
Jangan pergi malam ini. Tinggallah disini sekali lagi, ingatkan aku lagi seperti apa rasanya.
Dan mari jatuh cinta sekali lagi, ingatkan aku seperti apa rasanya.
Aku membutuhkanmu disisiku. Sakit terasa saat kau menghilang dariku, kumohon tetaplah disini
...***...
Syahdu berjalan menuju taman kota. Dia terbiasa bangun pagi-pagi dan berolahraga sebentar walau hanya mengayuh sepeda atau berjalan-jalan kaki semenjak di desa. Pada awalnya, Syahdu melakukan itu untuk menyelamatkan perasaannya. Namun kini dia terbiasa, tak lagi suka bermalas-malasan di dalam kamar.
Dia berjalan sambil memperhatikan sekitar yang ramai oleh orang-orang yang berjalan kaki juga bersepeda. Pagi ini cukup sejuk, namun tak sampai membuat Syahdu mengenakan jeket. Dingin kota masih kalah dengan dinginnya desa yang terkadang sampai menembus tulang.
"Aaaakk. Ganteng banget.."
Suara seseorang terdengar dari sampingnya. Dua orang gadis tengah mengobrol sambil menonton di layar ponsel.
"Lo nonton, ya? Keren banget, gue pengen juga liat Arga nyanyi langsung, tapi gue udah ada janji lain." Gadis satunya mengeluh kesal.
Syahdu menghela napas. Arga, ternyata dia sudah menjadi kesukaan banyak orang sekarang. Nampaknya dia juga sibuk. Lalu, harus bagaimana untuk menemuinya?
Syahdu duduk di bangku panjang. Dia punya waktu 5 hari lagi berada di kota ini dan dia harus menemui Arga untuk meminta maaf soal perlakuan buruknya yang sampai membekas di hati Arga. Dia ingin meluruskan supaya ia bisa tenang saat kembali ke desa nanti.
Lagi-lagi Syahdu menghela napas panjang. Dia memegang dadanya. Semenjak Nani menyadarkan soal perasaannya, Syahdu jadi tidak tenang saat akan membayangkan jika ia bertemu dengan Arga. Apakah ia bisa setenang dulu saat berhadapan dengan lelaki itu?
Tadi malam, saat Alika bilang Ibra dan Arga menuju ke tempat mereka, jantung Syahdu mendadak tak karuan sampai akhirnya ia memilih pulang walau ia sempat ditahan. Syahdu menyadari, dia memang tak bisa seperti dulu lagi saat mungkin berhadapan dengan lelaki itu nanti.
Syahdu berdiri, dia ingin menghubungi Ibra mengingat lelaki itu adalah manager Arga sekarang. Siapa tahu Ibra mengizinkannya bertemu dengan superstar itu. Lebih cepat lebih baik, begitu pikir Syahdu.
Iapun melangkah menapaki jalan. Dia tersenyum kecil menatapi setiap gedung-gedung tinggi yang menjulang. Tempat yang sebenarnya Syahdu rindukan, tapi ia memilih desa yang alami itu.
Langkah Syahdu terhenti. Ia mendongak keatas, melihat baliho besar bergambar Arga yang tersenyum kearahnya. Lelaki itu semakin tampan. Wajahnya juga bersinar sesuai namanya yang sekarang. Syahdu memandangnya cukup lama sampai ia menyadari bahwa sekarang, jauh di dalam lubuk hatinya, ia merindukan lelaki itu. Satu-satunya lelaki yang padanyalah kehormatan ia lepaskan begitu saja.
Tulisan di baliho itu kini menjadi perhatian Syahdu. Malam ini Arga menjadi bintang tamu di festival musik. Syahdu jadi terpikir, apakah ia datang saja? Menonton Arga konser yang akan menyanyikan lagu-lagu yang katanya tercipta untuknya.
"Gung!"
Gonggongan anjing kecil menyentakkan Syahdu. Ia menunduk melihat seekor anjing yang ekornya bergoyang-goyang menatap kearahnya.
"Ah.." Syahdu terenyuh melihat mata bulatnya. Anjing itu mengingatkannya pada Popi. Diapun berjongkok lalu menggendong anjing berbulu putih yang tampaknya sangat dirawat itu.
__ADS_1
"Haii.." Syahdu tersenyum lebar, anjing kecil itu memang mirip sekali dengan Popi. Hanya saja, terakhir kali bertemu, Popi masih kecil dan yang ini berbadan gempal.
Dari ekor mata Syahdu, ia bisa melihat secangkir kopi tumpah dari tangan seseorang hingga membuat Syahdu menoleh kearahnya.
Tertegun ia melihat siapa yang berdiri tak jauh darinya. Seseorang bermasker hitam dengan rambut yang panjang sebahu, berdiam diri di tempatnya. Bahkan kopi yang jatuh tak membuatnya tergerak. Dia Arga Alexander, lelaki yang Syahdu ingin temui, kini berdiri beberapa meter darinya. Dia mengenal wajah yang sering tidur bersamanya dahulu walau tertutup masker.
Syahdu menahan napasnya. Ini tak seperti yang ia pikirkan. Sama sekali tidak. Dia belum sanggup bertemu dengan Arga. Tidak sekarang, tidak saat ini. Tapi dia masih terpaku disana, menatap mata Arga yang tak berkedip kearahnya.
Sejenak Syahdu tak bisa berpikir apa yang harus ia lakukan karena jantungnya berdegub kencang. Seseorang yang sudah sangat lama tidak ia temui, seseorang yang sangat ingin ia kubur wajahnya, justru membuatnya merasakan gejolak rindu yang luar biasa. Arga, lelaki itu mulai melangkahkan kakinya, berjalan kearah dimana Syahdu masih diam di tempatnya.
"Arga!"
Lelaki itu menoleh. Beberapa orang berdiri dengan kagum melihat kearahnya.
"Iya, bener. Kak Arga!!"
"Kak Argaa, minta fotooo!"
Arga tak bisa mengelak saat para gadis berhambur kedekatnya. Mereka mulai berteriak histeris dan meminta Arga memotret diri bersama mereka.
Perlahan Syahdu mundur. Dunia Arga yang dulu dan sekarang sangat berbeda. Siapapun pasti akan mengenalnya walau ia menutup wajahnya sekalipun.
"Anjing pintar, kamu masih kenal denganku, yaa. Baiklah, ayo kita cari makan. Aku akan berikan makanan enakk! Oke?"
Syahdu melihat ke arah Arga sebentar. Dia tengah sibuk walau sesekali berusaha mencuri pandang ke arah Syahdu. Beberapa orang tampak ikut berkumpul saat menyadari siapa yang ada di dekat mereka.
Syahdu melangkah pergi. Dia tahu kemana tujuannya sekarang.
...🍁...
"Mbak..mbak.. Syahdu.."
Penjaga itu sampai tergagap melihat apa yang ada di depannya. Syahdu berjalan dengan Popi di belakangnya, lalu berhenti tepat di depan Security yang dulu pernah ia berikan ponsel padanya.
"Hai, pak. Apa kabar? Udah lama ngga ketemu." Sapa Syahdu berbasa-basi.
"Mbakkkk ya ampuuun. Pak Arga terus nyariin. Dia minta saya harus ngelapor kalau liat mbak Syahdu. Bahkan saya dikasih gaji tambahan padahal saya nggak ngapa-ngapainn!" Security itu berkaca-kaca setelah akhirnya bisa bertemu Syahdu lagi. Tentu dia tahu bagaimana Arga selama ini mencari Syahdu.
"Rejeki bapak. Salam buat keluarga, ya. Saya masuk dulu."
__ADS_1
Security itu mengangguk-angguk, lalu mengeluarkan ponsel setelah Syahdu melangkah pergi. Untuk kali pertama akhirnya pekerjaannya benar-benar dilakukannya pada Arga, ia menyampaikan bahwa Syahdu telah datang kembali ke apartemennya.
"Siapa, Ton?" Tanya security lain yang baru datang menghampiri.
"Itu.. Mbak Syahdu yang aku pernah ceritakan ke kamu." Jawabnya sembari menyimpan ponselnya kembali.
"Yang dicariin pak Arga selama ini?" Matanya membulat tak percaya setelah temannya itu mengangguk padanya. "Ckckck. Pantes ya, aku sampek mikir kok dicariin banget kaya gitu padahal perempuan di muka bumi ini banyak. Rupanya bening, Ton." Ujarnya sambil menggelengkan kepala dengan mata yang terus menatap punggung Syahdu.
"Heh, kamu itu hati-hati. Kalau pak Arga denger, itu mulutmu bisa dikoyak-koyak!"
Sontak Security itu menutup mulutnya rapat-rapat, tak ingin dipecat oleh orang yang punya tempat di gedung itu.
~
Syahdu berdiri di depan pintu apartemen yang dulu sering ia sambangi. Ditatapnya handle pintu yang warnanya masih sama. Dulu Arga pernah menghadiahkan ini padanya. Tapi Syahdu bahkan tak tertarik sedikitpun.
Syahdu memindai sidik jari, mencoba, apakah tempat ini masih mengenalnya, atau tidak.
Pintu terbuka, ternyata Arga benar-benar dengan ucapannya. Seketika Syahdu menghela napas panjang karena detakan jantungnya mulai kencang lagi.
Gadis itu membawa Popi masuk, lalu melepaskan tali yang sejak tadi menempel di lehernya. Anjing kecil itupun langsung berhambur ke tempat yang ia sukai.
Syahdu pula memperhatikan sekitar. Tempat ini yang menjadi saksi bagaimana ia menjalani kerasnya hidup.
Syahdu menuju walk in closet, lalu membuka lemarinya. Dia termangu sesaat setelah melihat isinya yang tak berubah. Susunannya pun masih sama. Nampaknya tempat ini tak ada yang menempati lagi setelah sekian lama. Apa begitu?
Syahdu masuk ke dapur, dilihatnya semua juga sangat sama dengan ingatannya terakhir kali ada di dapur itu.
Kini Syahdu mendekati kasur. Ia berdiri di sisi tempat tidur dimana ia melakukan banyak hal bersama Arga diatasnya. Ingatan Syahdu kembali kesaat dirinya melakukan itu terakhir kali bersama Arga. Dimana dialah yang memancing Arga dengan menciumnya duluan.
Syahdu memejamkan mata kuat-kuat. Dia menghembuskan napas perlahan saat gejolak hasrat itu muncul kembali dalam dirinya. Sentuhan dan perlakuan Arga masih sangat melekat diingatannya.
Sejujurnya, Syahdu sebenarnya tak begitu menyesali perbuatannya. Mungkin itu yang Syahdu tidak sadari bahwa ia sudah menaruh hati pada Arga.
Tempat itu, semuanya masih sama, membuat napas Syahdu terasa sesak. Arga tidak mengubah apapun bahkan susunannya benar-benar tidak berubah.
Gadis itu menoleh kearah suara pintu yang terbuka. Arga, dengan napas tersengal berdiri menatap kearahnya. Lelaki itu berjalan cepat, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya untuk menyambut Syahdu untuk berbasa-basi. Arga hanya langsung memeluk gadis itu. Gadis yang menghilang bertahun-tahun hingga menyisakan luka baginya. Namun kehadiran Syahdu jugalah yang menjadi obatnya. Arga mengeratkan pelukan, dia sudah berjanji dalam dirinya, takkan lagi membiarkan Syahdu lolos dari dekapannya.
__ADS_1
TBC