SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Pesta Kelas Atas


__ADS_3

...PoV Author...


Mereka sudah tiba di lokasi acara. Sebelum masuk ke aula pesta, Syahdu berhenti sebentar di depan pintu untuk mengatur napas. Alunan musik lembut dan suara orang-orang dari dalam membuatnya gugup. Apalagi dari luar, gedung ini sangat mewah. Sangat jelas bahwa gedung ini diisi orang-orang berkelas.


"Inget, lo harus tetap di deket gue. Kalau ada yang ngajakin lo kenalan atau ngasih minuman, jangan mau dan jangan terima."


Syahdu mengangguk saja. Toh, dia memang tidak tahu apa-apa tentang pesta kelas atas.


Arga menggenggam tangan Syahdu tanpa ragu, menariknya masuk ke dalam. Sedangkan Syahdu sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Arga. Dia tidak pernah bergenggaman tangan dengan lelaki selain Wicak. Namun Arga menggenggamnya seolah mereka adalah pasangan.


Syahdu bisa merasakan pandangan mata beberapa orang yang melihat ke arahnya. Beberapa pula menyapa Arga dengan santai.


Arga berhenti di satu kelompok lingkaran yang terdiri dari beberapa pasang orang.


"Weeee, Arga nih, tumben bawa gandengan."


Mereka berpelukan singkat sebagai salam, dan itu Arga lakukan pada semua laki-laki di lingkaran itu.


"Gimana, lancar gak?" Tanya Arga mengalihkan topik.


"Lancar, dong. Nyesel lu ga ikut."


"Taun depan ikut dong, Ga. Gak ada lu, ga seru."


Arga tertawa, lalu mereka melanjutkan obrolan tanpa melibatkan para pasangan mereka.


Syahdu melihati sekitar. Ruangan itu sangat mewah dengan lampu-lampu kristal di atasnya. Pakaian orang-orang disana juga terlihat berkelas dan pastinya mahal.


Dia memuji dalam hatinya, merasa sedikit beruntung bisa masuk ke dalam gedung mewah ini. Padahal dulu ia hanya sering melihatnya di film-film saja. Bahkan tidak pernah terpikir dalam benaknya untuk masuk ke acara seperti ini.


"Acara akan segera dimulai. Kita adain permainan seperti tahun lalu, jadi gak boleh ada yang menolak, ya."


Lelaki itu langsung ke atas panggung sebagai Master of Ceremony. Kedatangannya di atas panggung pun disambut meriah oleh yang lain. Nampaknya dia cukup terkenal di sekolah dulu.


"Acara apa ini?" Bisik Syahdu pada Arga.


"Reuni SMP gue." Balas Arga dengan berbisik juga di telinga Syahdu.


Syahdu mengangguk. Luar biasa, batinnya. Acara reuni saja seperti ini. Kira-kira Arga sekolah dimana? Tidak ada papan nama atau sejenisnya. Tapi pastinya sekolah Arga adalah sekolah elit.


Syahdu mulai risih dengan genggaman tangan Arga yang tak juga dilepas.


Syahdu mengetuk-ngetuk bahu Arga dengan telunjuknya.


"Bisa lepas, gak?"


Arga menatapnya sebentar, lalu mengalihkannya lagi pada MC yang sedang berbicara tanpa menghiraukan Syahdu.


"A-aku mau ke toilet." Syahdu memberi alasan supaya tangannya bisa dilepas Arga.


Arga malah menarik Syahdu pergi menuju sudut ruang.


"Eh, mau kemana?" Tanya Syahdu.

__ADS_1


"Katanya mau ke toilet."


Astaga, Syahdu tak bisa beralasan lain karena Arga tampak tak mau melepas.


"Masuk sana. Gue tunggu."


Syahdu menghela napas, lalu masuk saja walau sebenarnya dia tidak ada niatan untuk benar-benar ke toilet. Tetapi dia mencuci tangan supaya terlihat basah.


"Arga dateng gak, ya?"


Syahdu diam sejenak saat mendengar suara seorang perempuan dari dalam bilik.


"Datenglah. Dia kan, ga pernah absen."


Percakapan dua orang beda bilik itu membuat Syahdu agak penasaran siapa perempuan itu. Mungkin pacar Arga dulu saat SMP?


"Iya, kan? Kira-kira dia dateng sama pasangan, gak ya?"


Syahdu buru-buru masuk ke dalam satu bilik kosong saat mendengar kunci terbuka.


"Biasanya sih, engga. Lagian kenapa sih, Arga juga gak ngelirik elo sampe sekarang."


Satu pintu lagi terbuka. Suara keran di westafel terdengar.


"Enak aja lo. Pesan gue sering dibales kok sama dia. Tapi emang dianya aja kali, yang gak mau pacaran."


Syahdu mengamati, sepertinya perempuan itu menyukai Arga sejak SMP. Tak lama, ia pun keluar saat suara dua orang itu tidak lagi terdengar. Sebenarnya dia hanya takut kalau wajahnya dikenali, karena salah satu dari perempuan itu menyukai Arga. Bisa gawat kalau sampai dia melihat Arga bersama perempuan lain.


Kalau menurut cerita di film-film yang memerankan cerita orang kaya, perempuan yang punya kelas tinggi tidak akan terima jika gebetannya bersama perempuan kelas rendahan. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk menghancurkan perempuan itu. Wih, ngeri.


"Arga, lo kemana aja? Kuliah dimana sekarang?"


Arga menoleh sekilas ke arah toilet tempat Syahdu masuk tadi.


"Kemarin ulang tahun gue, lo kenapa ga dateng.."


"Sibuk." Jawabnya sambil melirik lagi ke arah toilet.


"Tadi lo di dalam ada orang lain, gak?" Tanya Arga dan kedua perempuan itu menggeleng.


Arga langsung masuk ke dalam toilet, memeriksa bilik satu persatu dan merasa kesal saat tak ada orang di dalamnya.


"Arga, lo cari siapa?"


Arga tak menjawab, dia langsung mencari sosok perempuan yang wajahnya sudah sangat ia hapal dengan jelas.


Tiba-tiba lampu meredup, hanya lampu sorot yang bergerak diatas panggung.


"Heyoo, Lanjut ke game yang paling kalian tunggu-tungguuu!!"


"Yeeeaa" terdengar sorak meriah dari orang-orang.


"Gue akan buat 3 pilihan untuk orang yang kepilih. Pertama, Nyuguhin hiburan untuk kita semua. Kedua, ungkapin perasaan lo di depan semua orang, mau itu cinta, benci, apapun dan lo harus jujur soal itu. Terakhir, ajak pasangan lo buat dansa."

__ADS_1


Semua bersorak menyambut game yang akan mereka mainkan. Syahdu pula sudah berdiri di ujung ruang, menyaksikan acara dari jauh. Dia sengaja memilih tempat yang tak terlihat karena dia tidak mengenal siapapun disitu. Dia juga sudah tidak bisa melihat Arga karena ruangan yang agak gelap.


"Wah, gak jarang nih jadi tempat CLBK."


"Bener banget. Ga sabar gue nunggunya haha."


Syahdu diam di tempatnya, mendengarkan saja percakapan orang-orang tak jauh di depannya.


"Let's Staaarttt!!"


Lampu sorot mulai berjalan kesana kemari. Orang-orang pula bersuara riuh. Ada yang sedikit melompat supaya terpilih. Ada pula yang sembunyi, takut ditunjuk oleh cahaya lampu putih itu.


Arga berjalan kesana kemari, mencari Syahdu yang menghilang entah kemana.


"Arga. Hei, Arga, kan? Apa kabar?? Lama banget ga jumpa." Sapa seorang perempuan.


"Baik. Sorry gue buru-buru."


Arga langsung berjalan lagi. Ruangan yang redup membuatnya cukup kesulitan mencari Syahdu.


TRAK!!


Lampu berhenti disudut ruang. Suara riuh orang-orang terdengar saat seorang perempuan tersorot.


"Wah, siapa itu?"


"Gue juga ga kenal. Pasangan alumnus, kali."


Arga langsung menoleh ke arah lampu. Matanya memicing melihat orang yang tersorot agak jauh darinya.


"Syahdu." ucapnya dan langsung mendekat ke arahnya.


"Hiyaaa.. selamat kepada yang tersorot."


Seseorang datang memberi mic kepada Syahdu yang melongo, tak mengerti dengan apa yang terjadi. Padahal dia sudah menyudut, malah disorot.


"Silakan pilih 1 sampai tiga. Mau yang mana? Eh, kenalan dulu dong. Namanya siapa dan angkatan berapa. Kalau kamu pasangan yang ikut, tidak masalah. Kamu bisa langsung pilih. Ini wajib loh ya. Biar aku bantu jelasin lagi. Pertama..."


Syahdu sudah dag-dig-dug duluan. Rasanya sangat menyesal dia memisahkan diri dari Arga. Sial sekali, batinnya.


"Jadi, pilih yang mana?"


Syahdu sudah tidak punya jalan. Supaya cepat selesai, dia memilih saja.


"Satu."


Tepuk tangan meriah terdengar.


"Wah, hiburan, ya. Apa mau menyanyi saja?"


Syahdu mengangguk dan dia langsung dipersilakan menaiki panggung.


Arga menghela napas, rasanya aneh jika dia langsung menarik Syahdu. Padahal jelas sekali wajah gadis itu tampak gugup.

__ADS_1


Syahdu berdiri di atas panggung. Dia sedikit tenang saat dari atas tidak begitu terlihat wajah orang-orang dibawah.


Dia memejamkan mata sebentar untuk menetralkan jantungnya dan dalam beberapa detik kemudian, banyak pasang mata yang merasa takjub dengan apa yang gadis itu berikan.


__ADS_2