
...PoV Author...
Arga menghempaskan tubuhnya diatas sofa setelah sampai di rumah Margareth. Dia menatap nanar ke depan. Yang ada di pandangannya hanya Syahdu. Keadaan gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Dia sangat terlihat syok dan pucat. Bagaimana keadaannya sekarang?
Arga menggelengkan kepala. Bodoh, jelas perempuan itu baik-baik saja setelah bertemu kekasihnya. Kekasih sejatinya -kata Syahdu waktu itu.
"Alexander, kamu baru pulang, sayang."
Arga mendesah kesal. "Berkali-kali, Mi. Don't call me Alexander!"
Julia duduk di sofa, mengabaikan ucapan Arga karena dia akan terus memanggil anaknya dengan nama Alexander. Nama yang ia ambil dari suaminya, Alex Dayton, lelaki asli inggris yang menikahinya 25 tahun yang lalu.
Arga menolak dipanggil Alexander semenjak hubungan dengan ayahnya memburuk. Dia lalu meminta orang-orang memanggilnya dengan nama Arga, tak ingin lagi berkaitan banyak dengan sang ayah.
"Malam ini jangan kemana-mana, mami rindu karena mami cuma dua minggu disini. Mengerti?"
"Hmm. Yaa.." jawabnya dengan malas.
Makan malam pun tiba. Arga duduk dengan ponselnya. Makananpun tidak ia sentuh. Matanya terus tertuju pada ruang obrolannya bersama Syahdu. Dia ingin mengetik sesuatu, tapi khawatir jika pesannya didapati Wicak.
"Arga, makanannya ngga enak?"
Arga meletakkan ponselnya, dia mulai mengambil sendok dan menyuapkan makanan dari pada Margareth memarahi kokinya karena makanan yang dimasak tidak disukai cucunya.
"Sayang, apa kamu ada masalah?" Tanya Julia. Dia sejak tadi melihat anaknya tidak bersemangat.
"Ngga ada, mi." Jawabnya.
"Permisi, nyonya. Ada tamu. Katanya ingin bertemu nyonya Julia." Seorang pembantu rumah tangga memberi informasi yang ia dapat dari penjaga gerbang.
"Ah, suruh dia masuk." Jawab Julia cepat.
"Siapa?" Tanya Margareth.
Julia hanya tersenyum lalu melirik Arga yang tampak tak peduli.
"Permisi, tante Julia, Oma." Sapa Soraya. Ia datang dengan sebuah kotak makanan.
Arga yang melihat kedatangan Soraya langsung meletakkan sendoknya dan menenggak air putih.
"Maaf mengganggu makan malamnya." Sambungnya saat melihat Arga sampai berhenti dari aktifitasnya.
"Sama sekali enggak. Duduk, Soraya, kita makan malam bersama." Julia memerintahkan pelayan untuk mengambil piring dan gelas lagi.
"Ma, ini lho, Soraya. Anak gadisnya pak Sutomo Adiguna. Mama pasti kenal." Kata Julia pada Margareth.
Margareth menatap Soraya. Matanya membandingkan antara gadis di depannya dan juga Syahdu.
"Papamu ada bisnis apa dengan suami Julia?" Tanya Margareth terus terang.
Soraya tampak kaget dengan pertanyaan itu, tapi bibirnya tetap mengembangkan senyuman.
"Ee.. kalau itu, saya kurang tau, Oma."
"Kamu kuliah dimana?" Tanya Margareth lagi. Dia menyelidiki gadis itu.
"Di Medistira, Oma."
"Dokter?"
Soraya mengangguk malu. "Lagi nyusun skripsi, Oma."
"Ooh. Seharusnya Arga juga sudah nyusun skripsi. Tapi dia malas kuliah." Margareth melirik Arga. Tapi laki-laki itu menghabiskan minumnya dan berdiri.
__ADS_1
"Eh, mau kemana?" Julia menarik lagi tangan Arga disampingnya sampai ia terduduk kembali. "Jangan kemana-mana. Kan, udah janji mau quality time sama mami."
Arga menghela napas. Mau tak mau dia menuruti.
"Eee.. Arga, kata papah, bisa ketemu rabu malam, nggak. Kebetulan papah akan terbang ke UK hari kamis, jadi papah mau nyempatin ketemu kamu." Ucap Soraya ragu-ragu. Dia juga sengaja meminta Arga saat ada oma dan maminya supaya Arga sulit menolak.
"Gue ngisi acara."
"Sayang, ayolah." Julia menggenggam tangan anaknya.
"Mi, Arga udah bilang, kan. Arga nggak mau menikah, apalagi dijodohkan." Tegas Arga.
Mereka diam. Begitu juga Margareth yang hanya menatapi ketiga orang itu di meja makan.
"Ee.. kalo kamu sibuk, ngga apapa nanti aku bilang ke papah. Biar.. cari waktu lain."
"Gue sibuk setiap hari." Jawab Arga cuek.
"Sayang, jangan gitu, dong. Masa sehari aja kamu ga ada waktu." Keluh Julia.
"Eee.. sebenarnya papah ngundang makan malam untuk oma dan tante Julia juga. Cuma, Soraya takut tante sama Oma sibuk." Soraya mengusulkan itu sendirian. Dia tidak mau kesempatan Arga bertemu papahnya terlewat begitu saja.
"Yang bener? Kapan? Mumpung tante masih disini, lho."
"Nanti Soraya kabarin tante lagi, ya." Jawab Soraya senang.
"Ya udah, makan dulu. Nanti temenin tante ngobrol lagi, ya."
"Iya, tante." Sahutnya dengan senang hati. Dia melirik Arga. Lelaki itu hanya menatapi layar ponselnya.
~
Arga membuka kulkas. Dia mengambil sebotol air dingin dan menuangkannya ke gelas. Dia sengaja meminum air dingin, agar pikirannya bisa lebih tenang. Entah kenapa, sejak kejadian hari ini membuatnya terus memikirkan Syahdu.
Margareth menghampiri Arga yang duduk di minibar dapur. Lelaki itu melamun tadi, membuat Margareth penasaran dengan apa yang dipikirkan cucunya.
"Bukan apa-apa, oma."
Wanita tua itu duduk disebelah Arga. "Katanya mau bawa Syahdu. Mana? Kamu nipu oma lagi, ya."
"Bukan gitu, oma. Syahdu juga lagi nggak enak badan. Pokoknya kalau masanya udah lapang, Arga pasti bawa dia kesini."
Margareth mengangguk-angguk. Jarinya mengetuk-ngetuk meja, ingin menanyakan tentang Soraya yang dilihatnya, Arga tidak menyukai gadis itu.
"Apa gadis itu yang dipilih Alex untukmu?"
"Iya."
"Kamu suka?"
"Oma, bukan tentang suka. Tapi Arga nggak mau menikah." Terang lelaki itu lagi dan lagi.
Margareth menghela napas. Dia jadi berpikir kalau Alex mau menikah paksakan anaknya, dia akan setuju saja daripada generasinya hilang karena Arga tak berminat meneruskannya.
"Arga, dengarkan oma." Margareth memiringkan tubuh, menghadap cucunya.
"Kamu pilih menikah dengan Syahdu, atau Soraya."
"Oma..."
"Pilih, atau oma setujuin apa yang Alex rencanakan ke kamu." Ancam Margareth serius.
"Lho, oma kok jadi gitu?"
__ADS_1
"Ya iyalah. Oma nggak mau kalau garis keturunan oma berhenti di kamu. Sekarang, kamu pilih aja. Syahdu, atau Soraya. Kalau kamu pilih Syahdu, oma akan bantu melawan papamu sampai titik darah penghabisan." Jelas Margareth dan langsung pergi meninggalkan Arga yang melongo dengan apa yang baru saja oma katakan padanya.
Kesal, Arga meninggalkan dapur, naik ke tangga menuju kamar.
Langkahnya terhenti di anak tangga terakhir saat melihat pintu kamarnya terbuka. Arga langsung menuju kamarnya dan mendapati Soraya duduk di tepi tempat tidur.
"Ngapain lo disini??"
Soraya sontak berdiri. Dia gelagapan melihat Arga yang tiba-tiba datang.
"Ee.. tadi, tante Julia nyuruh aku ke atas duluan jadi.."
"Keluar!"
"Arga, aku cuma-"
"Keluar gue bilang!"
"Sayang, ada apa?" Julia datang, dia berdiri diambang pintu.
"Mi, mami tau kan, Arga ngga suka kamar Arga dimasuki orang lain termasuk pembantu bahkan mami sekalipun." Tegas Arga menatap Soraya. Gadis itu menunduk, merasa bersalah sudah lancang masuk.
Sementara Julia, berdiri ikut menatap Soraya. Dia tidak menyuruhnya ke kamar Arga. Julia hanya meminta Soraya menunggu di taman lantai atas.
"Soraya, ayo kesini."
Soraya berjalan cepat keluar kamar mengikuti Julia menuju taman tepat disebelah kamar Arga. Mereka duduk di gazebo dengan lentera yang terang.
"Raya, maafin Arga, ya. Dia emang gitu. Dari dulu ngga suka barang atau apapun miliknya disentuh orang lain. Tante aja ngga boleh masuk kamarnya kalau ga ada kepentingan."
"Masa sih, tante?"
"Iya. Dia itu rajin banget anaknya. Rapi, mirip kaya papanya. Jadi kamarnya itu selalu dia beresin sendiri. Baju-baju, atau apapun, dia ga akan pake lagi kalau abis dipake orang lain."
Soraya mengangguk-angguk. Kini dia paham kenapa Arga semarah itu tadi.
"Kamu ngga apapa, kan?"
"Ngga apapa, tante. Malah bagus, kan. Artinya nanti kalau aku jadi istrinya, dia cuma mau dipegang sama aku. Itu karakter yang bahkan jaarrang banget dimilik cowok zaman sekarang."
Julia tertawa pelan. "Iya. Tante rasa, lama kelamaan juga dia pasti luluh sama kamu. Kamu kan, cantik, pintar, sopan lagi. Tante setuju banget kalau kamu sama Arga."
"Hehe. Makasih, ya, tante."
Dari dalam kamarnya, Arga melengos mendengar percakapan dua orang di dekat jendelanya itu. Dia langsung meraih ponsel untuk menanyakan keadaan Syahdu. Tapi dia langsung berdiri saat melihat status terbaru gadis itu.
"Syahdu!"
Arga meraih jeket dan kunci mobilnya. Dia berjalan cepat menuju pintu kamar, namun langkahnya terhenti. Kalau dia kesana dan lelaki itu belum pulang, bagaimana? Laki-laki itu, apa dia menginap di rumah sakit atau tidak?
Arga memejamkan matanya kuat-kuat. Pastilah dia disana menemani Syahdu. Tidak mungkin lelaki itu membiarkan Syahdu kesulitan sendiri. Tapi, dia tidak tenang kalau tak memastikannya sendiri.
"Sayang, bisa kesini sebentar?" Seru Julia dari depan.
"Nggak bisa, Mi. Arga ada urusan penting!" Teriaknya sambil lari turun dari tangga.
TBC
Cara ngehargai Karya Author itu gampang banget kok. Like aja udah cukup banget. Soalnya di statistik pembaca itu jumlahnya mencapai 10rb pembaca perhari tapi yg ngelike hanya puluhan. Makasih banyak🙏
SUBSCRIBE UNTUK CERITA BABSPESIALNYA SYAHDU YANG GA AKAN ADA HABISNYA
__ADS_1