
Syahdu, Julia, dan Margareth duduk di ruang keluarga. Julia mengeluarkan semua pernak pernik pertunangan Arga dan Soraya. Wanita itu ingin Syahdu juga terlibat di dalamnya. Supaya menyadarkan Arga bahwa Syahdu tidak punya perasaan apapun pada lelaki itu. Jika saja Syahdu mempunyai rasa, dia pasti menolak. Tapi perempuan itu dengan senang hati menolong.
"Bagus-bagus banget. Selera mbak Soraya memang bagus."
"Ini mami yang pilih. Bukan Soraya." Sahut Julia. "Eh, Alexander. Denger nih, kata Syahdu semua bagus dan cantik."
Arga tak peduli. Dia menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
"Ayo, kuantar pulang." Ajak Arga. Tak suka jika Maminya terus membahas pertunangan.
"Lho, kok pulang? Kamu ngga nginap sini aja?" Tanya Margareth.
"Enggak, Oma. Besok.. Syahdu berencana masuk kuliah."
"Eh, serius?" Arga sampai duduk tegak mendengarnya.
Syahdu mengangguk. "Iya. Sayang kalau dianggurin. Lagian, hidup ini juga gitu-gitu aja. Kalau ngga kuliah, memangnya aku mau ngapain lagi?"
"Wah, bagus itu. Oma dukung keputusan kamu. Kalau ada apa-apa, kabarin oma ya. Nanti oma pasti bantu."
"Tapi Syahdu, kamu beneran ngga apa-apa? Mami seneng banget kalo kamu mau tinggal disini." Ujar Julia.
"Katanya mau bantuin acara Arga, kamu udah janji, lho." Sambungnya lagi.
Arga mengerutkan dahi. "Mami apaan, sih. Ngapain Syahdu disuruh-suruh gitu?"
"Siapa yang suruh-suruh? Mami kan, cuma minta pendapat. Syahdu pintar lho, ini aja dia yang kasih saran buat gaun mami nanti." Julia menunjuk gambar gaun peach pada tablet di tangannya.
Arga hanya menghela napas dengan tatapan kesal kearah Syahdu.
Gadis itu hanya tersenyum samar menatap kearah Arga. Dia tahu lelaki itu tak suka. Tapi dia juga tidak mungkin menolak.
...π...
Di dalam mobil, Arga dan Syahdu saling diam. Syahdu seperti biasa, dia memikirkan Wicak. Sementara Arga masih merasa kesal karena Syahdu ikut-ikutan dengan Oma dan Maminya.
Tapi dia mengalah, karena Syahdupun pasti serba salah jika terus dibujuk oleh Julia soal itu.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Arga, memecah kebisuan diantara mereka. "Mau aku ajak kesuatu tempat, nggak?"
Syahdu menoleh, seolah bertanya, kemana?
"Pokoknya disana, lo bisa ngungkapin isi hati dan pastinya lebih lega. Percaya sama gue." Katanya dengan senyuman. Syahdu hanya diam sementara Arga menambah laju kecepatan mobilnya.
Setelah sampai, Syahdu keluar dari mobil saat Arga sudah berdiri di depan sembari melihat banyak lampion beterbangan diatas mereka.
"Lo tunggu disini, ya."
Arga pergi. Syahdu masih diam menatap benda berwarna warni dengan cahaya di dalamnya terbang tinggi keatas langit. Indah sekali.
"Hei, ayo."
Arga masuk ke lapangan rumput dan mulai membentangkan tikar kecil diatasnya.
Arga juga membawa kertas lampion dan beberapa barang lainnya. Dia menyerahkan sebuah kuas pada Syahdu.
"Ini, tulis apapun disini. Jangan lupa, sebelum lo terbangin, ungkapin perasaan lo supaya saat dia terbang, semua rasa sedih, susah, sakit, apapun itu dalam diri lo ikut terbang bersama lampion ini. Lo ngerti, kan?"
__ADS_1
Syahdu mengangguk, lalu mengambil kuas dari tangan Arga.
Dia mulai menuliskan nama Wicak di kertas, lalu menggambar tanda hati disana.
Setelah selesai, Arga membantunya untuk membentuk lampion dengan alat dan bahan yang sudah disediakan dari tempat itu.
"Pegang ini." Arga menyerahkan lampion yang sudah jadi itu pada Syahdu, sementara dia mulai menyalakan api.
"Katakan semua yang ingin diungkapkan." Ucap Arga pada Syahdu.
Gadis itu menarik napas dalam, menghembuskannya dengan perlahan.
"Hidupku udah penuh dengan penderitaan. Sejak lahir, bahkan sampai sekarang. Aku belum pernah benar-benar tenang dan bahagia. Tapi mulai detik ini, ngga ada lagi kekecewaan dalam diriku. Aku ingin bangkit dan bahagia." Ucapnya, dengan air mata yang menetes di pipi.
"Untuk kak Wicak, maafkan semua kebohonganku. Aku ga bisa perbaikinya karena kamu udah ngga ada. Itu kenapa penyesalan dan rasa bersalah terus menghantuiku. Rasa cintamu yang besar membuatku tak berdaya." Syahdu diam sejenak mengatur napasnya.
"Kak, tenanglah disana. Aku akan melanjutkan hidupku yang penuh kejutan ini. Aku ga akan bunuh diri, aku akan menjadi lebih baik. Itu janjiku padamu."
Syahdu perlahan melepaskan lampion yang kemudian terbang perlahan keatas langit.
Syahdu mendongak, dia terus menatap lampion yang kini sudah bergabung dengan lampion lain.
Lalu dia kembali terisak saat mengingat pengkhianatan besar yang ia lakukan, penyebab utama kematian seorang Wicaksana.
Arga yang sejak tadi berdiri dibelakang, berjalan mendekat, lalu merengkuh Syahdu dalam pelukannya.
Arga menatap langit malam bersama cahaya lampion yang bertebaran. Tangannya mengelus rambut Syahdu. Dia ikut berdoa supaya sang Pencipta mengabulkan semua permintaan gadis yang ada di dekapannya. Supaya Syahdu kedepannya terus merasa bahagia dan Arga berharap, dia menjadi salah satu kebahagiaan Syahdu di masa depan nanti.
...π...
Sedikitnya Syahdu mendengar bisik-bisik orang disekitar yang kini mengasihaninya setelah mendengar kabar Wicak dan neneknya meninggal dalam waktu berdekatan.
Tapi kali ini Syahdu berusaha menghapus kesedihannya. Menangis terus menerus tidak membuatnya lebih baik, itu sebabnya Syahdu ingin terus menyibukkan diri supaya lambat laun kesedihan itu terlepas darinya.
"Syahdu!" Adina yang duduk dibelakang berlari dan memeluk Syahdu.
"Turut berduka. Gue baru dengar hari ini kalau kak Wicak udah ngga ada."
Adina melepaskan pelukannya. "Are you okay? Kalo lo ngga kuat, gue mau bantu lo."
"Aku udah ngga apa-apa kok, Din. Thanks, ya."
Adina menggandeng tangan Syahdu duduk di dekat bangkunya.
"Ngapain sih, pake masuk segala."
Kalimat itu membuat Syahdu yang hendak duduk menoleh kearah Naya.
"Nay, apaan sih." Bisik Alika.
"Belakangan dia ngga datang ni kampus aman-aman aja. Sekarang jadi berisik lagi." Gerutu Naya dengan suara yang sengaja ia besarkan.
"Nay.. kamu.. bilangin aku?" Tanya Syahdu ragu. Pasalnya dia merasa hubungannya dan Naya baik-baik aja.
"Iyalah. Siapa lagi?"
"Naya, ih. Udah dong." Ucap Alika sembari mengguncang tangan gadis itu.
__ADS_1
"Ck. Apaan sih, Al." Keluhnya dan langsung menarik tangannya dari Alika.
"Ke-kenapa ya, Nay? Bukannya.. kita ngga pernah ada masalah?" Tanya Syahdu ragu. Dia berusaha mengingat, tapi gagal karena memang tak ada kesalahan diantara dirinya dan Naya.
"Hh." Naya tersenyum miring sembari membuang wajah. "Ngga ada masalah, katanya."
"Nay, lo itu kenapa, sih? Tiba-tiba kaya gini. Nggak jelas banget!" Gerutu Adina balik.
"Tiba-tiba? Gue nggak tiba-tiba kayak gini. Kalo bukan karena lo duluan, gue nggak mungkin kayak gini. Gue ngga suka sama orang munafik!"
Beberapa mahasiswa yang sudah datang di kelas itu mulai memperhatikan Naya. Suaranya sengaja ia besarkan supaya satu kelas mendengarnya.
"Maksudnya.. apa, ya?" Tanya Syahdu lagi.
"Gue tau lo punya hubungan sama Arga! Diem-diem lo sukak kan, sama Arga? Gue tau! Gue nggak bodoh selama ini nganggep lo polos padahal..hhh.." lagi-lagi Naya tertawa. "Anak pelacur, memangnya ada yang polos?"
"Naya! Keterlaluan banget lo!" Pekik Adina pada Naya. Alika ikut menyuruhnya berhenti tetapi Naya tidak peduli.
"Emang bener, kan? Gue nggak salah, kan?" Naya mulai memasang wajah marah.
"Lo tau kan, gue sukak sama Arga. Lo nyadar kan, gimana selama ini gue ngejer-ngejer dia. Tapi lo dengan enaknya ngerebut itu dari gue. Lo sampe bisa pegang-pegang rambut dia sementara gue ngga bisa, dan itu semua karena lo. Seharusnya lo tuh tahu diri!"
Syahdu memejamkan mata, menunduk, dia menahan tangis. Barusan saja ia ingin memulai kehidupan yang baru, tetapi setibanya di kelas malah muncul masalah yang seperti ini.
"Nay, aku sama Arga ngga ada hubungan apa-apa.."
"Halah. Lo mungkin bisa bohongin yang lain tapi nggak dengan gue!"
"Nay, lo apaan, sih. Kalo emang Arga dan Syahdu ada hubungan, seharusnya yang tunangan dengan Arga minggu depan itu Syahdu, bukan Soraya!" Teriak Adina membela Syahdu.
Naya terdiam. Nampaknya dia belum mendengar kabar soal itu.
"Tu-tunangan.. minggu depan??" Ulangnya dengan tertekan.
"Gue ngga habis pikir sama lo. Kok bisa-bisanya lo nuduh Syahdu kaya gitu sementara Arga juga ngga suka sama lo. Gue liat kok, dia risih dekat-dekat sama lo. Lo nya aja yang nggak SADAR DIRI" Balas Adina dengan tekanan diujung kalimatnya.
"Eemm.. lo cek sendiri di grup." Ucap Alika saat Naya mengarahkan mata padanya.
Naya buru-buru mengambil ponselnya. Lama dia menatap layar sampai akhirnya dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu memang ada pesan di grup itu tapi dia mengabaikannya.
Naya merasa kesal, dia berlari meninggalkan kelas.
Di depan pintu, Naya berhadapan dengan Arga yang baru datang bersama Ibra.
"Lho, Nay, kenapa?" Tanya Ibra. Namun Naya menerobos keluar tak mempedulikan pertanyaan Ibra.
Sementara Syahdu masih syok. Dia memegangi dadanya yang berdetak kencang.
"Du, lo ngga apa-apa?"
"Din, kenapa?" Tanya Ibra yang mendekat.
"Ah, panjang ceritanya." Jawab gadis itu sembari memegangi bahu Syahdu.
"Hei, lo kenapa?" Baru Arga ingin menyentuh bahunya, Syahdu menepis tangannya dan berlari keluar. Dia tak ingin bersama Arga. Dia tak mau ada gosip lain yang melibatkan dirinya bersama Arga.
Sudah cukup, Syahdu ingin tenang dan sepertinya dia tidak bisa berkuliah disini lagi. Tempat ini banyak kenangan baik dan buruk. Syahdu tak mau lagi berada di tempat itu karena kenangan buruk yang paling mendominasi.
__ADS_1