SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Menuju Desa Bebatu


__ADS_3

...PoV Arga Alexander...


...***...


Aku menyalakan rokok sembari menunggu kehadiran Ibra yang lama sekali datangnya. Padahal setengah jam lagi pesawat akan lepas landas, namun batang hidung anak itu belum juga kelihatan.


Aku mendongak menatap langit pagi. Gumpalan asap keluar saat aku menghembuskannya. Mungkin ini akan menjadi rokok yang terakhir sebelum bertemu Syahdu di desanya. Aku juga sudah menyiapkan beberapa permen mint untuk menghilangkan bau rokok. Jangan sampai dia mencium aroma itu dari napasku nantinya.


Kupandangi sebatang rokok yang hampir habis di sela jariku. Dulu aku tidak begitu candu pada rokok. Tapi semenjak Syahdu meninggalkanku, rokok menjadi temanku hingga akhirnya akupun sulit lepas darinya. Padahal setelah Syahdu kembali, aku sudah menyiapkan diri untuk berhenti. Tetapi pada akhirnya tetap kusesap walau sebatang sehari.


Aku memadamkan rokok dan membuangnya ketempat sampah. Kunaikkan masker wajah saat merasa beberapa orang sudah memperhatikanku.


Ck. Brengsek si Ibra. Ini masih molor apa gimana? Kalau aja tiket bukan berada di tangannya, aku pasti udah duluan masuk dan check-in.


"Heyyy! Hah. Belom telat, kan!"


Ibra muncul dari belakangku dengan napas yang tersengal.


"Lama banget lo. Udah, ayo cepetan!" Aku tak memberinya kesempatan untuk bernapas. Akupun menyandang ransel dan berjalan masuk ke pintu bandara.


Setelah check-in, kami pun menunggu sebentar di gate keberangkatan. Aku duduk termenung menatap layar ponsel. Pesanku sudah terkirim tetapi belum dibaca. Kenapa, ya? Apa Syahdu semarah itu karena aku merokok?


"Menung aja lo. Bentar lagi juga ketemu." Ibra duduk disebelahku memberi sekaleng soda. "Nih, Syahdu nanyain lo lagi ngapain. Apa gue bilang aja kalo kita mau kesana?"


Aku langsung merebut ponsel Ibra. Ku cek obrolan mereka berdua.


Hah. Sial. Syahdu membalas pesan Ibra tapi bahkan tidak membaca pesanku. Akupun membaca perlahan pesan-pesan antara Ibra dan Syahdu.


"Sialan. Sejak kapan gue tebar pesona sama cewek, nyet?" Ah, apa ini penyebab Syahdu tidak membalas pesanku? Karena pesan gila Ibra ini. Rasanya ingin menonjok anak itu kalau aja dia bukan sahabatku.


"Wahahaha. Sumpah, gue cuma becanda itu. Masa gara-gara gituan Syahdu langsung ngambek!"


Hh! Dia malah ketawa ngga jelas begitu. Dia memang menganggapnya bercanda. Apa dia tahu gimana Syahdu menanggapinya?


"Lo tuh, kalo ngirim foto gue bisa yang bagusan dikit nggak, sih?" Aku kemudian menggerutu sembari menggeser layar ponsel Ibra. Foto random dan tidak karuan yang dikirim anak itu jelas membuatku murka. Padahal dia bisa bilang dulu sebelum memotret supaya aku bisa lebih tampak tampan disana.


"Di mata Syahdu, mau lo kayak upil juga dia demen dan nganggep lo ganteng!"


Aku mengabaikannya karena tengah fokus membaca pesan-pesan kekasihku.


"Oh, jadi elo yang ngomporin cewe gue supaya ganti foto profil??"


Ibra cengengesan lagi. "Abisnya rapet banget muke lu ke layar." Dia kemudian merapat ke arahku. "Ngetik apaan, sih."

__ADS_1


Dengan segera aku memundurkan ponselnya supaya dia tidak bisa melihatnya.


"Cepatan foto gue." Aku menyuruh Ibra memotret ala candid dari ponselnya. Lalu mengirimkannya ke Syahdu. Senyumku mengembang setelah membaca ulang pesan yang aku kirim. Namun balasan Syahdu malah membuat senyumku luruh, berganti dengan tawa lebar Ibra disebelahku yang diam-diam mengintip ponsel di genggamanku.


Suara airport announcement pun terdengar. Aku melempar ponsel ke arah Ibra dan langsung menyandang ransel menuju Gate. Sedangkan Ibra, dia masih puas menertawakanku dibelakang sana.


...~...


Di dalam pesawat, aku merenung. Sebenarnya tadi malam aku mendapat email dari orang yang nampaknya mengenal aku dan Syahdu sejak dulu. Tapi aku tidak tahu siapa yang mengirimiku pesan ini.


"Mikirin apa lagi, sih. Perasaan belakangan lo jadi suka melamun."


Aku menoleh kearah Ibra yang tengah membaca majalah santai.


"Tadi malam gue dapet pesan dari orang yang ngga dikenal. Katanya, gue perlu bawa Syahdu ke pskiater."


"Hah? Emang Syahdu gila?"


Aku menatap kesal kearah Ibra. Sembarangan mulutnya berbicara soal Syahdu.


"Orang yang ke pskiater itu bukan berarti gila!"


"Lha, trus dia nyuruh Syahdu kesana buat apa?"


"Intinya, gue wajib bawa Syahdu walau dia udah ngga keliatan sedih. Kenapa dia sampe tau soal cowok Syahdu yang dulu, ya?" Aku juga bertanya-tanya soal itu. Pengirim pesan itu pasti mengenal Syahdu dan Wicak dengan baik.


"Orang iseng, kali. Lo kan tau, kisah lo betiga tuh, terkenal di kampus dulu." Ibra berdehem lalu mulai bersuara seolah dia adalah seorang dalang.


"Wicak dan Syahdu berpacaran selama 7 tahun lamanya. Lalu muncullah Arga yang diam-diam mencuri hati Syahdu. Kemudian Wicak menghajar Arga karena tahu hubungan dua orang itu. Wicakpun mati ketabrak truk, setelah itu Syahdu pun menghilang dan tak pernah muncul lagi ke bumi. Arga yang sudah cinta mati itupun mencari Syahdu lewat lagu hingga 7 tahun berlalu, merekapun kembali bertemu."


Asem. Untung ngga ada yang denger. Aku menghela napas, mungkin benar juga, ini orang iseng. Walau entah kenapa yang kurasa, pengirim pesan ini memberi informasi valid soal Syahdu.


Tak ingin banyak merenung, akupun menutup telinga dengan headphone. Mendengarkan lagu-lagu sembari menutup mata, menunggu pesawat ini mendarat di Borneo.


...🍁...


Sebenarnya aku tengah gugup. Apakah kedatanganku ini disambut bahagia oleh Syahdu atau sebaliknya? Bagaimana kalau dia ternyata semakin marah padaku dan mengusirku pulang?? Argh..


Saat ini, kami di dalam bus menuju kota Bebatu. Jarak yang ditempuh sudah 4 jam dan bisa kulihat ucapan selamat datang di pinggir jalan.


Lagi-lagi aku mendecak. Berkali-kali aku mendorong kepala Ibra yang bersandar di bahuku. Sepanjang jalan dia tidur pulas sementara aku sulit memejamkan mata, berdebar menemui Syahdu di desa tempatnya mengunci diri.


Ah, akhirnya. Setelah perjalanan panjang akupun bisa menyentuh kota dimana pertama kali Syahdu melihatku menjadi penyanyi terkenal di salah satu warnet di kota ini.

__ADS_1


Kami pun turun. Aku mulai bingung lantaran Syahdu hanya cerita perjalananya sampai di kota ini. Terus, bagaimana menuju desanya?


"Aduh, ampun deh. Tulang gue kek mau copot!" Keluh Ibra. Penampilannya sudah tak serapi pagi tadi.


"Kita kemana ini? Lo tau jalan, kan?"


"Kayaknya Syahdu pernah bilang kalo dari kota ini sekitar 3 jam lagi perjalanan." Ucapku dan langsung membuat wajah Ibra syok bukan main.


"Gilaaa! 3 jam lagi??"


Aku mengabaikannya dan menemui seorang bapak paruh baya yang tengah bersandar sembari merokok di mobilnya.


"Pak, permisi."


Bapak itu berdiri dan membuang puntung rokok yang sejak tadi ia pegang.


"Ee.. kalo mau ke desa Bebatu, kita naik apa ya, pak?"


"Desa Bebatu? Naik angkutan yang ada disana." Dia menunjuk satu tempat agak jauh.


"Tapi baru berangkat kayanya sepuluh menit yang lalu. Kalian harus menunggu satu jam lagi. Angkutannya cuma ada satu jam sekali."


Terdengar ******* halus dari bibir Ibra yang berdiri dibelakangku.


"Kalo bapak, bisa anter nggak? Saya bayar banyak juga ngga apapa."


Bapak itu menelisikku dari atas sampai bawah. "Biayanya mahal." Ucapnya kemudian.


"Berapa, pak?"


"Dua juta."


"Gilaa. Ongkos apaan dua juta." Celoteh Ibra.


"Deal."


"Hah? Hoi, jangan dal del sendiri lu." Bisik Ibra.


"Udah, lo tenang aja. Dari pada naik angkot mending naik ini, kan." Ucapku padanya yang kemudian menurut saja walau wajahnya penuh selidik menatap bapak itu.



__ADS_1


Next...


__ADS_2