
Setelah makan malam di hotel, Wicak dan Syahdu kembali ke dalam kamar. Hari ini mereka tidak punya rencana apa-apa selain istirahat supaya besok bisa puas mengelilingi pulau kecil itu.
Syahdu membuka lebar jendela untuk menikmati angin. Suara ombak terdengar bergemuruh, dia juga bisa melihat kepiting berjalan kesana kemari di pasir itu.
"Syahdu."
"Ya?"
"Aku keluar dulu. Ada yang ingin kubeli." Kata Wicak. Dia berjalan ke arah pintu. Sementara Syahdu masih terus menatap ombak yang menggulung.
Malam ini dia akan tidur bersama Wicak. Tapi, lelaki itu bilang dia akan tidur dibawah. Ternyata dia memesan extra bed karena sofa disini kecil, tidak bisa untuk ditiduri.
Pikiran Syahdu melayang-layang. Apa benar dia dan Wicak hanya menghabiskan malam dengan tidur di masing-masing tempat? Apa benar-benar akan seperti itu saja? Kenapa Syahdu seperti berharap terjadi sesuatu antara dia dan Wicak malam ini?
Arga waktu itu pernah bilang, tidak ada laki-laki yang tahan berduaan dengan pacarnya tanpa melakukan apa-apa. Arga mengatakan itu saat Syahdu bilang kalau dia tidak pernah melakukan apa-apa pada Wicak. Tentu Arga merasa Wicak seperti tidak normal, berpacaran selama 7 tahun tapi tidak menyentuh Syahdu. Mendengar itu, Syahdu marah karena dia sering mendengar debaran jantung Wicak saat mereka berpelukan. Lalu, saat Syahdu melakukan kekhilafan di tempat karaoke waktu itu, dia juga bisa merasakan sesuatu yang mengeras dibalik celana Wicak.
Jadi, jika malam ini berlalu begitu saja, artinya Wicak benar-benar menahan begitu kuat hasratnya.
Angin berhembus lebih kencang. Syahdu memejamkan matanya dan melihat wajah Wicak yang tersenyum di bayangannya. Syahdu tahu, lelaki itu sangat mencintainya. Itu sebabnya dia terus menjaga Syahdu sampai dia menikahi perempuan itu.
"Sshhttt.."
Syahdu membuka mata, dia mendengar suara.
"Fwiiwwiitt." Bunyi siulan terdengar, Syahdu menengok ke bawah.
Itu Wicak. Syahdu tertawa kecil. Bisa-bisanya lelaki itu dibawah, bukannya langsung masuk ke kamar.
"Ngapain??" Teriak Syahdu.
"Liat kamu lah." Jawabnya. Wicak mengeluarkan ponsel dan memotret Syahdu dari bawah sana. Tak mau kalah, Syahdu pun memotret kekasihnya dari atas.
Syahdu tertawa melihat tingkah laki-laki itu. "Naikk. Dingin, tau!"
Wicak tak langsung nurut. Dia masih menatapi Syahdu dari bawah dengan senyuman khas dirinya.
"Aku turun, yaa." Teriak Syahdu lagi.
"Nggak.. Dingin. Aku yang naikk!" Kata Wicak dan langsung berlalu dari tempatnya.
~
__ADS_1
Arga memutar pulpen di tangannya. Dia duduk di balkon dengan memeluk gitar. Di atas meja sudah berserak beberapa lembar kertas dengan banyak coretan. Sesekali terdengar nada dari mulutnya, dia menulis, lalu mencoret lagi.
Arga memainkan gitar. Matanya melirik kertas yang sudah penuh coretan. Dia mulai bernyanyi.
'Tersesat di matamu, tidak ada tempat untuk berlari
Bawa aku ke dalam dan biarkan aku hidup dalam pikiranmu
Tidak ada kau malam ini, hidupku terasa sunyi.'
Merasa ada yang kurang, Arga mencoret kertas itu, menulis lagi kalimat baru. Begitu terus sampai dia merasa lelah dan bersandar di kursi.
"Huff.." Arga meletakkan gitar dan mulai memasang rokok.
Dia mengambil secarik kertas yang dia coret sejak tadi. Membaca ulang satu bait lirik yang dia ciptakan dikala ia mulai merasa ada yang hilang dari dirinya.
Arga merasa hari-harinya berjalan tak seperti biasa. Bahkan teman-teman kencan yang biasa ia gandeng, sudah tak ada keinginan lagi bersama mereka. Sudah berulang kali pula Arga duduk di Bar untuk sekedar mengisi waktu bersama teman-temannya, tapi perasaannya seperti tertinggal di rumah dan membuatnya ingin segera cepat pulang. Entah mengapa terasa begitu.
Arga meraih ponsel. Mencoba mengecek sosial media. Barangkali dia menemukan inspirasi untuk menulis lirik selanjutnya.
Jari yang sejak tadi bergerak, akhirnya berhenti tepat di status terbaru Syahdu.
Arga meletakkan lagi ponselnya dan mulai menulis kata-kata yang baru saja ia tangkap dari pikirannya.
'Selama ini aku tenggelam seperti batu
Kucoba menutup mata dan telinga di singgasanaku
Aku kehilangan jalan pulang, tapi justru kau hadir...'
Arga meletakkan pulpennya dan mulai menyenandungkan lagu yang ia ciptakan dari hati yang terdalam.
~
Pintu diketuk, Wicak yang tengah membereskan barangnya langsung membuka pintu.
"Selamat malam, mas. Maaf mengganggu waktunya. Ini ada hadiah dari hotel kami." Seorang pelayan hotel datang membawa satu nampan berisikan dua gelas dan satu anggur merah.
"Maaf, tapi kami tidak minum alkohol." Tolak Wicak secara halus.
__ADS_1
"Tapi mas, saya hanya mengantarkan ini. Ini sebagai layanan tambahan karena kesalahan sistem yang mas dapat tadi saat check in. Lagi pula, Ini hanya 10% alkohol, mas." Pelayan itu menyerahkan nampan pada Wicak. Dia dengan malas menerimanya.
"Ya udah kalau gitu, makasih mas."
Si pelayan pun pergi dan Wicak menutup pintu.
Syahdu baru keluar dari kamar mandi, dia melihat Wicak meletakkan nampan dengan botol hitam di atasnya.
"Apa itu, kak?"
"Wine."
"Hah?" Syahdu menganga. "Kakak beli Wine??"
"Enggak. Ini hadiah dari hotel."
Syahdu mendekat, baru kali ini dia melihat botol wine yang biasa ada di film-film.
"Ini yang warnanya merah itu, kan?" Tanya Syahdu, mencoba melihat isi dari botol hitam itu.
"Iya. Jangan diminum. Ntar mabok lagi." Tukas laki-laki itu. Dia tengah membaringkan extra bed di lantai.
"Masa? Di film-film nggak sampe buat mabok, kok. Perasaan diminum dikit-dikit gitu. Aku buka, ya?"
"Jangannn.." Wicak langsung merebut botol itu dari Syahdu.
"Ih, kenapa? Dikit, doang. Ngga bikin mabuk. Itu tulisannya juga cuma 10%."
"Emangnya kamu tau, kadar berapa yang buat kamu mabuk? Kalau diminum terus-terusan juga bisa buat mabuk." Wicak menaikkan tangannya, membuat Syahdu cemberut karena kini dia tak bisa meraih tangan yang tinggi itu.
"Makanya, minumnya dikit aja. Aku penasaran, tauu." Syahdu melompat-lompat kecil demi meraih wine di tangan Wicak.
"Enggak. Jangan coba-coba minum alkohol."
"Tapi itu ngga buat mabuk, kak." jawabnya sambil terus berusaha merebut.
"Kalau aku bilang enggak, ya engg.. eehhh."
Wicak tanpa sadar terus mundur hingga ia menabrak kaki tempat tidur.
Kedua insan itu terjatuh diatas kasur dengan posisi Wicak dibawah Syahdu. Mata mereka bertemu cukup lama. Dari mata Wicak memandang, Syahdu terlihat lebih cantik saat dia berada di atasnya.
__ADS_1
Argh, Wicak membuang pikiran jahatnya. Dia tidak ingin melakukan itu pada kekasihnya. Tapi sorot mata itu, kenapa seperti menginginkan sesuatu?
TBC