SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Mimpi Nyata


__ADS_3

Syahdu membuka mata. Dia langsung menghela napas sesaat setelah terbangun. Bukan tanpa alasan, Syahdu memimpikan Wicak dan Arga sekaligus.


Syahdu melirik jam, ini tengah malam dan dia bisa merasakan beban berat di pinggangnya. Sudah pasti Arga, lelaki itu memeluknya dari belakang.


Baru saja ia bermimpi, sesuatu yang membuatnya bingung.


Wicak dan Syahdu tengah berdiri menghadap hamparan ombak yang saling mengejar. Di dalam mimpi itu, Syahdu dengan semangat menceritakan hari-harinya selama Wicak pergi. Lelaki itu dengan senyum hangat mendengarkan semua cerita Syahdu. Lalu, obrolan mereka harus terpotong saat mata Wicak tidak lagi memperhatikannya.


Syahdu menoleh kebelakang, kearah dimana Wicak menatap. Tak jauh dari mereka, Arga berdiri dengan kemeja putih yang kancingnya dilepas seluruhnya. Membuat baju itu terbang kebelakangnya.


Syahdu tertegun, kenapa tiba-tiba Arga begitu berseri dan tampak indah, membuatnya menatap beberapa detik tanpa berkedip.


Namun saat Syahdu kembali menghadap Wicak, lelaki itu sudah menghilang dari hadapannya.


Di dalam mimpinya, ia berteriak sambil menangis memanggil nama Wicak dan lelaki itu tidak kembali sama sekali. Begitu saja sampai akhirnya Syahdu terbangun.


Syahdu membalikkan tubuh perlahan menghadap Arga. Dia penasaran, kenapa wajah Arga begitu indah di dalam mimpinya.


Ditatapnya wajah yang terlelap itu. Dengkuran halus terdengar dari bibirnya yang sedikit terbuka.


Sadar, Syahdu sangat menyadari apa yang terjadi tadi malam. Entah kenapa dia bisa bersikap seperti takut ditinggalkan. Syahdu merasa malu, tetapi Arga memperlakukannya dengan baik sampai ia tertidur dipangkuannya.


Perlahan Syahdu mengusap dagu Arga. Mimpi barusan masih sangat terasa di hatinya. Apakah arti dari mimpi itu?


Syahdu memejamkan matanya saat melihat Arga bergerak. Dia bisa merasakan Arga membuka mata dan menunduk melihatnya. Lelaki itu mengecup keningnya cukup lama, sampai ia mendekap kembali Syahdu dan tertidur.


Syahdu membuka mata, seketika Syahdu merasa darahnya berdesir mendapat perlakuan hangat dari Arga. Tapi di detik itu juga dia menepis prasangka apapun yang hinggap di hatinya.


Rasanya cukup tidak tahu diri saat ia baru saja kehilangan Wicak yang mencintainya dengan luar biasa, mengorbankan diri dan hidupnya untuk membela Syahdu walau ia tahu Syahdu juga salah.


Namun lihat apa yang Syahdu rasakan saat ini, baru beberapa hari Wicak meninggal dunia, Syahdu langsung berpikir untuk bersama Arga saja hanya karena mimpi yang tidak jelas artinya.


Syahdu memejamkan matanya. Dia tidak ingin memikirkan soal itu lagi, karena ia tahu, kekosongan hati membuat dirinya mengharapkan arti lain dari apa yang Arga lakukan untuknya. Walau pada akhirnya, Arga juga akan meninggalkannya.


~


Syahdu terbangun di pagi hari saat ia mendengar kicauan burung. Bersama dengan itu, aroma masakan dari dapur tercium di hidungnya. Seperti biasa, Arga masak di dapur.


Syahdu berjalan kesana. Sebab aroma itu selalu membuat perutnya mendadak keroncongan.

__ADS_1


Arga yang tengah berdiri di depan kompor, menoleh kearahnya sambil tersenyum.


"Morning." Sapanya, lalu menarik kursi di dekatnya. "Duduk, sini."


Sedikit merasa berbeda dengan senyuman Arga, namun Syahdu menurut dan duduk.


Arga menyediakan nasi goreng di depan Syahdu. Dan anehnya, diatas nasi goreng itu, Arga menuang saus sambal dengan bentuk hati.


Lelaki itu menarik kursi dan duduk disebelah Syahdu.


"Kenapa diliatin aja makanannya? Sayang ya, liat bentukannya cantik gitu."


Syahdu mengaduk nasi goreng itu supaya bentuk love yang digambar Arga menghilang. Sontak Arga tertawa melihat aksi Syahdu, dia mengacak rambut gadis itu dan mulai menyantap nasi gorengnya.


"Hari ini kamu mau kemana? Biar aku antar."


"Mami kamu nyuruh aku dateng buat bantu dekor." Jawab Syahdu, masih mengaduk nasi gorengnya.


"Ngga usahlah. Aku punya rencana lain buat kita."


"Aku udah janji sama mami."


"Kemana?"


"Hm.. kamu maunya kemana?" Tanya Arga balik.


"Bukannya kamu kuliah, ya?"


"Lagi males." Jawabnya santai, kembali mengunyah nasi goreng miliknya.


Syahdu diam sebentar untuk berpikir. Tadi malam dia bermimpi soal Wicak dan Arga di pantai. Tiba-tiba saja dia ingin meyakinkan sesuatu.


"Ke pantai." Jawabnya.


"Oke. Aku siap-siap dulu." Arga bangkit dari kursi setelah nasi gorengnya habis diatas piring.


CUP. Arga mengecup puncak kepala Syahdu dan langsung keluar dari dapur. Sementara Syahdu bergeming. Ada sesuatu yang berbeda dari Arga. Yaitu Perlakuannya. Arga berbeda dan Syahdu merasa takut. Jika perlakuan aneh Arga kali ini, bisa ia salah artikan.


~

__ADS_1


Syahdu sudah menunggu Arga di depan lobi. Dia keluar duluan setelah Arga menerima telepon dan mengerjakan sedikit tugasnya.


"Ayo."


Syahdu menoleh, dia malah mematung melihat Arga yang muncul dengan kemeja putih dan celana jeans pendek selutut.


Mengabaikan lamunan Syahdu, Arga menarik tangan gadis itu menuju mobil. Membukakan pintu, lalu mengemudikan mobil sambil bercerita berbagai hal yang membuat Arga menampilkan senyuman sepanjang jalan.


Syahdu ingin sekali bertanya, apa yang membuat Arga sebahagia ini. Apakah karena besok adalah hari pertunangannya? Tapi sepertinya tidak. Bukankah dia membenci pertunangan itu dan tidak suka jika Syahdu membahasnya?


Setelah sampai, Syahdu langsung berjalan ke tepi pantai. Dia menghadap hamparan ombak, persis seperti yang ia mimpikan tadi malam. Disebelahnya, seharusnya Wicak ada disampingnya, kan? Disana, ia bercerita seru pada lelaki itu yang seperti biasa, senyuman dan sorot mata yang hangat selalu membuat Syahdu tenang. Dia rindu.


"Tadi malam dateng ke mimpi aku. Aku udah disini, kakak dimana?" Lirih Syahdu. Dia menitikkan air mata. Rindu pada Wicak kini membuat perasaannya tak enak.


"Kenapa kalau mimpi kakak, aku suka lupa isi ceritanya apa. Tapi tadi malam aku ingat. Malah kakak yang pergi." Lirihnya lagi.


Syahdu menghapus air matanya. Dia menghela napas berkali-kali, supaya meredakan sesak di dadanya. Hari ini dia tidak boleh sedih, karena sebentar lagi ia akan bertemu Julia dan Margareth. Ia tak ingin kedua orang tua itu menyalah artikan kesedihannya.


Disaat bersamaan, dia mendengar Arga memanggilnya.


Syahdu menoleh kebelakang dan dia terpaku.


"Ngapain disitu? Mau mandi?" teriak Arga dari tempatnya.


Lekaki itu tersenyum dan menyipitkan mata dari terik matahari pagi. Tapi yang membuat Syahdu tak bisa berkata-kata adalah Arga yang sama persis seperti mimpinya.


Lelaki itu membuka seluruh kancing kemeja putihnya, membuat kemeja itu tertiup angin kebelakang hingga menampakkan kaos putihnya.


Arga melambaikan tangan melihat Syahdu yang malah diam menatapnya.


Semua tampak sama. Wajah berseri Arga juga sama. Tempat dia berdiri juga sama.


Tapi.. kenapa mimpi yang baru saja terjadi, sudah tampak nyata di depan mata?


Syahdu memegang detak jantungnya. Sesuatu yang ia tidak pernah harapkan sepertinya terjadi. Syahdu bisa merasakan persis perasaan yang ada di mimpinya.


TBC


**Pengen up 3 bab. Boleh?**

__ADS_1


__ADS_2