layar ponselnya.


TBC


Yang belum Vote, buruan Vote!! 🫰

__ADS_1


__ADS_2