
"Lo duluan aja. Gue masih ada urusan." Ucap Arga saat Syahdu akan turun dari mobil.
Gadis itu hanya mengangguk. Lalu berjalan masuk menuju apartemen Arga sementara lelaki itu menjalankan lagi mobilnya.
Sejak tadi Arga menahan rasa amarahnya selama di mobil karena Syahdu. Tapi dia akan langsung menuju rumah Margareth untuk menolak pertunangan itu. Bisa-bisanya ia ditipu. Padahal rencana makan malam hanya membahas proyek kerja, namun malah menjadi pertunangan. Apa yang diberikan Sutomo sampai Papanya ikut campur tangan?
Setibanya sampai, Arga langsung masuk ke dalam rumah. Dia menemukan Julia dan Papanya ada di ruang tamu, tapi tidak dengan sang oma. Mungkin sudah masuk ke kamarnya.
"Here you are, honey." Sambut Julia.
Alis Arga menyatu melihat pria british yang tak menoleh padanya. Dia menikmati secangkir kopi dengan sebelah tangan yang memegang tablet.
"I never said yes for the engagement!" Tukas Arga tanpa basa-basi pada Alex, membuat lelaki itu mengangkat kepala melihat anaknya, lalu meletakkan secangkir kopi diatas meja.
"I didn't need your agreement for that." Jawabnya dengan tenang.
Jawaban Alex semakin membuat Arga gusar. "You don't have any access to control me! And i will never do anything that you want !"
Arga lalu menatap sang ibu yang sudah harap-harap cemas melihat pertengkaran kecil di depannya. "Aku ga akan bertunangan dengan Soraya. Titik!"
Arga hendak melangkah pergi, namun suara sang ayah membuatnya berbalik badan.
"The girl.. i know where she comes from." (Perempuan itu, aku tahu dari mana asalnya.)
"This has nothing to do with her!" Arga menatap tak suka pada Alex. Apalagi kalau sampai ia menyebut ibu Syahdu, Arga akan semakin marah. (Ini ga ada sangkut pautnya dengan dia!)
"Her mother was a whore." Wajah Alex datar, dia meletakkan tablet lalu membentangkan kedua tangannya diatas sofa. (Ibunya dulu pelacur)
"Wait. Are you guys talking about Syahdu?" Julia masih tampak bingung dengan arah pembicaraan ayah dan anak itu.
"And i'm wondering how if your grandma knows this." Sambung Alex, tersenyum kecil pada Arga yang sudah mengepalkan tangan. (Aku penasaran gimana kalau oma tahu soal ini.)
*keknya pake bhs indo aja ya guys cape ngetik translate-nyaðŸ˜*
"Sayang, apa benar yang dikatakan papa?"
Arga tak menjawab. Matanya terlalu tajam menatap Alex.
"Oh my God. Jadi, dia...?" Tangan Julia menutup mulutnya yang menganga.
"Putri Sutomo itu yang terbaik dari sisi manapun." Ucap Alex dengan bahasa yang masih kaku.
Alex kemudian berdiri, dia melangkah mendekati anak semata wayangnya.
__ADS_1
"Tidak semua yang kamu inginkan akan terpenuhi, Alexander. Sometimes you have to sacrifice something to get what you need."
"I don't need your fuckin' wealth, treasure, property, everything you have." Tekan Arga pada ayah yang berdiri di depannya. (aku ga butuh harta benda apapun milikmu)
Alex tertawa kecil lalu maju selangkah dan berbisik. "Dia yang akan hilang jika kamu menolak."
Tangan Arga benar-benar mengepal sempurna. Kalau saja dia melupakan bahwa pria di depan ini adalah ayahnya, dia pasti sudah menghajar habis-habisan.
"Tidak percaya? Coba saja." Tukas Alex lalu duduk kembali di tempatnya dan mengambil tab, seolah tidak ada kejadian di depannya.
"Honey, benarkah itu?" Tanya Julia masih ragu dengan ucapan suaminya. Tapi melihat Arga hanya diam, membuat Julia mendesah pelan. Karena ternyata, anak manis yang datang dan disukai Arga adalah anak yang tidak jelas asal usulnya.
Arga pergi dengan amarah yang berkecamuk dalam dadanya. Sialnya, dia tak bisa melampiaskan itu. Arga ngebut di jalan untuk mengurangi sesak di dadanya.
Sesampainya di apartemen, Arga langsung memeluk Syahdu yang ada di walk in closet. Dia tahu ancaman ayahnya tidak hanya ucapan belaka. Itu adalah sebuah keseriusan.
Syahdu kaku dipelukan Arga. Dia juga bisa merasakan detakan kencang dari dada lelaki itu. Ada apa sampai Arga memeluknya tiba-tiba begini?
"Eee.. Ga, aku.. masih... haid.." Ucap Syahdu perlahan. Dia berpikir mungkin Arga ingin sesuatu diatas ranjang, tapi Syahdu tidak bisa melakukan itu.
Arga merenggangkan pelukan, lalu menggenggam kedua bahu Syahdu. "Bilang ke gue kalo lo diganggu, atau terjadi sesuatu sama lo."
Syahdu menatap Arga dengan bingung. Syahdu merasa, Arga seperti kesambet sesuatu, makanya mendadak berubah begini.
"Ee.. kamu.. sakit?" Syahdu meletakkan telapak tangan di dahi Arga.
"Tapi, kamu demam, Ga." Ucapnya masih dengan memegang dahi Syahdu, memastikan kalau dia tidak salah.
Arga meraih tangan Syahdu di dahinya. "Gue bukan anak manja yang kalo demam sikit harus diobatin!" Tukasnya kemudian pergi dari walk in closet.
Syahdu menatap punggung lelaki itu sampai menghilang. Terus terang dia sedikit khawatir, apalagi Arga demam pasti karena dirinya yang minta dijemput sampai membuat Arga kehujanan siang tadi.
Setelah menggantungkan jeket Wicak di lemari, Syahdu kembali menemui Arga. Lelaki itu ternyata duduk di balkon sambil merokok. Syahdu pun ikut duduk disebelahnya bersama Popi yang turut manjat ke pangkuan Syahdu.
Wajah Arga tampak menyimpan kekesalan dan Syahdu bisa melihat itu.
"Kamu masih marah ya, soal aku sore tadi." Tanya Syahdu sambil mengelus lembut bulu Popi.
"Enggak." Jawabnya tanpa menoleh ke arah Syahdu.
Gadis itu menyingkap rambut yang terbang ke wajanya. Angin malam sangat dingin karena baru turun hujan. Tapi Arga tampak biasa saja padahal dia menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku. Dia terlihat gagah.
"Kamu lagi mikirin apa, Ga? Kalau ada masalah bisa cerita ke aku. Siapa tahu aku bisa bantu."
__ADS_1
Arga meliriknya sebentar, lalu menatap lagi ke depan. "Lo ga bisa bantu apa-apa."
"Gitu, ya." Iya sih, memangnya Syahdu bisa apa soal permasalahan Arga? Dia mengangguk lambat karena paham posisinya.
"Tapi.. soal.. tunangan.. apa benar?" Tanya Syahdu perlahan, masih ingin tahu jawabannya, demi masa depannya juga.
"Kenapa? Senang lo kalo gue tunangan? Gue ga akan tunangan dan cari cara supaya bisa lepas dari bokap sialan itu." Sungutnya.
"Bokap.. sialan." Syahdu sampai menghela napas mendengar ucapan Arga yang belakangan sering memaki terang-terangan.
"Ternyata bener kamu mau tunangan. Tapi kenapa ga mau? Padahal Mbak Soraya cantik banget, Ga."
Ocehan Syahdu membuat Arga menghela napas kesal.
"Eh, Ga. Emangnya mbak Soraya tahu soal kita, ya? Kok aku kayak dihantui gitu ya, sama dia."
"Dia yang nyebarin berita itu di kampus."
Syahdu menganga. Dia pikir Soraya tahu soal dirinya yang menjadi perempuan simpanan Arga, ternyata soal masa lalu?
"Makanya, kalo ada yang ganggu, cepat kasi tau gue."
"Jadi, maksudnya.. mbak Soraya bisa ganggu aku, gitu?"
Arga hanya menghisap rokoknya. Syahdu juga langsung tertunduk. Dia malah jadi takut.
"Lo bisa berlindung disini. Sidik jari lo juga udah terdaftar, kan? Pin tempat ini juga cuma lo dan gue yang tau. Mereka ga akan bisa nemuin lo disini. Percaya sama gue."
Syahdu mengangguk-angguk saja. Dia jadi takut pada Soraya. Memang orang berduit selalu bisa melakukan apa aja asal keinginannya tercapai.
"Dingin, Ga. Masuk, yuk. Kamu lagi demam."
Arga tak menyahut. Dia sibuk menyesap rokok begitu dalam dan menghembuskan asap yang ikut terbang bersama angin.
"Ayo, dong. Udahan ngerokoknya. Kok kamu bisa sih, lagi sakit tapi ngerokok. Kamu mau makin sakit, iya?"
Arga melirik kesal kearah Syahdu. "Lo aja yang masuk, gih!"
"Ih, perokok emang degil. Nggak bisa dibilangin. Makanya, aku paling benci sama perokok." Syahdu langsung berdiri. "Masuk yuk, Popi." Gadis itupun berjalan masuk ke dalam rumah.
Arga menatapi sebatang rokok di tangannya. Kata-kata Syahdu jadi terngiang di benaknya. Benci pada perokok?
Arga langsung memadamkan apinya di asbak, lalu membuang satu bungkus rokok ke dalam tong sampah kecil di dekatnya. Mulai malam itu, dia takkan lagi merokok. Untunglah Arga merokok bukan karena candu, melainkan hanya isapan dikala setres. Jadi, mudah baginya untuk lepas dari benda itu.
__ADS_1
Arga masuk ke dalam karena merasa diluar terlalu dingin.
TBC