SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)

SYAHDU (Teman Tidur Kontrak)
Pesta untuk Syahdu


__ADS_3

Syahdu melamun. Sepanjang pelajaran ia lewatkan dengan tatapan kosong ke depan kelas. Hal itu tentu menjadi perhatian Arga. Lelaki itu sengaja duduk di tempat yang agak belakang agar bisa mengawasi Syahdu. Dia ikut melewatkan penjelasan dosen karena sibuk menatap Syahdu.


Sempat terpikir oleh Arga, penyebab putusnya Syahdu dan kekasihnya adalah karena dirinya. Dia sempat mendengar percakapan keduanya pagi tadi dan tentu kata-kata bahwa Syahdu merasa menjadi orang yang tak baik menjadi alasan perempuan itu, jelas berkaitan dengan apa yang perempuan itu serahkan pada dirinya. Yaitu harga diri.


Syahdu merasa dirinya tak suci dan bernilai lagi. Itu sebabnya dia memutuskan untuk berpisah dari kekasihnya.


Setelah jam pelajaran usai, Adina mengajak Syahdu duduk di taman kampus. Dia tahu gadis itu tengah ada kesulitan.


"Ras, kalau lo ada sesuatu yang ngeganjel, kasi tau ke gue. Ngga bagus kalo lo pendem sendiri." Ucap Dina saat mereka tengah duduk di taman kampus.


Syahdu menunduk. Dia memang tidak punya teman curhat. Selama ini dia bercerita pada Awan, atau Wicak. Tetapi dalam hal ini, tidak mungkin ia ceritakan pada siapapun.


"Lo tau, kan. Banyaknya orang depresi karena mendem masalahnya sendiri. Gue liat banget kesedihan lo sejak pagi tadi. Ada apa? Gue liat lo masih sayang banget sama kak Wicak." Lanjut Adina lagi.


Syahdu menatap temannya. Memang mereka baru berteman beberpa bulan. Tapi, dia merasa Adina adalah temannya yang lebih baik dari yang lain. Mungkin, tidak ada salahnya kalau dia bercerita sedikit tentang kehidupannya pada Adina. Dia mempercayai gadis itu.


"Aku akan cerita tapi plis, ini rahasiaku."


Adina mengangguk. Dia tahu kalau Syahdu tengah memintanya untuk tutup mulut.


"Sebenarnya, aku memilih putus karena orang tua kak Wicak." Ucap Syahdu memulai curhatnya.


"Orang tua? Mereka nggak setuju sama lo?" Tebak Adina dan Syahdu mengangguk.


"Ya ampun, Ras. Jadi dalam 7 tahun kalian pacaran tanpa restu orang tua kak Wicak?"


Syahdu mengangguk lagi. Lalu Adina pun mengelus punggung Syahdu.


"Aah. Sedih banget.. Gue ngerti sih, soalnya gue juga pernah diposisi lo dan emang kita memilih berpisah karena sulitnya mendapat restu." Ucap gadis itu dengan wajah bersedih, mengingat masa lalunya.


"Sedih banget ya, Ras. Tapi, emangnya alasannya apa?" Tanya Adina lagi.


Syahdu menatap Adina cukup lama. Wajah temannya menunjukkan gores kekhawatiran dan Syahdu menundukkan kepalanya.


"Ibuku pelacur, Din."

__ADS_1


"Hah?" Adina menganga. "I-ibu lo.."


"Iya. Dia udah meninggal dari aku kecil." Syahdu menghapus air matanya yang tumpah. "Citraku di kampung buruk karena aku anak pelacur. Ngga ada yang mau bermenantukan aku." Lirih Syahdu yang kini tak bisa lagi membendung air matanya.


"Tapi kan, itu bukan salah lo, Ras. Kita nggak tau akan di lahirkan oleh siapa, kan?" Jelas Adina dan tentu saja menenangkan bagi Syahdu.


"Orang-orang mana peduli, Din. Yang mereka tau, aku anak pelacur dan Wicak, ayahnya punya nama disana. Jelas mereka nggak setuju, kan?"


Helaan napas terdengar dari mulut Adina. "Gue ngga tau harus bilang apa, Ras. Tapi.. gue bisa rasain hidup lo pasti berat banget." Adina langsung menarik Syahdu dalam pelukannya. "Gue doain semoga ada jalan terbaik antara lo dan pacar lo, ya?"


Syahdu mengangguk dan mendekap erat Adina. Dia bersyukur bisa bertemu orang seperti Adina.


~


"Kita kemana?" Tanya Syahdu.


"Udah, lo tenang aja. Itung-itung gue ngebantu ngibur lo dikit." Adina menarik tangan Syahdu masuk ke dalam sebuah tempat karokean.


"Gue dah booking tempat. Ayuk langsung masuk." Ucap gadis itu.


Mereka berjalan melewati beberapa ruang, dan berhenti di ruang yang nampak luas namun gelap.


"Surpriseeee!! Happy birthday to you.. Happy birthday to you..."


Syahdu terenyuh. Teman-temannya menyanyikan lagu ulang tahun beserta peralatan dan aksesoris lucu di atas kepala mereka. Ibra meniup terompet kecil, Naya memegang bolu, Alika memegang sebuah kado besar. Awan, dia meledakkan party popper, dan Arga, lelaki itu duduk di atas meja belakang mereka. Namun Syahdu bisa melihat seutas senyum yang Arga tampilkan di bibirnya.


Syahdu tak bisa menahan air mata. Dia menangis. Rasanya terharu saat teman-temannya merayakan ulang tahun, padahal dia sendiri sudah tidak mementingkan itu lagi.


"Selamat ulang tahun ya, Ras. Kali ini lo harus ketawa dulu." Bisik Adina saat memeluknya.


"Yaaah. Kok nangis. Terharu lo, ya?" Celetuk Naya. Dia meletakkan bolu di atas meja, lalu datang memeluk Syahdu. Bergantian dengan Alika yang ikut mendoakan kebaikan-kebaikan untuk Syahdu.


"Pokoknya, lo lupain dulu masalah lo karena kita akan BERPESTAAAAA!!" Teriak Naya dan disambut meriah oleh yang lain.


"Weeeh. Ayo, kepada yang ulang tahun, silakan nyanyi. Suara lo kan, merdu." Awan menyerahkan mic pada Syahdu. Gadis itu langsung menerimanya. Tepuk tangan yang meriah pun mengiringi Syahdu.

__ADS_1


"Gue yang pilih lagu." Kata Awan yang langsung menyetel lagu dangdut.


"Lagu apa tuh??" Tanya Alika saat musik sudah berputar.


Syahdu malah tertawa. Awan suka menyanyikan lagu ini dengan gitar saat dulu mereka berkumpul bersama.


Syahdu mulai mengangkat mic-nya. "Kala kupandang kerlip bintang nan jauh disana.."


"Aseeekkk!!' Teriak yang lain ikut bergoyang bersama. Mereka menikmati acara itu sampai Syahdu benar-benar melupakan kesedihannya sejenak.


Arga duduk memperhatikan gadis itu. Bibirnya diam namun mata Arga berbinar menatap Syahdu yang tertawa-tawa bersama yang lain. Dia merasa bersyukur ternyata yang seperti ini bisa membuat keceriaan Syahdu kembali lagi.


"Argaaa, nyanyi dooong." Naya menarik tangan Arga.


"Iya, nih. Nyanyi dong, loo." Kata Alika lagi.


Arga berdiri, membuat yang lain tepuk tangan dan Syahdu mulai duduk kembali.


"Lo tau, nggak, ini siapa yang nyiapin?" Bisik Adina di telinga Syahdu.


"Siapa?"


"Arga."


Syahdu menatap Adina tak percaya.


"Emang dari awal kita udah punya rencana. Tapi karena waktunya mepet, jadi Arga yang nyiapin semua. Naya beli bolu. Untuk makanan, dekor, segala macem ini, Arga yang buat. Gue disuruh nemenin dan bawa lo kemari."


Jelas Adina.


"Baik banget ya, dia. Katanya dia lagi bosen banget makanya mau-mau aja buat ginian. Ditambah lo galau jadi dia mau bantu lo gitu." Lanjut Dina lagi.


Syahdu diam. Matanya menatap Arga yang bernyanyi menghadap layar monitor. Naya dan Alika ikut bernyanyi disebelahnya.


Ternyata Arga yang mempersiapkan itu semua untuknya. Benarkah? Berarti Arga peduli padanya, kan?

__ADS_1


Arga melihat ke arahnya. Beberapa detik mata mereka bertemu. Dia tersenyum kecil lalu melanjutkan nyanyinya bersama dua wanita disebelahnya.


TBC


__ADS_2