
"Mimpi buruk, gelisah, suasana hati yang tertekan. Gitu, kan? Istriku juga dulu gitu. Intinya ikut terapi, dan tentu aja harus didampingi orang yang dia percayakan, yang sayang dan nerima dia."
Baru saja disebut, seorang perempuan dengan bayi digendongannya berdiri di depan Khairul.
"Abang, dicariin kemana-mana, ternyata disini."
"Sorry, dek. Ini, abang ketemu temen lama. Syahdu, yang pernah abang ceritain itu."
"Ooh, yang ini..."
Syahdu buru-buru menghapus air matanya. Lalu tersenyum, berdiri sambil mengulurkan tangan.
"Saya Syahdu, kak. Semoga yang dibicarain yang baik-baik."
"Baik-baik, kok. Wah.. cakep banget. Ngga salah sih, temen Abang sampe tergila-gila." Katanya sembari menyambut uluran tangan Syahdu. Diapun duduk di dekat suaminya.
"PTSD, dek." Ucap Khairul pada istrinya.
"Serius? Udah ke Psikiater?" Tanya wanita itu.
Syahdu menggelengkan kepala. Dia saja baru tahu soal ini dari Khairul barusan.
"Jadi, kok Abang bisa simpulin PTSD?" Tanyanya pada Khairul. "PTSD itu ngga bisa disimpulin sendiri. Harus ke dokter."
"Tapi Syahdu kaya kamu, dek. Sering mimpiin yang sama, gelisah, mikirin masa lalu." Jelas Khairul.
"Nggak semua yang kaya gitu PTSD, bang. Syahdu memangnya kenapa?" Tanya istri Khairul pada gadis itu.
"Sering mimpi kak Wicak. Isi mimpinya sama." Jawab Syahdu.
"Mimpinya sedih, atau senang?"
"Ya sedih lah, dek. Masa ditanya lagi." Celetuk Khairul.
"Setiap kali mimpi itu muncul, air mata pasti keluar, kak." Jawab Syahdu yang tiba-tiba mau curhat.
"Kamu.. merasa bersalah ya, sama Wicak?" Tanya istri Khairul terus terang. Karena dia sudah mendengar cerita Wicak dan Syahdu, juga laki-laki terkenal bernama Arga.
"Aku ngerasa.. kematian Wicak karena aku." Syahdu meremas jari-jarinya. Dia menunduk dan menangis. "Kalau aja aku ngga dekat sama Arga, kak Wicak pasti ga akan datang kesana sampai berkelahi dengan Arga." Syahdu terisak. Berulang kali dia menyalahkan dirinya dan meminta Tuhan untuk memutar waktu supaya dia saja yang mati, jangan Wicak.
"Syahdu, aku memang bukan pskiater, tapi beberapa tahun terus berhadapan dengan dokter ahli jiwa buat aku paham beberapa hal tentang dirimu. Mengakui kesalahan memang baik, tapi jangan terus menyalahkan dirimu seolah kematian Wicak karena kamu. Bukan. Itu takdir, Syahdu." Wanita itu mengelus lembut bahu Syahdu yang terguncang.
"Aku yakin kamu udah pernah denger ini, bahwa berulang kalipun kita memutar waktu, kalau memang takdirnya meninggal, dia akan meninggal dunia dengan cara apapun. Berhentilah menyalahkan dirimu. Bingkai ulang cara berpikirmu, Syahdu. Cobalah untuk menyadari takdir apapun yang sudah ditulis Pencipta untuk manusianya."
Syahdu mengangguk-angguk. Dia juga pernah dengar ini dari Nani sebelumnya.
__ADS_1
"Sekarang, fokuslah sama hidup kamu yang baru. Katakan pada hati dan pikiranmu kalau kamu mau berubah dan menata masa depan. Lalu yang paling penting, terbukalah soal perasaan. Terima orang baru yang kamu percaya akan bantu kamu mengatasi ini. Kaya aku." Kata wanita itu lagi sembari menggenggam tangan Khairul.
Syahdu mengangkat wajahnya. Bayangan wajah Arga muncul di pikirannya begitu saja.
"Yakin deh, orang yang kita suka bisa buat kita dengan cepat melupakan hal buruk di masa lalu dengan cara meluapkan amarah dan cinta padanya. Semua itu sangat mempengaruhi kestabilan emosi kita, karena tersalurkan ke tempat yang tepat. Hihihi." Dia terkekeh pada Khairul yang menggelengkan kepala. Entah apa yang ada dipikiran keduanya, Syahdu tidak tahu. Yang saat ini ada dipikirannya adalah Arga.
"Aku ngga bilang kalau perasaan Arga lebih dari Wicak. Tapi.. Wicak pernah bilang kalau dia bisa liat Arga cinta sama kamu sejak dulu." Ungkap Khairul.
"Yaah.. seenggaknya dia udah lulus seleksi dari Wicak, kan." Lanjut Khairul lagi, membuat Syahdu tersenyum dengan sisa air mata yang masih menempel.
"Makasih udah cerita ke aku, kak. Aku lega." Tukas gadis itu.
"Berarti selama ini kamu nggak tenang, ya, Syahdu? Kamu mendam semua sendiri?" Tanya istri Khairul.
Syahdu mengangguk. Benar, dia memendam sendiri selama bertahun-tahun dan berharap semuanya hilang. Tapi ternyata malah menjadi penyakit bagi mentalnya.
Mereka mengobrol panjang, sampai Khairul dan istrinya pamit pergi karena pesawat mereka akan segera berangkat. Sementara Syahdu masih diam di bangkunya. Dilihatnya keluar, ternyata sudah hujan.
Tadi katanya, dia harus fokus pada perasaannya yang sekarang. Dia harus menata kembali hidupnya. Begitu, kan? Syahdu langsung teringat pada Arga. Ah, lelaki itu.
Dia laki-laki yang saat ini cintanya tulus. Dan Syahdu pula yakin, kalau Arga mau menerimanya seperti Wicak yang punya cinta luar biasa untuknya.
Ya, dia tak mau lagi kehilangan seperti dulu. Kehilangan cinta itu sungguh tidak mengenakkan. Dia tak mau lagi kehilangan cinta.
Syahdu mulai berpikir, apakah dia harus kembali sekarang?
"Pak, permisi." Syahdu mendekati salah satu petugas bandara. Dia tak punya pilihan. Satu-satunya yang harus ia lakukan adalah menelepon Arga.
"Iya, bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Eeng.. boleh pake Hp-nya.. buat nelepon. Ah.. sebentar." Syahdu mengeluarkan selembar merah. "Saya.. pinjem sebentar buat nelepon, boleh?"
Petugas itu mengangguk lalu memberikan ponselnya. Dengan cepat Syahdu mengetik nomor Arga yang ia sudah hapal sejak dulu.
Satu kali, Arga tidak mengangkatnya. Syahdu kembali menekan nomor Arga, meletakkan ponsel di telinganya, tetapi tak juga diangkat.
"Ayo, dong, Ga. Please, angkat.." Gumam Syahdu kembali meletakkan ponsel ke telinga.
Lama ia menunggu sampai akhirnya Arga mengangkat ponselnya.
Hening, tak ada suara. Begitu juga Syahdu yang sudah berdebar sejak tadi.
'Siapa?' Tanya seberang akhirnya, dengan nada jutek khas Arga yang membuat Syahdu akhirnya lega dan tersenyum puas.
"Arga..." Ucap Syahdu masih dengan suara paraunya.
__ADS_1
Dari seberang diam, nampaknya dia tengah mencoba mencerna suara siapa yang baru ia dengar.
'Syahdu?'
"Ga, bisa.. jemput aku di bandara?"
Hening beberapa detik sampai terengar suara berisik berujung terputusnya panggilan.
Syahdu menatap layar ponsel. Terputus. Apa itu artinya Arga sudah tidak menerimanya lagi? Kenapa Arga tidak menjawab dan langsung memutuskan panggilan?
Syahdu pun kembali duduk. Dia termenung menatap wajah Arga pada sebuah iklan krim rambut di layar besar bandara. Suara lelaki itu juga terngiang di telinganya. Ah, Arga. Syahdu jadi sangat ingin bertemu dengannya. Dia ingin mengungkapkan semua isi hatinya. Tapi, apa semua sudah terlambat?
Kalau lelaki itu tidak mau menerimanya karena terlanjur sakit hati, bagaimana? Apalagi Syahdu dua kali meninggalkannya di hari ulang tahun lelaki itu.
Syahdu bersandar, helaan napas kasar terdengar dari mulutnya. Dia terlalu bodoh dan mengambil keputusan dengan asal. Lihatlah 7 tahun lalu, dia juga melakukan hal yang sama. Kalau saja dia tidak lari, mungkin ceritanya akan berbeda.
Syahdu memeluk lutut. Dingin, dia merindukan Arga dan kehangatannya.
Beberapa saat kemudian, Syahdu menurunkan kakinya. Memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Dia melirik jam tangan, pesawatnya sudah berlalu setengah jam yang lalu.
Syahdu pun kembali menyeret koper. Bingung, dia tak tahu harus kemana dan melakukan apa. Uangnya tidak cukup kalau untuk membeli tiket lagi.
Gadis itu berhenti, dia merenung dengab wajah yang terus menatap kedepannya. Pikirannya masih saja kepada Arga. Kenapa lelaki itu menutup telepon tadi? Apa Arga tidak percaya kalau yang menelepon adalah dirinya? Atau karena jaringan yang sedang buruk? Ah, entahlah. Syahdu melangkah berjalan lunglai.
Dia berhenti saat melihat seseorang yang sangat ia kenali tengah berlari sambil mencari kesana kemari.
Dia Arga. Dengan jeket jeans, masker, dan topi menerobos orang-orang yang ada di dekatnya mencari Syahdu.
Hati gadis itu berdebar. Dia pikir Arga mengabaikannya setelah apa yang Syahdu lakukan setengah jam yang lalu. Ternyata Arga menyusulnya dengan cepat.
Jantung Syahdu seperti berhenti berdetak saat Arga berhasil menemukannya. Lelaki itu mematung, menatap Syahdu yang matanya sudah basah. Argapun berlari kearah Syahdu. Dipeluknya gadis itu dengan rasa lega yang luar biasa karena akhirnya bisa bertemu kembali. Sementara Syahdu merasakan cinta muncul dari dalam hatinya yang melebur keluar bersamaan rasa bahagia yang luar biasa.
Gadis itu melingkarkan erat tangannya di pinggang Arga. "Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu, Arga.."
Seketika Arga menahan napasnya. Apa kata Syahdu tadi? Cinta?
"A-apa.." Arga melepaskan pelukan, dia ingin mendengarnya dengan jelas. Dia yakin, dia tidak salah dengar tadi. Syahdu mengutarakan isi hatinya.
"Tadi bilang apa?" Tanya Arga lagi.
"Bajumu basah. Kamu hujan-hujanan?"
"Bukan.. Bukan itu. Tadi kamu bilang apa? Aku dengar kamu bilang cinta."
"Aku bilang, baju kamu basah. Kamu hujan-hujanan?" Tanya Syahdu ulang, membuat Arga kesal, kemudian ia pun tertawa karena tahu, mungkin Syahdu masih malu.
__ADS_1
"Mau makan siang dimana?" Tanya Arga sembari menyeret koper Syahdu. Mereka berjalan keluar dari bandara menuju mobil. Keduanya dihampiri rasa bahagia yang luar biasa. Terlebih Arga. Dia sangat mencintai gadis yang ia genggam sebelah tangannya. Dan semoga kali ini Syahdu tidak lagi meninggalkannya~
Bersambung...